Perjanjian

Perjanjian
Episode 15


__ADS_3

Di rumah keluarga Marco.


Marco begitu murka karena Martha menerima permintaan Darwin sebelah pihak tidak berkompromi dengannya terlebih dahulu.


Seharusnya sejak dari perkenalan Darwin dan Ritha 3 Minggu yang lalu, sekarang mereka sudah menetapkan tanggal pertunangan.


Namun, perjanjian Martha dengan Darwin yang membuat keinginan Marco terhalang.


Perjanjiannya dengan Martha, Jika dalam waktu sebulan Darwin tidak membawa calonnya sendiri, maka ia akan dinikahkan dengan wanita pilihan papanya.


Jadi, sekarang Marco harus menunggu sampai Darwin membawa calonnya sendiri. Itulah yang membuatnya begitu geram.


“Kenapa Papa selalu menyalahkan Mama?” tanya Martha kesal.


“Tidak Papa salahkan, Papa cuma mau yang terbaik buat anak kita Ma,” ucap Marco.


“Pa, selama ini Darwin pernah minta apa sama kita. Sedangkan ia telah melakukan banyak hal untuk kita Pa. Apa salahnya jika kita menuruti sedikit keinginannya,” sahut Martha tegas.


Marco terdiam, memang benar adanya. Bahwa Darwin begitu penurut , tapi tidak dengan soal perjodohan ini, ia tegas menolaknya dan meminta agar orang tuanya menerima pilihannya sendiri.


“Apa Mama bisa terima bagaimana pun calon istri Darwin nanti. Sementara, Ritha yang begitu baik memperlakukan Mama, namun Mama tolak?” tanya Marco.


“Mungkin calon istri pilihan Darwin sendiri jauh lebih baik Pa,” balas Martha berandai-andai.


“Maksud Mama Ritha kurang baik?” tanya Marco dengan pandangan tajam.


Bagaimana tidak ia mengatakan demikian, selama 3 Minggu belakangan ini. Martha dibuat kesal oleh Ritha yang selalu mengajaknya jalan-jalan dan belanja-belanja.


Tapi, semua biaya di tanggung Martha. maksud Martha kemarin, cukup membayar semua belanjaan mereka hanya pertama kali jalan-jalan saja, tapi tidak untuk seterusnya sampai beberapa kali terulang.


Martha ingat betul saat pertama kali mereka berdua di Mall Darwin tidak suka Martha belanja banyak, bukan persoalan duit tetapi barang yang tidak terpakai sebaiknya tidak usah menumpuknya semakin banyak, hanya buang-buang duit saja. Seharusnya bisa dipergunakan untuk keperluan yang lebih penting.


“Ma, kenapa bengong,” Marco menyenggol lengan Martha.


“Enggak apa-apa Pa,” sahut Martha enggan memberitahu Marco perihal tersebut. Karena, Martha tahu betul sifat suaminya jangankan belanja di Mall jika Ritha mau, Mallnya dibawa pulang pun ia rela.


Rthhhhh ... rthhhhh.


Panggilan masuk.


Darwin.


“Halo, Ma?” sapa Darwin.


“Ya sayang, kenapa enggak pulang ke rumah?” tanya Martha


“Sekarang Darwin di luar kota, kalo Darwin sudah pulang, Mama siap-siap ya ketemu calon mantu ...” beritahu Darwin.


“Mama tunggu ya, kamu pulang dengan calon mantu Mama nanti,” balas Martha.


Keduanya mengakhiri obrolan yang membuat Marco merasa panas. Sementara Martha begitu senang, mengetahui Darwin akan membawa pilihannya sendiri, selama ini ia begitu khawatir Darwin akan stres memikirkan tentang perjodohan ini.


* *

__ADS_1


Asmira telah memikirkan matang-matang, setelah pertemuan kemarin dengan Jessica, ia mencerna kembali kata-kata Jessica ia tidak ingin hal yang sama dengan Jessica terjadi kembali dengannya.


Selama ini Asmira cukup trauma dengan laki-laki karena suami Jessica. Asmira sempat menyamakan semua pria itu sama, tapi saat bertemu Darwin pertama kali di club malam itu, Asmira mulai sadar, tidak semua pria seperti bandot tua itu.


Asmira telah menulis secarik kertas bertuliskan tangan, ia membuat beberapa perjanjian jika Darwin menerima ia harus menandatangani perjanjian itu.


Asmira sedang menunggu Jessica, barusan ia kirim alamat apartemen Darwin kepadanya. Tadi Jessica menelepon, ingin ke rumah.


Berhubung Asmira sedang tidak di rumah, jadi ia menyuruhnya ke apartemen saja. Jarak apartemen dan rumah Asmira tidak terlalu jauh, tentu saja sebentar lagi Jessica akan segera tiba.


“Mana Marcell?” tanya Jessica setelah berada di ruangan apartemen Darwin.


“Keluar kota, dia paksa aku tinggal di apartemen. Katanya, enggak tenang aku sendirian di sana,” jawab Asmira.


“Kalian sudah menetapkan tanggal pernikahan?” tanya Jessica.


“Belum Mbak, pulang dari luar kota mas Marcell akan membawa aku ke rumah orang tuanya.” Asmira menyeduh teh hangat untuk Jessica.


“Jika mereka tidak menyukai kamu bagaimana?” tanya Jessica waswas.


“Aku enggak tahu Mbak, makanya aku tegang banget,” sahut Asmira datar.


“Kamu rileks. Sebenarnya enggak pengaruh juga, mau suka atau enggaknya mereka. Kalau Marcell benar-benar mencintai kamu, mereka bisa apa,” ujar Jessica menepuk-nepuk bahu adiknya itu.


“Bagaimana keadaan mbak, baik-baik saja, kan?” tanya Asmira.


“Baik, kapan Marcell pulang?” tanya Jessica kemudian.


“Seharusnya sih udah pulang, katanya cuma dua atau tiga hari saja,” sahut Asmira.


Darwin langsung memeluk Asmira dan mencium keningnya bertubi tubi.


“Mas ada mbak Jessica di dalam,” beritahu Asmira.


Darwin menghentikan aksinya, ia masuk mengikuti Asmira.


“Mbak ini Mas Marcell,” Asmira memperkenalkan keduanya.


Mereka berdua berjabat tangan, Asmira pamit ke dapur, membuat kan minum dan sedikit camilan untuk keduanya.


“Asmira keluarga satu-satunya yang saya miliki saat ini.” Jessica membuka obrolan.


Darwin pria pintar, ia tahu betul ke mana arah pembicaraan Jessica. “Saya janji akan menjaganya dengan baik Mbak,” Jawab Darwin meyakinkan bahwa ia akan membuat Asmira nyaman bersamanya.


“Tolong bujuk dia agar menyelesaikan kuliahnya, wanita juga butuh titel yang tinggi,” pinta Jessica.


“Itu sudah saya pikirkan juga Mbak, selagi masih muda biar dia menyelesaikan pendidikannya,” jawab Darwin setuju dengan saran Jessica.


Entah mengapa, Jessica menaruh harapan besar pada Darwin, ia suka calon adik iparnya itu. Perawakannya sederhana dan tidak sombong, sikapnya juga ramah, dan yang lebih penting menerima kondisi ia dan Asmira apa adanya.


Asmira menyeduh teh manis hangat dan kentang goreng crispy untuk Darwin.


Jessica bercerita tentang masa kecil Asmira, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Asmira hanya diam saja mendengar dua orang yang paling ia cintai sedang menertawakan dirinya.

__ADS_1


Setelah Jessica pamit pulang, Asmira memberikan secarik kertas yang ia tulis untuk Darwin.


“Apa ini sayang?” tanya Darwin menyipitkan matanya.


“Mas buka saja,” jawab Asmira enggan memberitahu.


[PERJANJIAN.


1.Tidak mau tinggal di rumah mertua,


2.Rumah atas nama Asmira Lestari,


3.Jangan Hiper sex,


4.Jatah hanya 2x seminggu,


5.Jangan main tangan,


6.Anak cukup 2,


7.Membantu mbak Jessica.]


Darwin tertawa pecah membaca perjanjian yang dimaksud Asmira yang bertulis tangan itu. Benar seperti kata Jessica anak ini begitu polos pikir Darwin, poin 2 dan 3 yang membuat Darwin tertawa terbahak-bahak.


Asmira kesal Darwin menertawakan dirinya,


“Enggak lucu!” sergah Asmira kesal ia lipat kedua tangan di dadanya.


Darwin mendekatkan dirinya kepada Asmira, “Yakin seminggu 2x saja?” bisik Darwin menggoda Asmira.


Asmira memukul keras bahu Darwin. Darwin kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Asmira.


“Tentang membantu mbak Jessica kamu maunya seperti apa?” tanya Darwin ingin memastikan saja. Ia tahu, jika Asmira menempatkan Jessica dalam surat perjanjian yang ia maksud, berarti begitu penting Jessica untuknya.


“Bandot tua itu mengelabui kami, bunganya terlalu besar. Sampai mbak Jessica mati pun, tidak akan lunas,” ucap Asmira.


“Siapa nama suami mbak Jessica?” tanya Darwin.


“Hardi,” jawab Asmira.


“Oh ... pria tua itu.” Darwin mangut-mangut.


“Kenapa, Mas kenal?” tanya Asmira.


“Kelvin yang lebih tahu, aku kurang suka berurusan dengan perusahaan kecil, hanya mengotori tangan saja,” ucap Darwin dengan hanggar kemudian Darwin tersenyum sinis.


“Bila perlu, Mas buat bangkrut itu bandot tua. Biar dia tahu rasa,” ucap Asmira berapi-api.


“Kalau itu mau kamu,” sahut Darwin santai.


Darwin merebahkan tubuhnya di kasur, ia mengulang-ulang membaca perjanjian Asmira, ia memejamkan matanya. “Benar kata orang-orang, kehidupan kita bergantung dengan sekeliling kita,” gumam Darwin dalam hati.


Darwin tahu, maksud Asmira membuat surat perjanjian itu. Asmira tidak ingin hal yang serupa menimpa dirinya, cukup kakaknya saja yang sudah begitu menderita selama ini.

__ADS_1


Jangan lupa klik Like ya...


Baca novel A BIG MISTAKE ya


__ADS_2