Perjanjian

Perjanjian
Episode 16


__ADS_3

“Mas aku deg degan,” ucap Asmira.


“Tenang, mama papa makannya nasi kok,” Darwin mengelus rambut Asmira dan mencium kepalanya.


“Mas, siapa juga yang bilang mereka makan orang ...” rengek Asmira.


Darwin menggandeng tangan Asmira masuk ke dalam rumah mamanya, tangan Asmira terasa begitu dingin.


Martha menyambut anak dan calon mantunya, ia mengelus dan mencium kedua pipi Asmira.


“Kamu cantik sekali, sayang,” puji Martha dengan wajah tersenyum manis.


“Tante juga cantik,” Asmira membalas pujian Martha.


Wajah Marco terlihat biasa saja, tidak seperti saat bertemu dengan Ritha dan Simon.


“Pa, kenalan dong dengan calon mantu kita,” ucap Martha.


Marco memeluk Asmira dan mencium pucuk kepalanya. “Siapa namamu?” tanya Marco


“Asmira Lestari, Om.” Asmira tersenyum lebar.


“Buk Nyonya makanan sudah siap,” beritahu Marni, ia melirik Asmira dan menganggukkan kepalanya. Asmira membalas dengan senyuman.


“Baik Bik, terima kasih,” ucap Martha.


Darwin kembali menggandeng tangan Asmira menuju meja makan. Dengan cekatan, Asmira mengambil nasi dan lauk untuk Darwin, ia tahu semua apa kesukaan Darwin. Martha tersenyum melihat Asmira yang begitu perhatian.


Asmira ingin menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, lalu tiba-tiba Marco bertanya, “Orang tua kamu kerja apa?”


Asmira tertegun, sudah ia bayangkan tidak mudah menjadi menantu dari keluarga ternama. Kemarin, ia melihat acara Infotainment dan juga menggoogling tentang keluarga Marco Antonio. Bukan Hanya perusahaan yang mereka miliki, tapi beberapa restoran bintang lima , perhotelan , Mall dan TV swasta dan masih banyak lainnya.


“Makan dulu Pa, biar nanti Darwin yang akan ceritakan semua,” ucap Darwin menyela pertanyaan Marco.


Asmira menyelesaikan makannya dengan perasaan tidak baik-baik saja. Darwin coba menetralkan suasana hati Asmira dengan beberapa kali berbisik nakal, hingga Asmira kembali tertawa kecil.


“Kamu kuliah di mana, Tari?” tanya Martha.


“Di universitas B Tante,” jawab Asmira.


“Itu bukannya salah satu universitas kita juga Pa?” tanya Martha. Marco Hanya mengangguk.


Marco tidak bersuara sepatah kata pun, ia begitu penasaran dengan orang tua Asmira dan apa pekerjaan mereka. Ia tidak mau Darwin menikahi wanita yang tidak sepadan dengan keluarganya.

__ADS_1


Asmira berpamitan pulang, Darwin mengantarnya ke apartemen. Setelah itu ia kembali ke rumah mamanya, dengan alasan ada sesuatu yang tertinggal.


Darwin menghampiri orang tuanya yang masih duduk di sofa ruang tamu, ia menceritakan semua tentang Asmira dan kakaknya Jessica, sebagaimana yang ia tahu dari Asmira sendiri.


Mata Martha berkaca-kaca. “Segera tetapkan tanggal pernikahan kalian, sayang,” ucap Martha.


“Papa tidak setuju!” sergah Marco dengan suara tinggi.


“Bagaimana bisa Papa enggak setuju, di mana hati nurani Papa, hanya memikirkan uang dan uang. Uang bisa dicari Pa!” tangisan Martha pecah.


Marco terdiam melihat Martha begitu emosional, apalagi menyangkut anak perempuan ia begitu sensitif.


“Papa setuju atau enggak, Darwin tetap akan menikah dengan Asmira Pa,” ucap Darwin tegas.


“Mama dukung kamu,” jawab Martha di sela tangisnya.


Marco bangkit dari duduknya, seraya berkata, “Mama yang bicara dengan Simon dan Ritha. Bikin malu saja!” Marco pergi meninggalkan Martha dan Darwin.


“Kamu harus bantu Jessica, Win,” pinta Martha.


“Pasti Ma, semua demi Lestari,” jawab Darwin.


“Mama mau temui papa dulu, kamu pulang saja, enggak usah pikirkan papamu, biar Mama yang bujuknya.” Martha mencium kening putranya.


Marco masih memejamkan matanya tidak menanggapi kedatangan Martha.


“Jangan lupa Pa, kebahagiaan anak lebih penting dari pada kemauan kita. Papa jangan memaksakan kehendak terhadap Darwin,” ujar Martha.


“Papa tidak pernah memaksakan Darwin. Semua untuk kebaikan Kita juga!” ucap Marco emosi dengan omongan Martha.


“Bukan kita, tapi Papa!” jawab Martha membuang pandangan ke samping, ia menahan emosinya.


“Apa kata orang Ma, bagaimana kalau Media tahu kita punya mantu miskin!” teriak Marco.


“Mama selalu menuruti permintaan Papa, Papa selalu ingin kemauan Papa tercapai. Tapi kenapa, Papa tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.” Martha menangis sejadi-jadinya.


“Karena Papa begini Mama bisa hidup mewah dan Darwin bisa sekolah tinggi. Mama jangan lupa itu.” ucapan Marco begitu pedas, ia tidak peduli dengan tangisan Martha.


“Mama pikir Papa sudah berubah Pa, ternyata Mama salah, Papa masih Marco yang dulu. Ya ... Marco yang penuh ambisi yang selalu berhasil membuat istri dan anaknya terluka dengan semua keinginannya.” Martha berteriak ia mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya yang selama ini ia pendam sendiri.


“Jika pernikahan itu tetap terjadi, jangan ada media yang boleh meliput acaranya. Bikin malu saja,” ucap Marco tersenyum sinis.


“Tidak ada gunanya berdebat dengan Papa, jika keputusan Papa masih sama, jangan salahkan Mama, jika Mama pergi dari rumah ini,” ancam Martha, ia menatap tajam wajah suaminya.

__ADS_1


Mata Marco terbelalak. “Selangkah Mama keluar dari rumah ini, Mama akan tahu akibatnya!” teriak Marco.


“Mama tidak peduli Pa! Mama sudah diam dengan keputusan Papa selama ini. Tapi tidak untuk kali ini Pa!” teriak Martha dengan suara parau.


“Begitu pentingnya masalah pernikahan ini, sampai mama membuat keributan seperti ini.” Marco tersenyum sinis.


“Penting, sangat penting. Kebahagiaan anak adalah nomor satu, tidak seperti Papa yang hanya memikirkan diri sendiri,” ucap Martha menatap tajam ke arah Marco.


“Kebahagiaan hanya bergantung pada uang,” ujar Marco angkuh.


“Kita lihat saja, sejauh mana uang bisa membahagiakan Papa. Keputusan Mama sudah bulat, akan mengadakan acara pesta mewah dan mengundang semua media." Mata Martha membulat kepada Marco.


Pertengkaran kedua suami istri itu terdengar ke seluruh ruangan, pembantu rumah tangga mereka kaget. Marco dan Martha tidak pernah bertengkar, selama ini tidak ada pertikaian antara mereka berdua.


Marni dan suaminya berada dikamar juga mendengar suara teriakan Martha dan Marco.


“Buk nyonya begitu menderita ya, Pak,” ucap Marni sedih. "Ternyata orang kaya, hidupnya tidak mudah juga,” ujar Marni lagi.


“Tuan Marco selalu memaksa apa yang dia inginkan harus terwujud,” imbuh Samsul.


“Bapak tidak lupa kan, dulu buk nyonya juga menyerahkan anak perempuannya kepada orang lain. Hanya karena tuan Marco tidak ingin anak perempuan,” tanya Marni pada suaminya.


“Iya Buk. Bagaimana mungkin Bapak lupa, Bapak yang mengantarkan buk nyonya ke rumah orang tua angkat bayi tak berdosa itu,” jawab Samsul dengan mata berkaca-kaca.


“Tuan Marco tega ya, Pak. Kalau saja buk nyonya tidak menukar bayinya dengan anak orang yang sudah meninggal, mungkin buk nyonya tidak menderita seperti ini.” Marni meneteskan air matanya.


“Sekarang tuan Marco pun menentang keputusan tuan muda. Itu yang membuat buk nyonya begitu murka, Buk,” ujar Samsul.


“Kasihan buk nyonya,” ucap Marni menyeka air matanya.


“Biarkanlah Buk. Biarkan itu menjadi urusan mereka. Kita tidak perlu ikut campur terlalu jauh,” ujar Samsul mengingatkan istrinya.


Martha tidur di kamar tamu meninggalkan Marco di kamarnya sendiri dengan kemarahan yang menggebu-gebu di dadanya, kali ini Martha begitu tegas dengan keputusannya.


“Aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya gara-gara memikirkan kamu Pa,” gumam Martha dalam hati.


Mata Martha tidak bisa terpejam, ia beberapa kali mengubah posisi tidurnya. Tapi tetap saja ia tidak mengantuk, pikirannya melayang hanya bayi mungil yang tak berdosa yang telah ia tinggalkan demi suaminya yang terus muncul di benaknya.


“Maafkan Mama, Nak,” lirih Martha.


Tangisan Martha kembali pecah, ia menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya. Anaknya yang masih bayi saat ia tinggalkan dulu kini ia tidak tahu di mana keberadaannya.


Jangan lupa Like ya...

__ADS_1


Baca novel A BIG MISTAKE ya


__ADS_2