Perjanjian

Perjanjian
Episode 100


__ADS_3

3 bulan kemudian.


Waktu berlalu begitu cepat, semuanya terjadi begitu saja. Tawa bahagia, suka dan duka semua telah dilewati bersama.


Nindy telah resmi dipersunting oleh Kelvin, keduanya baru saja melangsungkan sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri orang-orang terdekatnya saja.


Walau tanpa kehadiran sang mama, namun, restu sang ayah sudah lebih dari cukup untuk Nindy. Bahkan ia tidak berharap untuk bertemu dan bertatap muka lagi dengan mamanya.


Kabar bahagia datang dari Valen dan Jessica. Wanita yang kini menjadi nyonya Valen itu, dikabarkan sedang hamil muda. Karena begitu menikah mereka langsung mengikuti program hamil. Dan kabar terbarunya lagi, mereka baru saja beli rumah baru dikawasan anggrek. Dengan fasilitas yang cukup mewah.


Martha semakin merasa kesepian, putra dan putrinya kini telah memiliki kehidupan masing-masing.


Walau ia turut bahagia dengan kehidupan baru anak-anaknya, namun ia tidak bisa pungkiri bahwa ia merasa sangat kesepian.


Usia kehamilan Asmira sudah memasuki 9 bulan. Kemarin saat USG, dokter mengatakan bayi mereka baik-baik saja. Dengan posisi yang sempurna.


Namun berbeda dengan orang tua pada umumnya, dimana ibu dan ayah penasaran dengan jenis kelamin anak. Tetapi tidak dengan Asmira dan Darwin. Mereka tidak ingin mengetahui apa jenis kelamin yang dikandung Asmira.


Harapan pada sang pencipta, hanya ingin diberikan buah hati yang Soleh dan Soleha yang mampu membanggakan mereka kelak.


* * *


Malam harinya, pukul 20:00 malam.


Minggu kemarin, dokter telah memprediksi Asmira akan melahirkan Minggu ini. Rasa tegang dan cemas dirasakan oleh Asmira.


“Mas, aku takut!”


Darwin mencoba membuat Asmira merasa tenang dengan kecemasannya. “Sayang, Mas disini. Percaya, semuanya akan baik-baik saja.”


Kontraksi pertama dirasakan oleh Asmira dengan dengan rasa sakit yang tidak terlalu lama, lalu berangsur-angsur pulih.


Darwin segera melarikan Asmira ke rumah sakit. Apa yang terjadi dengan Kelvin kemarin, cukup membuat Darwin merasakan trauma yang luar biasa.


Ditemani Rose dan Ryu, Darwin meluncur dengan kecepatan sedang. Asmira menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia buang perlahan-lahan.


“Mas, cepetan. Perut aku sakit banget.”


Kontraksi yang dirasakan Asmira kini semakin lama dan sering, rasanya lebih sakit.


Rose menyuruh Darwin mempercepat laju kendaraannya. Rose mengerti apa yang Asmira alami. Saat kontraksi semakin sering dan lama, sebentar lagi ibu akan segera melahirkan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. Asmira segera dilarikan keruang persalinan, jeritannya semakin keras seiring dengan sakit yang ia derita.


Asmira berbaring di ranjang ruang persalinan, dokter memeriksa kondisi Asmira ia melihat Asmira sudah akan segera melahirkan.


Leher rahim Asmira telah terbuka dan melebar dengan sempurna. Dokter memberi aba-aba agar Asmira terus menarik nafas dalam-dalam kemudian mendorong pelan-pelan.


Asmira merasakan sakit yang luar biasa, air matanya perlahan menetes di pipinya, Darwin terus menggenggam erat tangan istrinya itu.


“Sayang, kamu bisa!” ujar Darwin memberi semangat.


Asmira merasakan tekanan kepala bayinya berada dibawah panggulnya. Dokter menyuruh Asmira mendorong kuat-kuat agar bayinya segera keluar.


“Ambil nafas, dorong lagi kuat-kuat Bu,” dokter memberi aba-aba.


Asmira terus melakukan sesuai aba-aba dokter, ia memberi jeda setiap kali ia ambil nafas dan mendorong kuat-kuat. Kontraksi terus terjadi, Asmira menggenggam tangan Darwin semakin erat.


Wajah Darwin pucat, ia gemetar. Namun ia mencoba bertahan sekuat mungkin demi Asmira.


Dokter memberitahu kepala bayi mulai muncul di pintu masuk ******, dokter menyuruh Asmira berhenti mendorong.


“Tarik nafas Bu, terus ... tarik nafas lagi.”


Dokter meminta Asmira berhenti mendorong agar bayi lahir secara perlahan dan lembut. Cara itu mencegah terjadinya robekan besar, dan membantu melindungi area perineum.


“Alhamdulillah ....” Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipi Darwin.


Asmira lemas tak berdaya, wajahnya pucat ia masih menggenggam erat tangan Darwin. Darwin membelai lembut rambut istrinya, ia kecup kening sang istri.


“Bayi kita laki-laki sayang,” bisik Darwin ditelinga Asmira.


Kemudian dokter memberikan bayi laki-laki itu kepada Asmira setelah mengeringkannya dengan handuk, dokter menempelkan bayi Asmira ke dadanya.


Kemudian azan dikumandangkan Darwin ditelinga anaknya. Kembali air mata bahagia tak mampu ia bendung.


Semua keluarga telah tiba. Bahagia terpancar dari raut wajah mereka semua. Terlebih, bagi Asmira pribadi, seakan-akan semuanya seperti mimpi. Kini ia resmi telah menjadi seorang ibu.


“Aku beri nama anak kita, Evano. Artinya anugerah Tuhan yang paling indah.” Darwin menggendong putranya dia menciumi anaknya bertubi-tubi.


“Nama yang bagus, Evano.” Martha mengulang menyebut nama cucu laki-lakinya itu.


* * *

__ADS_1


Sepulang Asmira dari rumah sakit kemarin, Rose terus menemani adiknya itu. Merawat sang bayi dan ibundanya.


Asmira sama sekali belum bisa menggendong anaknya yang lahir dengan berat 4,2 kg itu. Rose terus mengajarinya cara menggendong, memandikan, dan memberi ASI.


Brandon sangat menyukai baby Evano. Bayi laki-laki yang memiliki kemiripan wajah ayah dan ibunya itu sangat tampan dan menggemaskan.


Jessica setiap hari mengunjungi mereka dan menghabiskan waktu bersama hingga sore. Valen akan menjemputnya sepulang ia bekerja.


* * *


2 bulan kemudian.


Asmira mulai pintar menggendong dan melakukan segala sesuatu lainnya yang berhubungan dengan baby Evano.


Asmira menolak ketika Darwin mengatakan soal ia ingin mencarikan baby sitter.


“Aku bisa sendiri, Mas.”


Asmira merasa Darwin kurang menghargai usahanya untuk melakukan yang terbaik untuk baby Evano.


“Sayang, aku hanya gak ingin kamu lelah. Evano sangat rewel,” ujar Darwin memeluk istrinya yang salah faham dengan maksud baiknya.


“Aku gak butuh baby sitter. Aku cuma butuh seorang pembantu rumah tangga aja,” ujar Asmira sembari terus meninabobokan baby Evano.


Darwin menyudahi obrolan yang tiada akhir itu. Asmira tetap bersikukuh ingin merawat baby Evano sendiri. Darwin membelai lembut rambut Asmira, lalu ia menciumi pipi istrinya.


Baby Evano sangat aktif. Asmira memberinya ASI eksklusif. Kini Asmira tampak kurus, kantung matanya menghitam karena kurang tidur. Setiap malam ia bergadang karena baby Evano tidak bisa tidur.


Saat Asmira dan Darwin sedang makan malam, Asmira mengatakan ia ingin Martha menemaninya saat-saat seperti ini. Ia menyesal karena dulu pernah salah paham terhadap mertuanya itu.


“Dulu, aku sengaja buat perjanjian dengan Mas, aku ingin memiliki rumah sendiri dan tinggal terpisah dengan mertua, hanya karena aku takut, aku lihat banyak disinetron-sinetron mertuanya jahat-jahat.”


Sontak membuat Darwin tertawa pecah, ia hampir saja tersedak dengan makanan di mulutnya. Asmira memberikan Darwin minum.


Kepolosan itu yang selalu membuat Darwin jatuh cinta pada Asmira setiap hari. Apalagi sekarang ditambah dengan kehadiran baby Evano disisi mereka. Lengkap sudah kebahagiaan yang mereka rasakan.


Hari demi hari mereka lewati dengan penuh kasih sayang, baby Evano terus tumbuh besar. Darwin kini menjelma menjadi kepala keluarga yang mampu membimbing keluarganya dengan baik. Serta Asmira, ia berhasil menjadi seorang istri sekaligus ibu yang sukses membuat rumah tangganya bahagia.


TAMAT


Jangan lupa like ya ...

__ADS_1


Beri komentar kalian, cerita seperti apa yang kalian inginkan agar author punya referensi untuk novel kedepannya bercerita tentang apa dan bagaimana alurnya.


Thank you all..


__ADS_2