Perjanjian

Perjanjian
Episode 86


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Santi terus mendekap tubuh Nindy. Tangannya masih dingin, tubuhnya gemetar hebat.


Wajar saja, Santi masih gadis. Nindy saja yang sudah tidak perawan sejak masih menduduki bangku SMP, ia pun merasa trauma dengan perlakuan sopir taksi Online kemarin.


Setelah tiba di rumah, Nindy mengambil segelas air putih. Lalu ia berikan untuk Santi. Santi langsung menghabiskan segelas air tersebut dengan sekali teguk saja.


Setelah sedikit lebih tenang, Nindy bertanya kepada Santi.


“Kamu ngapain ke sana, Dek? Kamu enggak tahu itu tempat apa? Kalau kamu kenapa-kenapa, gimana?”


“Aku takut Mbak!”


Hanya tiga kata keluar dari mulut Santi. Nindy duduk di samping Santi, ia kembali memeluk tubuh adiknya itu.


“Kamu tenang ya, Mbak di sini.”


Santi memejamkan matanya, air matanya kembali jatuh berlinang. “Aku rindu pelukan ini,” lirih Santi.


Kruuuukkk.


Suara perut Santi yang kelaparan. Sontak membuat Nindy tertawa kecil. “Kamu lapar Dek?” Santi mengangguk lemah.


Nindy bangkit dari duduknya, seraya berkata, “Tunggu bentar, Mbak masak pasta buat kamu.”


Santi melahap satu porsi pasta instan yang dibuat Nindy tanpa tersisa. Nindy kembali tertawa kecil melihat Santi yang begitu rakus.


“Kamu udah enggak makan seharian, ya?” kembali Nindy hanya mendapat jawaban sebuah anggukan dari Santi.


Setelah selesai makan, Santi sudah sedikit lebih tenang, ia juga sudah bisa berpikir logis.


“Mbak, ayo kita ke rumah mbak Mira?”


“Ngapain?” tanya Nindy bingung.


“Mereka udah tahu kalau Mbak yang hampir buat mbak Asmira keguguran,” ujar Santi.


Deg.


Jantung Santi berdetak kencang, namun ia mencoba sesantai mungkin. “Enggak mungkin.”


“Mbak, aku serius, rekaman Cctv buktinya,” ujar Santi lagi.


Nindy berkali-kali menggelengkan kepalanya, ia frustrasi berat, ia menggigit kukunya. Langkahnya mondar-mandir di depan Santi.


“Mbak, aku tahu Mbak salah. Tapi aku yakin, kalau Mbak minta maaf ...”


“No! aku enggak bakalan minta maaf,” potong Nindy.


“Kamu enggak tahu apa-apa Santi,” sambung Nindy, ia hempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar. Ia sandarkan kepalanya di sandaran sofa, pandangannya menengadah ke langit-langit.


“Aku tahu Mbak, aku tahu. Semua amarah yang mbak pendam untuk Mbak Asmira, aku tahu!” sergah Santi.


Santi diam sejenak sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Semua anggapan Mbak itu salah! Mbak Asmira enggak pernah rebut kak Bastian dari Mbak! justru sebaliknya, mbak Mira tolak kak Bastian mentah-mentah karena dia enggak mau persahabatan kalian pecah!” ujar Santi menarik nafasnya dalam menahan emosi.


“Mbak tahu! setiap hari mbak Mira merindukan Mbak, mencari di mana keberadaan Mbak. Sekarang aku mohon Mbak mau minta maaf, mbak Mira itu orang baik, dia pasti akan memaafkan Mbak,” ujar Santi, ia tidak bisa lagi menahan tangisnya.


Santi menangis tersedu-sedu. “Aku enggak mau kehilangan Mbak, aku gak mau Mbak masuk penjara.”


Nindy terenyuh mendengar ucapan Santi. Adik yang selama ini ia sia-siakan, ternyata begitu peduli dengannya. Bahkan ia selalu merampas uang jajan sekolah Santi. Bahkan ketika keduanya telah putus sekolah, Nindy juga selalu meminta paksa gaji Santi yang sedikit.


Nindy memeluk Santi erat. Keduanya menangis tersedu-sedu.


“Mbak enggak mau masuk penjara Santi!”


* * *


Di rumah keluarga Marco Antonio.


Martha sedang menonton televisi ditemani Marco dan Valen, Sementara Jessica sedang mengajar Sara membuat PR. Darwin sedang makan, ia baru pulang kerja. Kerjanya sudah menumpuk, dua hari belakangan ia tidak masuk kerja.


Tiba-tiba Asmira keluar kamar, dengan nafas terengah-engah seperti orang baru selesai maraton.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Martha.


“Ma, aku mimpi Santi kenapa-kenapa, aku khawatir Ma!” ujar Asmira, keringat membasahi keningnya.


“Oke ... tenang dulu ya, itu cuma mimpi buruk aja.”


“Santi, Santi adiknya Nindy?” tanya Marco murka. Martha mendekati Marco. “Pa, Papa jangan gitu dong tanyanya.”


Darwin mendengar suara Marco teriak-teriak, ia menyudahi makannya, kemudian ia menghampiri mereka di ruang tamu.


“Apa sih ribut-ribut?” tanya Darwin.


“Mas ....” Asmira memeluk Darwin.


“Ada apa sayang, kamu kenapa? Papa marahi kamu lagi?” tanya Darwin. Asmira menggeleng kepalanya.


“Aku mimpi buruk tentang Santi Mas,” jawab Asmira. Darwin menepuk jidatnya.


“Mas lupa, Santi kan sendiri di rumah.”


“Mas, ayo kita pasti in Santi baik-baik saja,” ajak Asmira.


“Papa ikut!” ujar Marco.


Mereka berempat langsung berangkat ke rumah Asmira.


Namun, setibanya di sana. Setelah Darwin masuk, melihat setiap sisi ruangan. Santi tidak ada, ponselnya tidak bisa dihubungi. Darwin mulai panik, tapi ia sembunyikan agar Asmira tidak ikutan panik juga.


“Mas, kalau Santi benaran kenapa-kenapa gimana?”


Martha kembali menenangkan Asmira. “Apa kita ke rumahnya saja?” tanya Darwin. Asmira mengangguk.


“Ya Mas! Ayo?”

__ADS_1


Dalam perjalanan, semuanya diam. Yang terdengar hanya suara klakson mobil. Jalanan sedikit macet.


Jam telah menunjukkan pukul 23:00. Setelah menempuh perjalanan 45 menit, mereka tiba di rumah Santi.


Marco melirik sekilas, tempelan kertas rumah ini disegel bank.


Darwin mengetuk pintu. Serta berulang kali memberi salam dan memanggil nama Santi.


“Mbak, siapa ya?” tanya Santi.


“San, aku takut. Jangan-jangan polisi,” ujar Nindy gemetar.


“Mbak jangan ngomong kek gitu dong. Aku buka pintu dulu, ya.”


Namun Nindy mencegah Santi membukakan pintu. “San, jangan.”


“Mbak tenang ya. Tunggu di sini saja.”


Santi segera menuju pintu depan, dengan ragu, ia menarik gagang pintu.


“Mbak Mira!”


“Santi, kamu kenapa enggak bilang kalau mau kesini,” ujar Asmira, ia peluk erat tubuh Santi.


Santi segera melepas pelukannya, ia mundur selangkah ke belakang. “Mbak, jangan tangkap mbak Nindy, aku mohon!” ujar Santi.


Asmira kaget, Marco juga tidak kalah kagetnya. Marco sangat marah. “Enak saja kamu, tindakan kakakmu itu kriminal, dia hampir saja membunuh cucu saya!” sergah Marco penuh amarah.


Santi terkejut mendengar ucapan Marco ketika menyebut Nindy pembunuh.


“Mbak, aku mohon Mbak, tangkap aku saja Mbak!” ujar Santi, tangisannya pecah.


Nindy yang sedari tadi berdiri dibalik pintu, benar-benar tidak menyangka Santi akan mengatakan seperti itu. Nindy tidak bisa menahan air matanya.


“Jangan!” ucapnya keluar dari persembunyiannya.


“Nah! ini dia pembunuhnya!” teriak Marco begitu Nindy keluar.


“Tangkap saya saja, jangan Santi. Saya yang salah, bukan dia!” ujar Nindy mendekati mereka yang berada di teras rumahnya.


“Jangan Mbak, aku saja!”


“Stop!” teriak Marco.


“Kalian jangan buat drama di depan saya!”


Keduanya terdiam, begitu pun yang lainnya. Namun tiba-tiba Asmira memeluk Nindy erat, ia nangis di pelukan Nindy dengan tangisan yang begitu memilukan.


“Katakan apa salahku, Nindy?” tanya Asmira.


Jangan lupa like ya...


Baca juga novel A BIG MISTAKE.

__ADS_1


__ADS_2