Perjanjian

Perjanjian
Episode 50


__ADS_3

Marco menekan bel berkali-kali. Asmira membukakan pintu, ia sedikit terkejut melihat siapa yang datang.


“Pa, mari masuk,” ajak Asmira dengan sopan.


Marco menatap tajam pada Asmira. “Oh, tentu. Toh, ini juga rumah anakku,” ujarnya dengan nada sinis.


Asmira menyipitkan matanya tampak aneh dengan mertuanya itu. Kemudian ia suguhkan segelas minuman untuk Marco.


“Enggak usah repot, saya enggak akan lama-lama di sini,” ucap Marco tajam.


Asmira menundukkan kepalanya tidak berani beradu pandang dengan Marco.


“Kamu sudah tonton berita terbaru yang sedang viral?” tanya Marco.


Asmira mengangguk, tanpa terasa air mata mengalir di pipinya buru-buru ia menyeka dengan tangannya, sebelum sang mertua memperhatikannya.


“Dari awal saya sudah yakin. Mustahil dalam waktu sebulan Darwin memenuhi permintaan mamanya,” ucap Marco memulai pembicaraan dengan serius. Asmira menatap Marco,


“Maksud Papa?” tanya Asmira tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Marco.


Marco menyilang kedua tangan di dadanya sembari menyunggingkan senyum sinis.


“Ritha Amelia nama wanita dalam video tersebut, dia adalah wanita pilihan saya untuk Darwin,” ujar Marco. “Tapi Darwin menolak, ternyata ia sudah terjerat rayuan wanita malam sepertimu,” lanjut Marco.


Asmira terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut mertuanya itu, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Asmira, ia tak berniat membantah semua omongan Marco, ia hanya bisa menangis.


“Darwin berjanji dengan mamanya dalam waktu sebulan ia akan mengenalkan calonnya sendiri pada kami,” Marco diam sesaat.


“Ternyata ia membayar wanita malam sepertimu untuk ia nikahi,” lanjut Marco lagi.


Asmira tidak bisa lagi menahan tangisnya ia mulai terisak, berbagai tuduhan yang Marco utarakan membuat hatinya seperti ditusuk belati.


Marco mengeluarkan secarik kertas di saku celananya. “Ini punyamu, kan?” tanya Marco melemparkan kertas itu ke hadapan Asmira.


“Jika harta yang kamu inginkan, sudah kamu dapat, kan?” tanya Marco lagi.


Asmira sama sekali tak menjawab setiap tuduhan yang Marco ucapkan. Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya Marco meninggalkan rumah Asmira.


Asmira masih terpaku di kursi teras yang ia duduki, matanya jauh memandang ke depan dengan tatapan kosong.


“Tuhan, baru sebentar kurasakan kebahagiaan ini ...” gumam Asmira dalam hati.


“Bang, di sini,” ujar Jessica pada sopir taksi, ia turun di depan rumah Asmira, baru selangkah ia masuk pekarangan rumah mewah itu, tampak Asmira di teras rumah.


“Mira ...” panggil Jessica ketika sudah berada di hadapan Asmira. Namun tidak ada jawaban.


“Mir...” panggil Jessica lagi, ia menggoyangkan tubuh Asmira pelan-pelan.


Asmira tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


“Mbak ...” ia langsung memeluk Jessica erat.


Jessica minta maaf karena telah bersikap egois. Seharusnya ia ada di saat-saat seperti itu.


“Aku pikir Mbak benar-benar enggak akan peduli lagi samaku,” ucap Asmira.


Mereka saling berpelukan, Asmira meluapkan segala emosi yang ia pendam sendiri. Semua terasa ringan setelah ia ceritakan pada sang Kakak.


Hubungan baik yang mereka jalin sejak kecil masih terasa hingga kini. Meskipun tanpa ikatan darah dari keduanya, tapi cukup membuktikan batin keduanya tetap menyatu. Jika salah satu dari mereka tersakiti yang satunya juga akan merasakan hal yang sama.


Simon berpapasan dengan Minah yang sedang menyirami tanaman di halaman rumah. Minah menundukkan kepalanya tanda hormat, dengan tergesa-gesa Simon masuk menemui anaknya.


“Ritha!” panggil Simon sedikit berteriak.


Ritha keluar kamar. “Papa, kenapa teriak-teriak, sih?" tanya Ritha.


Simon memperhatikan wajah Ritha, ia seperti tidak melakukan suatu kesalahan pun.


Kenyataannya memang Ritha tidak tahu-menahu tentang berita yang sedang beredar, ia juga tidak menonton televisi sama sekali.


Simon menyalakan televisi, benar saja semua stasiun heboh dengan berita Darwin dan Ritha.


Mata Ritha terbelalak melihat berita yang sedang viral itu. “Pa, aku harus kasih penjelasan, pasti istri Darwin marah besar, ia pasti salah paham.” Ritha merasa khawatir dengan keadaan rumah tangga Darwin saat ini.


“Pa, ayo temani aku ke sana,” ajak Ritha.


Simon mengajak anaknya untuk memanfaatkan berita yang ada, ia mengajak Ritha meminta pertanggungjawaban Darwin. Ritha menolak, ia mengatakan janin yang ada di perutnya adalah anak Kelvin.


“Papa enggak peduli, ayo kita manfaatkan rumor yang ada,” ajak Simon lagi.


“Jangan gila pa!” teriak Ritha.


“Aku enggak mau, jangan paksa aku melakukan kemauan gila papa,” sambung Ritha.


Simon berdecak kesal dengan putrinya yang tidak mengerti maksud pembicaraannya.


“Apa kamu gila, ini kesempatan kita. Sudah takdir kalian berdua bersama, apa kamu tidak ingin anakmu bahagia dengan kehidupan mewah keluarga Marco yang tidak akan habis tujuh turunan?” tanya Simon pada Ritha sungguh-sungguh.


Ritha hanya diam saja.


“Apa kamu merasa cukup karena rumah kecil ini atas namamu?” tanya Simon lagi.


Ritha menggelengkan kepalanya.


“Kamu jangan bodoh, Nak. Kelvin pria brengsek, ia hanya ingin melampiaskan hawa nafsunya saja padamu, ia tidak berniat untuk menikahi mu, Nak.” Simon mengelus-elus rambut pirang Ritha.


Ritha memejamkan matanya, apa yang papanya bicarakan benar adanya, itu yang selama ini Kelvin suguhkan padanya. Nikah jadi iming-iming saja untuknya, setiap kali Ritha menanyakan kejelasan hubungan antara keduanya, Kelvin selalu saja berkilah.


Sampai detik ini pun, meski Ritha sedang mengandung anaknya, keputusan Kelvin tak berubah, ia tetap tidak berniat menikahinya.

__ADS_1


“Tapi Pa, bagaimana dengan istri Darwin?” tanya Ritha pada Simon.


Simon tersenyum lega, akhirnya Ritha tahu ke mana tujuan pembicaraannya tadi.


“Bukankah dia yang merebut Darwin darimu?” tanya Simon pada Ritha.


Ritha mengangguk sambil tersenyum.


Keesokan harinya Simon dan Ritha pergi ke rumah Marco, Martha yang menyambut kedatangan mereka tampak tidak senang dengan kehadiran mereka berdua.


“Pa, ada tamu!” teriak Martha tidak suka.


Marco yang sedang asyik baca koran di teras samping bergegas menuju ke depan.


Marco sangat gembira melihat siapa yang datang.


“Ritha ..." Marco memeluk Ritha dan mengelus perutnya. "Calon cucuku,” ucapnya membuat Martha sangat kesal.


“Ma, kesini dong,” ajak Marco.


Martha menggeleng. “Itu bukan cucuku!” ucap Martha tegas.


Ritha menyunggingkan senyum di wajahnya, ia mendekati Martha dengan sengaja, entah mengapa rasanya ia ngidam membuat Martha kesal dengannya.


“Ma, ini cucu Mama,” Ritha menarik tangan Martha ia letakkan di perutnya.


Martha menarik tangannya kasar.


“Bukan! itu bukan cucuku, jangan panggil aku Mama, aku jijik mendengarnya!” Martha meninggalkan mereka bertiga dengan raut wajah kesal.


Ritha tersenyum terkekeh geli melihat Martha berhasil dibuat kesal olehnya.


Ritha mengelus-elus perutnya. “Nak, jangan usil sama nenekmu,” ucap Ritha membuat Simon dan Marco tertawa terbahak-bahak.


“Pa, Darwin mana ... aku rindu.” rengek Ritha.


Martha yang mengintip mereka dari kamarnya, ia tampak sangat geram.


“Biar Papa hubungi nanti, Simon jangan bawa pulang Ritha ya, biarkan dia di sini, aku masih ingin bersama cucuku,” ujar Marco.


Ritha mengantar Simon sampai halaman depan, ia memeluk erat papanya.


“Ide papa brilian banget,” ucap Ritha setengah berbisik.


Simon tersenyum melihat Ritha tampak aura bahagia di wajahnya.


“Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin sayang.” Simon mengecup kening Ritha sebelum ia meninggalkan rumah sahabatnya Marco.


jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2