Perjanjian

Perjanjian
Episode 82


__ADS_3

Jessica sangat panik, ia tidak mungkin merusak suasana pesta malam itu. Terlebih acara baru dimulai. Ia tidak mungkin juga memberitahukan kepada Marco. Sementara Valen telah membawa Asmira meluncur ke rumah sakit. Melihat Jessica seperti orang kebingungan, Marni menghampirinya.


“Ada apa Non?” tanya Marni.


Jessica tersenyum semringah. “Untung ada Bibi, pak Samsul mana Bik?” tanya Jessica.


“Ada di belakang, kenapa?” tanya Marni.


“Panjang ceritanya, suruh pak Samsul kemari. Antar saya ke rumah sakit,” pinta Jessica. Tanpa mengatakan apa maksud dan tujuannya.


Meski begitu penasaran, Marni tidak menanyakan apa-apa lagi, ia segera berlari mencari suaminya. Jika Jessica begitu panik, tentu ada hal yang penting pikir Marni.


“Ayo kita berangkat Non,” ajak Samsul.


“Oya, Bik, usahakan Bibi jangan beritahu mama papa,” ujar Jessica.


“Baik, Non.”


* *


“Dokter! tolongi istri saya Dok!” teriak Darwin panik begitu mereka tiba di rumah sakit.


Dengan sigap, pihak rumah sakit langsung membawa Asmira masuk ruang gawat darurat. Asmira membutuhkan perawatan intensif, kondisinya tidak sadarkan diri.


“Mohon maaf pak, tunggu di luar ya?” pinta suster kepada Darwin.


“Sus, saya mau liat istri saya Sus,” ujar Darwin. Namun Valen mencegahnya.


“Kamu tenang Win, percayakan kepada mereka,” ujar Valen dengan nada tinggi, Darwin tampak seperti bukan dirinya yang biasa.


10 menit kemudian.


Jessica tiba di rumah sakit. Masih lengkap dengan gaun pestanya. Jessica tidak peduli, orang-orang melihatnya, air matanya terus berlinang. Yang ia mau, semoga tidak terjadi apa-apa kepada Asmira.


“Mas, gimana keadaan Asmira?” tanya Jessica.


“Dokter masih tangani Lestari sayang,” ujar Valen.


Darwin bergegas menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang gawat darurat. Darwin tidak bisa berpikir jernih, otaknya buntu.


“Dokter gimana keadaan istri saya?” tanya Darwin. Dokter jawab pertanyaan saya, Dok?” sambung Darwin lagi.


“Win, kamu bisa tenang dulu enggak sih!” bentak Jessica.


“Semuanya baik-baik saja. Asmira mendapatkan perawatan di saat yang tepat. Telat sedikit lagi, kemungkinan akan terjadi keguguran, sangat besar,” ujar dokter spesialis kandungan.


“Alhamdulillah ...” ucap Darwin. Lututnya terasa lemas, ia tidak berdaya.


“Tapi dok, tadi keluar darah?” tanya Jessica.


“Itu disebabkan karena peregangan ligamen yang menyebabkan kram perut pada awal kehamilan yang memasuki trimester kedua. Hal itu terjadi karena ligamen harus menopang rahim yang mulai membesar dan menebal seiring perkembangan janin,” ujar dokter panjang lebar.

__ADS_1


“Syukurlah dokter, saya lega mendengarnya,” jawab Jessica mengelus dadanya.


“Oya satu lagi, usahakan Pak, istrinya jangan minum minuman beralkohol atau yang mengandung soda terlebih dahulu, ya?” dokter tersebut menepuk pelan bahu Darwin.


“Alkohol?” tanya Darwin terkejut.


“Iya, penyebab istri Anda jatuh pingsan dikarenakan ia minum minuman beralkohol,” ujar dokter itu lagi.


“Tapi dok, istri saya tidak minum,” jelas Darwin bingung.


“Setelah saya beri obat, tadi istri Anda memuntahkan cairan yang mengandung alkohol. Untung saja janin tidak apa-apa, hanya ibunya saja yang mabuk,” jelas dokter.


“Dokter saya boleh bertemu adik saya?” tanya Jessica.


“Oh, tentu. Silakan!” jawab dokter itu ramah.


“Dokter terima kasih atas penanganan Anda,” ujar Valen menjabat tangan dokter itu.


“Sama-sama, saya permisi dulu,” ujar dokter itu.


Darwin berkali-kali mengucap syukur atas kesembuhan Asmira. Darwin bahagia mendengar istri dan anaknya baik-baik saja.


“Sayang ... kamu baik-baik saja?” tanya Jessica mengusap kepala Asmira dengan lembut.


“Mbak, aku kenapa masuk rumah sakit?” tanya Asmira.


“Enggak apa-apa sayang, tadi kamu cuma pingsan,” jawab Jessica.


“Mas Marcell mana Mbak?” tanya Asmira.


“Aku di sini, sayang,” sahut Darwin yang baru masuk ke ruangan itu.


Asmira tersenyum, ia pejamkan matanya saat sebuah kecupan romantis yang mendarat di keningnya.


“Mas, maaf in aku udah buat kamu khawatir ya?” ucap Asmira manja.


“Ssttttt!” Darwin menaruh jari telunjuknya di bibir Asmira.


“Kamu gak boleh ngomong kek gitu, ini udah kewajiban aku sebagai suami,” ujar Darwin, ia mengelus-elus manja pipi Asmira.


Marni sangat khawatir dengan kondisi Asmira, ia mondar-mandir di dapur, ia menunggu kabar dari suaminya.


Namun tiba-tiba Martha memanggilnya, dari tadi Marni mencoba menghindar dari majikannya itu, ia takut diserang berbagai pertanyaan tentang di mana keberadaan anak-anaknya.


“Bi, capek saya panggil kenapa enggak jawab?” tanya Martha.


Marni gelagapan. “Saya tidak mendengarnya Buk Nyonya,” jawab Marni berbohong.


“Oya, kamu liat anak-anak saya enggak? Dari tadi saya cari enggak ketemu,” tanya Martha lagi.


Marni bingung, apa yang harus ia katakan.

__ADS_1


“Saya tidak lihat Buk Nyonya,” jawab Marni menundukkan kepalanya.


“Oh ya sudah, biar saya cari ke depan,” ujar Martha seraya pergi meninggalkan Marni di dapur.


Marni bernafas lega, ia mengelus dadanya.


“Untung saja Buk Nyonya enggak tanya macam-macam,” ujar Marni.


“Bibi!” teriak Sara mengagetkan Marni.


“Monyet, eh monyet, eh Non Sara.”


Sara tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Marni terkejut. “Sorry Bu,” ucap Sara.


“Non sara jail banget sih, kan Bibi jadi kaget,” ujar Marni.


“Bik liat Mommy sama Daddy enggak?” tanya Sara.


Marni terdiam. “Apa mungkin kasih tahu Sara saja, ya,” gumam Marni dalam hati. Marni berniat memberitahukan Sara, sekaligus menyuruh Sara menghubungi suaminya untuk menanyakan keadaan Asmira. Akhirnya Marni pun menceritakan yang sebenarnya.


“Ya ampun Bik, semoga dede bayi dan tante Mira baik-baik saja, ya,” ujar Sara prihatin dengan kondisi Asmira.


“Ya Non.”


Sara mencoba menghubungi Valen, namun tidak terjawab, Sara tampak panik. Bagaimanapun juga Sara menyayangi Asmira. Sara mencoba menghubungi Jessica, setelah beberapa kali tak terjawab akhirnya tersambung juga.


“Ada apa sayang?” tanya Jessica.


“Ya ampun Mom, kenapa lama banget sih angkatnya?” tanya Sara.


“Tadi Mommy enggak dengar, ada apa, sayang?” tanya Jessica lagi.


Martha tidak sengaja mendengar Sara yang sedang mengobrol lewat telepon dengan seseorang. Karena penasaran ia berniat ingin mengetahui dengan siapa Sara bicara.


“Mom, apa Tante Mira dan janinnya baik-baik saja?” tanya Sara kemudian.


“Aku sama Bik Marni khawatir banget, takut dedek bayinya kenapa-kenapa,” sambung Sara lagi.


“Apa?” tanya Martha kaget mendengar Sara menanyakan Asmira dan kandungannya.


Sara refleks mematikan telepon dengan Jessica.


“Di mana Lestari?” tanya Martha menatap tajam kepada Sara.


“Di ...” ujar Sara ragu.


“Thany tanya di mana, Sara?” Martha mengulangi pertanyaannya dengan mengatupkan kedua bibirnya.


Marni mencoba menenangkan Martha. Namun, Martha terlanjur panik, matanya mulai berkaca-kaca.


Jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2