Perjanjian

Perjanjian
Episode 80


__ADS_3

Jessica tampak murung. Pasalnya, tepat hari ini ia berulang tahun yang ke 38. Memang bukan usia muda, yang patut dirayakan dengan mewah, dihadiri teman-teman yang spesial.


Selama ini juga, ia tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Namun, berbeda halnya dengan sekarang, ia bersama orang-orang yang menyayanginya. Rasanya, ia ingin sekali saja merayakan dengan megah, apalagi kini ia telah menemukan kedua orang tua yang sesungguhnya.


Murungnya Jessica dikarenakan, tidak ada satu pun yang mengucapkan selamat kepadanya. Kemarin ia ingat betul, Martha tahu hari lahirnya, tapi tidak ada satu ucapan pun yang Mamanya berikan.


Jessica meraih handphone di tasnya. Ia berulang kali memeriksa pesan, mungkin ada pesan dari adiknya Asmira. Selama ini cuma Asmira yang ia punya. Tapi kosong, sama sekali tidak ada.


Jessica menarik nafasnya dalam, lalu ia hembuskan perlahan. Jessica mulai mempersiapkan alat lukisnya, meski kurang semangat ia tetap melakukan aktivitas yang merupakan hobinya itu.


*


Siang harinya, saat Sara pulang sekolah.


“Mommy kenapa? Yang lain belum datang?” lanjut Sara lagi.


Jessica bangun, ia duduk di samping Sara.


“Mommy udah telepon ke orang tua masing-masing, hari ini Mommy enggak terima les,” ujar Jessica tampak uring-uringan.


“Loh, kenapa?” Sara menyentuh dahi Jessica dengan punggung tangannya.


“Mommy sehat kok, cuma lagi kurang semangat saja,” sahut Jessica beranjak dari duduknya.


“Mommy berantem sama Daddy?” tanya Sara pura-pura tidak tahu. Jessica menggeleng kepalanya.


“Mmm... kamu Beneran enggak tahu hari ini hari apa?” tanya Jessica menyipitkan matanya ke arah Sara.


Sara menahan senyumnya. “Hari Senin tanggal 20 kan?” tanya Sara mempertegas bahwa ia tahu hari ini serta tanggalnya.


Jessica memonyongkan bibirnya. “Tau, tapi enggak peka, anak sama Daddy sama-sama enggak peka,” gumam Jessica dalam hati.


Sara memalingkan wajahnya, ia tersenyum puas telah berhasil membuat calon Mommy merasa kesal. “Maaf," gumam Sara dalam hati.


Sore harinya, Sara minta izin pulang terlebih dahulu kepada Jessica.


“Sayang, bentar lagi Daddy pulang, enggak pulang nanti saja?” tanya Jessica.


“Enggak ah Mom, capek jadi nyamuk Mulu,” jawab Sara iseng. Sontak saja hidungnya menjadi sasaran cubitan Jessica.


“Hati-hati!” teriak Jessica ketika taksi yang membawa sara berlalu.


Satu jam kemudian, Valen datang menjemput Jessica. Jam menunjukkan tepat pukul 17:00, Valen turun dari mobil dengan seikat mawar ditangannya. Jessica yang asyik melukis tidak menyadari kedatangan Valen.

__ADS_1


Valen langsung memeluk tubuh Jessica dari belakang, ia kecup kepalanya.


“Selamat ulang tahun sayang, i love you,” bisik Valen ditelinga Jessica.


Jessica berpaling, ia menatap Valen. “Kamu enggak lupa Mas?” tanya Jessica tersenyum semringah.


“Mana mungkin aku melupakan hari ulang tahun kekasihku,” sahut Valen.


Jessica bangun dari duduknya, Valen berikan seikat bunga mawar merah yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya.


“Thank you Mas,” ucap Jessica kembali memeluk Valen.


“Sayang,” panggil Valen. “Semoga kita selalu bahagia seperti ini selamanya ya,” sambung Valen.


“Amin Mas, terima kasih kamu sudah mencintai aku dengan tulus,” ujar Jessica. Matanya berkaca-kaca.


Valen mencubit kecil hidung Jessica seraya berkata, “Eits, enggak boleh nangis.”


“Enggak kok Mas.”


“Mas, kenapa harus ke salon, sih?” tanya Jessica.


“Pulang saja yuk, aku juga bisa dandan sendiri kok, kita cuma mau dinner doang kan?” sambung Jessica dengan pertanyaan yang lain.


“Mbak, dandan secantik mungkin ya?” bisik Valen pada karyawan salon kecantikan tersebut.


Jessica berkali-kali melarang wajahnya dirias tebal, tampak ia sangat kesal dengan karyawan tersebut.


“Mbak, saya cuma mau dinner bukan mau acara lamaran ya,” ujar Jessica ketus.


Valen cuma bisa geleng-geleng kepala seraya menahan tawanya.


Valen begitu terpukau ketika Jessica keluar dari ruang ganti. Jessica menggunakan gaun kuning yang pas ditubuhnya, rambutnya yang di sanggul ke atas, dengan aksesoris mahkota kecil di atas, juga dengan anting mutiara putih, lengkap dengan heels yang juga senada dengan gaun. Layaknya Princess, Jessica begitu cantik.


“Mas, jangan lihat seperti itu, aku grogi,” ujar Jessica malu-malu.


Valen yang tidak bisa menutupi bahwa ia benar-benar terpana dengan kecantikan Jessica, hanya bisa senyum-senyum sendiri.


Setengah perjalanan, Jessica merasa aneh, arah yang Valen tuju menuju rumah Marco.


“Mas, kok pulang?” tanya Jessica.


“Kita jemput Sara ya?” tanya Jessica lagi.

__ADS_1


“Terakhir sih, Mas hubungi katanya semuanya sudah siap,” sahut Valen santai.


“Oh.” Jessica membulatkan bibirnya.


Setibanya di rumah, semua lampu padam. Mulai dari gerbang, sampai lampu teras. Tanpa rasa curiga Jessica bertanya kepada Valen. “Mas, kok gelap, ya?” tanya Jessica merangkul lengan Valen.


“Ada kerusakan listrik mungkin,” sahut Valen.


“Kamu jangan matikan mobilnya dong, aku takut,” ujar Jessica.


“Ada Mas kok, tutup mata aja kalau kamu takut,” ujar Valen.


Setelah masuk ke dalam rumah, Jessica masih saja menempel pada Valen.


“Mas, ke arah sana, aku tahu di mana sakelar lampunya,” pinta Jessica.


Namun tiba-tiba lampunya menyala disertai bunyi trompet dan nyanyian lagu ulang tahun yang dinyanyikan rame-rame. Acara begitu mewah dihadiri tamu-tamu penting Marco dan Darwin. Serta awak media yang meliput acara tersebut.


“Mohon kepada Nona Jessica segera menuju panggung, kita sambut ke hadapan kita Jessica Antonio!” panggil MC yang dipandu sendiri oleh Darwin.


“Mas, aku malu, rame banget,” bisik Jessica.


“Ayo, Mas temani,” Valen menggandeng Jessica menuju panggung yang khusus dibuat untuk acara malam itu.


Saat Jessica tiba di atas panggung, keluar Martha dan Jessica yang menyanyikan lagu serta kue ditangannya.


“Happy birthday to you ... happy birthday day to you ... happy birthday happy birthday, happy birthday Jessica ...” Martha memeluk erat tubuh putri yang pernah hilang dari pelukannya bertahun-tahun lamanya.


Keduanya sama-sama tidak bisa berkata-kata, hanya air mata yang berlinang di pipi.


“Selamat ulang tahun, Nak, panjang umur, sehat selalu, Mama sangat menyayangimu.” Martha mengecup pucuk kepala Jessica.


Semua orang yang berada di ruangan itu ikut merasa terenyuh melihat Martha dan Jessica.


“Oke, sekarang acara potong kuenya ya,” ujar Darwin seraya menyanyikan lagu.


Jessica memberikan potongan pertamanya kepada Martha disusul untuk Marco juga.


“Selamat ulang tahun Princessnya Papa, rasanya Papa enggak tahu mau doa in apa lagi, semua yang terbaik selalu Papa panjatkan untukmu,” ujar Marco dan ia mengecup kening Jessica.


Jessica memeluk kedua orang tuanya, tangisnya pecah. Mulai dari pagi ia uring-uringan karena tidak ada yang peduli dengan hari spesialnya. Namun siapa sangka mereka telah menyusun acara sedemikian rupa jauh-jauh hari.


Jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2