
“Sahabat yang Mama maksud adalah ibu aku?” tanya Asmira.
Martha mengangguk sambil menghapus air matanya. “Kamu ingat cerita Mama malam itu yang Mama menginap di apartemen?” tanya Martha.
Asmira mengangguk. “Aku ingat Ma.”
“Berarti Jessica kakakmu anak Mama sayang,” ucap Martha.
“Enggak mungkin, Mama jangan bercanda enggak lucu,” sahut Asmira.
“Demi Tuhan, untuk apa Mama berbohong.” air mata Martha kembali tumpah.
Asmira menutup mulutnya dengan tangan, ia seakan tidak percaya apa yang Martha bicarakan, bagaimana bisa itu terjadi.
“Bik Khodijah di mana, beliau yang tahu semuanya?” tanya Martha.
“Setelah ayah meninggal, kami pindah ke Kota, Bik Khodijah pulang ke rumah anaknya Ma,” jawab Asmira.
“Kamu tahu di mana rumah anaknya?” tanya Martha lagi.
“Di dekat sini juga Ma, tidak seberapa jauh,” jawab Asmira.
“Ayo kita ke sana, cuma dia satu-satunya yang tahu sayang,” ajak Martha.
Belum sempat mereka memasuki rumah itu, sekarang mereka kembali meluncur mencari rumah anaknya bik Khodijah. Setelah beberapa kali Mang Joni menanyakan alamat, mereka pun sampai ke tempat yang dituju.
“Permisi ...” Martha mengetuk-ngetuk pintu rumah itu, tampak sepi dilihat dari luar.
Seorang pria tidak terlalu tua keluar. “Cari siapa, ya?” tanya pria itu yang ternyata anaknya bik Khodijah.
“Bik Khodijah ada?” tanya Asmira.
“Kalo boleh saya tahu, ada perlu apa ya?” tanya pria itu.
“Biarkan kami bertemu bik Khodijah, ada hal yang sangat penting yang ingin kami tanyakan,” pinta Martha.
Asmira pun ikut bicara. “Benar Pak, bantu kami.”
“Mari masuk ...” ajak pria itu setelah yakin dengan Martha.
Mereka masuk mengikuti pria berbadan tegap itu, seorang nenek tua sedang terbaring lemah di dalam kamar, ia sudah sangat tua matanya tidak mampu melihat lagi, tapi pendengarannya masih jelas.
“Bik, masih kenal Mira?” tanya Asmira.
“Mira siapa?” tanya bik Khodijah.
“Mira bik, anaknya bu Sukma,” ucap Asmira.
“Ya Tuhan ...” bik Khodijah memeluk Asmira erat.
“Kamu sudah dewasa sekarang, bagaimana mungkin Bibi lupa, Nak.”
“Bibi tahu enggak Mira datang sama siapa?” tanya Asmira.
__ADS_1
“Kakakmu Jessica?” tanya bik Khodijah.
“Bukan bik, tapi sama Mama Martha,” beritahu Asmira.
Bik Khodijah terkejut mendengarnya, nama itu tidak asing di ingatannya, ia memang sudah tua tapi ingatannya masih sangat segar.
“Bik, masih kenal saya, kan?” tanya Martha.
“Tentu saja,” jawab buk Khodijah menyunggingkan senyum di wajahnya.
“Bi, apa Bibi masih ingat kejadian malam itu?” tanya Martha.
“Tentu saja Bibi masih ingat semua apa yang terjadi malam itu,” jawab bik Khodijah.
* * *
36 Tahun yang lalu.
Malam itu setelah Martha melahirkan putri pertamanya secara normal, ia tidak sadarkan diri. Bayi mungil itu sangat cantik ia mirip sekali dengan Marco, bersamaan dengan itu hujan turun sangat deras bahkan terjadi badai petir yang sangat dahsyat.
Marco tidak bisa mendatangi rumah sakit, ia terjebak badai petir di kantornya, hatinya sangat gelisah ia mondar-mandir di ruang kerjanya.
“Ayah macam apa aku ini,” gumam Marco.
Sementara itu Martha di rumah sakit ditemani oleh Marni dan suaminya.
“Mana anakku?” tanya Martha saat ia sudah siuman.
“Buk Nyonya selamat ya, anak ibu perempuan cantik sekali,” beritahu Marni.
“Marco tidak mau anak perempuan Bik, Marco menginginkan anak laki-laki,” ucap Martha menahan tangisnya.
“Jadi gimana, Bu?” tanya Marni khawatir.
Martha meminta Marni mengantarkannya menemui bayinya, saat Marni mendorong Martha menggunakan kursi roda ia berpapasan dengan Sukma sahabatnya yang melahirkan di rumah sakit itu juga.
Sukma menghampiri Martha, ia memeluk Martha erat. “Anakku meninggal Tha ...”
“Kamu yang sabar ya, kamu harus ikhlas jangan terlalu bersedih seperti ini.” Martha menenangkan Sukma.
“Aku takut Anto bersedih Tha, ia sangat menginginkan bayi kami,” ujar Sukma.
“Beruntungnya kamu Sukma, suamimu menginginkan bayi yang kamu kandung, tapi tidak dengan suamiku” ucap Martha sedih.
“Sama saja Tha, suami aku menginginkannya tapi Anakku meninggal,” sahut Sukma.
“Bagaimana kalo bayi kalian berdua ditukar saja,” celetuk Marni.
Sontak saja keduanya menatap Marni tajam.
“Maaf saya terlalu ikut campur,” ucap Marni.
“Aku setuju Sukma,” ucap Martha.
__ADS_1
“Kamu jangan bercanda Tha,” ujar Sukma.
“Aku tidak bercanda, aku percaya kamu bisa merawat anakku dengan baik Sukma,” sahut Martha.
“Kamu serius Tha, aku janji aku akan menjaganya seperti aku menjaga diri aku sendiri.” Sukma sangat girang.
“Aku percaya kamu Sukma,” ucap Martha.
Setelah keputusan keduanya dipikir matang-matang, mereka menukarkan bayinya.
“Sukma, biar nanti aku yang akan mengantarkanmu dan anakku ke rumahmu ya?” pinta Martha.
“Tentu saja boleh Tha,” jawab Sukma.
Saat Marco tiba di rumah sakit, ia menemukan anaknya telah meninggal Martha menangis di samping bayi itu.
“Sabar ya Ma ... Tuhan tahu yang terbaik untuk kita,” Marco menenangkan Martha.
Martha tidak menjawab ia hanya menangis, bukan menangisi bayi yang meninggal itu tapi iya menangis karena ia akan terpisah dengan anaknya, ia bahkan melihat Marco tidak merasa sedih sedikit pun, hanya saja tidak keluar kata di mulutnya, 'baguslah dia meninggal'.
keesokan harinya, Setelah bayi itu dikebumikan. Marco telah siap-siap kembali bekerja dengan pakaian rapi ia keluar kamar, Martha duduk di sofa memeluk dua lututnya, tatapannya kosong.
“Ma, Papa berangkat kerja dulu ya?” Marco mengelus rambut Martha. “Jangan terlalu dipikirkan Ma.” Marco pamit bekerja.
Martha melihat Marco sudah hilang dari pandangannya dengan mobil hitamnya.
“Samsul ...” panggil Martha. “Ayo kita ke rumah sakit,” ajak Martha.
Sementara itu di rumah sakit, Sukma tampak gelisah entah apa penyebabnya, ia seperti orang kebingungan hari ini ia diperbolehkan pulang, karena kondisinya sudah membaik, jika Martha melahirkan normal Sukma justru sebaliknya.
Sukma melihat kedatangan Martha ia juga sudah bilang pada suaminya untuk tidak menjemput mereka setelah kembali bekerja, ia akan diantarkan oleh temannya, suaminya mengiyakan.
“Sukma, kamu kenapa duduk di sini mana perawatnya?” tanya Martha yang baru tiba.
“Aku sengaja meminta perawat pergi Tha, aku butuh waktu sendiri,” jawab Sukma.
“Kamu sudah diperbolehkan pulang, kan?” tanya Martha.
“Iya Tha, aku juga udah siap-siap,” sahut Sukma.
Sukma meminta Martha mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir anaknya sebentar, sebelum mereka mengantarnya kembali ke rumah.
Sukma menumpahkan semua air matanya di sana, pikirannya campur aduk, ia bahagia juga sekaligus bersedih. Sementara itu Martha menggendong bayinya menunggu di mobil.
“Maaf in Mama ya, Nak?” Martha mencium bayi itu berkali-kali.
“Ayo Tha keburu gelap,” ajak Sukma.
Hujan kembali mengguyur deras, mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah Sukma, saat mereka tiba di sana hujan telah reda.
Martha dan Sukma di sambut bik Khodijah, “Bu, bukannya kemarin ibu bilang bayinya meninggal?” tanya bik Khodijah.
* * *
__ADS_1
Jangan lupa Like dan favoritnya ya...
Thank you.