
“Mas ... kamu kenapa enggak sentuh aku, sih?” tanya Asmira.
“Maksudnya?” tanya Darwin dengan menaikkan alisnya, ia tak mengerti.
“Udah seminggu kita di sini Mas, kamu enggak bernafsu sama aku?” tanya Asmira lagi.
Seketika membuat Darwin tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan istrinya yang begitu frontal.
“Kan, kamu sendiri yang bilang kemarin, kamu belum siap, aku tunggu kamu siap, sayang,” jawab Darwin menahan senyumnya.
“Aku siap kok, Mas saja yang enggak peka,” jawab Asmira.
“Ya udah, ayo?” Darwin mendekatkan diri pada Asmira.
“Mas kita lagi makan siang loh ini,” ujar Asmira kesal.
Darwin kembali tertawa kecil melihat istrinya. Asmira begitu polos, Darwin tak habis pikir dengannya.
Mereka puas keliling kota Venice dan keindahan beberapa pulau yang berdekatan dengannya, Asmira mulai jenuh, ia ingin ke tempat yang lainnya.
“Mas ...” panggil Asmira, saat mereka telah menyelesaikan makan siang.
“Mmm ...” sahut Darwin.
“Kita liburan ke negara lain, yuk?” pinta Asmira.
“Boleh, kamu mau kita ke mana?” tanya Darwin.
“Kalau Paris gimana, Sutam?” tanya Asmira.
“Sutam?” Darwin menyipitkan matanya.
“Suami tampan ...” sahut Asmira senyum lebar.
Darwin tersenyum. “Kamu ini ada-ada saja.” Darwin Mencubit pipi Asmira dengan gemas.
Akhirnya mereka memutuskan besok akan terbang ke Paris, meninggalkan keindahan kota terapung Venice.
Malamnya harinya, Asmira merasa deg-degan. Darwin membaca gelagat tubuh Asmira, ia pura-pura tidak tahu, Darwin menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. Asmira baru selesai mandi ia hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di tubuhnya, jakun Darwin naik turun melihat pemandangan indah di depannya itu.
Asmira menghampiri Darwin dan duduk di pangkuannya, tangannya melingkar di leher Darwin, aroma wangi dari tubuh Asmira yang baru selesai mandi membuat nafsu Darwin sampai ke ubun-ubun.
“Kamu mulai nakal, ya,” goda Darwin mencubit hidung mungil Asmira.
“Maaf ya Mas, seminggu ini membuat kamu menunggu,” ucap Asmira.
Tanpa menunggu lama-lama darwin mencium bibir Asmira yang merah merekah itu. “Bau odol,” bisik Darwin ditelinga Asmira. Membuat Asmira tertawa kecil.
Darwin melepaskan handuk yang melilit ditubuh Asmira, sekarang tubuh Asmira tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.
Darwin kembali mencium bibir Asmira pelan dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Darwin mengembuskan nafasnya di leher Asmira membuat Asmira menggelinjang kegelian saat hangatnya nafas Darwin terasa. Darwin mencium seluruh tubuh Asmira tanpa terlewat satu inci pun, Asmira menggigit ujung jemarinya, menikmati perlakuan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Darwin menjamah seluruh tubuh Asmira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hingga Darwin tidak mampu lagi menahan nafsunya ia melebarkan paha mulus Asmira dan siap menyetubuhinya untuk yang pertama kali.
__ADS_1
“Mas pelan-pelan, ya ...” ucap Asmira memejamkan matanya.
Asmira menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Darwin memeluk tubuh Asmira ia mulai melakukan aktivitas pertamanya sebagai suami. Namun tampak ada pembatas di sana yang tidak bisa ditembus begitu saja, air mata Asmira meleleh di pipinya ia menahan sakit yang menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Darah segar terasa mengalir di paha Asmira. Darwin kaget dengan apa yang ia rasakan di bawah sana, Asmira masih perawan ia bukan gadis malam seperti yang ia bayangkan selama ini.
Peluh membasahi tubuh keduanya Darwin belum ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya, sedangkan Asmira ia telah mencapai puncaknya untuk yang ke sekian kalinya.
Darwin tidak tega melihat Asmira yang mulai lemas, ja mempercepat aktivitasnya semakin cepat. Sampai akhirnya ia mencapai klimaksnya, ia berbaring di samping Asmira, ia peluk manja istrinya yang ditutupi selimut.
“Mas aku mau pipis ...” bisik Asmira.
Darwin melepaskan pelukannya dan membiarkan Asmira membersihkan tubuhnya.
Bruukkk ....
“Mas aku enggak bisa berdiri ...” ujar Asmira.
Darwin tersenyum dan mengangkat tubuh Asmira ke kamar mandi.
“Mau dicoba di sini?” goda Darwin.
“Mas!!" teriak Asmira geram. Darwin tertawa.
“Besok pagi udah sembuh,” Darwin merebahkan tubuh Asmira di ranjang.
Darwin menatap langit-langit kamar hotel itu, Asmira memeluk lengan Darwin memejamkan matanya tapi ia belum tertidur.
“Sayang ...” panggil Darwin mengelus pipi Asmira.
“Maafkan aku, ya?” pinta Darwin.
“Maaf buat apa Mas?” tanya Asmira.
“Selama ini aku enggak percaya kamu bukan wanita malam,” ujar Darwin.
Asmira tersenyum. “Oh, itu,” jawab Asmira singkat.
“Kok cuma oh, sih?” tanya Darwin mengerutkan keningnya.
Asmira memejamkan matanya tidak menyahut pertanyaan Darwin, sementara Darwin yang melihat Asmira menanggapi santai permintaan maafnya merasa bersalah ia memeluk Asmira erat, mencium keningnya bertubi tubi.
“Mimpi indah Cinta ...” ucap Darwin.
“Kok aku geli ya Mas dengarnya,” ujar Asmira yang pura-pura tidur.
“Kamu ini ... ." Darwin mencubit pipi Asmira.
*
Selesai mandi dan bersiap-siap hari ini mereka menuju Paris, water bus yang membawa mereka berhenti di tepi kanal.
“Mas bilang terima kasih dong sama bapak-bapak itu yang selalu mengantar kita ke mana saja,” pinta Asmira.
“Kenapa suruh aku?” goda Darwin.
__ADS_1
"Mas kan tahu aku enggak bisa bahasa Inggris!” ucap Asmira kesal. Darwin tersenyum lebar.
Dalam perjalanan menuju bandara menggunakan taksi, Darwin asyik berbincang dengan sopir yang membawa mereka.
“Ngomong apa sih?” gumam Asmira dalam hati. Ia memutar bola matanya lalu mendengus pelan.
Ponsel Asmira berdering.
Mama Martha.
“Halo Ma...” sapa Asmira.
“Kalian masih di Venice sayang?” tanya Martha di seberang sana.
“Mau terbang ke Paris, nih Ma,” jawab Asmira.
“Semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Martha lagi.
“Alhamdulillah baik Ma, di sana gimana semuanya baik-baik juga kan?” tanya Asmira.
“Baik Nak, ya udah lanjut liburannya ya, bye...” Martha memutuskan telepon.
Asmira mengerutkan dahinya. “Aneh...” gumam Asmira.
“Siapa yang telepon sayang?” tanya Darwin.
“Mama, aneh deh Mas cuma tanyain kita masih di Venice,” jawab Asmira.
“Mama khawatir mungkin sayang.”
Mobil yang membawa mereka tiba di bandara.
*
Sementara Martha, Marco juga Jessica sedang dalam pesawat menuju Paris, mereka sengaja tidak memberitahukan Darwin.
“Pa, mereka juga mau ke Paris katanya,” beritahu Martha.
“Oya, bagus dong sekalian kenali Asmira dengan Valen,” ucap Marco.
“Apa kabar Sara ya Pa?” ujar Martha.
“Papa juga rindu Sara pasti dia sudah besar,” sahut Marco.
Sementara Jessica memilih menghabiskan waktu dengan tidur nyenyak di dalam pesawat menggunakan earphone di telinganya. Ibu-ibu di sampingnya membuat mulut Jessica lelah menjawab berbagai pertanyaan yang ia lontarkan, daripada Jessica emosi lebih baik memilih untuk tidur saja. Saat Jessica terbangun ibu itu masih saja punya seribu pertanyaan yang membuat Jessica kesal.
“Bu, saya lagi Puasa, tolong ibu jangan terlalu banyak tanya, Nanti saya haus,” ucap Jessica geram.
“Boleh buka kalo dalam perjalanan, Nak," jawab ibu-ibu.
Jessica kehabisan kata-kata, ia memilih tidur kembali dari pada berdebat dengan ibu-ibu yang sudah berusia lanjut itu.
Jangan lupa like ya...
__ADS_1