
Kelvin yang sedang dimabuk asmara dengan Ritha melupakan segalanya, waktu dan tempat tidak menjadi masalah. Mereka lakukan di mana dan kapan saja ada waktu.
Perkenalan mereka berdua di luar negeri saat Kelvin melakukan kunjungan kerja sedangkan Ritha kuliah di sana. Kelvin yang begitu mahir dengan persoalan rayu merayu begitu mudah menarik Ritha ke pelukannya. Sikap dan perilakunya yang manis membuat Ritha terpesona.
Ritha tidak mempermasalahkan jika Kelvin sudah menikah dan mempunyai anak, itu yang membuat Kelvin semakin besar kepala.
“Kapan kamu ceraikan istri kamu, Mas?” tanya Ritha.
“Belum ada momen yang tepat, sayang.” Kelvin mencium Ritha.
“Kalo kamu tidak menceraikan dia, aku akan melanjutkan perjodohan yang papa minta!” ucap Ritha kesal, ia lepaskan pelukan Kelvin.
“Sayang... Terima saja perjodohan itu, kan kamu tetap mencintai aku,” Kelvin memutarkan jemarinya di leher Ritha hingga ke dagunya. Kelvin menarik dagunya mencium bibirnya dengan lembut.
“Kamu tidak mencintai aku, Mas?” tanya Ritha.
“Bukan aku enggak mencintaimu, itu kan demi perusahaan papa kamu sayang. Kita masih bisa bersama Kapan saja.” Kelvin mencoba meyakinkan Ritha dengan berbagai tipu muslihatnya.
“Kamu cuma milik aku sayang, sampai kapan pun tetap milikku,” bisik Kelvin di telinga Ritha.
“Sayang jangan lupa minum obat ya,” bisik Kelvin ditelinga Ritha ketika mereka baru selesai melakukan aktivitas layaknya suami-istri.
Kelvin mengenakan semua pakaiannya, ia meraih ponselnya dan menyalakannya.
“Banyak banget panggilan masuk dari Darwin,” gumam Kelvin. Ia mengabaikan pesan dan telepon dari Darwin seperti yang biasa ia lakukan selama ini.
“Sayang aku pulang ya ....” Kelvin mencium bibir Ritha.
Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Kelvin keluar dari rumah itu meluncurkan mobilnya menuju rumah Rose yang hanya butuh waktu lima belas menit saja.
Setibanya di rumah, Kelvin langsung tidur dikamar tamu. Seperti biasa, setelah ia pulang berkelana dengan wanita-wanita, ia tidak akan tidur dengan Rose.
Kelvin menguap berkali-kali menahan kantuknya, setelah mandi dan membersihkan badannya ia pun terlelap dalam tidurnya.
* * *
Mobil yang membawa Martha menuju ke apartemen Darwin. Hari ini, Asmira akan memilih cincin pernikahan yang akan ditemani Martha. Karena, Darwin akan keluar kota untuk beberapa hari ke depan.
“Kamu udah siap sayang, ayo kita berangkat,” ajak Martha.
__ADS_1
Asmira begitu cantik dengan balutan busana yang pas ditubuhnya, dengan warna yang cerah dan sedikit riasan di wajahnya.
“Calon mantu mama cantik banget,” puji Martha.
“Kita mau ke mana Tan?” tanya Asmira.
“Panggil Mama dong jangan Tante,” pinta Martha.
“Iya Ma,” jawab Asmira merasa canggung.
“Kita ke toko perhiasan dulu, setelah itu baru
ke butik,” ujar Martha.
“Ma, jangan terlalu mewah ya aku enggak suka,” ucap Asmira.
“Harus mewah dong sayang, sekali seumur hidup,” balas Martha.
Mereka tiba di toko perhiasan. Martha menyuruh Asmira memilih mana yang ia suka, semua mata yang berada di dalam toko tersebut memandangi mereka.
“Itu bukannya nyonya Marco Antonio yang kaya sejagat raya itu.”
Asmira memilih beberapa model cincin, sesekali ia menanyakan pendapat calon mertuanya itu.
“Ma, aku mau video call mas Marcell dulu,” ucap Asmira, ia meraih ponsel di tasnya menghubungi Darwin.
“Sayang, kamu suka cincin yang ini enggak?” Asmira menunjukkan jari manisnya.
“Yang lain sayang?” tanya Darwin.
Asmira memilih yang lain. “Yang ini Mas, simple aku suka,” ucap Asmira.
“Boleh, kalau kamu suka, ambil itu saja,” jawab Darwin.
“Oke deh Mas, ya udah Mas kerja sana,” ucap Asmira.
“Ciumnya mana?” rengek Darwin.
“Mas apa-apaan sih, malu ada mama nih,” ucap Asmira setengah berbisik.
__ADS_1
“Biar in, mana cepat enggak semangat nih!” Darwin menggoda Asmira.
“Udah ya Mas ..." Asmira memutuskan telepon.
Asmira menundukkan wajahnya tidak berani menatap Martha. Martha tersenyum melihat Asmira wajahnya memerah. Kemudian Asmira menyerahkan pilihannya.
“Ini, Ma,” ucap Asmira.
“Mbak yang ini, ya,” pinta Martha kepada pemilik toko itu.
Martha membayar sepasang cincin itu, dan mengajak Asmira segera ke butik untuk fiting baju pengantin.
“Ma, kita ke butiknya kalo mas Marcell udah pulang saja ya,” pinta Asmira.
“Loh, kenapa, sayang?” tanya Martha.
“Enggak apa-apa Ma, boleh ya ...” rengek Asmira.
“Ya udah iya, tapi Mama masih mau sama kamu, Mama malas pulang,” ucap Martha .
“Kalo gitu aku mau ajak Mama ke suatu tempat,” ujar Asmira.
Martha menyipitkan matanya. “Ke mana?”
“Rahasia dong,” jawab Asmira tersenyum lebar. Ia memberi petunjuk jalan kepada sopir yang membawa mereka, menuju ke tempat yang Asmira maksud.
Mereka tiba di sebuah danau indah, yang tersembunyi di balik bingar kota. Suasananya begitu tenang, udara segar angin sepoi-sepoi berembus menerpa wajah Martha. Asmira seakan tahu, Martha butuh suasana dan tempat itu, air mata Martha meleleh perlahan di pipinya.
“Ma kenapa Mama menangis,” Asmira panik.
“Enggak kenapa-kenapa, sayang,” jawab Martha.
Martha mencoba menghentikan tangisannya. Tapi ia tidak bisa, hatinya begitu sesak. Seperti bom yang akan meledak saat waktu telah tiba, ia memeluk Asmira erat.
Asmira bingung apa yang terjadi dengan calon mertuanya itu, ia enggan bertanya. Hanya membiarkan Martha mengeluarkan semua unek-unek dihatinya.
Martha menangis sejadi-jadinya di pelukan Asmira, sampai matanya bengkak dan hidungnya sumbat .
“Ma udah ya, nanti Mama sakit Asmira takut papa marah,” bujuk Asmira.
__ADS_1
Jangan lupa Like ya guys...