
Setelah kepergian Darwin dan Kelvin dari kantor. Fenita datang ingin menemui Kelvin. Fenita terkejut mendengar Rose menggugat cerai anaknya Kelvin.
Fenita tidak mungkin membiarkan itu semua terjadi. Jika Rose bercerai dengan Kelvin, maka gagal semua rencana yang sudah ia ancang bertahun-tahun lamanya. Pembalasan dendamnya tidak akan terwujud.
Di kantor Kelvin, Fenita bertemu dengan asistennya. Namun asistennya mengatakan jika Kelvin sedang ada pertemuan ia tidak bisa di ganggu. Namun Fenita tetap memaksa ingin bertemu ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
“Sebenarnya Nyonya, pak Kelvin ke rumah Pak Darwin, tadi ada keributan antara mereka berdua,” ujar asisten Kelvin ragu-ragu. Tapi, ia tidak mungkin jadi bulan-bulanan Fenita.
Fenita bergegas meninggalkan kantor, ia menuju rumah keluarga Marco.
*
“Ritha ... keluar lo!” teriak Darwin ketika ia tiba di rumah papanya.
Marco yang sedang berbincang-bincang dengan Simon terkejut mendengar teriakan Darwin.
“Apa sih, Nak?” tanya Marco.
“Kebetulan ada Om juga di sini,” Darwin menatap tajam pada Simon.
Sesaat kemudian tiba Kelvin, ia segera masuk dan menemukan semua orang berada di sana.
“Kamu!” Simon pun terkejut.
“Apa sih Pa, ribut-ribut aku jadi gak bisa istirahat, nih,” ujar Ritha yang baru keluar kamar dengan baju tidurnya. Langkahnya terhenti.
Kelvin mendekati Ritha. “Sayang ayo kita pulang,” ajak Kelvin menarik tangan Ritha.
“Aku gak mau, lepas!” bentak Ritha, ia lepaskan tangan Kelvin dengan kasar.
“Kelvin kamu jangan kasar gitu dong, kalo cucu saya kenapa-kenapa mau tanggung jawab kamu?” tanya Marco dengan nada tinggi.
“Ya, saya akan tanggung jawab, karena anak yang dikandung Ritha anak saya!” ujar Kelvin tidak kalah tinggi dengan Marco.
Marco mendekati Simon yang terpaku tanpa bisa berkata-kata, ia menundukkan kepalanya.
“Apa benar yang Kelvin katakan?” tanya Marco pada Simon.
“Saya gak tahu Marco, kalau saya tahu mana mungkin saya menipu mu,” sahut Simon berbohong. Lalu ia mendekati Ritha kemudian ia menamparnya dengan keras.
“Papa!” panggil Ritha dengan suara nyaring tanpa terasa air mata meleleh di pipinya.
__ADS_1
Marco menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Om...” panggil Ritha.
“Tutup mulutmu, Saya tidak ingin mendengarkan apa pun dari kamu!” Marco menepis tangan Ritha.
Ritha memukul dada bidang Kelvin. “Ini semua gara-gara kamu Mas, aku benci kamu!” Ritha berlari meninggalkan rumah Marco menggunakan baju tidurnya. Ia tak peduli lagi dengan janin yang dikandungnya.
“Maafkan anak saya Marco, saya benar-benar tidak tahu apa-apa,” kata Simon. Ia rela mengkambing hitamkan anaknya agar tidak terlihat bersalah di hadapan Marco.
Kelvin mengejar Ritha. Saat Kelvin keluar rumah Marco, tampak banyak orang berkerumun di jalanan. Perasaan Kelvin tidak enak, ia segera turun mobilnya disusul Simon.
“Pak, tolong bantu bawa wanita ini ke rumah sakit, dia sedang hamil,” ujar salah satu warga.
Deg.
Jantung Kelvin berdegup kencang.
“Ritha!” teriak Kelvin kencang. Darah bercucuran keluar dari mulut dan hidung Ritha. Kelvin menggoyangkan tubuh Ritha.
“Sayang bangun!” ia menepuk-nepuk pipi Ritha.
Simon menarik tangan Kelvin. “Kamu jangan gila, mau buat anak saya mati! Cepat kita bawa dia ke rumah sakit terdekat.” Simon menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Kelvin memangku Ritha yang tidak sadarkan diri.
Sementara Marco masih terpaku dengan kebodohannya sendiri. Sudah terlalu banyak yang tersakiti dengan sikap keras kepalanya.
“Patutnya Om minta maaf pada Asmira,” ujar Jessica membuyarkan lamunan Marco.
“Maksud Mbak Jessica?” tanya Darwin menyipitkan matanya.
“Tanya saja sama Om Marco sendiri, saya tak ingin dituduh tukang fitnah,” Jessica meninggalkan anak dan bapak itu.
Marco masih terdiam, ia ingat ketika kemarin ia memaki-maki Asmira dengan kata kasarnya. Asmira pasti sangat membencinya sekarang, berbagai tuduhan telah ia lontarkan untuk wanita polos itu.
“Bawa Papa ke rumahmu Win,” pinta Marco. Ia ingin meminta maaf pada Asmira ia merasa bersalah.
“Lalu mama, apa Papa enggak merasa bersalah sama mama?” tanya Darwin.
Marco mengangguk, ia ingin mencari Martha di kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat Darwin berkata, “Mama juga di rumahku.”
Kelvin sangat panik menunggu hasil pemeriksaan dokter, ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Aku enggak mau kehilangan anakku, jika Ritha keguguran aku orang yang paling bersalah” gumam Kelvin dalam hati.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan, ia lepaskan kacamata yang melekat di wajahnya. “Maaf pak, ibu Ritha keguguran, kondisi Bu Ritha sudah stabil, tapi anak yang dikandungnya tidak bisa kami selamatkan,” beritahu dokter pada Simon.
Tanpa terasa air mata Kelvin meleleh di pipinya, ia sangat mengharapkan anak yang dikandung Ritha.
“Jangan keluarkan air mata buaya, saya tahu kamu bahagia ,kan?” ujar Simon berapi-api.
“Ini yang kamu mau, kamu enggak perlu lagi tanggung jawab, kamu bisa pergi sekarang!” sambung Simon dengan penuh emosi.
“Saya akan nikahi Ritha, Pa,” sahut Kelvin menghapus air matanya.
“Saya tidak akan sudi!” teriak Simon. Ia memanggil satpam ia tidak ingin melihat Kelvin lagi di hadapannya.
“Seret dia keluar, Pak,” perintah Simon pada satpam tersebut.
“Pa, aku mau ketemu Ritha,” ujar Kelvin. Tapi satpam yang bertubuh besar itu menyeret Kelvin keluar dengan kasar.
Fenita tersenyum sinis, mendengar berita bahwa Ritha keguguran. Ia berlari menemui Kelvin yang di Seret satpam.
“Vin,” panggil Fenita.
Kelvin menyipitkan matanya. “Ngapain Mama disini?”
Fenita mendekap tubuh Kelvin. “Kamu yang sabar ya, Nak?” pinta Fenita pada Kelvin.
Kelvin merasa bersalah pada Mamanya. “Tapi Ma, Rose udah gugat cerai aku,” ujar Kelvin.
Fenita tersenyum. “Ini yang perlu kita urus sekarang. Jangan biarkan Rose meninggalkan kamu sayang, kamu akan menyesal,” ujar Fenita pada putranya itu.
Fenita mengajak Kelvin ke sesuatu tempat, ia tahu di mana keberadaan Rose sekarang.
Mobil yang membawa Fenita dan Kelvin berhenti di depan salah satu hotel mewah di Kota A. Tiba dilantai Rose dan Bastian menginap, Fenita mengetuk pintu kamar itu.
Rose terkejut melihat siapa yang di depan pintu kamarnya.
“Nany ...” panggil Brandon. Ia memeluk neneknya, sekian lama mereka tidak bertemu. Fenita tidak bisa membendung lagi tangisnya, air mata meleleh di pipinya. Dibalik semua rencana jahatnya yang tersusun rapi, tapi ia begitu menyayangi keluarganya.
Fenita memberikan waktu kepada Rose dan Kelvin untuk menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Sementara ia mengajak Brandon beli es krim di lantai bawah.
“Sayang, cabut gugatan cerai kamu dari pengadilan agama, ya?” pinta Kelvin dengan bujuk rayunya.
__ADS_1
Rose terdiam, ia sudah bulatkan tekadnya, apa pun alasan Kelvin ia tidak akan Mengubah keputusannya, sekalipun karena Brandon. Ia bisa membesarkan Brandon sendiri, tanpa iming-iming kekayaan Kelvin.
Jangan lupa like ya....