
Rose telah bersiap-siap, besok ia akan kembali ke Jepang. Hatinya terasa berat, meninggalkan Asmira.
Darwin dan Ryu belum kembali, Darwin sengaja mengajak Ryu ke kantor. Barangkali ia berubah pikiran dan mau menetap di Indonesia.
Mereka tiba di rumah, setelah magrib. Darwin sudah menghubungi Asmira, agar tidak menunggunya makan malam.
Ryu langsung masuk kamar ketika ia tidak menemukan istrinya di luar bersama Asmira dan Brandon. Ryu menyipitkan matanya saat masuk kamar, ia melihat 2 koper milik ia dan Brandon telah berjejer di samping ranjang.
“Eh, sayang, udah pulang,” sapa Rose.
“Honey, whose suitcase is this?”
“Kan kita besok balik ke Jepang?” sahut Rose balik bertanya.
Ryu tertawa kecil, ia duduk di sebelah Rose ia peluk manja istrinya itu. Ia mengatakan telah mengambil keputusan untuk menetap di Indonesia saja, ia suka keramahan orang-orang Indonesia dan makanannya enak-enak.
Rose mengerutkan keningnya. “Gak bohong, kan?”
Rose hanya tidak ingin Ryu terpaksa karena merasa tidak sampai hati padanya. Rose siap jika Ryu mengajaknya pulang ke Jepang. Namanya istri, toh, harus bersedia kemanapun suami pergi, siap tidak siap harus ikut.
Ryu menggelengkan kepalanya, ia mengatakan ingin tinggal di Indonesia dengan satu syarat. Ia ingin tinggal di rumah orang tua Rose dikampung, ia suka suasana puncak, segar dan nyaman.
Rose memeluk Ryu mendengar syarat dari suaminya itu. Sebenarnya ia pun berharap demikian, ingin menggantikan waktu yang pernah ia lewati di rumah itu dulu. Rasanya bayang-bayang sang bunda ada dirumah tua itu.
Rose berlari keluar menemui Asmira, ia mengatakan apa yang barusan didengar dari Ryu. Asmira menyetujuinya, ia berterimakasih pada Ryu yang sudah bersedia tinggal di Indonesia.
“Yeay!” teriak Brandon girang.
Tadi dalam perjalanan pulang, Darwin sempat menanyakan kepada Ryu perihal pulang ke Jepang. Namun ia berkata, tidak mungkin mengambil kebahagiaan yang baru dirasa Rose, separuh jiwanya baru saja ditemukan. Darwin lega mendengar jawaban Ryu.
* * *
Kelvin mendatangi kantor Darwin, Kelvin bertemu dengan Pratiwi dilantai bawah, ia segera ke ruangan Darwin setelah mengetahui Darwin sedang tidak sibuk.
Kelvin masuk setelah dipersilahkan oleh Darwin, sebuah proposal ditangannya, sekilas Darwin melirik sebelum ia kembali memandang laptopnya.
“Tumben?”
“Tumben apaan?” sahut Kelvin dengan pertanyaan balik.
“Ada apa lo ke sini, kangen?”
__ADS_1
“Idih, jijik gue.” Kemudian Kelvin mendekati Darwin, lalu ia berikan map ditangannya.
“Apa, nih?” tanya Darwin.
“Lo liat aja.”
Darwin membuka dan membaca isi proposal tersebut, lalu ia buru-buru menutupnya kembali seraya melemparkan berkas-berkas tersebut kepada Kelvin.
“Lebay banget sih, lo?”
“Apanya yang lebay, gue bayar dulu segini. Kebetulan gue menang tender kemarin. Nanti gue lunasi kalau udah ....”
Darwin menyela omongan Kelvin, “Stop Vin!”
Kelvin terdiam, Darwin melanjutkan kata-katanya dengan membuang pandangannya dari Kelvin.
“Gue bantu lo, lo sahabat gue. Lo gak perlu bayar, dan lo gak perlu sungkan.” Darwin serius dengan ucapannya.
Darwin menepuk bahu Kelvin. “Gue cuma mau satu hal, lo berhenti main perempuan, ngabisin duit untuk wanita malam. Stop Vin, cari yang serius, lo jalani masa tua lo kelak dengan bahagia.”
Mata Kelvin berkaca-kaca, selama ini belum pernah Darwin menegurnya atau mengatakan sesuatu yang seserius itu. Kali ini, sahabat yang lebih muda darinya, mengatakan hal yang begitu menyentuh, sebuah nasihat yang dapat diterima olehnya.
*
Setelah pertemuannya dengan Darwin, Kelvin mencerna setiap kata-kata yang diutarakan oleh Darwin.
“Aku harus menemui Nindy.” Kelvin tiba-tiba teringat dengan wanita cantik itu.
Saat jam makan siang tiba, Kelvin bergegas mendatangi rumah Nindy, namun ia tidak menemukan siapapun disana. Rumah tampak sepi, tak berpenghuni.
Kelvin menghubungi Asmira menanyakan dimana keberadaan Nindy, mungkin ia tau dimana.
“Setau aku Kak, kalau gak salah, Nindy berada di jalan Mangga nomor 19.”
Kelvin segera berangkat, setiba disana ia melihat Nindy dari kejauhan, Kelvin belum turun dari mobilnya.
Nindy sangat cantik dengan baju kerja ia kenakan, lengkap dengan kacamata minusnya.
Kelvin menghubungi Nindy, ia terus menatap tanpa membuang pandangannya sedikitpun. Nindy meraih handphone di tasnya, ia matikan panggilan dari Kelvin.
Kelvin sudah menyangka itu akan terjadi, Nindy pasti masih marah dengannya. Tidak mudah untuk mengajak Nindy serius, pikirannya pasti masih negatif jika Kelvin menghubunginya.
__ADS_1
Kelvin nekat untuk menghampiri Nindy yang sedang melayani pembeli. Santi berbisik pada Nindy ia mengatakan Kelvin datang. Nindy segera keluar dan Santi mengambil alih.
Nindy menyilang kedua tangan di dadanya, pandangannya kebawah karena ia menundukkan kepalanya.
“Apa kabar?” tanya Kelvin.
“Seperti yang kamu lihat Mas, sangat baik!” Nindy tersenyum kecut.
“Maaf.” Satu kata keluar dari mulut Kelvin, membuat Nindy menatapnya dengan tajam. Lalu kembali membuang pandangannya ke samping.
“Aku tau, kamu gak mudah untuk maafin aku. Tapi aku datang kali ini bukan untuk menghina kamu, ataupun mengajak kamu tidur bersama dengan bayaran setelah itu.”
Nindy tidak menjawab sepatah katapun, ia menanti Kelvin melanjutkan kembali kata-katanya.
“Aku datang kesini ingin serius, seperti yang pernah kamu inginkan dulu. Jika kamu bersedia, jadilah pendamping hidupku untuk selamanya.”
Nindy menyunggingkan senyum sinis diwajahnya, seperti yang Kelvin bayangkan. Tidak mudah meluluhkan kembali hati seorang wanita yang telah terlanjur sakit.
“Dengan mudahnya kamu campakkan aku Mas, kini dengan gampangnya kamu datang kembali, lalu mengatakan ingin serius. Gimana aku bisa percaya Mas?”
Kelvin terdiam, wajahnya sendu. Ia mengatakan tidak ingin membuat Nindy merasa terusik dengan kedatangannya kembali, jika memang Nindy telah memiliki tambatan hati baru, ia bersedia pergi. Namun jika Nindy masih sendiri, ia akan memperjuangkannya sampai Nindy luluh kembali padanya.
Nindy diam, ia tidak mengatakan apapun untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Kelvin.
“Udah ya, Mas, aku sibuk. Kasian Santi sendiri.” Nindy melangkah masuk tapi Kelvin menggenggam lengan Nindy erat.
“Jawab Nin, apa kamu sudah punya pacar, atau calon suami?”
Nindy menggeleng kepalanya ia bergegas masuk kembali ke tokonya.
Kelvin tersenyum, ia tau. Secercah harapan masih ada untuknya. Kelvin hanya perlu bersabar dan menunggu kapan Nindy akan membukakan pintu hatinya kembali untuk dirinya.
Nindy tersenyum manis ketika mobil Kelvin menghilang dari pandangannya. Nindy mendengar banyak tentang Kelvin dari Asmira akhir-akhir ini.
Santi menggodanya, Nindy hanya tersenyum malu-malu membalas godaan Santi.
“Aku yakin Mas Kelvin udah berubah Mbak.” Santi mencoba meyakinkan agar Nindy tidak ragu dengan keputusannya nanti.
“Mbak tau, cuma sengaja aja biar Mas Kelvin tau gimana rasanya berjuang.”
Jangan lupa like ya ...
__ADS_1