
Pagi-pagi sekali, Bastian telah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Hari ini ia kembali ke Jepang bersama Rose.
“Bas, bukannya kita berangkat siang?” tanya Rose. Bastian tersenyum, ia menggaruk kepalanya.
“Aku mau ke rumah teman bentar Mbak," sahut Bastian berbohong. Rose mangut-mangut. “Oh, hati-hati Bas.” Rose melambaikan tangannya kepada Bastian yang sudah melaju dengan mobilnya. Bastian menuju sekolah sang bidadari yang telah menyentuh hatinya, ia meluncur dengan kecepatan tinggi.
Seperti biasa, Sara ke sekolah diantar Jessica. Tapi hari ini Jessica buru-buru, karena ia ingin menemui Darwin. Kemarin, Asmira menghubunginya, meminta Jessica ke rumah. Karena, ada hal yang penting yang ingin Darwin bicarakan.
“Apa mungkin Darwin udah tahu aku kakaknya ya?” Jessica bertanya-tanya dalam hati.
“Assalamualaikum, permisi.” Jessica mengetuk pintu dan memberi salam. Tetangga sebelah, melihatnya. Jessica menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kepada orang tersebut. Tidak lama kemudian Santi pun membukakan pintu.
“Mari sarapan Mbak,” ajak Asmira yang sedang berada di ruang makan.
“Enggak Mir, Mbak baru saja selesai sarapan di rumah,” sahut Jessica menggelengkan kepalanya. “Marcell mana Mira?” tanya Jessica. Asmira tidak menjawab, ia mengunyah makanan di mulutnya sampai habis.
“Pagi Mbak,” sapa Darwin yang telah bersiap-siap ke kantor.
Jessica mengarahkan pandangannya kepada Darwin, ia baru saja menanyakan adiknya itu. Jessica menyunggingkan senyumnya.
“Kalian berdua, sarapan dulu. Mbak tunggu in di depan bersama Santi,” Jessica bangkit segera menuju depan.
Selesai makan. Darwin menemui Jessica,
“Mbak ikut aku yuk?” ajak Darwin, ia berpamitan kepada istri tercintanya, ia mengelus-elus perut Asmira yang mulai membuncit perlahan-lahan, tidak lupa mengecup keningnya dengan mesra.
“Ke mana, Win?” tanya Jessica menyipitkan matanya.
“Udah, pokoknya Mbak ikut, ya?” ajak Darwin lagi. Ia masih merahasiakan ke mana ia akan membawa Jessica.
Tanpa butuh waktu lama, Darwin yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Jessica masih bingung, ia turun mobil ketika Darwin menghentikannya di sebuah gedung mungil nan indah itu.
“Ini apa, Win?” tanya Jessica tidak sabar.
Darwin tersenyum, ia memberikan kunci kepada Jessica. “Mbak buka nih.”
Jessica menepiskan tangan Darwin. “Kamu saja,” sahut Jessica.
Darwin tersenyum. “Mbak dong yang buka, ini tempat khusus aku desain untuk Mbak,” balas Darwin.
Jessica semakin penasaran, saat pintunya telah terbuka. Mulut Jessica terbuka lebar, ia segera menutup dengan kedua tangannya. Air mata bahagia jatuh di pipinya. Tanpa sadar, ia memeluk Darwin.
__ADS_1
“Thank you Win, Mbak senang banget,” ucap Jessica masih memeluk Darwin erat.
“Sama-sama Mbak, semua yang aku punya, justru separuh dari itu milik Mbak juga,” sahut Darwin membuat Jessica terkejut mendengar kata-kata Darwin.
Jessica melepaskan pelukan itu. “Maksud kamu?” tanya Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Dari awal, sebelum Mbak memberitahukan kepada Lestari. Aku telah lebih dulu mengetahui yang sebenarnya Mbak,” ujar Darwin. Membuat Jessica terdiam tanpa kata.
Jessica meneteskan air mata di pipinya, meski ia terus menyeka dengan punggung tangannya. Tapi, terus berjatuhan di pipinya. Darwin memeluk kembali kakaknya tersebut.
“Jangan menangis Mbak.” Darwin membelai rambut kakaknya tersebut. Dari awal pertemuan mereka, tampak mereka saling suka satu sama lain.
“Mbak kapan rencananya mau jujur ke mama papa?” tanya Darwin.
Jessica menggeleng kepalanya. “Enggak tahu Win, Mbak malas rasanya,” sahut Jessica.
“Kenapa?” tanya Darwin. “Mbak masih marah kepada mereka?” sambung Darwin lagi.
Jessica lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
“Aku enggak marah Win,” sahut Jessica lagi.
“Aku cuma belum siap saja,” Jessica memainkan kukunya.
“Ada yang gawat Win,” beritahu Jessica bersedih.
“Apa Mbak?” tanya Darwin.
“Papa udah kasih separuh hartanya kepada Rose lengkap dengan sertifikat yang sah,” beritahu Jessica.
Darwin terkejut setengah mati mendengar ucapan Jessica. “Mbak serius?” tanya Darwin masih ragu.
Jessica mengangguk berkali-kali. “Mbak enggak bohong Win, bik Marni yang kasih tahu,” ujar Jessica lagi.
Darwin segera bangkit dari duduknya. “Ayo kita pulang ke rumah Mbak,” ajak Darwin ia segera masuk mobil.
Dalam perjalanan keduanya diam tanpa kata, Jessica sebenarnya merasa menyesal, tapi apa yang harus ia lakukan. Bukan tugasnya untuk mengatakan yang sebenarnya, justru mereka yang harus benar-benar menyelidiki siapa sebenarnya anak yang kandung mereka sendiri. Begitu pikir Jessica.
Pikiran Jessica berkecamuk, antara ego dan rasa bersalah. Di satu sisi, ia ingin orang tuanya sadar dan meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka perbuat. Disisi lain, ia tak ingin mereka tahu. Rasanya akan sungkan sekali bila nanti ia harus mengubah panggilan dan sebagainya. Terlebih, belakangan ini, sikap Marco kurang baik terhadapnya.
“Mas, belum berangkat?” tanya Jessica saat berpapasan dengan Valen di ruang makan.
__ADS_1
“Kalian kenapa bisa barengan gitu,” tanya Valen balik.
“Papa Mama mana?” tanya Darwin.
“Mbak!” panggil Valen keras.
Orang yang di panggil pun keluar. “Eh, udah pada kumpul semua di sini,” Martha memeluk Darwin sang anak. Namun sambutan Darwin kurang baik kali ini. Martha menyadari itu.
“Ada apa, Nak?” tanya Martha.
“Panggil Papa bentar Ma,” pinta Darwin.
“Ada perlu apa, Nak,” tanya Marco setelah menemui Darwin. “Mari kita bicarakan di sana,” ajak Marco.
“Ada apa, Nak?” tanya Marco lagi. Darwin menghela nafasnya dalam.
“Apa yang udah Papa lakukan?” tanya Darwin.
Valen penasaran apa yang sebenarnya yang membuat Darwin begitu murka.
“Apa yang papa lakukan, maksud kamu?” tanya Marco tidak mengerti.
“Kenapa dengan tergesa-gesa papa wariskan harta kepada Rose?” tanya Darwin masih menahan emosinya.
Marco tersenyum. “Kamu sudah tahu Nak, dia kakak mu, ceritakan Ma,” pinta Marco kepada sang istri.
“Tidak perlu!” sahut Darwin tegas. Martha yang baru membuka mulutnya terkejut,
“Kenapa Nak?” tanya Martha.
“Tanpa kalian ceritakan aku sudah tahu yang sebenarnya,” ucap Darwin. Membuat kedua orang tuanya terdiam.
“Apa kalian sudah tes DNA, yang mengatakan sebenarnya benar Rose anak kalian?” tanya Valen ikut berkomentar.
Martha menggelengkan kepalanya. “Aku tidak perlu tes DNA, gelang yang Sukma berikan ada ditangan Rose, itu lebih dari bukti,” ucap Martha mulai menangis.
“Lalu bagaimana jika ada orang yang sengaja menukar gelang itu?” tanya Darwin kemudian.
Martha terdiam. “Itu tidak mungkin Darwin,” ujar Marco. “Terimalah, Rose itu kakakmu,” sambung Marco.
“Bukan itu permasalahannya apa, aku akan terima siapa saja, yang penting itu benar,” ujar Darwin mulai geram.
__ADS_1
“Mbak, Mas, kenapa gegabah dalam mengambil keputusan. Kenapa gak tanyakan dulu kepada Darwin atau saya,” ujar Valen menggarukkan kepalanya.
.Jangan lupa Like ya...