Perjanjian

Perjanjian
Episode 75


__ADS_3

“Pa, jika benar yang Valen katakan, bahwa anak Sukma masih hidup, di mana anak itu sekarang ya?” Martha menatap langit-langit kamarnya.


Marco bangun dari tidurnya, ia menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.


“Semua gara-gara Fenita Ma,” ujar Marco kemudian.


“Lupakanlah Pa, kemarin Mama emosi.” Martha menggenggam tangan pria yang sudah menemani hidupnya selama 40 tahun itu.


“Tapi Fenita harus dikasih pelajaran, Ma,” ujar Marco.


“Apa yang bisa kita lakukan, Pa?” tanya Martha, ia sudah pasrah. Jika memang harta yang Marco berikan tak bisa diambil kembali lagi.


Marco meraih handphone genggamnya, ia coba menghubungi pengacaranya. Barangkali ada yang bisa mengubah keadaan yang sudah memburuk.


“Halo Pak,” sapa Marco pada pengacaranya.


“Ya Tuan Marco, ada yang bisa saya bantu?” tanya pengacara keluarga Marco.


“Begini Pak. Mengenai harta warisan kemarin.”


“Sebaiknya kita bertemu saja besok Tuan Marco.” pengacara tersebut menyela pembicaraan Marco.


“Baik Pak.” Marco memutuskan telepon.


“Gimana Pa?” tanya Martha. Ketika Marco telah selesai bicara.


“Pak Rudi ajak ke temuan besok,” sahut Marco. Ia letakkan kembali ponselnya di meja.


“Ya sudah Pa, ayo kita istirahat dulu. Semoga semuanya baik-baik saja,” ujar Martha sembari menarik selimutnya.


“Amin Ma,” ucap Marco.


* * *


Keesokan harinya.


Pagi-pagi pengacara Rudi telah tiba di rumah keluarga Marco Antonio. Disambut baik oleh Marco dan Martha.


“Maaf saya kembali merepotkan Anda,” ucap Marco.


Rudi tersenyum. “Tidak apa-apa, sudah kewajiban saya meneruskan apa yang ayah saya lakukan untuk keluarga Tuan Marco,” ujar Rudi.


Ayah Rudi dulu, merupakan pengacara keluarga ayah Marco. Lalu setelah beliau tiada, anaknya juga menggeluti pendidikan yang sama. Hingga detik ini, Rudi masih menjadi pengacara keluarga Marco.


“Apa yang bisa kita lakukan mengenai harta warisan yang sudah saya berikan.”


“Apa Rose bukan anaknya kalian berdua?” tanya Rudi. Lagi-lagi ia menyela pembicaraan Marco.


Martha mengangguk.


Rudi meneguk minuman yang Marni suguhkan.


“Sudah saya duga. Dari awal saya tidak yakin, makanya berkali-kali saya tanyakan, apakah Tuan Marco sudah yakin?” ujar Rudi.


“Saya gegabah dalam mengambil keputusan Pak,” ucap Marco merasa sangat bersalah dengan sikapnya dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


Rudi tersenyum. “Anda gegabah, tapi tidak dengan saya. Saya sudah berpengalaman dalam bidang saya.” Rudi kembali menyeruput kopinya.


Martha dan Marco saling berpandangan, keduanya tidak mengerti maksud Rudi.


“Maksud Pak Rudi apa ya?” tanya Martha kemudian.


“Yang saya berikan kemarin, bukan sertifikat asli,” ujar Rudi seraya menyunggingkan senyuman.


Marco menggaruk tengkuknya. “Tapi saya lihat betul kemarin yang Pak Rudi berikan sertifikat asli,” ujar Marco.


“Tidak Pak, berani saya jamin jika ia ingin menggadaikan atau menjual tidak akan laku,” Ujar Rudi lagi.


“Anda yakin Pak?” tanya Martha. “Soalnya, kami tidak tahu-menahu masalah asli atau palsunya surat tersebut,” sambung Martha lagi.


Rudi mengangguk sambil tersenyum.


“Lihat saja, jika ia sudah tahu itu bukan surat asli, ia akan datang kemari,” ujar Rudi lagi.


“Kalau begitu saya pamit, semua urusan saya kira sudah beres. Tuan Marco tenang saja, harta Anda masih aman-aman saja.” Rudi menepuk-nepuk bahu Marco.


“Sekali lagi terima kasih Pak, Saya berhutang budi pada Anda. Jika bukan karena Anda, harta saya sudah melayang percuma,” ucap Marco menjabat tangan Rudi.


“Santai saja Tuan Marco. Nyonya Martha, saya pamit ya. Oya, kopinya nikmat sekali saya suka,” ujar Rudi seraya tertawa kecil pada Martha.


“Lain kali jangan lupa mampir ya Pak Rudi. Biar kami suguhkan lagi kopi nikmat,” jawab Martha tertawa kecil.


Keduanya berdiri di teras menunggu Rudi menghilang dari pandangannya. Martha melambaikan tangan ketika Rudi telah keluar dari istananya tersebut.


“Pa, Alhamdulillah ya. Mama bahagia dengarnya,” ucap Martha melingkarkan tangannya di pinggang Marco ketika mereka masuk ke dalam.


“Bukan Pa,” sahut Martha.


“Bukan gimana Ma, kalau bukan karena pak Rudi, harta kita sudah dibawa kabur Fenita,” jawab Marco lagi.


“Bukan itu. Maksud Mama, bukan pak Rudi yang pintar, tapi Papa yang bodoh,” Martha tertawa terbahak-bahak.


Marco mencubit lengan Martha. “Mama ya.”


* * *


“Serius banget Bu,” goda Valen ketika ia masuk ruang lukis Jessica.


“Mas! Mengagetkan saja,” ujar Jessica.


Valen mengarah pandangannya ke seluruh ruangan. “Anak-anak mana sayang?” tanya Valen.


“Udah pada pulang Mas,” jawab Jessica.


“Terus Sara?” tanya Valen lagi.


“Sara gak ikut hari ini, ia ada ekstra kurikuler disekolah,” jawab Jessica. Tangannya masih asyik memainkan kuas.


Valen menarik kuas tersebut, lalu ia simpan di tempatnya. “Ayo pulang, Mas udah gerah banget,” ajak Valen.


“Mas, tanggung ... bentar lagi selesai,” ujar Jessica.

__ADS_1


"Teruskan besok saja sayang, enggak kasihan mas capek?” tanya Valen meraih tangan Jessica.


Jessica tersenyum. “Ya udah deh,” Jessica membelai lembut pipi Valen.


Jessica mengunci pintu galeri miliknya. Lalu mereka segera meluncur pulang.


“Mas, kasihan mas capek.” ujar Jessica, ia melonggarkan dasi Valen.


“Gak apa-apa sayang, demi dua wanita yang Mas cintai,” Valen mengelus punggung tangan Jessica.


“Makanya Mas, ajari aku menyetir mobil biar Mas gak capek antar jemput,” ujar Jessica tersenyum lebar.


Valen menggeleng kepalanya berkali-kali.


“Enggak Mas izini, lagian kamu udah bosan Mas antar jemput?” tanya Valen dengan nada sedikit kesal.


“Bukan gitu sayang, cuma biar cepat gitu kalau mau ke mana-mana,” jawab Jessica serius.


Valen diam sesaat. “Hari libur Mas ajari,” ujar Valen.


Jessica sangat gembira, ia peluk Valen erat, “Thanks sayang,” ucapnya pada Valen.


“Iya sama-sama, udah peluknya, nanti mobilnya oleng lagi,” jawab Valen tersenyum bahagia.


Mereka tiba di rumah, Samsul sedang memperbaiki keran air di taman.


“Ngapain Pak?” tanya Jessica ketika turun dari mobil.


“Ini Non, keran air rusak,” jawab Samsul.


“Ya Non, tadi saya mau siram tanaman, eh malah kerannya bocor,” timpal Marni yang baru keluar.


Valen dan Jessica masuk bersama, ketika mereka berdua baru menginjak tangga, Marni bertanya. “Non Sara mana?”


Jessica dan Valen terkejut. “Ampun Mas, kita lupa jemput Sara!”


“Iya, Mas juga lupa, kamu enggak ingati Mas sih,” ujar Valen menepuk jidatnya.


Marni tertawa terbahak-bahak melihat keduanya. “Pak, lihat tuh, pasangan yang lagi dimabuk cinta. Sampai-sampai anak sendiri lupa,” goda Marni.


“Ya Bu, Ibu kek enggak pernah muda saja,” sambung Samsul.


“Kalian berdua, ya,” ujar Jessica tersipu malu.


Samsul telah selesai memperbaiki keran rusak. “Gak apa-apa Non, biar saya saja yang jemput Nona Sara ya,” pinta Samsul.


“Enggak merepotkan nih Pak?” tanya Valen.


“Enggak, saya berangkat ya,” ujar Samsul.


Marni masuk ke dalam ia masih tertawa kecil, “Non Non,” gumam Marni dalam hati.


Jangan lupa like ya..


Baca juga novel A BIG MISTAKE ya..

__ADS_1


__ADS_2