Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
bekas lipstik


__ADS_3

hari ini Helena ingin menemui Vano, ia ingin membicarakan tentang apa yang sudah dilakukan Veronica kepada perusahaan Vano.


"hem...datanglah kerumah, nenek pasti juga senang melihatmu disini" seru Vano kepada Helena lewat sambungan telepon.


Vano menutup teleponnya


"siapa sayang?" tanya Shesa sembari menyisir rambutnya yang panjang.


"Helena, ia ingin menemuiku nanti sore, aku tahu kekhawatirannya, Helena sangat menyayangi tante Veronica" seru Vano sembari membelai rambut Shesa.


Shesa menatap wajah sang suami lewat pantulan cermin, kemudian ia berdiri dan menghadap Vano yang terlihat mempesona hari ini.


"semoga hubungan persaudaraan kalian akan terus terjalin, aku salut dengan Helena, meskipun ia putri tante Veronica, tapi sifatnya sangat berbeda sekali dengan


ibunya" seru Shesa sembari meletakkan kedua tangan lentiknya pada bahu Vano.


"iya, aku dan Helena teman bermain sejak kecil, semenjak ia memutuskan kuliah di Singapura, sejak itulah kami berpisah, kemudian aku minta pertolongannya saat Siska mulai berusaha mencuri data-data sekolah kita, hingga akhirnya Helena menggagalkan rencana Siska " ucap Vano mengingat kebaikan Helena.


"sayang, mudah-mudahan saja tante Veronica bisa sadar kembali" seru Shesa penuh harap.


"iya...semoga saja" balas Vano tersenyum.


"ya udah, kamu cepat berangkat gih, nanti telat loh ke kantornya" seru Shesa sembari merapikan dasi Vano.


Vano menatap terus wajah Shesa, matanya tak berkedip sama sekali seperti saat pertama kali ia mulai jatuh cinta kepada istrinya, tentu saja itu membuat Shesa merasa tak nyaman.


"sayang, kamu kenapa lihatin aku kayak gitu! apa penampilanku ada yang kurang?" seru Shesa sembari merapikan rambutnya.


"siapa bilang ada yang kurang, kamu kelihatan lebih cantik daripada dulu" balas Vano.


"hmm...jadi dulu aku tuh nggak cantik, jelek gitu?" sahut Shesa cemberut


Vano mulai menggoda istrinya, ia suka sekali melihat Shesa cemberut.


"hmm...iya kamu tuh dulu jutek, nyebelin, suka marah-marah, jadi aura cantiknya tuh nggak kelihatan, coba dulu kamu tuh kalem, nurut, ramah, pasti kamu terlihat cantik dari dulu" seru Vano menggoda istrinya.


"enak ajah bilang aku jutek, kamu sendiri sih yang bikin aku kesel, udah cuek, sombong, belagu lagi, gimana nggak bikin emosi!" sahut Shesa mengingat kembali pertemuan pertamanya bersama Vano.

__ADS_1


"biarpun aku sombong tapi aku tetap terlihat tampan bukan? buktinya sekarang kamu klepek -klepek kan melihat ketampanan suamimu ini!" ucap Vano sembari melirik wajah istrinya yang sedang ngedumel.


"aduuuuuh...udah deh sayang, bakal nggak kelar -kelar kita bahas ini, ayo cepetan berangkat, bos yang baik harus memberi contoh kepada karyawannya, jangan telat" seru Shesa sembari merapikan jas Vano.


"iya...iya...nyonya Vano, aku berangkat, dari dulu bawel kamu masih ada aja" goda Vano yang membuat Shesa mencubit hidung Vano yang mancung.


"iihhh....udah berangkat sana!" seru Shesa dengan tangan yang masih menempel dihidung Vano.


"awwww...iya iya, sudah dibilangin jangan cubit hidungku lagi" seru Vano sembari melepaskan tangan Shesa dari hidungnya.


Shesa tertawa kecil melihat ekspresi Vano yang tampak lucu.


"eh...malah ketawa, aku beri hukuman kamu" seru Vano yang tiba-tiba tanpa aba-aba langsung menarik tangan Shesa dan menyambar bibir mungil itu sepuasnya.


"mmmppttt"


Shesa sudah tak bisa berkutik lagi, saat kecupan itu membungkam mulutnya, hampir satu menit Vano melakukan ciuman itu, hingga akhirnya ia melepaskan tubuh Shesa dan langsung pergi ke kantor.


"daahhh....sayang makasih untuk ciuman itu, manis sekali" seru Vano dengan melambaikan tangannya dan keluar dari kamar mereka.


"huffftt...lihat deh sayang, papamu dari dulu emang nakal banget" bisik Shesa pada bayinya.


"eh...tuan muda ada apanya tuh di bibirnya?"


"eh ...iya, kok belepotan sih"


"yee...itu sih bekas lipstik kayaknya"


"waduh...pagi-pagi udah hot aja nih tuan muda"


"ssstt jangan keras-keras"


beberapa pelayan tampak senyum senyum melihat Vano yang hendak pergi ke kantor, Vano yang mendapati itu lantas bertanya kepada mereka.


"eh...ngapain kalian senyum-senyum?" tanya Vano penasaran.


"ti...tidak tuan muda, tidak ada apa-apa" jawab pelayan gugup, mereka saling menyikut satu sama lain.

__ADS_1


Vano langsung berangkat dengan mobil mewahnya, hari ini ia tampak bahagia karena sang istri sudah memberinya sebuah ciuman yang membuat Vano tak bisa melupakannya, hingga ia belum menyadari bekas lipstik sang istri masih menempel di bibir Vano.


Vano tiba dikantornya, ia mulai memasuki kantor seperti biasa, namun ada yang aneh pada hari itu, tampak karyawan memandang Vano dengan tersenyum, Vano merasa ada yang aneh.


"kenapa mereka? apa penampilanku ada yang aneh? perasaan penampilanku baik-baik saja" gumamnya sembari memeriksa jas dan bajunya.


Hingga akhirnya Vano tiba di ruangannya, tampak sekretaris Jimmy memperhatikan Vano yang sedang berjalan menghampirinya.


"astaga tuan muda, itu kenapa lipstik masih nempel disitu, hehe...tuan muda benar-benar deh, akuuutt" gumam sekretaris Jimmy saat mengetahui bekas lipstik dari ciumanhya bersama Shesa.


Vano sudah berada dihadapan sekretaris Jimmy yang tengah menunggu kedatangannya.


"sekretaris Jimmy, ada apa dengan karyawan, kenapa mereka senyum-senyum saat melihatku, apa penampilanku ada yang aneh?" tanya Vano pada sekretaris Jimmy yang juga tersenyum melihat Vano.


"penampilan anda tidak ada yang aneh tuan muda, cuma itu...!" seru sekretaris Jimmy yang tidak melanjutkan kata-katanya.


"apa?" tanya Vano penasaran.


"i...itu...anu..." ucap sekretaris Jimmy terbata-bata.


karena Vano merasa tak sabar ingin segera mengetahuinya, maka ia dengan cepat menarik kerah baju sekretaris Jimmy yang masih tampak senyum-senyum.


"cepat katakan apa? atau ku potong gajimu" seru Vano sembari mengangkat kerah sekretaris Jimmy.


"i...iya ampun tuan muda, i..itu bibir anda, masih ada bekas lipstiknya" ucap sekretaris Jimmy gugup, dengan segera Vano melepaskan tangannya dari kerah sekretaris Jimmy.


"selamet selamet..." ucap sekretaris Jimmy sembari mengelus dadanya.


Vano segera mengambil cermin dan melihat wajahnya, ia sangat terkejut melihat bekas lipstik sang istri masih menempel di sudut bibirnya, kemudian ia segera mengambil tisu untuk membersihkan bekas lipstik itu dari bibirnya.


"pantas saja pelayan dirumah pada senyum senyum melihatku, karyawan juga hufftt" seru Vano sembari menghela nafasnya.


"tuan muda, maafin saya...." seru sekretaris Jimmy.


"apa? kamu juga ikut senyum -senyum melihatku, kamu pikir lucu?" ucap Vano sembari merapikan jasnya, kemudian ia masuk kedalam ruangannya.


"tuan muda- tuan muda" seru sekretaris Jimmy sambil menggeleng -gelengkan kepalanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


😊😊😊😊


__ADS_2