
Ritha nekat mendatangi rumah Kelvin kembali, ia bersihkan rumah itu. Merapikan ruang tamu dan kamar. Kelvin tergeletak di lantai kamarnya karena terlalu banyak minum, sampai ia tak sadarkan diri.
Tubuh Kelvin yang berat, berhasil Rita angkat ke tempat tidur, ia gantikan baju dan membasuh tubuh Kelvin dengan kain basah.
Ritha juga memesankan makanan kemudian ia hidangkan di meja makan. Setelah semuanya rapi, ia segera pergi dari rumah itu sebelum Kelvin terbangun. Secarik kertas ia tinggalkan di meja makan.
Kelvin terjaga, tidak lama setelah Ritha pulang. Ia kaget melihat kamarnya begitu rapi, pakaian di tubuhnya juga telah terganti.
“Sayang kau sudah pulang, ya?” Teriak Kelvin.
Dengan sempoyongan, ia bangun keluar kamar, ia terus saja memanggil Rose, di meja makan juga telah tersusun banyak makanan kesukaannya, tapi ia tidak menemui Rose hanya secarik kertas yang ia temukan.
“Maaf ya sayang, aku lancang datang kesini. Tapi aku khawatir, aku telepon enggak kamu angkat, kalau kamu butuh apa-apa hubungi aku, kalau kamu butuh teman mengobrol pulang saja ke rumah kita. Jangan seperti ini sayang, kalo kamu sayang Brandon kamu seharusnya tidak begitu, kamu harus kembali bekerja dan tetap semangat. I love you sayang.”
Kelvin terdiam setelah membaca pesan itu, ia menyalakan ponselnya, Kelvin merasa pusing karena ia terlalu banyak minum. Sesekali ia menepuk-nepuk kepalanya yang terasa berat.
Begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk, terutama dari asistennya.
“Benar kata Ritha, aku enggak boleh terpuruk begini,” gumam Kelvin.
Perutnya yang keroncongan meronta-ronta ingin segera menelan sesuatu, ia memutuskan untuk makan dulu setelah itu baru mandi dan kembali bekerja.
•••••
[Mira, ketemu yuk ada yang mau Mbak ceritakan.]
[Ayo, langsung otw.]
Asmira bersiap-siap, tidak lupa juga menulis pesan singkat untuk Darwin meminta izin keluar menemui Jessica.
Kedua kakak beradik ini tidak mirip sama sekali. Jika orang lain melihatnya, pasti mengira mereka sahabat bukan adik kakak.
“Gimana keadaan Mbak?” tanya Asmira memulai obrolan.
“Baik dong, seperti yang kamu lihat saat ini,” jawab Jessica tersenyum semringah.
“Baguslah Mbak ...” balas Asmira.
“Sudah tentukan tanggal pernikahan kalian? tanya Jessica.
“Sepertinya bulan depan Mbak,” jawab Asmira.
Asmira memperhatikan ada yang berbeda dari Jessica, ia tidak seperti biasanya. Jessica senyum-senyum sendiri dan terlihat lebih bahagia dari kemarin-kemarin.
“Mbak mau cerita apa sih aku penasaran?” tanya Asmira.
Jessica tersenyum. “Kamu tahu enggak, Mbak ketemu teman lama Mbak waktu sekolah dulu,” ucap Jessica.
__ADS_1
“Teman apa mantan?” Asmira menyipitkan matanya.
“Belum sempat pacaran sih,” Jawab Jessica.
“Kapan Mbak ketemunya?” tanya Asmira.
“Sekitar seminggu yang lalu, dia bilang udah cerai sama istrinya Mira,” jawab Jessica.
“Mmm, ada yang bakalan CLBK nih kayaknya,” goda Asmira.
Jessica hanya senyum-senyum sendiri, layaknya anak muda sedang kasmaran. Asmira merasa lucu melihat Jessica seperti itu.
“Sempat tukaran nomor enggak?” tanya Asmira.
Jessica mengangguk sambil tersenyum semringah.
“Pepet terus ... jangan kasih kendor Mbak,” goda Asmira.
“Tapi dia belum menghubungi Mbak sampai sekarang.” Jessica menatap layar ponselnya.
“Mbak coba hubungi dong, kirim pesan singkat atau apa misalnya,” saran Asmira.
“Nanti Mbak coba hubungi deh ya,” jawab Jessica.
Sebelum berpisah, mereka makan siang bareng dan Jessica membelikan sepatu cantik dengan harga fantastis hadiah pernikahan untuk adiknya itu. Asmira sangat menyukainya.
Sementara di rumah keluarga Marco, Martha masih dingin terhadap Marco, keduanya masih sama diam tidak saling bicara sepatah kata pun.
“Ma ...” panggil Marco.
“Mmm,” jawab Martha.
“Mama sudah menentukan tanggal yang pas untuk pernikahan Darwin?” tanya Marco. Ia memalingkan wajahnya dari Martha, ia pura-pura masih acuh tak acuh.
Martha terbelalak mendengar pertanyaan Marco. “Papa udah setuju?” tanya Martha.
Marco mengangguk pelan, dan kembali membuang pandangannya ke samping.
“Bulan depan saja Pa, Minggu ini mereka akan melakukan Prewedding dulu,” ujar Martha.
“Mama udah cetak undangannya?” tanya Marco .
“Ya ampun Pa, Mama lupa. Udah harus kita pesankan segera nih,” jawab Martha.
Marco akhirnya menyetujui hubungan Asmira dan Darwin. Jawaban lantang Martha pada awak media kemarin, membuat hatinya luluh. Martha benar. Tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan anak.
Jam Menunjukkan pukul 05:00 Darwin bergegas pulang, malam ini ia akan mengajak Asmira dinner romantis.
__ADS_1
Selesai bersiap-siap keduanya berangkat menuju sebuah kafe romantis yang sudah di booking Darwin , ia sengaja memilih area rooftop lantai dua.
Bintang-bintang bersinar indah, sinar rembulan malam itu menyinari dua insan yang sedang dilanda cinta dengan cerah tanpa sedikit pun mendung yang menghalanginya.
Darwin memberikan seikat bunga mawar untuk Asmira dan kecupan mesra di keningnya.
Asmira begitu anggun, ia menggunakan gaun terusan panjang yang menampakkan leher jenjangnya ditambah sebuah kalung cantik, rambutnya di sanggul dengan poni tergerai bebas, menambah kecantikannya yang membuat Darwin berdecak kagum.
Asmira kehabisan kata-kata, ia tidak menyangka calon suaminya bisa seromantis ini.
“Sayang kamu cantik banget,” puji Darwin. Ia mengelus-elus punggung tangan Asmira.
Asmira tersipu malu. “Terima kasih Mas,” jawabnya.
“Ayo kita makan dulu sayang mumpung masih hangat.” Menarik kursi untuk calon istrinya itu.
Seperti biasa, Darwin dan Asmira tidak mengatakan sepatah kata pun saat sedang makan. Mereka menikmati hidangan mewah dengan menu spesial yang ada di hadapannya.
Asmira memang polos, ia makan dengan lahap, tidak anggun seperti penampilannya malam ini. Darwin hanya tersenyum melihat sikap calon istrinya itu, tidak ada kepura-puraan di wajahnya.
Selesai makan, mereka menikmati indahnya malam itu. Asmira berdiri di tepi balkon ia memejamkan matanya, angin malam yang dingin berembus pelan, menerpa wajah cantiknya. Darwin memeluknya dari belakang.
“I love you sayang,” bisik Darwin mesra di telinga Asmira.
Asmira tidak menjawab ia hanya mempererat pelukan Darwin.
“Besok kita akan ke pantai,” bisik Darwin.
“Benaran mas?” tanya Asmira.
“Mama udah siap in semuanya, besok pagi kita berangkat,” jawab Darwin.
“Aku senang banget Mas ...” ucap Asmira
Asmira mengubah posisinya, kini ia melingkarkan tangannya di leher Darwin. Aroma tubuh Darwin selalu berhasil menghipnotis Asmira, ia membiarkan mulutnya sedikit terbuka.
Darwin mencium bibir Asmira lembut, dengan kepala sedikit menunduk, Asmira menikmati ciuman itu. Embusan lembut nafas Asmira membuat Darwin hilang kendali, ia angkat tubuh Asmira yang mungil itu ke pinggir tembok balkon.
Ciuman semakin panas, Darwin ******* habis bibir Asmira tanpa ampun, Asmira hampir tidak bisa bernafas. Saat Darwin melepaskan ciuman itu Asmira terengah-engah.
“Aku tidak sabar lagi untuk memiliki kamu seutuhnya,” bisik Darwin menahan nafsunya yang sudah di ubun-ubun.
Darwin mencium bibir Asmira berkali-kali tanpa ada penolakan dari Asmira. Mereka menikmati suasana indah itu dengan mengobrol hangat sebelum mereka meninggalkan tempat itu sebelum mereka masuk angin karena udara malam. Darwin memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju apartemen, Asmira melihat Jessica bersama seorang pria, ia tidak tahu siapa pria itu.
“Mas, itu Mbak Jessica sama seseorang aku enggak tahu siapa,” ujar Asmira sambil menunjuk ke arah Jessica.
“Mana?” tanya Darwin.
__ADS_1
Karena laju mobil sedikit cepat, Darwin tidak sempat melihat siapa yang bersama Jessica.
Jangan lupa untuk Like ya...