Perjanjian

Perjanjian
Episode 46


__ADS_3

Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Jessica keluar kamar dan mau berinteraksi seperti biasanya.


Hari ini Jessica mengantar Sara sekolah menggunakan taksi, ia menolak mang Joni mengantarnya karena masih kesal dengan kejadian kemarin, saat Kelvin membuat onar Mang Joni menghilang entah ke mana. Jika saja ia ceritakan pada Marco, mungkin Mang Joni akan dipecat.


Sementara pak Samsul pagi-pagi tadi sudah mengantar Marni belanja bulanan, terpaksa Jessica berangkat menggunakan taksi.


Tidak lama kemudian mereka tiba di sekolah Sara, sekolah tampak sepi, gara-gara terlalu lama menunggu taksi akhirnya Sara terlambat sekolah.


Setelah Sara masuk, Jessica menunggu taksi dan segera pulang untuk masak bersama Marni.


Tiba-tiba sebuah mobil putih berdiri di depannya. Kelvin turun dari mobilnya, Jessica ingin berlari menjauh, namun sayangnya terlambat, Kelvin mencengkeram erat tangan Jessica.


Jessica berteriak meminta pertolongan, namun dengan cepat Kelvin menyeret Jessica masuk ke mobilnya, lalu ia hempaskan tubuh lemas Jessica dengan kasar.


“Vin, kenapa kamu seperti ini?” tanya Jessica.


“Apa perlu ku jawab, kau yang buatku seperti ini,” jawab Kelvin geram.


Jessica mengakui ia memang menjauhi Kelvin setelah mengetahui bahwa Kelvin dan Hardi adalah keponakan dan paman. Ia tidak pernah menjawab setiap kali Kelvin menghubunginya, puluhan pesan yang pria itu kirim ia abaikan begitu saja.


Terlebih-lebih ia juga mengetahui bahwa Kelvin juga masih berhubungan dengan simpanannya, hati Jessica terlanjur berlabuh pada Valen yang bersikap lemah lembut dan Sara juga menyukai dirinya.


Jessica takut kejadian kemarin terulang lagi, ia sangat trauma dengan perlakuan Kelvin terhadapnya. Sifatnya sama persis seperti Hardi, temperamental.


Kejadian kemarin persis seperti ini setelah Sara masuk sekolah, Jessica menunggu taksi yang lewat, Kelvin langsung membawanya pergi ke jalan Mawar. Jalan itu cukup sepi, Jessica berteriak minta tolong namun tidak satu pun orang lewat ketika itu.


Kelvin tidak peduli dengan teriakan Jessica, ia terus melanjutkan aksinya, ia melucuti pakaiannya satu persatu, dengan kasar ia menjambak rambut Jessica karena melakukan perlawanan. Ia kunci pintu mobilnya lalu ia ikat tangan Jessica.


Jessica menjerit meminta pertolongan, air mata membasahi pipinya. Ia tidak menyangka, sahabatnya sendiri tega memperlakukan dirinya se keji itu. Jessica terus melakukan perlawanan, ia tak putus asa untuk bisa terlepas dari Kelvin. Lalu Jessica menendang keras ************ Kelvin, pria itu pun meringis kesakitan, dengan cepat Jessica memungut semua bajunya ia berlari menjauh dari mobil Kelvin.


Tanpa sadar ia berlari dalam keadaan telanjang untung saja jalanan itu sepi. Setelah ia berlari cukup jauh, ia gunakan semua pakaiannya. Lalu entah bagaimana ceritanya, Kelvin sudah berada di belakangnya, Kelvin turun dari mobil.


Jessica kembali berlari cukup kencang, ia takut Kelvin akan menemukannya tapi tiba-tiba Jessica diserempet sebuah motor yang berlaju kencang, Jessica terpental jauh, kepalanya terbentur dengan trotoar jalan, seketika ia tak sadarkan diri.


Jessica menangis tersedu-sedu mengingat kejadian kemarin, ia menutup muka dengan kedua tangannya.


“Enggak begini caranya, Vin,” ucapnya kemudian.


“Kau yang buatku jadi begini Jess ... kenapa kau hindariku, dari semenjak SMA dulu aku mencintaimu, tapi kau lebih pilih om ku Jess ...” ujar Kelvin.


“Demi Tuhan Vin, aku enggak tahu dia om kamu ...” ucap Jessica.

__ADS_1


“Bohong ... kau pembohong Jess!” teriak Kelvin.


Jessica menghapus air matanya, ia memberanikan diri menatap Kelvin membuang rasa takutnya.


“Tatap mataku Vin, waktu ke rumah lamamu, aku udah cerita penyebab aku nikah dengan Hardi dan betapa menderitanya aku dengan perlakuan Hardi, Vin. Sekarang kamu pun ingin mencelakakan aku seperti yang Hardi lakukan?” tanya Jessica.


Kelvin membuang pandangannya ke samping.


“Liat aku Vin, tatap mataku apa ada kebohongan di sini, aku sahabatmu Vin,” ucap Jessica bercucuran air mata. Kelvin tidak menjawab ia hanya diam.


“Aku benci kamu, Vin.” Jessica turun dan berlari menjauh dari mobil Kelvin.


Kelvin menatap Jessica yang berlari menjauh darinya.


“Apa yang sudah aku lakukan,” gumamnya dalam hati.


****


“Minah ...” panggil Ritha.


“Ya Non, ada apa?” tanya Minah, dengan sedikit berlari menghampiri Ritha.


Minah segera mempersiapkan apa yang majikannya inginkan.


Ritha masuk kamar, ia melihat Kelvin masih tertidur pulas, jika hari libur Kelvin sengaja bangun kesiangan. Ritha membangunkannya, kemarin ia sudah berjanji akan menemani dirinya berkunjung ke rumah sang ayah.


“Besok saja kita pergi, sayang,” sahut Kelvin dengan suara khas orang bangun tidur.


“Tunggu aku melahirkan, gitu maksud Mas?” tanya Ritha kesal. “Pokoknya aku mau hari ini, ya hari ini, Titik.”


Kelvin bangun dari tidurnya, ia ingat pesan dokter kemarin, ibu hamil jangan sampai stres.


Selesai berkemas mereka segera berangkat menuju rumah Simon, Kelvin ragu apa Simon akan menerimanya atau tidak, jika tidak pun ia tidak akan mempermasalahkannya. Toh, selama ini Ritha yang mengejar-ngejarnya, terlebih-lebih saat ini Ritha sedang mengandung cucunya.


Ritha menekan bel berkali-kali, rumah tampak sepi. Sesaat kemudian pembantu Simon keluar membukakan pintu. Ritha segera masuk.


“Papa!”


Simon sedang asyik baca koran, ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia bangun dari duduknya ketika mengetahui putri kesayangannya pulang, ia peluk cium Ritha. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada Kelvin yang berdiri di belakang Ritha.


“Pa, ini calon mantu Papa.” Ritha menarik Kelvin menghampiri papanya. Kelvin menjabat tangan Simon.

__ADS_1


Simon memperhatikan Kelvin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ritha yang memperhatikan suasana semakin canggung antara calon suami dan ayahnya, ia mencoba mengalihkan suasana, ia mengelus-elus perutnya.


“Sayang perutmu buncit sekali, sekarang?” tanya Simon mengerutkan dahinya.


“Aku hamil Pa,” ucap Ritha santai.


“Apa!” teriak Simon terkejut.


Ritha dan Kelvin terperanjat melihat Simon begitu murka.


“Kamu hamil di luar nikah!” teriak Simon lagi, mukanya memerah.


“Kita akan segera nikah, Pa,” ujar Ritha.


Simon mencengkeram erat leher baju Kelvin, ia marah besar terhadap pria di hadapannya itu karena sudah menghamili anaknya di luar nikah.


Tanpa rasa bersalah dengan santai Kelvin menjawab, “Ritha sendiri yang ingin saya hamili Om.”


“Kamu!” Simon mempererat cengkeramannya.


Ritha kaget mendengar ucapan Kelvin demikian, ia tak menyangka pria yang ia cintai akan sejahat itu.


“Sudahlah Om, harusnya Om bersyukur Ritha hamil anak saya, nanti juga bakal dapat warisan dari harta saya,” ujar Kelvin.


Ritha menangis di pelukan papanya, ia tidak menyangka Kelvin akan sekejam itu.


“Mas, aku mencintaimu ...” ucap Ritha di sela tangisnya.


“Ya terus?” tanya Kelvin dengan senyum sinis.


“Kenapa kamu tega seperti ini, Mas?” tanya Ritha.


“Memangnya aku kenapa?” tanya Kelvin geram.


“Kurang apa kau selama ini, rumah kukasih, perusahaan kalian kuselamatkan, uang kutransfer tiap bulan.”


Simon tidak bisa berkata-kata, Ritha hanya bisa menangis tersedu-sedu di pelukan papanya.


Lalu Kelvin keluar dari rumah Simon, ia banting pintu cukup keras kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah Simon.


Jangan lupa Like ya?

__ADS_1


__ADS_2