
Hari itu juga Vano dan Shesa berangkat bersama Nata, Shesa tampak senang Vano mau menemaninya, ini akan memudahkan untuk Shesa menemukan ibu mertuanya.
mobil mulai berangkat dan melesat dijalan raya, tampak Shesa duduk dengan menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
"sayang, terimakasih banyak ya, kamu sudah mau menemani aku" ucap Shesa sembari menatap wajah sang suami.
"apa sih yang enggak buat kamu, selama kamu bahagia aku juga pasti bahagia" seru Vano.
"hmm... sayang aku mau tanya deh, siapa sih sosok dalam hidupmu yang membuat kamu tuh sangat menyayanginya dan bisa membuatmu menangis?" celetuk Shesa mencoba memancing Vano.
"untuk apa kamu tanya itu, ya jelas kamu lah, kamu dan baby kita adalah segalanya bagiku" jawab Vano.
"ya...aku mau tanya ajah sih, kali aja ada orang lain selain aku yang bisa menggetarkan hati seorang pak Vano Adiputra Perkasa" ucap Shesa.
Vano terdiam dan menoleh kearah Shesa.
"kamu mau tahu!" seru Vano menatap bola mata yang indah itu.
Shesa mengangguk dan tersenyum "aku mau tahu."
"dia adalah wanita lain selain dirimu, pesonanya tak bisa membuatku melupakannya, wanita itu akan selamanya dalam hatiku, aku akan menyayanginya sepanjang hidupku, andai waktu bisa ku putar kembali, aku ingin melihat mamaku untuk sekali saja" ucap Vano lirih.
"bagaimana jika mama Leona hadir kembali, apa yang kamu lakukan?" tanya Shesa penasaran
Vano menghela nafas panjang.
"jika mama hadir didepan ku saat ini, aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini, akan ku basuh kakinya, kucium tangannya, dan kupeluk dengan bahagia, dan ku ucapkan padanya 'mama aku kangen mama" ucap Vano dengan mata yang berkaca-kaca.
"kau tahu sayang, seorang Vano hanya tunduk dan menangis hanya untuk dua orang wanita" sambung Vano menatap dalam-dalam mata istrinya.
"kamu dan mama" ucapnya sembari mencium kening Shesa.
"I love you baby" seru Shesa sembari memeluk suaminya.
"I love you to" sahut Vano sembari mencium tangan Shesa.
Hingga akhirnya Perjalanan mereka telah sampai di desa Sumber Waras, desa tempat tinggal Nata dan keluarganya.
mobil berhenti di sebuah rumah sederhana yang berdinding kayu, namun terkesan sangat asri dan alami, Shesa dan Vano turun dari mobil.
"tuan nona, selamat datang di gubuk saya, silahkan masuk" seru Nata mempersilahkan majikannya untuk masuk kedalam rumah.
tiba-tiba seorang wanita bercadar tengah berjalan menghampiri Nata.
__ADS_1
Nata melihat wanita itu dan memeluknya untuk melepas rindu.
"bibi Lily, Nata kangen sama bibi, oh iya ibu mana bi?" tanya Nata kepada wanita itu yang dipanggil Nata dengan bibi Lily, wanita itu hanya menunjuk kearah belakang tanpa bicara apapun, dan Nata mengerti maksud bibi Lily.
"tuan muda, nona muda...kenalin ini bibi Lily" seru Nata memperkenalkan wanita bercadar itu kepada Vano dan Shesa.
mereka saling bersalaman, Vano meraih tangan wanita itu, sejenak ada perasaan yang aneh saat Vano menyentuh tangan bibi Lily.
bibi Lily menatap wajah Vano, seolah ia pernah melihatnya.
"wajah pemuda ini, seperti tak asing bagiku" gumam bibi Lily
bibi Lily memiliki keterbatasan, ia tak bisa bicara, ia hanya menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.
" oh iya bibi, mereka ini adalah majikan Nata yang ada di Surabaya, mereka berdua mau berlibur disini" seru Nata Kepada bibi Lily.
dan bibi Lily hanya menganggukkan kepala.
kemudian Shesa mencium tangan bibi Lily, sejenak bibi Lily tercengang dengan cincin yang dipakai Shesa, cincin putih yang di hadiahkan nenek untuknya dihari pernikahan mereka, sebagai simbol Shesa adalah menantu di keluarga besar Hendrawan Perkasa.
"cincin ini, oh ya Tuhan kenapa seolah aku pernah memakai cincin ini, tapi dimana, aku tidak ingat sama sekali" ucap bibi Lily dalam hati
lantas bibi Lily masuk kedalam rumah, setelah Vano dan Shesa bersalaman dengannya, Vano dan Shesa tampak terkejut dengan sikap bibi Lily yang tiba-tiba meninggalkan mereka berdua.
"maafkan bibi Lily tuan muda, beliau memang sedikit tertutup, tapi sebenarnya dia baik kok" seru Nata.
"silahkan duduk tuan muda, nona saya ambilkan minum dulu" seru Nata Kepada keduanya.
"tidak perlu repot-repot Nata" seru Shesa
"nggak repot kok, saya malah seneng" ucap Nata dari dalam.
tak berselang lama seorang wanita paruh baya baru pulang dari kebunnya, ia sangat kaget melihat mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.
"mobil siapa itu?" seru wanita tersebut.
kemudian ia mulai masuk kedalam rumahnya, ia sangat terkejut melihat dua anak muda yang sedang duduk di ruang tamu.
Shesa berdiri dan menyapa wanita itu yang tak lain adalah ibunya Nata.
"selamat siang Bu, kami berdua dari Surabaya, saya Shesa dan dia suamiku Vano Perkasa" seru Shesa memperkenalkan diri.
"ooo...pak Vano yang sering di ceritain Nata? ya Allah Gusti, saya sangat senang sekali bisa bertemu dengan majikan Nata yang terkenal baik hati" seru ibunya Nata dengan bahagia.
__ADS_1
sementara Nata keluar dan membawakan minuman untuk Shesa dan Vano.
"silahkan tuan muda, nona...maaf nggak bisa kasih minuman mewah, cuma ini seduhan teh asli dari perkebunan di daerah kami" seru Nata
Shesa dan Vano bercengkrama dengan Nata dan ibunya, sementara bibi Lily mendengarkan keseruan mereka dari balik pintu, tak bisa di bohongi ada rasa bahagia terpancar pada sorot mata wanita bercadar itu, saat dia melihat wajah Vano yang membuatnya tenang.
"ya Tuhan, siapakah pemuda itu, kenapa aku sangat bahagia sekali saat memandang wajahnya, ini benar-benar aneh" kata hati bibi Lily
*******
sementara di kediaman rumah Veronica, tampak ia sedang menghubungi seseorang.
"cepat kamu cari wanita itu, aku tidak mau tahu, setelah kalian mendapatkannya, habisi dia...aku tidak mau dia kembali" perintah Veronica pada anak buahnya.
Helena tanpa sengaja mendengar Percakapan Mommy nya dengan seseorang lewat telepon tadi.
"Mommy, wanita yang mana? Mommy mau menyakiti wanita itu? siap Mom?" tanya Helena yang tiba-tiba mengejutkan Veronica.
"Helena, sedang apa kau disini?" tanya Veronica balik.
"maafkan Helena Mom, Helena tidak sengaja mendengar mommy berbicara lewat telepon" seru Helena terus terang.
"apa maumu?" tanya Veronica.
"sebenarnya aku mau nanyain sesuatu sama Mommy!" ucap Helena memberanikan diri bertanya kepada Veronica tentang selendang itu.
"tempo hari Helena memergoki pelayan sedang membuang sebuah selendang sutra berwarna biru, setelah Helena tanya, katanya selendang itu punya Mommy, apa itu benar Mom?, dan Mommy mau membuangnya?" Veronica benar-benar terkejut mendengar penuturan sang putri.
"iya... selendang itu punya Mommy, karena Mommy udah bosan jadi ya, Mommy buang aja" ucap Veronica beralibi.
"benarkah selendang itu punya Mommy?" tanya Helena menyelidik.
"tentu saja, memang nya Mommy nggak boleh membuang selendang yang Mommy sudah bosan memilikinya!" seru Veronica
"benarkah selendang itu milik Tante Leona?" tanya Helena yang langsung menjurus ke topik pembicaraan.
"Helena apa maksudmu? kenapa Mommy harus menyimpan selendang milik Leona?" ucap Veronica gugup
Helena mendekati Mommy nya dan memandang tajam kedua bola mata itu.
"hanya Mommy yang tahu, kenapa Mommy menyimpan selendang Tante Leona disaat beliau mengalami kecelakaan 15 tahun yang lalu" ucap Helena yang membuat Veronica semakin terkejut
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
DUKUNG TERUS YA 🥰🥰🥰