
Jessica bertemu dengan Kelvin siang ini, ia berhutang penjelasan tentang kejadian kemarin pada Kelvin. Alasan utama Kelvin mengajaknya bertemu salah satunya juga itu.
Mereka berdua disekolah yang sama dulunya, mereka sering dianggap pacaran oleh teman-temannya yang lain, karena kedekatan keduanya. Ditambah lagi dengan Bastian dan Asmira sahabat, seakan melanjutkan tali persaudaraan antara Jessica dan Kelvin.
Namun kali ini, Jessica bertemu dengan Kelvin di tempag yang lebih private, ia takut kejadian kemarin terulang kembali.
“Apa kabar?” tanya Kelvin saat pesanan makanan mereka tiba.
“Aku baik, kamu gimana?” jawab Jessica ia meneguk minumannya pelan.
Jessica sempat punya rasa pada Kelvin, tapi ia sadar bahwa ia bukan tipe yang Kelvin inginkan, bahkan jauh dari kata selevel, saat itu Jessica menghilang dari kehidupan Kelvin saat Jessica menikah dengan 'si tua' Hardi.
“Adik kamu Asmira apa kabar?” tanya Kelvin memecahkan keheningan di antara keduanya.
“Dia akan segera menikah, Vin,” jawab Jessica tersenyum.
“Wow, benarkah?” Kelvin sedikit terkejut, Asmira dulu gadis kecil polos sekarang ia akan menikah.
“Nanti aku kirim alamat, kamu harus datang ya?” pinta Jessica.
“Pasti itu, soal kemarin aku minta maaf Jess, aku udah cerita banyak hal ke kamu yang seharusnya enggak aku ceritakan,” ujar Kelvin.
“Biasa saja, kek sama siapa saja kamu harus sungkan begitu,” jawab Jessica.
“Terima kasih ya Jess,” ucap Kelvin.
Mata Jessica menatap sebuah lukisan indah di dinding kafe itu, ia mengingat masa lalunya ia rindu tangannya kembali menghasilkan mahakarya indah seperti dulu.
“Jessi ...” panggil Kelvin.
“Ya, Vin, ada apa?” tanya Jessica.
“Siapa sih pria-pria preman kemarin?” tanya Kelvin sedikit sungkan.
“Bodyguard suami aku Vin, maaf ya membuat keributan seperti kemarin,” jawab Jessica.
“Terus kenapa kesannya kayak pemaksaan gitu?” tanya Kelvin.
“Kapan-kapan aku cerita Vin, aku belum siap berbagi dengan orang lain,” ujar Jessica.
“Jadi bagi kamu, aku orang lain?” tanya Kelvin.
“Bukan gitu maksudnya Vin, selama ini hanya ada aku dan Asmira jadi sedikit canggung,” jawab Jessica.
__ADS_1
“Iya aku tahu kok, tapi aku enggak mengerti kenapa kemarin jadi cerita sama kamu, setelah itu rasanya jadi plong banget,” ujar Kelvin.
“Apa kamu udah dapat kabar keberadaan di mana anakmu?” tanya Jessica.
“Belum Jessi, enggak usah dibahas. Aku lagi kurang mood bicara soal itu,” jawab Kelvin.
sejenak Jessica terdiam, ia selama ini begitu menginginkan punya seorang anak, tapi bukan dari Hardi si tua itu, jika ia memiliki anak dengan Hardi pasti kejadiannya akan sama seperti Kelvin dan istrinya, anak yang akan memikul beban kekurangan kasih sayang dari orang tuanya.
“Jessi, jalan-jalan yuk?” ajak Kelvin.
“Ke mana?” tanya Jessica.
“Ke mana saja, putar-putar sebentar juga boleh,” jawab Kelvin.
Kelvin meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang ia mengobrol hangat dengan teman masa lalunya itu, sesekali terdengar gelak tawa saat mereka mengenang masa putih abu-abu dulu yang entah sudah berapa tahun yang lalu.
* *
Pernikahan Darwin dengan Asmira tinggal beberapa hari lagi, Martha sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.
Undangan sudah tersebar ke rekan-rekan terdekat, sisanya Martha memanggil W.O untuk acara akad dan resepsi nanti.
“Kenapa wajahnya ditekuk begitu, sayang?” tanya Martha pada calon mantunya.
“Aku kepingin ziarah makam ibu sebelum nikah Ma,” ucap Asmira bersedih.
“Boleh ... kapan kita pergi?” tanya Martha.
Asmira menatap wajah Martha. “Benaran, Ma?” tanya Asmira.
Martha mengangguk dan tersenyum. “Kapan kita pergi?” tanya Martha.
“Terserah Mama saja,” jawab Asmira.
“Besok gimana, setelah itu kamu enggak boleh keluar rumah lagi, pamali kata orang tua,” ujar Martha.
Asmira tidak sabar menunggu hari esok, ia akan kembali ke kampung halamannya untuk yang kedua kalinya, setelah kemarin ia bersama Darwin.
Asmira juga mengajak Jessica untuk menziarahi makam ibunya, tapi Jessica menolak, ia belum sanggup pulang dan melihat kondisi masa lalunya kembali.
*
Keesokan harinya Martha dan Asmira pun berangkat ditemani Mang Joni, Darwin ingin ikut tapi ia tidak bisa pekerjaannya menumpuk untuk beberapa hari ke depan harus segera siap.
__ADS_1
“Ma ... maaf ya jadi merepotkan Mama, mana perjalanan jauh banget lagi,” ujar Asmira.
“Enggak apa-apa sayang, hitung-hitung kita liburan.” Martha tersenyum lebar.
Martha sepertinya sering melewati jalan itu, seakan-akan tidak asing baginya entah hanya perasaannya saja atau memang benar. Semakin jauh perjalanan mereka, pikiran Martha semakin jelas, iya Martha pernah melewati jalan itu bertahun-tahun yang lalu, berdua dengan Darwin berlibur setiap kali Darwin libur panjang.
“Kata mas Darwin Mama sering ke kampung aku dulu ya?” tanya Asmira.
"Iya sayang, mama punya rekan kerja dulu di sana, sahabat Mama tapi ia sudah meninggal,” beritahu Martha.
“Sekalian nanti Mama ziarah ke makam sahabatnya Mama juga ya?” ajak Asmira.
“Sayangnya Mama enggak tahu di mana letak makamnya,” jawab Martha.
“Ma, boleh enggak sekalian nanti kita mampir di rumah lama Mira?” pinta Asmira.
“Boleh dong sayang,” jawab Martha.
Setelah perjalanan panjang menuju kampung halaman Asmira, Martha juga beberapa kali menguap menahan kantuknya mereka tiba di tempat pemakaman umum, tempat peristirahatan terakhir mama papanya.
Saat melihat nama di batu nisan mama Asmira, Martha menyipitkan matanya ia ikut jongkok di sebelah Asmira menemani Asmira berdoa.
“Bu ... ini Asmira, aku akan segera menikah bu, dengan pria yang baik dan perhatian, dia akan menjaga Asmira dengan penuh kasih sayang seperti yang udah mbak Jessica lakukan, bu,” lirih Asmira dalam.
Air mata menetes di pipinya. “Jika saja ibu masih ada, pasti ibu bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan. Restui kami berdua, bu,”
Martha mengelus bahu Asmira dan menghapus air mata di pipinya.
“Ma, ayo,” ajak Asmira.
Selesai berdoa, Asmira berpamitan pada ibunya yang sudah tenang di alam sana, ia meminta restu keduanya yang telah lama meninggalkan ia dan Jessica.
Asmira menyuruh Mang Joni belok kanan jalan menuju rumahnya, pikiran Martha semakin kacau, jantungnya berdegup kencang.
“Belok kiri, rumah yang pagar putih Mang,” pinta Asmira.
Martha terkejut, matanya terbelalak seakan ia tak percaya, rumah yang dimaksud Asmira adalah rumah sahabatnya, berarti makam yang baru saja ia datangi juga makam sahabatnya, air mata Martha tak terbendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya.
Asmira dan Mang Joni bingung kenapa Martha begitu histeris melihat rumah Asmira, ia memeluk calon mertuanya itu.
“Kamu anaknya Sukma?” tanya Martha di sela tangisnya.
* *
__ADS_1
jangan lupa Like ya 😘.