
Marco menemani Asmira dan Martha mengemasi barang-barang di apartemen, mereka akan segera pindah ke rumah baru. Darwin tidak bisa ikut ia sedang keluar kota bersama Pratiwi.
“Ma, bantu Tari di bawah, yuk?” ajak Asmira.
Sementara Martha menyuruh Marco agar mengemaskan semua barang-barang yang ada di ruang kerja Darwin. Semua buku-buku harus dimasukkan ke dalam kardus bekas, tak boleh ada satu pun yang tersisa.
Darwin sangat gemar membaca buku, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan membaca, tidak heran mengapa di ruang kerjanya banyak buku.
Secarik kertas terjatuh saat Marco menarik buku yang terletak di meja kerja Darwin. Marco terbelalak melihatnya, kertas itu berisikan perjanjian Asmira yang bertulis tangan. Ayah mertua Asmira itu merasa perjanjian tersebut menguntungkan sebelah pihak.
“Apa ini karena paksaan Martha?” gumam Marco.
“Apa Darwin sengaja mencari wanita yang mau menikah dengannya, dengan iming-iming perjanjian seperti ini?” Marco bertanya-tanya dalam hati.
“Pa!” teriak Martha di bawah, ia memanggil suaminya jika sudah selesai berkemas mereka akan pulang.
Marco segera turun setelah selesai mengemasi barang-barang tersebut dengan wajah kurang bersahabat.
“Kalau sudah ayo kita pulang.”
Marco segera keluar. Martha dan Asmira tampak bingung kenapa tiba-tiba Marco jadi aneh, tadi waktu mereka berangkat semuanya baik-baik saja.
Saat Marco tiba di lantai bawah, seorang pria menghampirinya. Pria tersebut berpenampilan layaknya preman yang ingin meminta jatah. Marco melihatnya dengan tatapan tajam, pikirannya yang sedang kacau balau mendapat sasaran empuk untuk ia lampiaskan.
Pria itu mencari keberadaan Darwin. Namun Marco tidak memberitahunya, karena kesal pria itu berkata kasar pada Marco.
“Hei Pak tua, kasih tahu cepat!” teriak pria itu.
Marco sangat geram, ia memanggil satpam untuk mengusir pria aneh yang tidak tahu sopan santun itu. Satpam segera menyeret pria aneh itu keluar dari apartemen Darwin.
Sementara itu, Jessica melirik jam dinding di kamarnya, waktu Sara pulang sekolah sudah tiba, ia bergegas menjemput Sara, gadis itu tidak mau bersekolah sekolah jika bukan dirinya yang antar dan jemput. Sara sengaja melakukan itu agar bisa terus berdekatan dengannya.
“Mang berhenti di depan, ya?” pinta Sara.
“Jangan Mang, pasti mau makan es krim lagi, kan?” tanya Jessica.
“Mom, dikit doang ...” rengek Sara.
“Ya udah jangan banyak-banyak.” Jessica
__ADS_1
tidak bisa menolak permintaan gadis cantik itu.
Kelvin yang sedang melintas di jalan tersebut, ia berhenti saat melihat Sara dan Jessica di sana sedang makan es krim. Begitu melihat kedatangan Kelvin, Jessica langsung gemetar dibuatnya.
“Stop!” teriak Jessica, ia mundur selangkah.
“Jessi aku minta maaf aku tahu aku salah,” ucap Kelvin.
“Jangan mendekat!” teriak Jessica.
Sara memeluk tubuh Jessica yang gemetar karena ketakutan. Sara meminta agar Kelvin tidak mengganggu mereka.
Kelvin mengerutkan keningnya ketika mendengar panggilan Sara untuk Jessica.
“Mommy?” tanya Kelvin mengulangi panggilan Sara.
“Mommy akan segera nikah sama Daddy aku. Tolong Om jangan ganggu kita!” teriak Sara.
Kelvin menggeleng kepalanya berkali-kali, ia berteriak mengatakan jika Jessica miliknya, tak ada seorang pun yang boleh merebutnya. Sara sangat takut dengan amukan Kelvin, ia mempererat pelukannya pada Jessica, ia terus memanggil Mang Joni.
Namun sebelum Mang Joni datang semua orang yang berada di sana menghampiri mereka, Kelvin semakin gusar terhadap mereka berdua. Kelvin mencengkeram erat tangan Jessica.
“Sakit Kelvin, lepas!” teriak Jessica.
Kelvin melepaskan Jessica ia segera menjauh. Ia tidak mungkin tetap di sana, jika tidak, salah-salah ia bisa diamuk massa, ia tidak mau ambil risiko.
Setelah Kelvin berlalu, Sara menenangkan Jessica yang masih tampak gemetar, ia juga sudah menghubungi Daddy nya untuk menjemput mereka pulang.
Tidak lama kemudian Valen tiba, ia begitu prihatin dengan kondisi Jessica yang begitu ketakutan.
“Mas ....” Jessica memeluk Valen.
“Tenang ya, aku udah di sini, ayo kita pulang,” ajak Valen.
Wajah Valen tampak murka melihat Jessica yang begitu takut, tangannya dingin dan gemetar. “Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan kemarin di jalan mawar?" Valen bertanya-tanya dalam hati.
Setelah kejadian hari itu Jessica tidak mau keluar kamar, sudah dua hari ia belum makan, seisi rumah khawatir dengan kondisinya. terlebih-lebih Valen dan Sara. Mereka mondar-mandir di depan kamar Jessica.
“Nak, Jessica buka pintu, Nak,” panggil Marco.
__ADS_1
Karena tidak mendapat respons dari Jessica, akhirnya Marco dan Valen mendobrak pintu kamar Jessica, takutnya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Jessica tergeletak di lantai ia menangis tersedu-sedu.
“Dia terus menggangguku, Mas” ujar Jessica.
Semua bertanya-tanya, siapa yang dimaksud Jessica.
“Namanya Kelvin Cony,” beritahu Sara.
“Kelvin?” Martha mengulang nama tersebut.
Rasanya mereka tidak percaya mendengar nama tersebut, selama ini Kelvin yang mereka kenal sangat sopan, tidak disangka sisi lain darinya begitu menakutkan.
Asmira tidak tahu-menahu tentang permasalahan yang dihadapi oleh kakaknya Jessica, ia begitu terkejut mendengar berita dari Martha. Semenjak ia pindah ke rumah barunya ia belum pernah berkunjung ke rumah mertuanya. Hari ini ia akan datang menjenguk Jessica.
Asmira segera masuk, ia membawa makanan kesukaan kakaknya, karena Martha mengatakan sudah seminggu belakangan Jessica tidak mau keluar kamar.
Asmira tahu betul bagaimana sikap Jessica dalam menghadapi masalah. Dari dulu setiap ada sesuatu hal, ia akan mengunci diri dikamar berhari-hari, ia akan keluar dengan sendirinya setelah pikirannya lebih tenang.
“Kamu ... keluar!” teriak Jessica, begitu melihat Asmira.
Asmira menangis melihat Jessica seperti itu terhadapnya. Kakak yang ia banggakan selama ini, sekarang begitu membencinya.
“Mbak, aku mohon jangan seperti ini.”
Jessica membatu, ia sangat membenci Asmira. Rasa tak percaya, adik yang selama ini sangat ia sayangi lebih dulu mengetahui tentang masa lalu mereka namun dengan tega menyembunyikan rapat-rapat rahasia itu darinya.
Jessica juga membenci Martha, bagaimana bisa ia lebih memilih suami dari pada anaknya. Selama ini ia sangat menyukai pribadi Martha yang ramah dan lembut, tapi sekarang, menyebut namanya saja ia tak sudi. Meskipun tidak ada sangkut paut dengannya, entah kenapa ia merasa terpukul mendengar cerita bahwa Martha membuang bayinya.
Semakin hari Asmira semakin kurus saja, Darwin memperhatikan istrinya itu tampak lemah dan tak bergairah menjalani hari-harinya.
Darwin bertanya pada istrinya, apakah ia tidak bahagia dengannya, atau ada masalah lain yang ia tutupi darinya. Namun berkali-kali Asmira mengelak semua pertanyaan yang Darwin tanyakan.
Darwin memeluk istrinya, ia selalu meminta padanya agar menceritakan semua masalah yang mengganggu pikirannya.
“Enggak ada sayang, kalau ada pasti ku ceritakan.” Bohong Asmira.
Asmira ingin sekali menceritakan permasalahan yang sedang ia hadapi, tapi sudah terlalu banyak ia merepotkan suaminya itu, belum lagi baru-baru ini ia menyuruh Darwin memperkerjakan Nindy di perusahaan cabangnya.
Martha juga meminta agar ia merahasiakan permasalahan itu sampai waktu yang tepat nanti Martha akan menceritakan sendiri pada suami dan anaknya.
__ADS_1
“Maaf ya Mas, aku lagi-lagi bohongi kamu,” gumam Asmira dalam hati.
Jangan lupa like...