
“Mas, sepertinya Ritha akan segera melahirkan,” ujar Rose.
Rose ikut panik melihat kondisi Ritha yang teramat kesakitan, ia menitip Brandon pada suaminya. Rose ingin menemani Kelvin membawa Ritha ke rumah sakit.
“Rose, kamu di sini saja , aku bisa kok.” Kelvin menolak bantuan Rose yang ingin menemaninya.
“Udah, sekarang bukan waktunya berdebat. Ritha butuh pertolongan segera!”
Darwin yang sejak awal sudah mengetahui kondisi Ritha, ia ikut panik bercampur was-was. Takut terjadi sesuatu dengan bayi Ritha.
“Vin, lo buru-buru bawa Ritha ke rumah sakit, di dekat sini ada klinik,” pinta Darwin.
Rose memapah Ritha masuk mobil, Kelvin segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, matanya terus melihat Ritha.
“Sakit! perut aku sakit banget!”
“Tenang ya sayang, bentar lagi kita sampai,” ujar Kelvin. Tanpa terasa, air mata menetes di pipinya.
Kelvin terus menambah laju kendaraan mobilnya, Rose gemetar, tapi ia urungkan niat untuk berkomentar. Suasana sangat genting, Ritha semakin lemas, berulang kali Rose memanggil namanya, agar ia tidak pingsan.
“Ritha ... tahan ya,” ujar Rose.
10 menit kemudian mereka tiba di sebuah klinik persalinan. Kelvin bergegas turun memanggil perawat, namun sayangnya dokter sedang tidak ada. Baru saja ada pasien gawat darurat yang harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Kelvin tidak tahu harus berkata apa, ia menjambak rambutnya, ia benar-benar frustrasi.
Sementara Ritha semakin lemas, Rose memanggil Kelvin yang masih terpaku di depan klinik.
“Mas, ketuban Ritha pecah!”
Kelvin segera masuk. “Ya tuhan, sayang sabar ya.”
Jarak antara klinik dan rumah sakit jauh sekitar 30 menit perjalanan. Mudah-mudahan saja tidak ada kemacetan. Harap Kelvin.
Kelvin melaju kencang, ia terus membunyikan klakson mobilnya. Rasanya perjalanan sangat lama, hati Rose semakin deg-degan. Melihat kondisi Ritha yang semakin lemas.
Ritha meraih tangan Rose, lalu ia letakkan di perutnya. Rose mengelus-elus perut Ritha, Rose berpikir Ritha menyuruhnya meraba perutnya untuk menghilangkan rasa sakit yang ia derita.
__ADS_1
Dan benar saja, jalanan macet, Kelvin terus membunyikan klaksonnya. Namun apa boleh buat, di depan terjadi kecelakaan. Polisi sedang mengamankan kendaraan dan korban yang harus segera dilarikan ke rumah sakit.
“Tuhan ... beri aku kesempatan.”
Rose merasa iba terhadap Kelvin, yang Rose lihat kini, kekhawatiran yang sama persis seperti saat ia melahirkan Brandon dulu. Kelvin suami siaga menjelang persalinan normal ia dulu.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka tiba di rumah sakit. Yang terkenal akan kualitas dan mutu pelayanan kesehatannya.
Kelvin segera mengangkat tubuh Ritha, Ritha sudah tidak sadarkan diri. Kelvin berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit, Rose mengikutinya di belakang.
“Dokter! tolongi istri saya Dok!”
Perawat langsung membawa Ritha masuk, ia akan segera ditangani oleh dokter spesialis. Rose mondar-mandir di luar, ia begitu panik.
Dokter melihat kondisi Ritha, ia menyentuh nadinya, ia berulang kali menepuk-nepuk pipi Ritha. Namun sayang, Ritha sudah tiada. Bayi yang dikandungnya pun sudah tidak bergerak. Dokter terus mengecek kondisi Ritha. Namun, Ritha telah meninggal, bersama anak yang ia kandung.
“Dokter, kenapa istri saya masih pingsan. Dok, istri saya baik-baik saja, kan?”
Dokter merasa iba melihat Kelvin yang begitu terpukul, dokter itu terdiam. Namun Kelvin terus bertanya dengan tangisannya yang sudah tak terbendung.
Rose mendengar teriakan Kelvin, ia nekat masuk ke ruang persalinan tersebut.
Dokter tersebut, membuka kaca mata yang ia kenakan, ia kucek matanya. Lalu ia hembuskan nafasnya perlahan.
“Pasien terlambat mendapatkan penanganan, mohon maaf ibu dan bayi tidak dapat terselamatkan.”
Tangisan Kelvin pecah, ia peluk tubuh Ritha erat, ia menggoyangkan tubuh istrinya itu.
“Sayang, bangun.”
Rose pun tidak mampu menahan tangisnya, perlahan air mata jatuh di pipinya. Ya Tuhan, untuk pertama kalinya, Kelvin benar-benar merasa down. Dan Rose merasa tidak sanggup melihat Kelvin yang begitu terpukul.
"Dokter, tolong selamatkan istri saya!”
Tampak mata dokter tersebut berkaca-kaca, ia berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menepuk bahu Kelvin. “Yang kuat, mungkin begini yang terbaik.”
Dokter tersebut keluar meninggalkan 3 insan diruang itu, mereka pernah terjebak cinta segi tiga. Yang membuat rumah tangga Rose hancur, dan ia harus berlapang dada menerima semua masa lalu itu.
__ADS_1
“Mas sabar ya,” ujar Rose menyentuh bahu Kelvin.
Kelvin peluk Rose, ia menangis di pelukan mantan istri yang pernah ia sakiti itu. Ratapan kesedihan yang dirasakannya ia coba ungkapkan pada Rose.
“Rose, Tuhan telah membalas semua karma untukku. Ketika aku benar-benar ingin berubah, dan hanya setia pada satu wanita dan calon anakku, tapi Tuhan merebutnya dariku.”
Kelvin menangis begitu pilu, siapa saja yang melihatnya kala itu tidak akan sampai hati.
Sekali lagi, Rose hanya bisa mengatakan. “Yang sabar Mas, semua ini sudah kehendak Tuhan.”
Simon sangat syok mendapat berita bahwa putri dan calon cucunya telah tiada. Tangisannya tak dapat ia tahan, putri satu-satunya kini telah tiada.
Semuanya sudah menunggu di rumah Simon, termasuk dua mempelai yang baru saja berbahagia. Begitulah kehidupan, ada yang datang dan ada yang pergi, ada orang yang sedang bahagia, namun ada pula orang lainnya yang berduka.
Setelah mengurus kepulangan jenazah, Rose dan Kelvin membawa Ritha pulang. Simon barangkali pingsan, ia sangat syok. Namun keluarga terdekat selalu menguatkannya.
“Simon, kamu yang tabah ya,” ujar Marco.
Padahal, belakangan ini keduanya kurang akur, namun saat itu mereka tidak mengedepankan masalah itu. Simon tengah berduka.
Begitu mereka tiba di rumah, Simon langsung menyerang Kelvin dengan berbagai pertanyaan.
“Kamu apa kab anakku, kenapa ia bisa meninggal?”
“Ritha terlambat mendapat pertolongan Pa.” Kelvin menjawab disela tangisnya.
“Ini semua salah kamu! dokter sudah mengatakan Ritha akan melahirkan awal bulan, kenapa kamu nekat bawa dia ke acara itu!”
Semuanya menenangkan kedua pria itu, emosi yang meledak-ledak membuat Ritha tidak tenang, biarkanlah ia pergi dengan tenang bersama anaknya. Semuanya telah Tuhan atur sedemikian rupa. Begitu harap orang banyak di rumah Simon kala itu.
Semua berjalan lancar, Kelvin mengantarkan istri dan anaknya ke tempat peristirahatan terakhirnya, dengan wajah penuh kasih dan air mata yang berlinang.
Kelvin tidak menyangka, hari ini merupakan hari terakhir ia melihat istrinya di dunia ini. Baru saja tadi malam, keduanya memilih-milih nama untuk calon anaknya kelak, namun takdir berkata lain.
Ritha telah Tuhan panggil lebih dulu, bersama buah hati yang ia dambakan selama ini. Ritha tidak sendirian, ia bersama buah hati ia dan suaminya.
Kelvin meratapi kepergian sang istri dengan pilu yang mendalam. Baru saja ia mencoba, membuat Ritha bahagia, cukup ia rasa penderitaan selama ini. Tapi kini, Ritha telah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Jangan lupa like.