
hari Minggu yang cerah...
hari itu Shesa menghubungi Monic dan yang lainnya, bahwa tugas kelompoknya nanti siang, menunggu Shesa pulang dari rumah sakit.
"halo Mon, kita tugas kelompoknya siang aja ya, soalnya aku mau jenguk Laura dulu di rumah sakit" ucap Shesa
"jenguk Laura? ngapain kamu jenguk dia? dia udah jahat loh sama kamu!" Seru Monic yang terkejut saat Shesa akan menjenguk Laura.
"jangan gitu Mon, Laura memang pernah jahat sama aku, tapi aku yakin sebenarnya dia baik kok, dia cuma terpengaruh oleh omongan Bu Siska ajah" ucap Shesa meyakinkan.
"entah deh Sha, nggak tahu deh mau ngomong apa, kamu tuh ya tuh anak udah mencoba nyakitin kamu dan bayimu, tapi kamu masih saja perduli sama dia" tandas Monic kesal.
"Monic, setiap orang pasti punya kesalahan, Laura hanya perantara keegoisan Bu Siska, dia tidak punya siapa-siapa disini, kamu tahu sendiri Bu Siska dimana, coba bayangkan betapa menderitanya Laura, didalam kondisinya yang kesakitan, tak ada satupun keluarga yang menemaninya, Laura harus dioperasi, karena obat itu membuat infeksi pada rahimnya" seru Shesa menjelaskan.
"apa? dioperasi? separah itu? astaga...Bu Siska benar-benar jahat banget sama kamu Sha! aku nggak bisa bayangin, jika obat sialan itu kamu yang minum, Untung saja pak Vano cepat mengetahuinya, dia memang suami yang siaga" seru Monic.
tiba-tiba suara Vano mengejutkan Shesa yang sedang berbicara pada Monic lewat sambungan telepon.
"sayang, kamu sudah siap?" seru Vano mendekati istrinya, penampilannya yang maskulin saat itu membuat Vano terlihat sangat berbeda dan tampan sekali.
Shesa menoleh Vano dan menganggukkan kepalanya, ia melihat Vano yang begitu elegan hari itu, dengan setelan celana hitam dipadu dengan kemeja warna maroon, memberi kesan betapa suaminya sangat gagah dan tampan.
"udah ya Monic, aku pergi dulu, bilang ke anak-anak, nanti siang kita ketemu, bye...!" seru Shesa, lantas ia segera menutup ponselnya.
Shesa memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian ia menatap wajah sang suami dalam-dalam.
"ada apa sayang?" ucap Vano sembari meraih tangan Shesa.
"i love you" seru Shesa yang tiba-tiba sembari mencium pipi Vano dengan lembut.
Vano tersenyum melihat tingkah sang istri, ia membalasnya dengan kecupan hangat di kening Shesa, kemudian ia menggandengnya menuju luar rumah, sudah ada Mario yang setia mendampingi bosnya, Mario yang akan mengantarkan mereka berdua ke rumah sakit, karena hari ini adalah hari minggu, maka penyamaran Mario libur dulu, ia kembali pada wajah aslinya.
akhirnya mobil melesat dijalan raya, dan tak butuh waktu lama, mobil mereka telah sampai di rumah sakit.
Vano dan Shesa segera menuju keruang tempat Laura dirawat, Shesa melihat Laura dari arah jendela, Laura sedang duduk diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
"sayang, kita masuk kedalam yuk, aku ingin menemui Laura" seru Shesa kepada Vano
Vano pun mengangguk dan terus mendampingi Shesa.
Laura terkejut melihat pintu kamar dibuka, ia lebih terkejut lagi saat ia tahu bahwa yang sedang menemuinya adalah Shesa dan Vano.
"Shesa.... pak Vano" gumam Laura pelan.
Shesa mendekati Laura yang sedang duduk diatas tempat tidurnya.
"Shesa...kamu kesini !" ucap Laura lirih, ia malu Shesa masih berbuat baik kepadanya, apalagi Vano sudah membiayai operasi Laura yang tidak murah, padahal hampir saja Laura mencelakai Shesa dan calon bayinya.
"Laura, gimana keadaanmu? kamu baik-baik saja kan?" tanya Shesa yang berdiri disampingnya.
"Shesa, aku baik-baik saja, terimakasih kau sudah mau membantuku, entah apa jadinya jika tanpa kalian, aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh itu kepadamu Shesa, tolong maafkan aku, aku benar-benar menyesal" ucap Laura yang diiringi airmata penyesalan yang tak bisa dibendung lagi.
dengan cepat Shesa memeluk Laura.
"sssttt... jangan nangis Laura, aku sudah memaafkanmu" seru Shesa sembari memeluk Laura penuh kehangatan.
"aku tahu, kau sebenarnya gadis yang baik, kita sudah bertemu sebelumnya, hanya saja Bu Siska sudah mempengaruhimu, hingga kau melakukan itu padaku, entahlah kenapa Bu Siska sangat membenciku" ucap Shesa sembari melepas pelukannya dan menatap wajah Laura dengan sendu.
kemudian Laura menoleh ke arah Vano.
"pak Vano, tolong maafkan saya, saya sangat menyesal telah melakukan itu pada Shesa, saya terpengaruh oleh omongan tante saya pak, saya tidak tahu kalau tante Siska sengaja menjemput saya dari Semarang, hanya untuk membalaskan dendamnya kepada kalian berdua, saya benar-benar menyesal" seru Laura sembari merapatkan kedua tangannya.
"karena istriku sudah memaafkanmu, akupun juga akan memaafkanmu, tapi ingat jauhi Siska, dia wanita yang licik, gadis sepertimu masih sangat polos, kau akan mudah dipengaruhi oleh kebencian Siska" ucap Vano.
"iya pak, saya janji, mulai hari ini saya tidak akan mau menuruti perintah tante Siska lagi" ucap Laura pelan.
"aku janji pada kalian berdua, aku akan berubah, kalian berdua sudah menyelamatkan nyawaku, aku akan membalas jasa kalian berdua, aku berjanji" ucap Laura sungguh-sungguh.
akhirnya suasana dalam ruangan itu menjadi hangat, Shesa senang melihat Laura yang sudah berubah.
"oh ya Laura, setelah ini apa rencanamu!' seru Shesa
__ADS_1
"aku akan pulang ke apartemen tante Siska" jawabnya singkat.
tiba-tiba suara Vano menengahi percakapan mereka.
"lebih baik kau menjauhi Siska, aku akan menyediakan tempat tinggal untukmu, sampai akhirnya nanti kau lulus dari sekolah" ucap Vano
"tapi pak, apa itu tidak berlebihan, saya tidak mau merepotkan bapak" ucap Laura yang merasa tidak enak.
"sudahlah Laura, nggak papa terima saja, kita bisa belajar bareng, nanggung loh jika kamu keluar dari sekolah, sebentar lagi kita ujian sekolah loh" tandas Shesa
karena Laura melihat ketulusan hati Shesa, akhirnya ia menerima tawaran Vano untuknya.
"Shesa, aku janji kepadamu, aku akan berubah menjadi lebih baik lagi, Laura yang dulu tidak akan pernah ada lagi" gumam Laura sungguh-sungguh.
hingga akhirnya Shesa dan Vano pamitan pulang, karena hari ini Shesa ada janji dengan teman-teman untuk kerja kelompok dirumahnya.
"Laura, aku pulang dulu ya, nanti kalau dokter sudah mengizinkanmu pulang, kami akan mengantarmu pulang" seru Shesa tersenyum.
"terimakasih banyak Shesa, pak Vano... jasa-jasa kalian tidak akan pernah saya lupakan, kalian adalah malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan kepada saya, terimakasih banyak" ucap Laura begitu dalam.
hingga akhirnya Shesa dan Vano keluar dari ruangan tempat Laura dirawat.
tampak sepasang mata melihat Shesa dan Vano keluar dari kamar Laura, dengan tatapan sinis ia memperhatikan Shesa yang sedang dirangkul mesra oleh Vano.
perlahan wanita itu mulai masuk kedalam kamar Laura.
"ceklek" Laura terkejut ada seseorang yang hendak masuk kedalam kamarnya.
perlahan wanita itu menghampiri Laura, dan Laura pun lebih terkejut lagi saat ia tahu yang datang menghampirinya adalah orang yang sudah sangat ia kenal.
"tante Siska"
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1