
setelah ketiga gadis itu menghilang dari pandangan Vano, ia segera masuk kedalam kamar permaisurinya itu, Shesa sedang berganti pakaian diruang ganti, Vano tak mendapati Shesa berada di dalam kamar.
"sayang kamu dimana?" seru Vano yang mencari keberadaan Shesa, Shesa yang mendengar suara Vano lantas menyahutinya dari dalam kamar ganti.
"iya...aku ada di ruang ganti" jawab Shesa, lantas Vano tersenyum dan masuk ke dalam ruang ganti tanpa permisi, Vano masuk dan Shesa masih memakai bra dan celana panjang warna hitam, ia hendak memakai blazer di saat Vano datang ke dalam kamar ganti mereka.
Vano mendekati Shesa yang menghadap ke arah cermin besar, ia memelukya dan menciumi wangi tubuhnya, pantulan wajah Vano saat mencium Shesa bisa terlihat jelas dalam cermin besar itu, ekspresi yang begitu memikat.
"lepasin dong sayang, kalau kamu begini terus, kapan aku memakai bajunya" sahut Shesa sembari memegang wajah Vano yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Vanopun menghentikan kegiatannya seraya berkata pada istrinya.
"apa semalam aku menyakitimu, maafkan aku, aku tidak bisa mengontrol diriku saat sedang bersamamu, bibirmu terluka sayang, apa ini sakit? maafkan aku" ucap Vano sebari melihat luka kecil akibat perbuatannya pada bibir istrinya yang mungil.
"emm" Shesa menggelengkan kepalanya.
"ini tidak sakit sama sekali, lebih baik kau gigit bibirku mesra daripada kau gigit hatiku hingga terluka, itu lebih menyakitkan" ucap Shesa sambil meletakkan tangan Vano di dadanya.
tentu saja itu membuat Vano sangat ingin memeluk istrinya, dengan lembut ia mengusap rambut Shesa yang masih basah.
"aku tidak akan pernah menyakitimu, tidak akan" seru Vano sembari mengecup kening Shesa.
"kau janji padaku! tidak akan pernah menyakiti perasaanku dan tidak akan menyimpan rahasia dariku" imbuh Shesa serius.
"tentu saja, kenapa kau tanyakan hal itu, aku akan selalu bersamamu" seru Vano dengan yakin.
"hm...baiklah, ayo bersiap kita sarapan dulu, jam sepuluh kita take off, semuanya sudah beres?" tanya Vano.
"sudah..." jawab Shesa singkat.
kemudian Vano memakaikan blazer yang sempat Shesa tunda gara-gara kehadirannya, dengan telaten Vano memaikan blazer hitam dan dalaman warna putih itu di tubuh Shesa yang seksi.
__ADS_1
"cantik sekali istri direktur Vano ini" ucap Vano memuji Shesa, kemudian mereka keluar dari ruangan itu. Vano menyuruh pelayan untuk membereskan barang-barangnya, pagi ini juga Vano dan Shesa berangkat ke bandara.
********
Mita, Nabila dan Monic sudah sampai di pantai Sanur, mereka berfoto-foto ria di kawasan pantai yang indah itu, Mita membawa kamera dan memotret pemandangan dengan senang, tiba-tiba saja lensa kamera Mita menangkap sesosok pria yang sepertinya ia mengenalinya. pria itu sedang duduk-duduk santai di sebuah kursi, sembari menikmati suasana pantai.
"eh...itu bukannya om Wisnu ya?" seru Mita menunjuk kearah lelaki yang seumuran dengan ayahnya itu, Monic dan Nabila melihat kearah tangan Mita menunjuk.
"kayaknya emang benar itu om Wisnu" timpal Nabila yang juga mengenali siapa Wisnu yang tak lain adalah om nya Shesa, adik dari Dewa.
"kita kesana yuk" ajak Mita
"ayuk" sahut Nabila.
Monic hanya terdiam, ia takut rahasia Shesa terbongkar, karena Shesa datang ke Bali adalah untuk berbulan madu bukan pergi ke rumah om nya, seperti apa yang dikatakan Anggi, menutupi kepergian Shesa ke Bali.
"Monic, ayo...kok diam saja" seru Mita yang melihat Monic diam terpaku, Monic berfikir apa yang akan terjadi jika Mita dan Nabila mengetahui kebohongan Shesa.
Akhirnya ketiga gadis itu telah sampai di tempat Wisnu berada, di sebuah bungalo dekat pantai Sanur.
"hai om Wisnu" sapa mereka bertiga, Wisnu membuka kacamatanya dan melihat tiga gadis belia sedang menghampirinya, Wisnu sempat tercengang, ia nampak masih mengenali ketiga gadis itu.
"hai...apakah ini kalian? gadis-gadis kecil itu, teman-teman Shesa yang centil-centil" seru Wisnu sembari tertawa mengingat masa kecil mereka bertiga.
"enak aja dibilang centil, om tuh yang suka nyembunyiin sepatu kita, kalau kita main kerumah Shesa" ucap Nabila mengingat kejadian lucu sepuluh tahun yang lalu, dimana mereka masih berusia delapan tahun.
"ini Mita, ini Nabila dan si tomboi ini adalah Monic...iya kan" Wisnu mengabsen ketiga gadis itu dengan tiada salah sedikitpun.
"wow...om Wisnu bener-bener tajam ya ingatannya" seru Monic bangga.
__ADS_1
"tentu saja dong, om tidak akan pernah melupakan wajah-wajah mengemaskan kalian bertiga, eh...tumben cuma bertiga, Shesa mana? kok nggak kelihatan, om kangen sekali sama dia, udah 3 tahun om nggak ketemu dia, terakhir dia kesini bersama Vera" tanya Wisnu yang tidak mendapati Shesa diantara gadis-gadis itu.
"loh, bukannya om sudah ketemu Shesa?" tanya Mita menyelidik.
"bukannya om yang nyewa kamar VIP untuk dia nginep di Bali?" sambung Nabila penasaran.
Monic semakin panik dengan situasi kali ini, rahasia Shesa bakal terbongkar, jika om Wisnu mengatakan yang sebenarnya.
"apa? Shesa disini? di Bali?...kenapa dia nggak ngabarin om?...lagipula om tidak menyewa kamar VIP sama sekali" seru Wisnu terkejut keponakannya ternyata berada di Bali.
"apa? jadi om nggak tahu kalau Shesa ada di Bali?" Mita semakin penasaran apa yang sebenarnya Shesa sembunyikan, ia mulai curiga kalau Shesa benar-benar simpanan om om.
Mita dan Nabila menjadi illfeel dengan Shesa, mereka beranggapan Shesa sudah mengotori persahabatan mereka, dengan membohongi sahabatnya sendiri.
Monic tak bisa melakukan apa-apa, rahasianya sudah terlanjur terbongkar.
mereka bertiga berpamitan pada Wisnu, dan kembali ke kamar hotel mereka, di dalam kamar ketiganya saling diam, mereka mengira Shesa sudah menjadi sugar baby om om, mengingat buat apa Shesa menginap di hotel dengan kelas VIP, dan malam itu Shesa menghilang dari kamar mereka.
"kalian berdua kenapa sih? masih kepikiran Shesa ya?" tanya Monic mencairkan suasana, Mita maupun Nabila masih diam, mereka benar-benar dibuat kecewa atas kebohongan Shesa.
"aku nggak nyangka, Shesa bakal bohongin kita" seru Mita sedih.
"kenapa Shesa melakukan itu, kenapa dia harus menjadi simpanan om om, kasihan om Dewa dan tante Anggi, mereka tidak tahu kelakuan anaknya yang sebenarnya" tukas Nabila dengan nada kecewa.
"kalian jangan ngomong gitu, itu belum tentu benar keadaannya, mungkin Shesa punya alasan tertentu kenapa dia harus bohongi kita" ucap Monic yang mencoba menenangkan kesedihan mereka berdua.
"tapi iti sudah jelas Mon, kamu masih ngebela dia terus, atau jangan-jangan kamu sudah tahu kalau Shesa menjadi simpanan om om" tukas Mita menuding Monic sudah menyembunyikan rahasia tentang Shesa.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💥💥💥💥💥💥