Perjanjian

Perjanjian
Episode 69


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari demi hari berganti. Meninggalkan berbagai kenangan untuk Rose, pahit manisnya hidup ia lalui bersama anak kesayangannya Brandon. Minggu depan, ia resmi menyandang status janda. Namun, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Pasalnya, di Jepang sana, telah ada tambatan hati baru yang sudah menantinya.


Sejauh ini, Fenita masih tidak tahu-menahu. Rose menutupnya rapat-rapat, sesuai permintaan Kelvin. Pertemuannya dengan Kelvin akhir-akhir ini semakin sering. Untuk menghindari rasa curiga Fenita. Tapi keduanya sama-sama sudah tidak memiliki rasa apapun.


Belakangan ini, Kelvin habiskan malam dengan Nindy. Kadang-kadang di hotel, kadang juga di rumah Nindy. Kelvin melampiaskan kekosongan hatinya kepada Nindy. Tapi Nindy menyalah artikan, tampaknya ia mulai jatuh hati kepada pria satu ini. Sebaliknya, setiap kali Kelvin bersetubuh dengan Nindy, bayang-bayang Jessica terus bermunculan di benaknya.


Cinta lama bersemi kembali. Begitulah, ungkapan yang tepat untuk mengungkapkan isi hati Kelvin kini. Hari-harinya penuh dengan sosok Jessica, bahkan ia tidak pernah lagi mencari di mana keberadaan Ritha.


Sementara Ritha sendiri, ia berada di Eropa. Ia membohongi Kelvin dengan mengatakan anaknya keguguran. Kenyataannya, sampai detik ini ia masih mengandung. Bahkan hasil USG mengatakan bahwa, yang ada di kandungan Ritha adalah bayi laki-laki.


Kemarin Simon dengan tegas menolak Kelvin untuk bertemu dengan Ritha di rumah sakit, dari awal ia tidak menyukai Kelvin. Setelah keluar dari rumah sakit, ia segera terbangkan Ritha ke Eropa.


* * *


Jessica habiskan liburan bersama Sara. Meski Valen berada di dekatnya, namun ia acuhkan saja. Valen berkali-kali memulai pembicaraan dengan Jessica, namun Jessica enggan menanggapi setiap omongan yang keluar dari mulut Valen.


“Enggak terasa ya Mom, liburan akhir tahun aku udah selesai. Rasanya, aku malas pulang,” ujar Sara, ia lilitkan handuk di badannya.


Jessica mengeringkan rambut Sara, ia baru saja selesai berenang. “Harus pulang dong, Senin kamu harus masuk sekolah,” jawab Jessica.


Sara berdecak kesal. “Mom ...” rengek Sara.


Jessica menghentikan aksinya, “Kenapa nih, anak Mommy jadi malas sekolah. Bukannya kamu paling enggak mau libur tanpa sebab?” tanya Jessica menyipitkan matanya.


Sara tidak menjawab.


Kemudian Jessica tersenyum. “Mommy tahu jangan-jangan...” Jessica menggantungkan kalimatnya.


Sara berputar posisi menghadap Jessica.


“Jangan-jangan apa?” tanya Sara.


“Kamu malas sekolah, karena enggak mau ketemu Bastian?” tanya Jessica.


Sara membulatkan matanya. “Kok, Mommy tau?” tanya Sara kaget.


Jessica tertawa kecil. “Ya tahu lah, kemarin Mommy liat, Bastian tunggu in kamu di depan gerbang sekolah, kan?” tanya Jessica.


Sara menutup muka dengan tangannya, ia menahan rasa malunya.


“Udah, biasa saja, Mommy juga pernah muda,” ujar Jessica. Sara memeluk Jessica erat, ia benamkan wajahnya di pelukan Sara.


“Kamu mulai suka Bastian kan?” tanya Jessica kemudian.


“Enggak! Mommy apaan sih?” tanya Sara.

__ADS_1


“Udah, ayo mengaku,” Jessica menggelitik pinggang Sara, membuat Sara tertawa terbahak-bahak.


“Mom, udah,” ujar Sara sedikit berteriak.


“Ayo mengaku dulu, kalo enggak, Mommy enggak mau berhenti,” ujar Jessica.


“Ya deh ya,” jawab Sara, ia tidak mampu lagi menahan rasa geli.


Jessica menghentikan aksinya, ia peluk Sara lalu ia kecup keningnya. Sepasang mata, terus menatap mereka dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Valen. Ia bahagia melihat Jessica begitu menyayangi Sara.


“Aku benar-benar bodoh,” umpat Valen dalam hati. Valen menyesali perbuatannya kemarin, ia sadari kata-katanya begitu membuat Jessica terpukul.


“Aku harus perbaiki semua, sebelum aku menyesal seumur hidup,” gumam Valen dalam hati.


* * *


“Mbak Tari mana, Santi?” tanya Darwin. Ia baru pulang kantor. Tidak biasanya ia langsung masuk, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Santi jadi gelagapan, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Asmira sedang berada dikamar tamu, ia asyik makan camilan.


“Bagaimana ini,” gumam Santi dalam hati.


“Hei!” panggil Darwin membuyarkan lamunan Santi.


“Eh, iya Pak, ada apa?” tanya Santi kaget.


Darwin menggelengkan kepalanya, ia segera masuk ke kamarnya. Namun, saat ia melewati tangga ia melihat pintu kamar tamu terbuka, Darwin menyipitkan matanya. Ia segera menuju kamar tersebut. Santi menggigit kukunya, ia sangat deg-degan. Darwin akan sangat marah jika mengetahui lagi-lagi Asmira makan camilan yang tidak sehat.


Darwin mengintip dari luar, ia sangat terkejut mendapati istrinya yang sedang makan Snak.


“Tari!” teriak Darwin. Ia melangkah masuk ke dalam kamar.


“Apa yang kamu lakukan hah!” tanya Darwin ia berkacak pinggang, lalu ia menarik kuping Asmira dengan tidak terlalu kasar.


“Awhh ... Sakit Mas!” ujar Asmira. Ia kaget Darwin masuk.


“Kenapa Santi enggak panggil aku sih?” umpat Asmira dalam hati dengan kesal.


“Biar, nih Mas jewer makin kenceng nih,” ujar Darwin gemas dengan tingkah istrinya.


Semenjak ia hamil, tingkahnya sangat kekanakan. Darwin kewalahan menghadapinya.


“Dikit doang kok Mas, nih baru dua bungkus doang,” Asmira menggigit bibir bawahnya.


“Sedikit kamu bilang?” tanya Darwin menatap satu tumpukan penuh, bekas bungkus Snak yang Asmira habiskan.


Asmira tidak berani menatap Darwin, ia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Santi!” teriak Darwin.


Santi yang dari tadi berada di pintu langsung masuk. “Ya tuan muda?” sahut Santi.


Santi mengarahkan pandangannya kepada Asmira, Asmira mengedipkan matanya.


“Eits, apaan tuh kedip kedip?” tanya Darwin.


"Gak ada, sakit mata doang," ujar Asmira.


"Masak sih, sakit matanya bisa barengan gitu," sahut Darwin menatap Asmira dan Santi bergantian.


Darwin menyuruh Santi untuk membuang semua Snak tersebut ke tong sampah.


“Mas, jangan dong,” ujar Asmira sedih. Santi masih terpaku, ia tidak melakukan apa yang Darwin perintahkan.


“Santi, apa kamu tidak mendengarkan perintah saya barusan, buang semua ke tong sampah sekarang!” ujar Darwin dengan suara yang cukup keras.


Santi dengan tergesa-gesa memungutnya dari lantai, ia tidak ingin Darwin mengulangi lagi perintahnya.


“Kamu gak dengar kemarin dokter ngomong apa?” tanya Darwin menatap Asmira.


“Tapi Mas?” sahut Asmira.


“Tapi apa?” tanya Darwin lagi.


Asmira tidak menjawab pertanyaan suaminya.


Ketika Darwin sedang memarahi Asmira, Martha datang. Ia berpapasan dengan Santi di luar, ia kaget melihat Santi membuang banyak Snak.


“Sayang,” panggil Martha, ia masuk ke kamar tersebut.


“Mama...” panggil Asmira. Ia bangun langsung memeluk mertuanya.


“Ada apa?” tanya Martha.


Darwin menatap Asmira, namun Asmira membuang pandangannya ke bawah.


“Mama tanya saja sama menantu Mama,” ujar Darwin seraya meninggalkan ruangan tersebut.


Asmira melepaskan pelukannya setelah Darwin keluar kamar itu.


“Ma, aku dikit doang kok makannya,” ujar Asmira tanpa ditanya oleh Martha.


Martha tersenyum melihat Asmira yang seperti anak kecil, ia belai rambut Asmira lembut.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


Thank you..


__ADS_2