
Pagi hari Asmira terbangun, ia begitu nyenyak tidur semalaman. Aroma masakan di dapur sangat wangi membuat Asmira lapar, ia keluar kamar menemui Martha yang sedang membuat sarapan.
“Ma lapar ...” rengek Asmira dengan mata terpejam dan baju tidur yang berantakan.
“Eh, eh ... enggak ada, mandi dulu baru kita sarapan,” ujar Martha.
“Ya udah deh.” Asmira masuk ke kamar ia segera mandi.
Darwin yang baru tiba, langsung selonong masuk ke dalam tanpa permisi.
“Sayang ... aku pulang!” teriak Darwin.
“Kamu kirai kita budek apa?” tanya Martha membulatkan matanya.
Darwin terkejut melihat Mamahnya. “Kenapa Mama di sini?” tanya Darwin.
“Kenapa, enggak suka Mama di sini, ganggu kalian?” Martha balik bertanya.
“Bukan gitu Mama sayang.” Darwin memeluk Martha dan mencium pipinya.
Martha tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari putranya.
“Mama menginap di sini semalam,” jawab Martha.
Darwin menyipitkan matanya. “Terus papa gimana?” tanya Darwin.
Asmira keluar selesai mandi dan berpakaian santai. “Mas udah pulang?” tanya Asmira menghampiri Darwin.
Martha terselamatkan dari pertanyaan Darwin, ia tersenyum lega.
“Baru saja nih, kenapa kamu enggak bilang Mama menginap di sini?” tanya Darwin sambil mengecup kening Asmira.
“Kejutan dong, masa dikasih tahu sih Mas,” Jawab Asmira.
“Iya sayang, hari ini kita fiting baju,” sambung Martha.
“Bukannya udah kemarin?” tanya Darwin.
“Enggak jadi, aku malas kamu genit kalo di video call aku risi,” jawab Asmira.
Darwin tertawa kecil. “Apa hubungannya?” Darwin pura-pura tidak tahu.
“Malas jawab, buruan makan!” Asmira mulai judes.
“Liat tuh Ma, calon mantu Mama galak banget,” goda Darwin.
Martha hanya tersenyum melihat keduanya sama-sama bertingkah kekanakan.
“Udah makan dulu ....” Martha melerai pertengkaran konyol itu.
Mereka bertiga sarapan pagi, setelah itu siap-siap pergi ke butik untuk fiting baju pengantin Darwin dan Asmira.
* *
“Di hubungi enggak bisa-bisa, ke mana sih ni orang?” gerutu Ritha.
pembantu rumah tangga yang Kelvin sediakan untuk Ritha menghampirinya.
“Non ...” panggil pembantu itu.
__ADS_1
“Mmm ...” jawab Ritha terus menatap layar ponselnya.
“Kemarin ada seorang wanita dan anak kecil yang datang kemari,” ucap Minah.
Ritha terkejut. “Mau apa dia kemari?” tanya Ritha.
“Wanita itu mau tinggal di sini kayaknya, ia bawa dua koper besar,” beritahu Minah sungkan.
“Terus?” tanya Ritha.
“Ya saya usir Non, saya tunjukin foto Non dan tuan Kelvin, enak saja dia mengaku-ngaku istri tuan,” ujar Minah.
Ritha tersenyum bangga. "Bagus Minah, kamu memang bisa di andalkan.”
“Wanita itu menangis dan segera pergi, apa dia selingkuhan tuan Kelvin, Non?” tanya Minah.
“Iya, jangan beritahu Kelvin kalo dia kesini!” sergah Ritha.
“Non hati-hati, jaman sekarang banyak pelakor Non,” ucap Minah yang buat Ritha tidak mampu berkata-kata.
Minah permisi untuk kembali mengerjakan tugas-tugasnya.
“Aku harus menemui Kelvin, ini saatnya aku mencuri hatinya dan menendang jauh-jauh wanita itu dari hati dan pikiran Kelvin,” gumam Ritha dalam hati.
Ritha bergegas menuju ke rumah Kelvin dan Rose, ia tahu betul Rose tidak di rumah itu.
Setibanya di rumah Kelvin , ia mendengar teriakan Kelvin seperti orang gila di dalam rumah.
Ritha masuk, pecahan botol minuman berserakan dimana-mana, ruang tamu itu seperti kapal pecah sangat berantakan, ia mencari dari mana sumber suara teriakan itu.
Ritha mendengar Kelvin sedang berbicara dengan seseorang di telepon, ia menghentikan langkahnya.
“Kamu jangan bohong Bas.”
“Aku tidak melakukan apa-apa, apa maksud kamu?”
Ritha hanya mendengar Kelvin bicara, tidak dengan lawan bicaranya di telepon, Ritha tersenyum bahagia.
“Jadi wanita itu sudah curiga kalo Kelvin main di belakangnya,” gumam Ritha.
Ritha mengurungkan niatnya bertemu dengan Kelvin, bukan saat yang tepat, biarkan Kelvin sedikit lebih tenang pikir Ritha.
* *
Darwin mengenakan baju dan jas hitam dan celana senada dengannya, sedangkan Asmira begitu cantik dengan gaun putih panjang bak Princess, gaun itu begitu pas di badannya. Bagaimana tidak Martha memilih desainer terkenal untuk merancang gaun mewah tersebut.
“Kalian berdua sangat serasi,” ucap desainer itu, gayanya sedikit gemulai .
“Mmm ... cocok banget,” ucap asistennya cara bicara mereka sama persis.
“Silakan mbak dan mas pilih tempat untuk kita melakukan Prewedding?” pinta fotografer profesional yang Martha pilih.
“Mas aku suka pantai,” ucap Asmira kegirangan.
“Boleh mama setuju,” sahut Martha.
“Kalo gitu, silakan Nyonya hubungi kalo sudah tentukan jadwal, kita langsung let's go,” ucap fotografer itu.
“Baik, akan saya hubungi segera.”
__ADS_1
Martha menyuruh Asmira dan Darwin untuk berpose, ia mengambil beberapa jepretan.
“Buat apa sih Ma?” tanya Darwin.
“Mau mama tunjukkan ke awak media sayang,” ucap Martha santai.
“Jangan dong Ma,” sergah Darwin sedikit terkejut.
“Kenapa?” tanya Martha menyipitkan matanya.
“Nanti kalo mereka cari informasi tentang keluargaku gimana Ma?” tanya Asmira.
“Kalian tenang saja, udah Mama atur semuanya,” jawab Martha santai.
Darwin dan Asmira menyipitkan matanya secara bersamaan.
“Biasa saja, enggak usah lihat mama gitu, seram jadinya.”
“Enggak kok Ma ....” Asmira memeluk Martha.
“Terima kasih ya, Ma,” ucap Darwin.
“Untuk apa?” tanya Martha.
“Mama menerima pilihan Darwin, dan merestui kami,” jawab Darwin.
“Udah ah, enggak usah buat suasana jadi melow Mama enggak suka,” sahut Martha matanya mulai berkaca-kaca.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, pelayan butik itu menghampiri mereka. “Nyonya, di luar banyak wartawan.”
“Ma gimana dong?” tanya Asmira.
“Kalian di sini saja, biar Mama yang temui mereka semua, tanyakan sama pemilik butik, jalan keluar selain pintu depan,” ujar Martha bergegas keluar.
Di luar butik telah banyak awak media dari berbagai stasiun televisi swasta selain milik keluarga Marco juga banyak yang lainnya. Martha keluar dari butik itu tersenyum ramah.
“Apakah Darwin akan segera menikah?” tanya salah seorang wartawan.
“Tentu saja, saya sedang bertemu dengan perancang terbaik,” ucap Martha.
“Apakah dari keluarga terpandang juga?” tanya wartawan lainnya.
“Bukan, hanya perempuan biasa saja, tapi anak saya Darwin mencintainya. Untuk apa mencari dari kalangan keluarga berada, bagi kami, kekayaan yang kami miliki saat ini lebih dari cukup,” ucap Martha tegas.
Semua wartawan hanya mangut-mangut saja, memang benar adanya seperti Martha katakan. Biasanya pebisnis menikahkan anaknya sesama pebisnis untuk menguatkan nilai perusahaan, sedangkan Darwin berdiri sendiri, tidak membutuhkan bantuan saham dari siapa pun.
“Boleh kita bertemu dengan calon pengantin?” tanya wartawan lain.
“Enggak boleh untuk saat ini.” Martha mengeluarkan ponselnya dari tas mewahnya yang mungkin harganya bisa mencapai puluhan juta.
Martha memperlihatkan potret Asmira dan Darwin kepada awak media, mereka berdecak kagum.
“Siapa gerangan nama tuan putri itu?” tanya salah satu wartawan .
“Asmira Lestari,” ucap Martha lantang.
Setelah Martha rasa cukup menjawab pertanyaan dari awak media , Martha permisi ia bergegas meninggalkan butik yang masih dikerumuni wartawan.
* * *
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen ya..