
2 Minggu kemudian.
Asmira gembira mendapat berita dari Santi. Kedua kakak beradik itu meminjamkan uang pada Bank, mereka memutuskan untuk membuka toko kosmetik.
Sangat cocok, kecantikan keduanya cukup memikat, pantas menjadi SPG alat kosmetik.
Asmira sempat menawarkan pinjaman, namun Santi menolak. Sudah terlalu banyak ia merepotkan keluarga Marco. Kini biar mereka bisa mandiri tanpa ada iming-iming bantuan siapa pun.
“Alhamdulillah ya Mas,” ucap Asmira tersenyum lega.
“Ya sayang, salut sama cara ayahnya mereka.” Darwin memeluk istrinya itu.
Ayah Nindy sengaja menyembunyikan rapat-rapat dengan mengatakan rumah itu telah diambil Bank. Jika tidak, maka ibu Nindy akan mengambil hak rumah tersebut. Sementara selama ini, semuanya telah dihabiskan olehnya untuk berfoya-foya.
“Selamat tidur sayang, mimpi indah.” Darwin mengecup kening Asmira dan mencium perutnya.
* *
Darwin sedang memeriksa laporan kerja kemarin. Karena 2 jam lagi mereka akan melakukan pertemuan dengan klien di sebuah Cafe.
Brakkkk!!!!
Tiba-tiba suara dentuman yang cukup keras, pintu ruang kerja Darwin terbuka, ternyata suara tendangan yang cukup keras. Darwin begitu terkejut, ia mengelus dadanya.
“Maaf Pak, sudah saya larang beliau masuk ...”
Belum selesai Pratiwi bicara, Darwin mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk diam. Pratiwi segera undur diri meninggalkan Kelvin dan Darwin dalam ruangan tersebut.
“Silakan duduk,” pinta Darwin.
“Enggak perlu, gue kesini bukan untuk bertamu!”
Darwin mengerutkan keningnya. “Oke, jadi ada yang bisa gue bantu?”
“Gue enggak butuh bantuan dari orang picik kayak lo!” sahut Kelvin dengan suara lantang.
Raut wajah Kelvin menampakkan api kemarahan. Matanya membulat sempurna, wajahnya memerah. Tidak biasanya ia bersikap demikian. Tentu ada hal yang telah membuatnya menjadi sangat murka.
Darwin menyentuh bahu Kelvin mencoba untuk menanyakan ada apa. Namun dengan kasar Kelvin menepis tangan Darwin dari bahunya.
__ADS_1
“Jangan sentuh gue!”
“Mulai sekarang persahabatan kita putus, mulai sekarang anggap saja kita enggak saling kenal.”
Nafas Kelvin memburu, ia terengah-engah. Terlihat sekali ia sedang menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
“Kenapa lo begitu murka? Ada apa Vin?” tanya Darwin.
Kelvin tersenyum sinis. “Sudahlah Win, stop bersandiwara!” Kelvin membuang pandangannya ke samping.
“Lo belum puas dengan apa yang udah lo lakuin ke keluarga gue?” lanjut Kelvin.
Darwin makin pusing dibuatnya. “Ada apa sebenarnya,” gumam Darwin dalam hati.
“Gue enggak sangka Win, lo benar-benar tega. Gue mengaku salah udah rebut Rose dari lo, tapi gue bersumpah ketika itu gue enggak tahu kalian lagi dekat,” ujar Kelvin. Ia berkali-kali menggelengkan kepalanya, Kelvin benar-benar sedang frustrasi.
“Tunggu, maksud lo apa sih?” tanya Darwin.
“Enggak ada yang perlu gue jelaskan lagi Win, percuma! Semuanya hancur lebur jadi debu!” Kelvin ingin keluar dari ruangan Darwin. Namun Darwin menarik bahu Kelvin cukup keras, hingga ia terjerembap ke sofa.
“Sumpah demi apa oun, gue enggak paham maksud lo. Lo boleh pergi setelah elo jelaskan semua apa maksud lo!”
Malam itu Kelvin mendatangi sebuah hotel, di sana telah ada Nindy yang menunggunya. Kelvin sangat rindu bergumul dengan Nindy, setelah kejadian di kantornya kemarin. Nindy tampak menghindarinya.
Namun, entah kenapa malam ini ia ingin bertemu dengan Kelvin dan menyuruhnya datang ke sebuah hotel bintang lima di kota A.
Setibanya di sana, seperti biasa, ketika dua insan yang sama-sama bernafsu bertemu. Terjadilah sebuah simbiosis mutualisme, pria melampiaskan hasratnya, dan wanita membutuhkan materi.
Nindy tampak lemas, ia rebahkan kepalanya di dada bidang Kelvin.
“Mas, mantan istrimu apa kabar?” tanya Nindy tiba-tiba.
“Kenapa tiba-tiba jadi tanya dia?” sahut Kelvin dengan balik bertanya.
Nindy diam sejenak, dia sudah punya rencana sesuatu. “Mas tahu enggak kalau Darwin itu mantannya mbak Rose?” tanya Nindy.
“Maksud kamu, ha ha ha tengah malam ngomongnya enggak jelas, udah sana tidur!” sahut Kelvin tertawa, ia tidak menjawab pertanyaan Nindy.
Mana mungkin keduanya berpacaran, waktu kuliah dulu, semua hal yang ingin Kelvin lakukan untuk Rose ia selalu meminta Darwin untuk memilih dan memberi saran.
__ADS_1
Nindy mengeluarkan foto yang kemarin ia curi dari kamar Darwin. Kelvin terbelalak melihat foto itu.
“Enggak mungkin!”
“Mas aneh deh, gimana bisa enggak mungkin. Orang di foto ini membuktikan kemesraan mereka berdua,” sahut Nindy semakin membuat Kelvin merasa panas.
Bukan karena ia masih mencintai Rose, tapi karena ia merasa kesal, kenapa ia tidak tahu selama ini. Pantas saja, Rose selalu acuh tak acuh terhadapnya, jadi selama ini Darwin yang masih ada di pikirannya.
Dan, pantas saja baru sekarang Darwin menikah. Berati cukup lama, ia baru bisa move on dari Rose.
“Satu lagi Mas.” Apa lagi yang ingin Nindy katakan.
“Apa?” sahut Kelvin, kali ini terdengar lebih pelan suaranya.
“Perusahaan Om Hardi bangkrut, Darwin juga loh yang udah buat itu semua!” ujar Nindy.
Mata Kelvin membulat sempurna. “Kamu jangan gila!” ujar Kelvin dengan suara keras.
Nindy terkejut, ia bangun. “Aku serius Mas, aku enggak bohong. Darwin meminta pada perusahaan cabangnya untuk menghancurkan om Hardi, ia sengaja tidak melakukan sendiri, ia merasa tidak enak dengan persahabatan kalian. Jika ia tidak melakukannya, Asmira akan marah.”
Kelvin bangkit dari tidurnya, ia ambil minuman beralkohol dalam lemari es, ia teguk 2 gelas sekaligus. Jika sedang frustrasi, ia selalu minum, agar pikirannya tenang. Kelvin paling tidak bisa berpikir terlalu banyak.
Nindy tersenyum, rencananya berhasil. Tujuannya cuma satu, membuat Kelvin merasakan sakit, sama seperti apa yang ia rasakan kemarin.
Begitu mudah ia meremehkan Nindy, dan menyamakan ia dengan wanita-wanita penghibur lainnya. Nindy telah menaruh harapan yang begitu besar, namun dalam sekejap diruntuhkan oleh Kelvin dengan kata-kata kasarnya.
Kelvin menatap keluar jendela. Pandangannya kosong, ia terus meneguk minuman ditangannya, sampai ia benar-benar pusing dan merasa mual.
Nindy mendekati frustrasi. “Mas, udah dong. Tidur yuk?”
Nindy memapah tubuh Kelvin ke ranjang, ia selimuti tubuhnya. “Selamat tidur Mas.”
Pagi hari, ketika Kelvin terbangun, ia tidak menemukan Nindy di sana. Setelah mandi dan berpakaian, ia langsung ke kantornya. Masih dengan pakaian kemarin.
Baru saja sekretarisnya telepon, 1 jam lagi mereka ada pertemuan dengan klien di sebuah Cafe kawasan anggrek. Kebetulan tidak jauh dari hotel yang ia inap.
Setelah sarapan, Kelvin segera menuju kantor, memeriksa laporan untuk meeting nanti. Kelvin melaju dengan kecepatan tinggi, ia cuma punya waktu 40 menit lagi.
Jangan lupa like ya...
__ADS_1