
Sukma menceritakan semua pada Bik Khodijah, menyuruhnya menyembunyikan rapat-rapat rahasia itu hanya mereka yang tahu.
Waktu berlalu begitu cepat, setahun kemudian Martha kembali mengandung buah hatinya yang kedua ia berharap semoga anak yang kedua itu Tuhan karuniai laki-laki, seperti keinginan suaminya.
Setiap hari Martha menghubungi Sukma menanyakan keadaan putri tercintanya, begitu pula saat hari-hari libur ia berkunjung ke rumah Sukma, Jessica juga sangat dekat dengannya, Martha begitu sesak saat Jessica mulai bisa berbicara dan memanggilnya dengan sebutan Tante.
Siang itu Marco pulang lebih awal dari biasanya, wajahnya juga tampak sangat bahagia, senyum menghiasi wajahnya yang tampan kala itu, ia memeluk istrinya yang lagi hamil tua.
“Papa punya berita gembira buat kita,” kata Marco.
“Oya, apa itu?” tanya Martha.
“Kita pindah ke kota A Minggu depan,” jawab Marco tersenyum semringah.
“Kenapa buru-buru sekali Pa, ada apa?” tanya Martha menyembunyikan kesedihannya.
“Pembangunan Kantor kita sudah rampung Ma, apalagi yang harus kita tunggu, cicilan rumah kita di sana juga sudah lunas,” jawab Marco.
Martha tidak mampu berkata-kata, pikirannya berkecamuk antara anak dan suami, keduanya sama-sama berarti di hidupnya, ia menghubungi Sukma menceritakan semua yang Marco bicarakan tadi.
“Kamu tenang saja Tha, aku janji akan menjaganya seperti aku menjaga anakku sendiri.” Sukma meyakinkan.
“Apa aku kuat jauh dari anakku Sukma?” tanya Martha, air mata menghiasi pipinya.
“Kamu bisa kemari kapan saja,” kata Sukma.
Martha tidak punya pilihan lain, mau tak mau ia tetap harus menyetujui keputusan yang Marco ambil. Martha bertemu dengan anaknya yang terakhir kali sebelum mereka pindah ke kota.
Tahun berlalu begitu cepat, Martha yang mulai jarang mengunjungi Jessica, menghubunginya juga jarang hanya sebulan sekali itu pun kalau ada. Selama ia pindah ke kota, baru sekali ia mengunjunginya itu pun karena Darwin libur sekolah, Martha sangat merindukan Jessica. Pagi hari Martha mendapat telepon dari nomor yang tidak diketahui.
“Halo ...” sapa Martha.
“Ini Nyonya Martha?” tanya wanita dibalik telepon.
“Iya, ini siapa?” tanya Martha.
“Ini saya Bik Khodijah Nyonya.” Ternyata Bik Khodijah yang menghubungi Martha.
“Ada apa Bik?” tanya Martha.
“Maaf mengganggu Nyonya, saya cuma mau memberitahukan Bu Sukma telah meninggal 3 hari yang lalu,” ucap Bik Khodijah.
“Kenapa baru sekarang Bibi kasih kabar?” tanya Martha matanya mulai berkaca-kaca.
“Saya tidak tahu nomor Nyonya, maafkan saya,” ucap Bik Khodijah sedih.
__ADS_1
“Apa yang terjadi pada Sukma Bik?” tanya Martha.
“Ibu pendarahan hebat, nyawanya tidak tertolong,” jawab Bik Khodijah.
“Bayinya gimana Bik?” tanya Martha.
“Baik-baik saja Nyonya, anaknya perempuan cantik sekali, sangat mirip dengan ibu,” tangisan Bik Khodijah pecah.
Martha tidak bisa menahan lagi tangisannya, ia sangat ingin pergi melihat kondisi anaknya dan anak sahabatnya itu tapi apa boleh buat, Martha tidak punya alasan untuk kembali ke kampung halamannya, Marco pasti tidak akan memberikan izin padanya.
“Maafkan aku, saat ini aku tidak bisa ke sana tolong jaga anak Sukma dan juga anakku Bik,” pinta Martha.
Itu jadi percakapan yang terakhir kalinya antara Bik Khodijah dan Martha.
3 Tahun kemudian Martha berlibur dengan Darwin ke kampung halamannya, betapa terkejutnya Martha, ia tidak menemukan siapa pun di sana, tiada seorang pun di rumah itu. Tetangga juga tidak ada yang tahu ke mana mereka pindah.
Martha mencari-cari keberadaan mereka, tahun berganti tahun tapi Martha tidak lagi bertemu dengan anaknya perjumpaan mereka yang terakhir kali saat usia Jessica 5 tahun.
Bik Khodijah mengingat semua kejadian masa lalu itu, namun berselang 14 tahun kemudian. Ketika itu Jessica sudah bersekolah di SMP. Sukma kembali mengandung. Saat itulah Bik Khodijah mengetahui bahwa Jessica bukan anak Sukma.
Malam itu, setelah Sukma melahirkan Asmira secara normal, ia pendarahan hebat. Darmawan suami Sukma sangat kalut.
Dokter segera menangani Sukma, namun tidak ada yang bisa dilakukan, segala usaha telah dikerahkan namun takdir berkata lain. Nyawa Asmira tak tertolong.
Sukma mengatakan jika Jessica bukan anak Martha pada Bik Khodijah. Sukma memasang gelang di tangan Jessica kecil yang bertuliskan nama Martha, gelang itu merupakan tanda persahabatan mereka berdua dulu.
Namun saat Sukma tertidur sekejap, saat ia bangun tidak ada lagi gelang itu di tangan sang anak. Sukma bermimpi ia melihat tanda lahir di belakang telinga Jessica, namun saat ia lihat tidak ada tanda tersebut pada sang bayi di depannya itu. Dengan rasa bersalah terhadap Martha. Sukma menyembunyikan rapat-rapat masalah itu.
Bik Khodijah bingung, bagaimana cara ia menceritakan pada Martha, ia takut merusak kebahagiaan Martha. Martha sangat gembira mendengar masa kecil Jessica.
Namun bagaimanapun Bik Khodijah harus menceritakan yang sebenarnya apa yang ia tahu. Sudah terlalu lama Martha tidak tahu kenyataan yang sebenarnya.
Bik Khodijah mengembuskan nafasnya perlahan, ia mengumpulkan segala keyakinan untuk menceritakan semua masa lalu itu.
“Sebenarnya Jessica bukan anak Ibu,” ucap Bik Khodijah.
Mata Martha terbelalak mendengar ucapan Bik Khodijah, Asmira pun sama terkejutnya dengan Martha bagaimana bisa Jessica bukan anaknya Martha.
Ponsel Martha berdering.
Papa.
“Halo Ma,” Sapa Marco.
“Ada apa Pa?” tanya Martha.
__ADS_1
“Mama langsung pulang, kan?” tanya Marco.
“Belum tahu nih Pa, maunya sih langsung pulang,” sahut Martha.
Bersamaan dengan Martha yang mendapat telepon dari Marco, begitu juga Asmira, Darwin menghubunginya.
“Sayang ...” sapa Darwin.
“Iya Mas ... ada apa?” tanya Asmira.
“Aku punya kabar gembira” kata Darwin.
“Apa itu, Mas?” tanya Asmira penasaran.
“Lukisan mbak Jessica laku dengan harga fantastis sayang,” sahut Darwin.
"Lukisan mbak Jessica, Mas dapat dari mana?” tanya Asmira terkejut.
“Maafin aku ya ... aku ambil salah satu lukisan mbak Jessica di rumahmu,” ucap Darwin.
“Mas ... kamu ini benar-benar ya!” Bentak Asmira.
“Apa kamu enggak mau liat mbak Jessica sukses?” tanya Darwin.
“Mau ...” sahut Asmira.
“Ya terus?” tanya Darwin.
Asmira terdiam, ia sangat menginginkan Jessica sukses, itu memang impiannya dari dulu.
“Kamu tenang saja, mbak Jessica pasti setuju lukisan-lukisannya dijual, kalo dia mau melanjutkan kembali mimpinya aku mau buatkan sebuah Galeri untuknya,” ujar Darwin.
“Mas serius?” tanya Asmira kegirangan.
“Serius dong,” jawab Darwin.
“Nanti aku bujuk mbak Jessica deh Mas,” kata Asmira.
Darwin mengakhiri pembicaraan mereka, Asmira tampak sangat bahagia senyum menghiasi wajahnya yang cantik jika bukan karena Hardi mungkin saja Jessica sudah menjadi pelukis terkenal saat ini tapi apa boleh buat takdir berkata lain.
* * *
Jangan lupa like dan Favoritnya ya...
Thank you.
__ADS_1