Perjanjian

Perjanjian
Episode 43


__ADS_3

Martha terdiam mendengar keputusan suaminya. Ia menatap Asmira, ia meminta pertolongan pada menantunya itu, namun Asmira menggelengkan kepalanya.


Martha merasa bersalah, bagaimana bisa ia terus-menerus membohongi semua keluarganya, bertahun-tahun telah berlalu, rasa penyesalan itu semakin menyeruak.


“Tapi Pa, besok kita harus bantu pindahan Asmira dan Darwin,” ucap Martha.


“Tunda dulu, lagian kita mau liburan,” Valen ikut menimpali.


“Ya Ma, Sara baru selesai ujian Semester ganjil, sekalian ia liburan juga barang seminggu atau beberapa hari,” sambung Darwin.


Akhirnya Martha terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Keputusan untuk pulang kampung tidak bisa ia elak lagi, Martha pasrah dengan keadaan itu.


Pagi harinya.


Semua sudah berkemas, mereka akan segera berangkat menuju kampung halaman Martha. Namun Jessica belum keluar kamar, sementara yang lain sudah siap. Marco menyuruh istrinya untuk mengecek kondisi Jessica.


“Sayang ...” panggil Martha.


Jessica membuka pintu kamarnya setelah beberapa kali Martha mengetuknya.


“Kalian pergi saja, aku tidak ikut, ya?”


“Loh, kenapa?” tanya Martha.


Jessica belum siap menapaki kakinya kembali di kampung yang sudah ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya itu. Air mata menetes di pipinya, Martha mendekati Jessica, ia rangkul ia belai pipinya serta menyeka air matanya.


Martha meyakinkan Jessica, jika masa lalu biarkanlah berlalu, ia harus bangkit dan terus maju, Jessica harus melupakan masa kelam itu. Jessica menatap Martha dalam, ia peluk erat ibu angkatnya itu.


“Kami akan selalu ada untukmu, Nak.” Martha membelai lembut kepala Jessica.


Setelah Jessica siap, mereka segera berangkat dengan dua mobil. Dalam perjalanan Sara terus menempel di pelukan Jessica. Mereka berlima satu mobil, sementara Asmira berdua dengan Darwin dengan mobil terpisah.


“Tan ... boleh enggak aku panggil Tante Mommy?” tanya Sara.


“Tanya Daddymu dong sayang, jangan tanya Tante ...” jawab Jessica.


“Kode keras ...” ujar Marco menatap Valen.


“Om ... apaan sih?” pipi Jessica merona.


“Memangnya yang di panggil mau enggak jadi Mommy nya Sara?” tanya Valen.


Jessica menatap Martha.

__ADS_1


“Enggak apa-apa ... anggap saja kami semua patung...” ujar Martha membuang pandangannya. Jessica jadi tersipu malu.


“Tante jawab dong, tuh Daddy secara enggak langsung lagi melamar Tante,” Sara ikut menggoda Jessica.


Jessica benar-benar jadi sasaran utamanya, tidak ada yang berpihak padanya pipinya sudah memerah seperti tomat. Ia gigit bibir bawahnya lalu ia bertanya pada Sara.


“Kok panggil Tante, tadi katanya mau panggil Mommy?”


Pertanyaan Jessica pada Sara cukup mewakili perasaan dan jawaban untuk Valen. Valen melirik Jessica saat ia bertanya seperti itu pada Sara.


“Maju terus ... pantang mundur ...” ucap Marco melirik Valen dengan ujung matanya.


“Hore ... punya Mommy baru....” Sara kegirangan.


Semua tertawa melihat tingkah Sara.


Sementara Valen dan Jessica curi-curi pandang bak anak muda yang lagi kasmaran.


Sampai di pemakaman Marco memimpin doa, di mana makam itu ia sendiri menganggap itu adalah makam anaknya. Martha merasa bersalah dengan keadaan tersebut tapi setiap kali ia ingin menceritakan semua selalu saja ada penghalangnya.


Setelah dari pemakaman mereka mencari villa dan makan siang bareng di sebuah warung makan sederhana.


Selesai makan, Martha merasakan perutnya mulas, ia segera ke toilet. Namun sesaat kemudian ia kembali dan mengajak Asmira menemaninya, ia merasa risi karena pintu toilet rusak.


“Mama bingung Tari,” ucap Martha saat ia telah keluar.


“Kamu ini. Bukan itu maksud Mama tapi tentang anak Mama yang hilang,” sahut Martha.


“Oh, Mama cari waktu yang tepat saja Ma, enggak mungkinkan Mama sembunyikan terus dari papa,” balas Asmira.


Martha terdiam, apalagi saat ia melihat suaminya yang tadi begitu khusyuk memanjatkan doa kepada anak yang ia anggap itu putrinya, padahal itu bukan anak mereka.


“Kamu kapan beritahu Jessica kalian bukan saudara kandung?” tanya Martha kemudian


“Aku bingung Ma, rasanya seperti mimpi mengetahui mbak Jessica bukan kakakku,” Jawab Asmira.


Bruukkk...


Jessica menabrak tong sampah. “Maksud kamu apa Mira?” tanya Jessica mendekati Asmira.


Asmira dan Martha terkejut bukan kepalang mengetahui keberadaan Jessica di sana.


“Jawab Mira, maksud kamu apa?” Jessica menangis tersedu-sedu, ia tidak bisa menahannya.

__ADS_1


Asmira tidak bisa berkata apa-apa, ia diam


seribu bahasa. Jessica terus menggoyangkan tubuh Asmira meminta jawaban dari apa yang Asmira ucapkan barusan, namun Asmira tidak bergeming.


- Di rumah Ritha.


"Tuan Kelvin Non Ritha pingsan," beritahu Minah ditelepon.


Kelvin segera bergegas pulang ke rumah Ritha, akhir-akhir ini kondisinya tidak sehat ia sering mengeluh keram perut dan pusing-pusing nafsu makannya hilang ia hanya tidur seharian, waktu Kelvin pulang kantor pun ia sudah tertidur nyenyak.


“Kamu sudah hubungi dokter?” tanya Kelvin, ia mengangkat tubuh Ritha ke ranjang.


“Sudah Tuan, mungkin dalam perjalanan,” jawab Minah.


“Mas ... pusing,” rengek Ritha saat matanya terbuka ia melihat Kelvin di depannya.


“Tuan, dokter sudah datang,” beritahu Minah.


Dokter segera memeriksa kondisi Ritha, Ritha selalu mengeluhkan pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Akhir-akhir ini nafsu makannya berkurang, tubuhnya sangat lemah.


Dokter tersenyum kemudian ia berkata, “Hal yang wajar terjadi pada ibu hamil muda, Bu Ritha tidak apa-apa kok Pak,” beritahu dokter.


“Saya hamil dok?” tanya Ritha.


“Sebaiknya Anda periksa ke dokter kandungan sekarang saya beri vitamin dulu,” ujar dokter.


Kelvin mengantar dokter sampai ke pintu depan, sebelum berpamitan dokter menyarankan pada Kelvin agar ia segera membawa Ritha ke dokter kandungan.


"Saran saya pak, istri Anda jangan banyak pikiran saya rasa kandungannya lemah, segera anda periksa lebih lanjut," ujar dokter sebelum ia berlalu dari hadapan Kelvin.


Ritha sangat girang mengetahui ia sedang hamil muda, Kelvin dengan wajah kurang suka hanya pura-pura tersenyum melihat tingkah Ritha yang sedang mengandung anaknya.


“Mas, ayo kita ke rumah papa, kali ini aku mohon kamu jangan tolak,” pinta Ritha.


“Iya sayang, sekarang kamu istirahat sana dulu,” ujar Kelvin.


Kelvin menggaruk kepalanya yang terasa gatal, ia berulang kali mencuci mukanya dikamar mandi kepalanya terasa mau pecah.


Esok harinya.


“Sebaiknya meeting kita tunda dulu, saya perhatikan Anda sepertinya ada masalah,” pinta klien.


“Saya minta maaf pak, saya benar-benar tidak bisa konsentrasi,” ucap Kelvin.

__ADS_1


Bagaimana Kelvin bisa tenang sudah beberapa hari ini Jessica tanpa kabar, nomornya tidak bisa dihubungi, terlebih-lebih saat ini Ritha sedang mengandung anaknya Kelvin semakin pusing dengan kondisinya sendiri.


jangan lupa like ya...


__ADS_2