Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
rencana jahat


__ADS_3

"Eh...Mon! Aku pulang dulu, udah siang" seru Shesa pada Monic sambil melihat jam tangannya.


"Iya_iya pengantin baru, nggak bisa ditinggal lama-lama ni ye" goda Monic sambil menyenggol tangan Shesa.


"Apaan sih Monic godain mulu ah" sahut Shesa malu.


"Udah cepat pergi, nanti pak Vano nyariin loh" seru Monic tersenyum renyah.


"Oke aku pulang dulu, bye!" pamit Shesa sambil melambaikan tangannya pada Monic.


"Bye, hati-hati!" balas Monic.


Shesa berjalan sembari menunggu taksi, tak berselang lama taksi pun berhenti di depan nya, lantas iapun segera naik ke dalam taksi itu.


"Pak kita ke Jl.perdana no.18" seru Shesa


"Jl.perdana no 18, bukannya itu rumah CEO kaya itu ya mbak, pak Vano? " jawab pak sopir menebak.


"Bapak tahu darimana?" tanya Shesa penasaran.


"Ya tahulah mbak, diakan terkenal di kota ini, katanya kemarin dia baru saja menghajar orang mbak?" seru sopir taksi.


"Menghajar orang? Maksud bapak apa?" tanya Shesa semakin penasaran.


"Kemarin malam dia bertengkar sama teman bisnisnya di Cafe, waktu itu saya sedang mengantar penumpang ke Cafe, tidak sengaja saya melihat kejadian itu, tidak tahu masalahnya apa, tapi pak Vano menghajar pak Excel membabi buta, tapi saya yakin pak Vano waktu itu sepertinya sedang ada masalah" tukas sopir taksi


"Mbak tahu tidak waktu itu pak Vano marah sekali pada pak Excel, tangan pak Vano berdarah kena beling gelas yang ia genggam sendiri mbak, lantas ia langsung memukuli pak Excel begitu saja" sambung sopir taksi itu


Shesa mendengarkan sopir taksi dengan seksama.


"Mbak ada perlu apa ke sana? Hati-hati mbak , pak Vano tuh orangnya dingin dan sombong mbak" tukas sopir


Shesa hanya tersenyum.


"Suamiku memukuli orang? Siapa yang dia pukuli? Pak Excel....Excel...Excel bukannya itu nama kakaknya Romi? Omaigad ngapain sih dia ngelakuin itu?" gumam Shesa dalam hati.


Setelah beberapa menit Shesa telah sampai di rumah mewah Vano, kemudian ia mulai masuk ke dalam rumah yang berdesain Eropa itu.


Nenek terlihat datang menyambut Shesa pulang.


"Shesa! Kamu sudah pulang sayang!" seru nenek senang


"Bagaimana keadaan papamu, Vano bilang semalam papamu masuk rumah sakit" sambung nenek, Shesa mengangguk.


"Iya nek! Papa sudah siuman, dan beliau masih dirawat intensif" jawab Shesa


"Shesa mau ke kamar dulu nek, Shesa mau mandi" seru Shesa


"Oh ya nak! Tadi suamimu menelepon, dia menanyakanmu, tapi kamu belum pulang, eh...nenek mau ngomong lagi, tiba-tiba teleponnya langsung ditutup sama dia, dasar anak itu minta dijewer telinganya, main tutup telepon sembarangan" seru nenek kesal


Shesa hanya tertawa kecut mendengar ucapan nenek

__ADS_1


"Mampus deh.....dia bakal marah lagi nih" gumam Shesa sambil menggigit bibirnya yg ranum.


Shesa beranjak ke kamarnya, ia mencoba melepas lelahnya dengan berbaring sebentar di atas ranjang.


"Ada motif apa suamiku memukuli Excel? Bukankah mereka teman bisnis" seru Shesa bertanya-tanya.


*


*


*


*


Sementara itu di kantor


"Mario! Sebelum kita pulang kita ke Cafe sebentar" perintah Vano pada Mario.


"Baik tuan muda" jawab Mario


Vano sedang kacau saat ini, istrinya pergi tanpa minta izin terlebih dulu padanya, fikirannya sudah dibutakan oleh rasa cemburu, ia berfikir pasti Shesa pergi bersama Romi.


"Perempuan di manapun sama saja, baru saja aku mengagumimu, tapi sekarang kamu sudah membuatku muak sekali" gumam Vano dengan sangat kesal.


Mario menatap Vano lewat spion, ia merasa Tuan mudanya ini sedang ada masalah berat


"Tuan muda! Saya perhatikan anda sangat gelisah hari ini, apa itu karena nona muda ?" seru Mario


"Tuan muda jangan buruk sangka seperti itu, siapa tahu Nona muda memang ada hal penting yang harus diselesaikan" seru Mario menenangkan


Vano hanya diam tak bergeming, perasaannya benar-benar kalut oleh rasa cemburu, Vano mengusap wajahnya kasar.


Setelah beberapa saat Vano telah sampai di Cafe, ia masuk ke Cafe disambut hangat oleh kepala pelayan.


"Tuan muda! Silakan" seru kepala pelayan


Vano dengan elegan memasuki Cafe yang bernuansa Eropa itu.


Vano duduk di kursi yang paling bagus diantara yang lainnya, lantas ia menenggak wine yang sudah disediakan oleh pelayan untuknya.


Sesosok wanita berambut sebahu yang duduk di kursi pojok, tak sengaja memperhatikan Vano sedari tadi, perlahan wanita itu mendekati Vano yang sedang meminum wine.


"Ini kesempatanku untuk mendapatkan Vano, aku tidak akan menyia-nyiakannya" seru Siska dengan senyum sinisnya.


Ternyata wanita itu adalah Siska, guru bahasa inggris Shesa, yang sedang mencari cara untuk memperdaya Vano.


"Hai...Vano senang bisa bertemu denganmu disini" sapa Siska


Vano hanya melihatnya sekilas, dan ia tidak memperdulikan kehadiran Siska di sampingnya.


"Boleh aku menemanimu minum?" Siska menawarkan dirinya.

__ADS_1


"Terserah..." jawab Vano singkat


Siska telah mempunyai rencana jahat terhadap Vano, ia melihat Vano sudah menghabiskan beberapa gelas wine, kemudian ia menawarkan lagi segelas wine yang sudah ia campur dengan obat perangsang.


"Vano....ini minumlah" seru Siska sambil memberikan segelas wine yang sudah ia beri obat setan itu.


Vano saat ini sedang kacau, ia tak peduli berapa wine yang sudah ia habiskan, ia hanya butuh untuk menenangkan diri.


Perlahan Vano mengambil minuman yang diberikan oleh Siska tadi, lantas ia langsung menenggaknya tanpa curiga.


"Yess....sebentar lagi kau akan menjadi milikku Vano" seru Siska dalam hati.


"Perlahan obat itu akan membuatmu lupa diri, dan hanya akulah wanita disampingmu" gumam Siska dengan senyum sinis.


Setelah beberapa menit, obat itu mulai bekerja, badan Vano mulai panas, ia tiba-tiba tak bisa menahan gejolak yang ada pada dirinya, duduk pun ia selalu gelisah, ia tak bisa konsentrasi dengan baik, keringatnya mulai bercucuran karena merasa kegerahan yang luar biasa.


Siska mencoba mendekati Vano, agar ia bisa leluasa menguasai Vano yang sedang nge_fly akibat obat itu, ia mencoba memegang Vano agar Vano juga merespon sentuhannya.Tapi Vano malah melepaskan kasar tangan Siska darinya.


"Vano kau mau kemana, aku temani kamu!" seru Siska menawarkan diri dan meraih tangan Vano kembali.


Vano tak merespon sama sekali apa yang Siska katakan, ia hanya ingin kembali ke mobil dan segera pulang, ia sudah tak bisa membendung lagi hasratnya yang sudah membara itu.


"Pergi kau dari sini...pergi!" seru Vano sambil melepaskan pegangan tangan Siska dengan kasar, lantas ia lalu pergi meninggalkan Cafe, dan masuk ke dalam mobil.


"Sial! Hampir saja aku berhasil, tapi kenapa dia malah pergi" seru Siska dengan kesal


*


*


*


*


Di mobil...


"Mario kita pulang sekarang cepat!" perintah Vano


"Baik Tuan muda!" jawab Mario


Vano benar- benar sudah tak tahan lagi, ia sudah tak sabar ingin segera pulang ke rumah dan menyelesaikan ini semua, yang ada dalam fikirannya hanya Shesa Shesa...dan Shesa saja.


*


*


BERSAMBUNG


⚘⚘⚘⚘⚘⚘


...Tetap dukung terus kisah mereka ya 😊...

__ADS_1


__ADS_2