
Martha sibuk menyusun rencana untuk hari ulang tahun Jessica putri kesayangannya. Tepat tanggal 20 nanti, Martha telah menyusun acara mewah di rumahnya. Tentunya, tanpa diketahui Jessica sendiri.
Meski 2 hari ini Jessica tampak kesal, karena kedua orang tuanya selalu saja tiba-tiba diam jika ia lewat sepintas saat mereka sedang mengobrol.
“Mas, aneh gak sih mama sama papa,” ujar Jessica saat Valen mengantarnya ke sanggar seni.
“Aneh gimana?” tanya Valen pura-pura tidak tahu.
“Mama papa tuh, ngomongnya kek bisik-bisik gitu, terus kalau ada aku, mereka tiba-tiba diam, sebal enggak sih,” ujar Jessica mengentakkan kakinya, bibirnya pun ia moncongkan.
Valen menahan tawanya, Jessica tampak menggemaskan jika ia sedang sebal seperti itu. “Perasaan kamu saja sayang, mana mungkin mama papa gitu,” ujar Valen mencoba mengalihkan pembicaraan.
Jessica akhirnya tidak berkomentar apa-apa lagi. Meski ia tahu, jika itu bukan cuma perasaannya saja seperti yang Valen katakan.
* *
“Gue benar-benar enggak sangka sama adik-kakak itu, saat gue cinta Bastian, malah direbut oleh Asmira. Eh, saat gue cinta Kelvin, malah direbut Jessica.” Nindy berdecak kesal, ia menatap langit-langit kamarnya.
Nindy masih syok dengan ucapan Kelvin yang begitu melukai hatinya. Ternyata selama ini, ia hanya menjadi segelintir orang yang pernah singgah untuk menemani malamnya Kelvin. Tidak lebih.
“Gue enggak bisa diam saja kek begini, harusnya mereka berdua merasakan apa yang gue rasa,” gumam Nindy menyeka air matanya.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, ia segera pesankan taksi Online menuju rumah Asmira. Namun, saat ia tiba di depan kompleks perumahan Asmira, tampak Asmira keluar bersama Santi juga Darwin.
“Arghhh sial!” umpat Nindy dalam hati.
“Pak, putar balik ya,” pinta Nindy.
Namun bukannya putar balik, sopir taksi online tersebut malah melaju ke arah lain. Nindy tidak mengetahuinya, ia sibuk dengan benda pipih ditangannya.
Nindy tersadar, saat sopir tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, dan menuju area sepi yang jarang dilewati mobil lainnya.
“Pak.. salah, bukan kesini," ujar Nindy memberitahu.
__ADS_1
Sopir tersebut menyunggingkan senyum mesum di wajahnya. Nindy tampak panik, ia sadar, tatapan pria itu mengarah ke arah betis mulusnya yang terpampang nyata. Nindy menutup dengan tasnya.
“Pak, jangan macam-macam ya!” ujar Nindy keras.
Pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah gubuk sepi. Tempat yang mereka datangi tersebut sangat jauh dari jalan ramai. Nindy menggigit bibir bawahnya. “Ya tuhan ..." gumam Nindy.
Sopir tersebut turun, ia membuka pintu untuk Nindy. “Ayo turun!” bentak pria itu.
“Pak, jangan apa-apakan aku,” Nindy mundur, namun sopir itu memaksanya keluar.
Dengan kasar pria itu menyeret Nindy masuk ke dalam gubuk tua, ia tidak peduli meski Nindy berteriak-teriak keras. Toh, juga tidak akan ada yang mendengar jeritannya.
“Kamu bisa diam gak!” bentak pria itu, ia mencengkeram erat rahang Nindy.
“Kalau kamu bisa diam, aku akan bermain cantik, tapi kalau kamu mau aku kasari, silakan teriak-teriak semau kamu,” ujar pria itu tersenyum simpul.
Pria itu menggerayangi tubuh Nindy dengan ujung jemarinya, Nindy melenguh nikmat.
“Dasar perempuan malam!” teriak keras pria tersebut.
“Mulut lo bilang enggak, tapi tubuh lo mengisyaratkan iya,” bisik pria itu ditelinga Nindy.
Nindy semakin tersedu-sedu dengan tangisannya. Namun pria itu sama sekali tidak menggubrisnya.
Saat pria itu ingin merobek baju yang dikenakan Nindy. Nindy menghalangi tangan kasar pria itu. “Pak, jangan nanti aku pulang pakai baju apa,” ujar Nindy disela tangisnya.
“Ha ha ha, Lo sadar enggak sih, seminim apa pakaian lo saat ini?” tanya pria itu menjambak rambut Nindy ke belakang.
Nindy mengenakan mini dress tanpa lengan, dadanya yang berukuran cukup menggiurkan, serta paha mulusnya yang membuat jakun sopir taksi itu naik turun saat memandangnya.
Jeritan dan tangisan Nindy berubah menjadi erangan kenikmatan. Pria mesum tersebut semakin mempercepat pertarungan keduanya, ia menjambak keras rambut Nindy disertai teriakan di bibirnya.
Pria itu terkapar lemas setelah cairan putihnya tumpah ruah di ************ Nindy. Nindy tampak belum merasakan apa-apa. Seperti biasa hasratnya masih menggebu-gebu. Itu yang membuat Kelvin menyukainya, powernya di atas ranjang yang membuat Kelvin selalu terkapar.
__ADS_1
“Sorry sayang ... untuk sekarang gue gak bisa membuat elo puas, gue harus kerja untuk anak bini gue di rumah. Lain kali kita coba yang lebih hot. Ayo gue antar lo pulang.” pria tersebut memapah tubuh Nindy ke dalam mobilnya.
Nindy menyenderkan kepalanya di jok mobil, ia menatap keluar, saat mobil yang membawanya keluar dari area sepi itu. Lalu Nindy tertawa terbahak-bahak, serta air mata yang perlahan jatuh di pipinya. Sopir taksi itu tidak memedulikan Nindy yang tampak seperti orang gila.
* *
Asmira tiba di Mall. Namun Darwin tampak kesal dengan ajakan istrinya itu, pasalnya lagi-lagi kerjaan Darwin harus ia wakilkan kepada Pratiwi.
“Mas, kamu enggak senang aku ajak belanja?” tanya Asmira menghentikan langkahnya.
“Senang sayang. Kata siapa Mas gak senang,” ujar Darwin tersenyum lebar.
“Tuh, kan.. senyumnya dibuat-buat. Ih kesal deh,” Asmira mengentakkan kakinya di lantai.
Darwin merangkul Asmira. “Kalau ambekan Mas cium, nih,” bisik Darwin ditelinga Asmira.
“Jangan macam-macam deh, kita lagi di area publik nih,” ujar Asmira melanjutkan langkahnya. Darwin tertawa kecil.
Asmira tiba-tiba melihat permainan capit boneka. “Mas ...” panggil Asmira kegirangan, semua orang yang berada dekat dengannya menatap ke arahnya.
Siapa yang kenal dengan pria tampan Marcell Darwin Antonio, mereka cuma bisa melihat iri kepada Asmira sang pujaan hati yang berhasil mendapatkan hatinya.
Berita kehamilan Asmira pun tersebar luas. Banyak yang menanti-nanti kehadiran sang jabang bayi ke dunia ini, sang penerus takhta.
“Mas, aku mau kamu main ini.” Asmira merangkul Darwin dengan manja.
“Sayang, malas ah, beli saja. Tuh, di sana. Berapa pun harganya pasti Mas beliin.” Darwin menunjukkan toko boneka di depannya.
“Kamu enggak ada romantisnya sama sekali ya Mas, ini tuh namanya perjuangan, kamu gimana sih?” Asmira memonyongkan bibirnya.
Lagi-lagi Darwin harus mengalah, ia masukkan koin dan ia mencoba memainkan mesin game yang cukup membuat tertantang itu.
“Ayo Mas, pasti bisa!” teriak Asmira kegirangan. Ia terus berteriak layaknya anak kecil.
__ADS_1
Meski kesal, Darwin bahagia melihat istrinya begitu girang. Perlahan kesalnya hilang, ia tersenyum melihat tingkah Asmira yang begitu polos. Setelah ke sekian kalinya Darwin mencoba namun berkali-kali ia masih saja gagal.
Jangan lupa like ya....