Perjanjian

Perjanjian
Episode 48


__ADS_3

Darwin tidak bisa ke mana-mana. Tapi bukan Marcell Darwin Antonio namanya jika masalah kecil seperti itu tak bisa ia atasi, ia memang terjebak di rumah, tapi di luar sana kaki tangannya terus mencari jalan keluar.


Pratiwi menghubungi pihak club tersebut, ternyata mereka tidak tahu menahu persoalan itu. Semuanya ulah Carol dan pria mesum itu.


“Halo Pak,” sapa Tiwi ketika telepon sudah tersambung.


Darwin sedikit menjauh dari Asmira saat ia mengangkat teleponnya. “Gimana Tiwi?” Darwin bertanya penuh harap.


“Semuanya ulah wanita bernama Carol dan seorang pria yang pernah datang ke kantor Pak.” Tiwi memberitahu Darwin.


Dengan geram Darwin memberi titah pada Tiwi untung mengurus mereka berdua, bila perlu buat mereka minta maaf atas apa yang mereka lakukan.


“Mereka sudah merugikan banyak pihak, buat mereka tidak bisa berkutik.”


Asmira tetap saja tidak tenang, meski Darwin berulang kali mencoba menenangkannya. Berita yang tersebar luas terlalu menyakiti perasaannya.


“Pantas saja mereka menutupi identitas sang istri, kenyataannya dia adalah wanita malam.” Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.


“Mas, papa kamu pasti marah besar sama aku.” Asmira meneteskan air matanya lagi dan lagi.


Darwin mendekati istrinya itu. “Nanti tengah malam saat wartawan mulai lengah kita ke rumah papa ya?” ajak Darwin. Asmira mengangguk lemah.


Dini hari mereka berhasil masuk ke rumah Marco, Martha menyambut kepulangan anaknya penuh khawatir karena berita yang beredar membuat seisi rumah kacau, aktivitas terhenti total.


“Sayang, Mama khawatir banget dengan keadaan kalian berdua.” Martha memeluk Asmira mencoba menguatkannya. “Semua pasti akan baik-baik aja, yang sabar ya Nak mama percaya kalian.”


Marco keluar dari kamarnya begitu mendengar suara Darwin di luar.


“Kenapa kamu masih berani bawa wanita malam itu ke rumah ini!” teriak Marco.


Asmira menangis mendengar teriakkan Marco yang begitu menyayat hati.


“Maksud Papa apa, dia istriku Pa,” Darwin mendekati papanya.


“Bawa dia keluar!” teriak Marco. Asmira mendekati Marco. “Pa, maafkan Asmira.” Marco menatap wajah Asmira dengan penuh amarah.


“Jangan panggil saya Papa, saya tidak sudi punya menantu sepertimu!” teriak Marco.


Jessica menatap Asmira dari kejauhan, air mata meleleh di pipinya, tapi ia enggan mendekat dan memberi kekuatan pada adik kesayangannya itu, amarah masih terpendam di dadanya rasanya masih membekas hingga kini.

__ADS_1


“Papa tolong hargai istriku Pa!” teriak Darwin. Marco terkejut melihat anaknya berani membentaknya


“Demi perempuan ini kamu berani bentak-bentak Papa,” ujar Marco geram.


Darwin menarik Asmira ke pelukannya. “Wanita yang Papa maksud sekarang adalah istri sah aku Pa!” teriak Darwin.


Marco mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. “Wanita Materialistis ini yang kau sebut istrimu?” Marco melemparkan kertas itu ke hadapan Asmira dengan kasar. Asmira tergugu di pelukan Darwin.


Darwin memungutnya. “Pa, ini tidak ada apa-apanya, jangankan rumah, setengah hasil jerih payah aku pun akan aku berikan untuk Asmira,” ujar Darwin lantang pada papanya dengan sungguh-sungguh.


Martha mendekati suaminya. “Pa... udah dong Pa.” Marco menepis tangan Martha dengan kasar.


“Apa yang sudah kamu lakukan sehingga anak saya jadi pembangkang seperti ini!” teriak Marco pada Asmira.


“Pa cukup!” teriak Darwin, ia menarik tangan Asmira keluar. Namun Martha mengejar mereka.


“Ma ... keputusanku salah besar sudah datang kesini. Aku datang untuk menjelaskan apa yang terjadi bukan untuk dicaci,” ujar Darwin, ia bawa istrinya keluar dari rumah orang tuanya.


Setelah kepergian Darwin Martha segera menemui Marco. “Papa puas!” teriak Martha.


Ia berlalu dari hadapan suaminya. Tinggallah Marco seorang diri di ruang tamu itu, wajahnya memerah, api kemarahan masih menyala-nyala.


Darwin tidak menjawab ia memapah istrinya hingga ke kamar.


“Mas ...” panggil Asmira saat Darwin menyingkap selimut untuk menutupi tubuh Asmira.


“Papa benar Mas, aku mau menikah denganmu karena kamu kaya, aku lelah hidup miskin dan terus menderita.” Asmira meneteskan air matanya saat kata-kata tersebut keluar dari mulutnya.


Darwin mencium bibir Asmira. Akhirnya Asmira terdiam dari semua ocehan yang tak ingin didengar oleh Darwin.


“Mas ...” rengek Asmira.


“Makanya diam,” ujar Darwin memeluk Asmira.


Darwin mendekap erat tubuh istrinya itu, Asmira mengubah posisi tidurnya ia membenamkan wajahnya di dada bidang Darwin.


“Apa pun yang terjadi kamu harus percaya sama aku, cuma satu pintaku,” ujar Darwin mengelus rambut Asmira penuh kasih.


“Apa itu Mas?” tanya Asmira.

__ADS_1


“Jangan ada hal yang kamu sembunyikan dariku, sekecil apa pun itu.” Darwin mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.


“Apa aku cerita saja ya masalah Mama,” gumam Asmira dalam hati.


“Setelah masalah ini selesai, ada hal yang ingin aku ceritakan Mas,” ujar Asmira. Darwin mengangguk sembari mencium kening istrinya.


Keesokan harinya Darwin menggelar konferensi pers, semua awak media meliput acaranya, Darwin yang ditemani Tiwi tidak merasa gentar sedikit pun untuk menyelesaikan berita yang mengganggu prahara rumah tangganya tersebut.


Berita yang tersebar luas yang melecehkan istrinya itu, hingga seluruh jagat raya pun tahu. Sampai menyebabkan dirinya selisih paham dengan orang tuanya.


“Saya tegaskan, istri saya bukan wanita malam. Jika pun iya, kalian tidak berhak menghakiminya. Saya mencintainya, jiwa dan raganya menjadi milik saya, jika ketenangannya terganggu saya tidak akan tinggal diam. Untuk yang berani bermain-main dengan saya akan tahu akibatnya.”


Tak banyak kata keluar dari mulut Darwin, tapi itu sudah cukup untuk membungkam seluruh awak media untuk tidak meneruskan penayangan mengenai berita itu lagi. Wartawan dibuat ketar-ketir oleh Darwin.


Asmira menangis melihat Darwin di televisi, suaminya begitu menyayanginya, ia beruntung memiliki suami yang membelanya habis-habisan seperti ini.


“Saat ini cuma kamu satu-satunya yang aku punya Mas,” gumam Asmira. Syukur Asmira panjatkan, akhirnya masalah itu terselesaikan.


Sementara Marco sangat geram melihat tingkah laku Darwin terhadapnya sekarang. Namun ia tidak bisa berkata apa pun. Anaknya juga mewarisi sifatnya sendiri, mau bilang apa pun tidak ada gunanya, Marco bagaikan berkaca pada diri sendiri.


“Mom, kasihan ya mbak Tari,” ujar Sara iba dengan istri kakak sepupunya itu.


Jessica tidak menjawab ia hanya diam. “Aku ingin memeluk dan memberinya kekuatan,” gumam Jessica dalam hati.


“Thank you Mom,” ujar Sara ketika mobil yang membawa mereka berhenti di depan gerbang sekolah.


“Mang, antar saya ke Mall sebentar,” pinta Jessica pada sopir barunya itu, yang khusus Valen carikan untuk membawa ke mana pun Jessica pergi.


Tiba di Mall Jessica belanja keperluan Sara dan Valen, ia menoleh ke belakang rasanya ada yang mengikuti langkah kakinya sedari tadi. Setelah membayar Jessica buru-buru masuk ke mobilnya dan bergegas pulang ke rumahnya.


Akhir-akhir ini Jessica selalu merasa ada yang sedang mengawasinya, mengikuti ke mana pun ia pergi tapi ia tidak tahu siapa orang tersebut. Pikirannya tidak tenang, rasa khawatir menyelimutinya.


Jessica meneguk segelas air putih. Ponselnya berdering, gelas yang sedang ia pegang hampir terjatuh karena kaget. Seketika wajahnya terlihat gembira saat melihat layar ponsel miliknya.


“Mas jemput kamu ya, Nanti siang ada meeting dengan klien, teman dekat. Sekalian mereka ingin berkenalan denganmu,” ajak Valen romantis.


Jessica tersenyum tanpa menjawab.


“Dandan yang cantik ya.” Valen memutuskan telepon dengannya.

__ADS_1


Jangan lupa like ya....


__ADS_2