
“Lama banget Nin,” ujar Asmira ketika Nindy telah tiba di rumahnya.
“Kamu enggak tersesat, kan?” tanya Asmira lagi.
Nindy tersenyum. “Enggak dong. Masak tersesat sih?” Jawab Nindy.
Santi menyediakan minuman dan kue kesukaan Nindy, seperti yang Asmira pinta padanya.
“Thanks ya Santi,” ucap Asmira pada Santi.
“Sama-sama Mbak. Maaf ya Mbak Nindy, aku enggak bisa ikut mengobrol, banyak kerjaan,” ujar Santi.
Nindy tersenyum. “Oh, enggak apa-apa kok, lagian itu kan tugas kamu sebagai pembantu di sini,” ujar Nindy dengan menekan kata-kata pembantu.
Asmira menatap tajam wajah Nindy. Namun, Santi menggeleng kepala, ia mengisyaratkan pada Asmira, agar ia tidak perlu menghiraukan omongan Nindy.
Nindy mengobrol panjang lebar dengan Asmira. Keduanya sudah sangat lama tidak menghabiskan waktu bersama. Terakhir, sebelum Nindy pindah ke Jepang.
Awalnya pembicaraan mereka baik-baik saja, tidak mengarah ke mana pun. Namun Nindy, sedikit demi sedikit mengorek informasi tentang rumah tangga Asmira. Ia mencari celah agar bisa mengadu domba Asmira dan Darwin.
“Sekarang, mas Darwin ke mana Mira?” tanya Nindy. Asmira menjawab seperti biasa, ia tidak mengerti sama sekali jika dirinya sedang ingin direcoki sahabatnya.
“Kamu enggak cemburu Mira?” tanya Nindy.
“Kan, sekretarisnya perempuan, ke mana-mana berduaan terus. Kalau aku sih, auto cemburu Mira,” ujar Nindy lagi.
Asmira tersenyum santai. “Sejauh ini, enggak sih Nin, aku baik-baik saja. Mas marcel juga sayang banget sama aku,” jawab Asmira tersenyum manis.
“Mira, kamu jangan terlalu percaya. Jaman sekarang, banyak perusak rumah tangga, lagian suami kamu kaya raya. Siapa yang tidak tergoda coba?” tanya Nindy lagi.
Asmira tampak bingung. “Kenapa Nindy panas-panasi aku, ya?” gumam Asmira dalam hati.
Nindy terus saja mencoba untuk membuat emosi Asmira memuncak. Namun, sejauh ini usahanya masih gagal. Emosi Asmira terkontrol dengan baik.
“Lagian, kami sama-sama enggak pernah pacaran Nin, makanya sekarang sama-sama manja gitu,” ujar Asmira tersenyum malu-malu.
Nindy mendapat lampu hijau dari Asmira. Ternyata Asmira tidak tahu-menahu masa lalu Darwin. “Tahu dari mana kamu mas Darwin gak pernah pacaran Mira?” tanya Nindy.
“Ya tahu lah, sebelum kita nikah. Mas Marcell udah jujur sama aku,” jawab Asmira.
__ADS_1
Nindy tersenyum manis. “Semoga saja seperti itu ya Mira, aku doa in hubungan kalian bahagia sampai kakek nenek ya?” ujar Nindy.
Setelah berbincang-bincang, akhirnya Nindy berpamitan pada Asmira. Namun, saat bangun, ia sengaja menjatuhkan tasnya. Asmira tiba-tiba melihat foto yang terjatuh dari tas Nindy.
“Nin, coba aku lihat foto siapa itu?” pinta Asmira pada Nindy.
Namun, Nindy menolak memberikan foto tersebut. “Jangan Mira, bukan apa-apa kok.”
Karena penasaran, Asmira meraih foto tersebut dengan paksa.
“Ya ampun Mira, maaf in aku ya. Tadi kepingin kasih tahu yang sebenarnya, tapi aku gak enak,” ujar Nindy semakin memanaskan suasana.
“Ada hubungan apa mbak Rose dan mas Marcell di masa lalu,” ujar Asmira pelan.
“Kamu kenal wanita ini Mira?” tanya Nindy menunjukkan wanita yang merangkul Darwin dalam foto tersebut. Asmira mengangguk perlahan.
Asmira mengatakan jika Rose adalah mantan istri Kelvin, kakaknya Bastian. Nindy menanyakan ciri-ciri Kelvin. Jangan-jangan Kelvin yang bersamanya selama ini adalah kakaknya Bastian.
“Tapi Mira, maaf ya. Bukannya aku mau menjelekkan mas Darwin. Cuma, kamu perlu hati-hati. Biasanya, cinta pertama susah dilupakan,” ujar Nindy lagi.
Kali ini, tampaknya omongan Nindy cukup berpengaruh, Asmira terdiam. Ia termenung, tampaknya Nindy berhasil membuat hati Asmira porak-poranda.
Setelah Nindy berpamitan, Asmira masih saja berdiam diri. “Semoga saja, semua yang Nindy ceritakan enggak benar,” gumam Asmira memejamkan matanya.
Mobil yang membawa Darwin dan Pratiwi melaju kencang. Hari ini, Darwin mengajak sopir pribadi kantornya. Ia rasa tubuhnya kurang fit. Perjalanan yang jauh, membuatnya tidak sanggup menyetir mobil sendiri.
Rthhhhh... rthhhhh.
Rose.
“Ya Rose,” sapa Darwin.
“Maaf Win, kamu lagi sibuk enggak. Bisa kita bicara sebentar?” tanya Rose.
“Ada apa?” tanya Darwin.
Rose mengatakan, jika sertifikat yang ia punya bukan yang asli. Kekasih baru Rose seorang pengacara, ia mengatakan jika surat tersebut palsu.
“Terus, kenapa kamu kasih tahu aku, bukannya kamu sedih?” tanya Darwin.
__ADS_1
“Dari dulu, pikiran kamu tetap saja jelek terhadap aku ya Win.” Rose sedikit kecewa dengan sikap Darwin.
Seperti yang ia katakan kemarin, ia sama sekali tidak berniat membohongi kedua orang tua Darwin. Tapi mereka sendiri yang mengatakan dirinya adalah anak mereka yang hilang. Mengenai harta, Rose mengakui ia dihasut oleh Fenita.
“Ya sudah, maaf mengganggu. Selamat malam,” ujar Rose seraya menutup panggilan.
Darwin menyesal, telah menuduhnya yang bukan-bukan. Namun apa boleh buat, sudah terlanjur.
Darwin tiba di rumah, sopir yang membawa mereka terlebih dulu mengantarnya pulang, setelah itu baru mengantar Tiwi.
Setelah Santi bukakan pintu untuknya, Darwin segera masuk, ia mendapati istrinya sedang makan malam. Tidak biasanya Asmira makan lebih dulu tanpa menunggunya pulang kerja.
“Sayang ... tumben,” ujar Darwin menghampiri Asmira lalu mengecup keningnya.
Bukannya menjawab, Asmira makan dengan lahap, suara sendok beradu dengan giginya membuat Darwin ngilu mendengarnya.
“Sayang. Pelan-pelan dong makannya,” ujar Darwin lagi.
Tapi sama sekali tidak digubris oleh Asmira.
“Oh, Tuhan ... ada apa lagi?” gumam Darwin dalam hati, ia tidak berselera makan.
“Mas, mandi dulu ya?” Darwin bergegas naik ke atas ia ingin segera membasuh tubuhnya.
Selesai makan, Asmira masuk ke kamarnya. Ia melihat ponsel Darwin, ia tiba-tiba berniat ingin mengecek ponsel suaminya itu. Hal yang belum pernah ia lakukan selama menikah.
Asmira melihat panggilan keluar, namun tidak ada yang aneh. Namun matanya membulat sempurna saat ia melihat panggilan masuk. Nama Rose tercantum di sana, dengan durasi panggilan 5 menit.
Asmira tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Mungkinkan suaminya seperti yang Nindy katakan, apa mungkin Darwin masih menyimpan rasa untuk Rose. Asmira bertanya-tanya, apa mungkin yang ia lihat sekarang nyata. Asmira menepuk-nepuk wajahnya, barangkali ia hanya bermimpi. Namun tidak, itu nyata.
“Mas, kenapa kamu enggak jujur!” umpat Asmira dalam hati. Air mata berlinang di pipinya.
Ia buru-buru menyeka dengan tangannya. Lalu bergegas keluar kamar. Ia menonton televisi, matanya fokus, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ia begitu kalut dengan apa yang ia lihat tadi. Rasanya, begitu sesak di dada.
“Mira! jangan berpikiran aneh-aneh, ingat kamu lagi hamil.” Asmira coba menghibur diri sendiri. Ia menengadah ke atas, agar air mata tidak terjatuh ke pipinya.
Hati tidak sinkron dengan pikiran, Asmira tidak bisa menutupi kecemburuannya. Cintanya kepada Darwin sudah terlalu besar. Tidak bisa ia berpura-pura baik-baik saja.
Jangan lupa untuk like ya.
__ADS_1
Baca novel A BIG MISTAKE juga.
Terimakasih...