
Marco dan keluarganya tiba di sebuah Villa yang kemarin sempat Darwin dan Asmira datangi. Pak Nadir menyambut kedatangan mereka. Suasana berubah menjadi sangat tegang.
“Kalian istirahat saja dulu.”
“Para wanita mau ngapain?” tanya Marco.
“Ada urusan sebentar, udah sana.” Martha mendorong tubuh suaminya.
Jessica duduk terdiam. Asmira mendekat dan ikut duduk di sebelahnya. Asmira mulai bercerita bahwa ia mengetahui semua itu saat kepulangannya kemarin, waktu ia ziarahi makam orang tuanya.
“Sudah dua bulan berlalu, Mira. Baru sekarang aku mengetahuinya.” Jessica berkata dengan tatapan kosong. Jessica menyunggingkan senyum sinis di wajahnya.
Martha terdiam saat mereka berdua bicara, orang yang paling merasa bersalah di posisi tersebut ialah dirinya. Semua penyebab terjadi kekacauan itu adalah dirinya.
“Ini semua salah Tante Jess,” ucap Martha.
“Apa hubungannya dengan Tante?” tanya Jessica dingin tanpa menatap Martha.
Martha mengatakan bahwa jika ia telah menyebabkan semua itu terjadi. Andai saja dulu ia tidak menukar bayinya dengan bayi Sukma yang meninggal, justru Jessica tidak akan merasakan itu semua.
Jessica sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut orang tua yang ia anggap sudah seperti ibunya sendiri.
“Apa?” tanya Jessica tak percaya.
"Jika anak ibu Sukma meninggal, siapa ibuku sebenarnya?" tanya Jessica lagi.
Martha bercerita panjang lebar tentang pertemuannya kemarin dengan bik Khodijah dan bagaimana ia menukar bayinya dengan bayi Sukma yang meninggal. Martha juga menceritakan penyebab mengapa ia tega menukar bayinya. Martha menahan tangisnya sampai ia selesai bercerita.
“Tante berharap kamu anak Tante,” ucap Martha pada Jessica.
Tanpa menjawab sepatah kata pun Jessica berlari masuk ke dalam, saat ia masuk ia berpapasan dengan Valen di pintu. Valen sedari tadi berdiri di pintu, ia mendengar semua cerita Martha dari awal.
Martha terkejut melihat Valen berdiri di pintu. Martha bertanya sejak kapan ia sudah berdiri di sana. Valen tahu betul ke mana arah pembicaraan Martha, ia mengatakan tidak akan memberitahukan siapa pun mengenai rahasia yang ia dengar.
“Belum saatnya Marco tahu Valen.” ucap Martha sedih.
Asmira semakin merasa bersalah, inilah yang ia takutkan. Mereka baik-baik saja selama ini, bahkan tidak pernah bertengkar, Jessica begitu menyayanginya sedari kecil semua kebutuhan dan keinginan Asmira selalu dipenuhi Jessica.
Tapi kini Jessica pasti membencinya, namun semua perasaan sedih ia tahan ia tidak ingin Darwin mengetahuinya.
Valen menghampiri Jessica di kamarnya, ia mengetuk pintu berulang-ulang. Namun Jessica tak urung jua membuka pintu kamarnya. Valen terus memanggilnya, terdengar suara Jessica berteriak dari kamarnya.
“Mas beri aku waktu.”
__ADS_1
“Buka pintu Jess ... aku cuma ingin memelukmu, tidak akan menanyakan apa pun sampai kamu sendiri bersedia bercerita,” ucap Valen serius.
Kemudian Jessica membuka pintu, Valen memeluknya erat seakan ia mengerti apa yang Jessica alami saat ini, ia mengelus rambut Jessica lalu menangkup kedua pipi Jessica dengan tangannya seraya berkata,
“Kamu enggak sendiri aku selalu ada di sini menemanimu,” ucap Valen.
Jessica merebahkan tubuhnya di ranjang ia menangis tergugu mengingat nasib buruk yang selalu menimpanya. Ia baru saja menghirup udara segar menikmati kebebasannya setelah perceraian ia dan Hardi selesai. Kini masalah lainnya hinggap menghampirinya.
“Mas, tinggali aku sendiri dulu. Dan jangan terlalu menaruh harapan padaku,” ujar Jessica di sela tangisnya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan Jess," sahut Valen dengan wajah bingung. Baru saja beberapa jam yang lalu ia mengatakan 'Ya' tapi kini ia mengatakan sebaliknya.
“Sampai kapan pun kamu enggak akan mengerti Mas!” ucap Jessica sedikit berteriak.
“Tapi aku mencintaimu Jess,” ujar Valen.
Tangisan Jessica semakin menjadi, Valen memeluknya semakin erat.
“Aku enggak peduli bagaimana masa lalu mu, yang aku tahu sekarang aku mencintaimu dan Sara membutuhkanmu!” ucap Valen tegas.
Asmira tidak punya waktu berbincang-bincang dengan Jessica, ia selalu menghindar darinya. Setelah kejadian kemarin, sepertinya semua kemarahannya ia luapkan terhadap Asmira. Asmira sangat bersedih menerima perlakuan dari kakaknya itu.
“Mbak ... jangan buat aku seperti ini,” pinta Asmira.
Malam harinya.
Sara sedang mengobrol dengan Jessica di ruang tamu, Martha menghampiri mereka.
“Sayang, boleh Tante ngomong sebentar sama Mommy kamu?” tanya Martha. Sara mengangguk kemudian ia segera masuk ke kamarnya.
Martha menghela nafasnya, sikap Jessica terhadapnya begitu dingin. Martha mulai membuka suara dengan berkata agar Jessica tidak terus menerus menyalahkan adiknya yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah itu.
“Bukan urusan Tante!” sahut Jessica kasar ketika Martha selesai berkata.
Martha terdiam saat Jessica mengatakan itu bukan urusannya dan juga Martha tidak tahu apa-apa sebaiknya tidak usah terlalu ikut campur terlalu jauh.
“Tante memang enggak tahu apa-apa, tapi ...”
“Tapi apa, seorang ibu yang sudah membuang bayinya sendiri?” Jessica menyela pembicaraan Martha dengan kata-kata yang cukup sakit di telinga Martha. Martha menangis mendengar ucapan Jessica.
“Untung saja aku bukan anak Tante, jika ia pun aku enggak bakalan sudi punya orang tua seperti Tante,” ungkap Jessica lagi.
Kata-katanya Jessica begitu tajam, bak pisau yang menusuk-nusuk ulu hati Martha. Martha hanya bisa menangisi setiap kata-kata yang keluar dari mulut Jessica. Begitu kah nanti tanggapan anak kandungnya sendiri jika mereka bertemu, pikir Martha.
__ADS_1
Asmira berlari menghampiri mereka, ia memeluk Martha. Asmira sangat marah dengan perlakuan Jessica terhadap Martha. Namun bukannya peduli, kemarahan Jessica semakin menjadi kepada keduanya.
Asmira menyesalkan sikap Jessica yang tidak tahu sopan santun. Bagaimanapun kesalahan Martha di masa lalu yang telah ia perbuat tapi tidak haknya Jessica menghakimi Martha seperti itu.
Martha hanya bisa menangis di pelukan Asmira, apa yang Jessica katakan benar. Apa pun alasannya ia tega membuang bayinya sendiri.
“Gara-gara Tante, aku enggak tahu siapa orang tua aku sendiri...” teriak Jessica melampiaskan semua amarahnya pada mereka.
"Tante berharap kamu anak Tante," ujar Martha.
"Aku tidak merasa ada ikatan batin antara kita," ujar Jessica sinis.
Namun Asmira tidak menggubris lagi setiap kata-kata yang Jessica ucapkan. Asmira membawa Martha masuk ke dalam, meninggalkan Jessica sendiri diruang tamu. Martha sangat syok dengan keadaan itu.
Keesokan harinya.
Sara mengajak Jessica jalan-jalan dengan sepeda, hanya berkeliling area taman saja. Tiba-tiba sara berhenti, Jessica terus mengayuh sepedanya saat ia menoleh ke belakang ia lihat Sara berhenti.
“Sayang, ayo?” ajak Jessica.
“Mom, itu kek mang Joni coba Mommy liat,” pinta Sara memanggil Mommy nya.
“Udah ayo, mana mungkin mang Joni kemari,” ajak Jessica.
Setelah seminggu berlibur, kini mereka kembali melanjutkan aktivitas sebagaimana biasanya. Sikap Jessica yang berbeda kepada Asmira dan Martha diketahui oleh Marco, tapi ia enggan menanyakan perihal apa yang terjadi di antara wanita-wanita itu.
Jessica termenung di kamarnya. Seminggu telah berlalu tapi ia tidak bisa melupakan sedikit pun kejadian kemarin. Ia merenungi masa lalunya. Pantas saja setelah ibunya tiada sikap ayahnya berbeda terhadapnya.
Jessica keluar ia tidak melihat siapa pun di rumah itu tampak begitu sepi, ia memanggil mang Joni dan menyuruhnya untuk mengantarnya kembali ke kampung halamannya.
Mang Joni yang sudah pernah ke sana ia tahu betul jalannya. Mereka tiba di rumah anaknya Bik Khodijah.
Jessica segera turun dan mengetuk pintu serta tidak lupa memberi salam. Kemudian keluar seorang wanita yang tak lain merupakan menantu Bik Khodijah sendiri. Jessica langsung menanyakan tentang Bik Khodijah begitu wanita itu bertanya ada perlu apa.
“Maaf mbak, ibu sudah meninggal sebulan yang lalu,” ucap wanita itu.
Jessica menangis mendengar Bik Khodijah sudah tiada, orang yang rela merawat mereka dari kecil, bahkan ketika Jessica sudah tidak mampu membayar lagi gajinya, ia tetap setia memegang amanah Sukma.
Bik Khodijah sempat menyelamatkan nyawanya dari seorang pria bejat yang saat itu ia kira ayahnya sendiri, ia hampir diperkosa berulang kali oleh ayahnya bahkan saat ia mabuk ia sempat mengatakan bahwa Jessica bukan anaknya, tapi Jessica anggap itu hanya karena ayahnya mabuk.
Kenyataannya apa yang ayahnya katakan benar, bahkan pernah ia mengambil pisau ingin menusuk Jessica jika ia tidak mau melayani nafsunya. Bik Khodijah selalu berhasil menggagalkan rencana mesumnya ayahnya itu
Jangan lupa like ya...
__ADS_1