
Shesa masuk kedalam kamarnya, ia meletakkan tasnya dan menyiapkan presentasi yang dibutuhkan untuk kegiatan hari ini, sejenak ia merebahkan tubuhnya, kondisi kehamilannya membuat Shesa harus benar-benar menjaga kandungannya dengan baik, ia meminum vitamin yang diberikan dokter Erick tempo hari, sedangkan Vano juga masuk ke dalam kamarnya, ia memeriksa apakah semuanya baik-baik saja.
Sekretaris Jimmy menghubunginya.
"pak Vano ada dimana? rapat akan segera dimulai pak, kami menunggu kehadiran bapak"
"dua hari ini aku tidak akan ke kantor, urus sementara pekerjaanku, aku sedang berada di luar kota" Vano lantas menutup ponselnya, kemudian ia memperhatikan jam tangannya.
"waktunya pergi ke pos satu" ucapnya pelan, lantas ia segera keluar kamar dan menunggu Shesa keluar juga dari kamarnya.
kemudian Shesa membuka pintu, ia melihat pak Dante sedang berdiri diluar pintu sedang menunggunya.
"pak Dante, ngapain berdiri disitu?" tanya Shesa sembari memperhatikan gurunya yang tengah berdiri membelakangi pintu kamarnya, kemudian pak Dante berbalik kearah Shesa.
"kamu itu ngapain aja didalem? lama sekali, kamu tahu aku itu sudah nungguin kamu hampir setengah jam" ucap pak Dante sambil menunjuk jam tangannya.
"siapa suruh bapak nungguin saya" jawab Shesa cuek.
"loh...loh...loh...harusnya kamu tuh berterima kasih sama saya, saya tuh udah gendongin kamu jauh-jauh kemari, udah berat badannya" ucap pak Dante
"oh...jadi bapak nggak ikhlas nih ceritanya, ya udah kalau begitu saya akan pergi ke pos satu sendiri...permisi" seru Shesa sambil berlalu meninggalkan pak Dante yang masih memperhatikannya.
Vano melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan, ia mengikuti langkah Shesa, matanya tak pernah lengah sedikitpun mengawasi setiap langkah istrinya.
hingga akhirnya Shesa dan pak Dante tiba di pos satu,bu Dewi dan semua siswa menunggu kedatangan Shesa dan pak Dante.
"itu mereka" seru seorang siswa menunjuk arah Shesa datang.
"maaf bu Dewi, saya terlambat" seru Shesa saat menghampiri bu Dewi.
"tidak mengapa, masih kurang dua menit lagi kita mulai" ucap bu Dewi, dan Shesapun tersenyum.
"Shesa, kamu kemana aja sih!" seru Monic penasaran.
"gara-gara pak Dante tuh" jawab Shesa kesal.
"pak Dante!" seru Monic terkejut.
"tuh guru nyebelin, sumpah" ucap Shesa sembari meniup rambutnya yang jatuh diwajahnya.
"ya kali...kalian dari tadi bertengkar mulu" ucap Monic mengiyakan.
__ADS_1
Shesa dan Monic duduk bersila, mereka melakukan kegiatan Out Dor Learning di sebuah taman dekat penginapan, dengan suasana yang sangat sejuk, membuat kegiatan tersebut lebih menyenangkan.
pak Dante duduk di belakang Laura, Laura tidak menyadari bahwa Vano juga sedang mengawasinya, tanpa sengaja Vano melihat Laura memegang sesuatu ditangannya, sesekali Laura memegang benda itu sembari tersenyum, seolah ada sesuatu yang ia rencanakan.
setelah 2 jam berlalu, kegiatang tersebut diakhiri dan dilanjutkan keesokan harinya, karena hari sudah menjelang malam.
seluruh siswa kembali ke kamar masing-masing, tak terkecuali Laura yang pergi ke suatu tempat, diam-diam Vano mengikuti gadis itu pergi, Laura membeli dua botol minuman, kemudian diam-diam Laura mencampurkan salah satu minuman itu dengan sesuatu yang sudah ia persiapkan.
"Shesa...bersiaplah, malam ini kau akan bersenang-senang" ucap Laura dengan senyum liciknya.
"apa yang dia lakukan!"
Vano terus mengikuti Laura, dan benar saja Laura datang menghampiri Shesa yang masih berada diluar penginapan.
"hai Shesa" sapa Laura sembari membawa dua botol minuman, Shesapun menoleh.
"Laura...ada apa?" tanya Shesa tersenyum.
"em...ini aku beliin minuman untukmu" Laura menyerahkan sebotol minuman yang sudah ia campur obat perangsang kepada Shesa, dan Shesapun menerimanya dengan baik.
"wah terimakasih banyak Laura...kamu kok tahu sih kalau aku lagi haus" ucap Shesa senang.
"tau dong...anggep ajah ini sebagai tanda pertemanan kita...ayo diminum" desak Laura agar Shesa segera meminumnya.
"ayo...minum...minum...sebentar lagi akan ada kehebohan, pertunjukan segera dimulai" Laura tak sabar menanti reaksi dari obat yang ia masukkan dalam minuman Shesa.
saat Shesa akan meneguk minuman itu, tiba-tiba pak Dante datang dan menghalangi Shesa agar tidak meminum minuman itu.
"eh...tunggu...tunggu...bapak minta minumanmu, bapak juga haus sekali" seru Pak Dante sembari menyambar minuman yang hampir saja diminum oleh Shesa.
"loh...itu minuman saya pak" ucap Shesa sambil meraih botol yang diambil pak Dante tadi.
Laura sedikit kesal, pak Dante datang menggagalkan rencananya.
"ah...ini aja buat bapak, yang itu kasihkan lagi sama Shesa pak, kasihan dia haus" seru Laura mencoba membujuk pak Dante agar menyerahkan kembali minuman itu kepada Shesa.
"kamu pikir aku bodoh, aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu yang buruk pada istriku"
Vano memegang dua botol yang sama, ia mencoba mengalihkan perhatian Laura, agar ia tidak mengetahui minuman Shesa telah ia tukar dengan minuman yang lain, yang belum tercampur apapun.
"Laura...kamu benar-benar gadis yang baik sekali, bapak bangga denganmu, udah mau repot-repot beliin minuman untuk temannya, coba contoh sikap Laura ini, nggak seperti kamu, ngomel melulu, marah melulu" ucapan Vano berhasil mengalihkan perhatian Laura, sehingga ketika Vano menukar minuman itu, baik Laura maupun Shesa tidak ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
"hehe...bapak bisa aja" ucap Laura yang merasa tersanjung dengan pujian pak Dante.
"ya sudah...ini ambil minumanmu kembali, bapak sudah dikasih sama sicantik Laura, terimakasih ya Laura" ucap pak Dante sembari memberikan minuman yang sudah ia tukar tadi kepada Shesa.
"iya pak sama-sama...eh diminum dong pak, masa dipegang doang, Shesa ayo diminum" seru Laura.
"oh tentu saja, aku minum ya!" ucap Shesa mulai meneguk minuman beraroma jeruk itu.
"ehm...seger banget, makasih banyak Laura" ucap Shesa.
"kena kamu, nunggu beberapa saat lagi kau akan seperti cacing kepanasan, tante Siska pasti sangat senang melihat ini" gumam Laura tersenyum licik
"pak Dante katanya haus kok nggak diminum" seru Shesa memperhatikan pak Dante yang hanya memegang botol minuman itu.
sejatinya Vano sudah tahu, minuman itu telah dicampur sesuatu oleh Laura, maka dari itu ia berusaha untuk tidak meminumnya.
"pak Vano ayo diminum, saya akan sangat senang jika bapak mau melakukannya untuk saya" ucap Laura penuh harap.
"e...e...tapi"
Vano menatap wajah istrinya, Shesa tersenyum kepadanya dengan begitu menggoda.
"baiklah Laura, aku ke kamar dulu, aku mau istirahat, thanks ya minumannya" ucap Shesa mulai beranjak pergi meninggalkan Vano dan Laura.
dan Laurapun tersenyum senang karena sebentar lagi obat itu akan bereaksi.
"ayo pak diminum" desak Laura terus memaksa.
akhirnya Vanopun meminumnya, agar Laura tidak curiga kalau dia telah menggagalkan rencananya.
"baiklah Laura, terimakasih untuk minumannya, pergilah ke kamarmu, ini sudah malam" perintah pak Dante.
"iya pak...saya kekamar dulu, selamat malam pak Dante" ucapnya senang.
dan pak Dantepun cuma mengangguk, ia mulai merasa reaksi obat itu mulai bekerja.
Vano segera pergi ke kamarnya, ia mencoba mengendalikan tubuhnya yang saat ini terasa sangat panas, ia mencoba mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya, sampai ia harus melepas topeng sintetisnya karena tak tahan dengan gejolak yang ia rasakan.
"sialan gadis itu, ia mencoba memberi obat ini kepada istriku"
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖💖💖