
Martha mondar-mandir di kamarnya, sesekali ia melirik handphone yang ada ditangannya. Marco pusing melihatnya istrinya ia menggaruk kepala.
“Ma ... tenang dulu,” pinta Marco.
“Gimana bisa tenang Pa, anak sama calon mantu kita enggak bisa dihubungi,” jawab Martha khawatir.
“Mama istirahat saja dulu, besok pagi kita ke apartemen, atau enggak ke kantornya Darwin,” ajak Marco mengelus-elus bahu Martha.
“Enggak bisa tunggu besok Pa, Mama juga enggak bisa tidur kalo begini,” ujar Martha.
“Mama udah coba telepon Pratiwi asistennya Darwin?” tanya Marco.
“Oya, Mama lupa, kenapa enggak ke pikiran ya?” sahut Martha.
“Coba Mama hubungi, mungkin saja Darwin lagi meeting, makanya ponselnya enggak aktif.” Marco menenangkan istrinya.
Martha menghubungi Pratiwi. “Halo Tiwi ini saya Mamanya Darwin,” sapa Martha saat telepon sudah tersambung.
“Iya Nyonya Marco, ada yang bisa saya bantu?” tanya Tiwi.
“Apa Darwin bersama kamu, kalian lagi meeting?” tanya Martha.
“Maaf Nyonya, pak Darwin tidak bersama saya,” jawab Tiwi.
“Maaf sebelumnya, mengganggu istirahat kamu. Saya hanya khawatir, Darwin tidak bisa dihubungi,” ujar Martha sedih.
“Pak Darwin tadi siang meninggalkan kantor dengan buru-buru, beliau bilang ingin ke rumah sakit,” beritahu Tiwi.
“Ke rumah sakit, siapa yang sakit?” tanya Martha kaget.
“Maaf. Saya kurang tahu Bu.”
“Terima kasih banyak Tiwi, maaf sekali lagi saya mengganggu, selamat malam.” Martha memutuskan telepon dengan Tiwi.
“Gimana Ma?” tanya Marco.
“Pa Darwin ke rumah sakit, apa Lestari sakit ya?” Martha bertanya-tanya.
“Ma ... ayo kita istirahat dulu, ini sudah larut Ma ... semoga calon mantu kita baik-baik saja, besok pagi kita hubungi lagi,” ajak Marco.
Akhirnya Martha mengalah, ia tidur dengan pikiran tidak tenang. Marco menyelimuti tubuhnya dan ia ikut berbaring di samping Martha. Berulang kali ia menenangkan Martha, sampai akhirnya Martha pun tertidur pulas.
* *
__ADS_1
Minah berlari ke arah pintu dengan tergesa-gesa setelah mendengar bunyi bel berulang kali.
“Maaf Tuan, saya sedang di dapur jadi tidak mendengar bunyi bel.” Minah menundukkan kepalanya pada Kelvin yang baru tiba.
“Tidak apa-apa, mana Ritha?” tanya Kelvin.
“Ada dikamar Tuan, dari pagi nona belum makan,” beritahu Minah.
“Kenapa?” tanya Kelvin mengerutkan keningnya.
“Mungkin Non sedih, karena Tuan enggak pulang-pulang,” jawab Minah.
Kelvin bergegas menuju kamar Ritha, ia membuka pintu kamar Ritha, tapi terkunci dari dalam.
“Sayang!” panggil Kelvin.
Kelvin mengetuk pintu kamar Ritha beberapa kali, suara langkah kaki terdengar dari dalam
“Mas ...” panggil Ritha dengan mata sembab langsung memeluk Kelvin.
“Kamu kenapa?” tanya Kelvin.
“Aku khawatir Mas kenapa-kenapa, apa yang bisa aku lakukan, Rose pergi karena aku,” ujar Ritha
“Maaf in aku sayang, soal kejadian kemarin bukan karena kamu kok,” sahut Kelvin.
“Memang Rose saja yang enggak setia sayang,” jawab Kelvin memeluk Ritha.
Ritha tersenyum bahagia mendengar ucapan Kelvin yang menyalahkan Rose. Kelvin tidak tahu bahwa jika Rose sudah mengetahui skandalnya.
“Pasti Mas rindu Brandon kan?” tanya Ritha.
Kelvin tidak menjawab, hanya sedikit kesedihan tampak dimatanya.
“Mas, aku ingin punya anak dari kamu,” bisik Ritha.
“Bukannya selama ini itu yang kamu takutkan?” tanya Kelvin menyipitkan matanya.
“Enggak Mas, kemarin aku belum siap, apalagi masih kuliah juga kan?” jawab Ritha berkilah.
“Jadi sekarang kamu siap?” tanya Kelvin menggoda Ritha.
Tiba-tiba Minah mengetuk pintu kamar Ritha, mengagetkan keduanya.
__ADS_1
“Non, makanan sudah siap!” Minah sedikit berteriak.
“Kata Minah kamu dari pagi belum makan, ayo kita makan dulu?” ajak Kelvin.
Ritha mengerutkan dahinya. “Memang Minah bisa diandalkan, bisa-bisanya ia punya ide membohongi Kelvin,” gumam Ritha dalam hati.
Kelvin menyuapi Ritha makan, Minah yang berada di belakang Kelvin mengacungkan jempolnya kepada Ritha, Ritha hanya tersenyum melihat tingkah pembantunya itu.
Selesai makan, mereka berdua kembali ke kamar. Kelvin mandi membersihkan tubuhnya yang lengket setelah seharian di kantor, dengan kerjaan menumpuk karena dua hari ia tidak masuk.
Selesai mandi Kelvin melihat Ritha sudah tertidur pulas, ia ikut berbaring di sampingnya, menarik selimut menutupi tubuh keduanya, ia mencium mesra kening Ritha dan ikut tertidur pulas di sebelahnya.
Pagi hari Kelvin terbangun, ia melihat Ritha sudah tidak ada di sampingnya, ia mengucek Matanya dan segera ke kamar mandi mencuci muka. Saat keluar, ia mendapati Ritha yang duduk di tepi ranjang menunggunya.
“Sayang. Dari mana saja?” tanya Kelvin.
“Habis jalan-jalan pagi hirup udara segar,” jawab Ritha.
“Curang! aku enggak di ajak,” Kelvin menggelitik pinggang Ritha.
“Mas ... aku geli!” teriak Ritha sambil tertawa kecil.
“Sayang, ayo kita buat adik untuk Brandon,” bisik Kelvin di telinga Ritha.
“Pagi-pagi?” tanya Ritha, “Enggak ah mas ....”
“Ayolah sayang, sekalian olahraga pagi,” rengek kelvin.
Tanpa menunggu jawaban Ritha , ia mengecup telinga Ritha sesekali berbisik nakal. Perlahan ia pindah ke bibir Ritha, ia menciumnya. Nafas Ritha semakin tidak terkontrol.
Ritha menolak dan mendorong tubuh Kelvin pelan. “Mas ... nanti malam saja ya?" pinta Ritha.
Kelvin tidak menjawab ia terus melakukan aksinya, nafsunya sudah di ubun-ubun. Kelvin membuka baju Ritha satu persatu hingga tidak tersisa sehelai benang pun.
Ritha melenguh menikmati setiap sentuhan yang diberikan Kelvin ditubuhnya, tangannya ia taruh ke belakang menopang tubuhnya dengan sesekali meraih seprei, dan Kelvin yang terus beraksi di depannya.
Seperti pengakuannya pada Darwin kemarin, ia tidak bisa menolak gairah seksualnya dengan tubuh indah Ritha. Setiap kali mereka bertemu selalu saja berhasil membuat Kelvin terkapar lemas.
Kelvin bermain-main di sana, Ritha menjambak rambut Kelvin keras dan melenguh panjang menikmati klimaksnya.
Ritha seperti kesetanan ia menjerit dan berteriak-teriak mengeluarkan kata-kata vulgar.
* *
__ADS_1
Jangan lupa like dan tekan favoritnya juga ya, buat yang udah , thank you....
ini karya pertama saya ... jika terdapat banyak kesalahan mohon dimaklumi, jika ada yang berniat mengoreksi dan membangun karya saya semakin bagus silakan komentar di bawah dengan senang hati saya akan menerima kritikan itu, tentunya dengan tutur bahasa yang sopan dan lembut ya ...