Perjanjian

Perjanjian
Episode 72


__ADS_3

Asmira tidak menjawab satu pun pertanyaan Darwin, sejak dari Darwin pulang kantor sampai selesai makan malam pun Asmira masih saja menekuk wajahnya. Ada apa gerangan yang terjadi pada bumil tersebut, Darwin tak tahu, ia menggaruk kepalanya.


Santi merapikan meja makan, Darwin menanyakan kepada Santi perihal sikap Asmira yang dingin terhadapnya. Santi mengangkat kedua bahunya, mengisyaratkan bahwa ia tak tahu-menahu.


Selesai makan, Asmira langsung menuju kamarnya tanpa permisi dulu kepada suaminya. Darwin mengikuti Asmira dari belakang. Asmira rebahkan tubuhnya di sandaran ranjang, ia pejamkan matanya. Darwin mendekat, lalu ia belai lembut perut Asmira.


“Sayang, Mami kamu kenapa, sih?” tanya Darwin pada sang anak yang masih di kandungan Asmira. Darwin mendekat telinganya ke perut Asmira, seolah-olah ia sedang mendengarkan jawabannya.


“Oh, Mami pengen jalan-jalan. Maaf in Papi ya... Akhir-akhir ini sibuk banget” ujar Darwin kembali berbisik-bisik di perut Asmira. Tapi matanya menatap sang istri.


Sontak saja Darwin mendapat perhatian dari Asmira karena tingkahnya tersebut. Asmira senyum-senyum sendiri. Asmira mendorong kepala Darwin dari perutnya, ia baringkan tubuhnya, ia tarik selimut dan berpura-pura tidur.


Darwin ikut berbaring di sebelah istrinya, ia tahu Asmira ambekan karena Darwin terlalu sibuk. Wajar saja, Asmira yang lagi hamil seharusnya butuh ekstra perhatian dari suaminya. Namun, karena Darwin tidak bisa mewakilkan kerjanya tersebut kepada orang lain, ia terpaksa melakukannya sendiri.


Asmira bukan wanita manja. Tapi semenjak ia hamil tingkahnya berbeda, mungkin saja pembawaan ibu hamil, yang sulit dimengerti.


Darwin memeluk Asmira. “Sayang, hari Minggu kita jalan-jalan, ya?” ajak Darwin, ia tahu Asmira belum tidur. Namun, masih saja Asmira tidak mau menanggapi obrolannya.


“Mas mau ajak kamu makan es krim, lalu beli jajanan pinggir jalan, nonton ....” Belum selesai Darwin mengatakannya. Asmira mengubah posisi tidurnya menghadap Darwin.


“Mas, serius?” tanya Asmira tersenyum semringah. Darwin mengangguk perlahan.


“I love you sayang,” ucap Asmira, ia kecup pipi suaminya.


Darwin tertawa kecil melihat tingkah Asmira yang sedang ambekan. Namun saat ia sebutkan satu persatu keinginannya, Asmira langsung tersenyum. Asmira bukan tipe wanita yang menuntut ini dan itu, padahal apa sulitnya, ia tinggal mengatakan apa yang ia mau. Namun sebaliknya, ia ingin Darwin lebih peka terhadap apa kemauannya.


* *


Pertemuan Nindy dengan Kelvin membuat hari-hari Nindy terasa berbeda. Satu alasan yang membuatnya melakukan hal itu, 'Uang' kini uang yang ia inginkan berapa pun itu selalu Kelvin berikan.


Nindy sedang berada di Mall. Seperti yang biasa ia lakukan sebelum-sebelumnya, setiap kali ia mendapat transferannya, ia habiskan untuk menunjang penampilannya, agar terlihat seperti wanita-wanita dari kalangan kelas atas.


Asmira juga berada di tempat yang sama, ia jalan-jalan dengan suaminya. Seperti yang telah Darwin janjikan kemarin, Asmira juga mengajak Santi ikut serta. Kasihan ia tidak ke mana-mana, setiap saat ia habiskan hari-harinya cuma di dapur saja.

__ADS_1


Asmira memberikan beberapa pakaiannya kepada Santi, ia juga merias sedikit wajahnya dengan make-up. Tampilan Santi sangat menarik, meski hanya dengan sedikit polesan saja. Santi berkulit putih, ia keturunan campuran indo Jepang, ia juga bertubuh mungil, sama seperti wanita keturunan Jepang pada umumnya. Matanya agak sipit tapi tidak terlalu.


“Santi!” Nindy terkejut melihat mereka bertiga. Sama halnya dengan Nindy, Santi tak kalah terkejutnya.


“Kamu ke mana saja, penampilan kamu menarik sekali,” ujar Nindy mendekati Santi yang masih terpaku.


Santi tidak memedulikannya, yang Santi harapkan bukan itu kata pertama yang keluar dari mulut sang kakak. Setelah sekian lama mereka tak bertemu, tak ada raut khawatir dari muka Nindy.


Asmira masih tidak berkomentar apa-apa, ia melihat dua kakak beradik itu tampak aneh. Terlebih, wajah Santi yang menampakkan tidak suka terhadap Nindy. Wajar saja, sikap Nindy yang membuat Santi demikian.


“Mira, Santi kerja sama kamu juga?” tanya Nindy kemudian, setelah ia tidak mendapat respons yang baik dari sang adik.


“Ya Nin,” sahut Asmira dingin.


“Mbak juga kerja di tempat Asmira loh San,” ujar Nindy kepada Santi.


Darwin menyunggingkan senyum sinis di bibirnya. Bukan hanya pandai di atas ranjang, ia juga pandai bersilat lidah, pikir Darwin. Kemarin malam, saat Tiwi dinner dengan suaminya, ia melihat Nindy bersama Kelvin. Dapat dibayangkan, wanita seperti apa yang dekat dengan Kelvin. Darwin menatap Nindy dengan tatapan tajam, apalagi saat ia mengingat Nindy pernah merayunya tempo hari, Darwin semakin jijik dibuatnya.


“Mira, aku boleh bicara dengan Santi sebentar?” tanya Nindy.


Sesaat kemudian Darwin kembali membawa dua cup es krim ditangannya. Mereka berdua menunggu Santi selesai bicara dengan Nindy.


Setelah berada sedikit jauh dari Asmira, Nindy melepaskan kasar tangan Santi.


“Kamu enggak jelek-jelekin Mbak sama Asmira kan?” tanya Nindy berkacak pinggang. Santi enggan menanggapi pertanyaan tersebut.


“Kamu jangan coba-coba membongkar semua kelakuan Mbak. Kalo kamu enggak mau anak yang dikandung Asmira kenapa-kenapa,” ujar Nindy berbisik ditelinga Santi.


“Mbak jangan macam-macam!” ujar Santi dengan suara nyaring. Matanya menatap tajam kepada Nindy.


Nindy merangkul Santi saat mereka kembali ke tempat Asmira menunggu.


“Maaf ya, membuat kalian menunggu lama,” ujar Nindy seraya menyunggingkan senyum yang dibuat-buatnya.

__ADS_1


“Oya, Kapan-kapan, boleh enggak aku main ke rumah kamu Mira?” tanya Nindy lagi.


Santi lebarkan matanya pada Asmira, namun Asmira tidak mengerti. Santi tidak ingin Nindy berkunjung ke rumahnya.


“Silakan, kenapa enggak,” sahut Asmira.


Nindy tersenyum manis kepada Santi.


Nindy segera pergi, ia mengatakan ada urusan lain. Darwin tersenyum tipis mendengarnya.


Asmira kembali melanjutkan jalan-jalannya, kakinya terasa sakit karena sedari tadi ia berjalan.


“Sayang, kita istirahat dulu, ya?” ajak Darwin.


“Tapi Mas, aku masih ingin belanja-belanja, nanti keburu sore,” sahut Asmira.


“Bentar doang.” Darwin memapah Asmira berjalan.


Setelah seharian jalan-jalan, Asmira sangat lelah, kakinya bengkak. Santi menyediakan air rendaman garam untuk Asmira.


“Biar Santi saja Mas, mending Mas mandi gih.” Darwin segera mandi, tubuhnya terasa lengket karena keringat.


“Tadi Nindy ngomong apa, San?" tanya Asmira. Santi bingung harus mengatakan apa kepada Asmira. Bagaimana jika Asmira tahu kalau Nindy mempunyai rencana jahat untuk mencelakainya.


“Bukan apa-apa kok Mbak,” jawab Santi.


“Bener?” tanya Asmira, ia hanya ingin meyakinkan saja bahwa Santi baik-baik saja.


“Mbak jaga diri baik-baik ya,” pinta Santi, hanya itu yang bisa ia katakan.


Asmira tersenyum.


“Kamu senang?” tanya Darwin saat ia berbaring di sebelah Asmira.

__ADS_1


“Terima kasih, ya Mas.” Asmira memeluk Darwin sebelum ia terlelap dalam mimpi indahnya.


Jangan lupa like ya


__ADS_2