
Keesokan harinya.
Tampak Shesa sedang sibuk mengoleskan krim ajaib itu pada lehernya, perbuatan sang suami semalaman, membuat lehernya penuh dengan lukisan cinta.
"Bisa nggak sih, kalau bikin gambar jangan di tempat ini, suka banget ninggalin jejak disini" ucap Shesa lirih, dan tanpa sengaja Vano mendengarkan nya.
"Hm...tapi kamu suka kan?" seru Vano sembari mencium pipi Shesa.
"Nggak, aku nggak suka" jawab Shesa mengelak, Vano menyeringai.
"Nggak suka? tapi kamu mende*ah hebat semalam, baby I like it" bisik Vano yang membuat Shesa mengedipkan matanya.
"emm...udah dong sayang, ayo kita turun, kita sudah ditunggu sama nenek, papa Hendra dan mama Leona" ucap Shesa sembari menggandeng tangan Vano untuk keluar dari kamar mereka.
Namun tiba-tiba Vano menarik tangan Shesa sehingga ia masuk kedalam dekapan suaminya.
"Sebelum kita sarapan, aku ingin sarapan bibir yang manis ini, yang selalu membuatku candu untuk terus merasakannya"
Tanpa aba-aba Vano segera mengecup dan mengulum bibir manis sang istri, Shesa hanya bisa pasrah, saat Vano mulai menguasai dirinya.
Hingga beberapa saat Vano melepaskan pagutan mesranya, kemudian Shesa mengelap bibir sang suami yang terkena lipstik yang dipakai oleh Shesa, Vano menatap wajah istrinya penuh kemesraan, ia menyibakkan rambut Shesa yang terjatuh di pundaknya.
"Kamu cantik sekali, sangat cantik" puji Vano kepada istrinya.
"Sudah bersih" seru Shesa sembari tersenyum, bekas lipstik yang menempel di bibir Vano sudah tidak ada lagi.
"Kamu gadis SMA ku yang sangat cantik, aku mencintaimu"
"Sudahlah sayang, kapan kita sarapan kalau kamu merayu aku terus" sahut Shesa
"Baiklah ayo kita turun...oh iya sayang, hari ini aku akan menjemputmu pulang sekolah, setelah aku menjenguk Tante Veronica, aku akan mengajakmu shopping, kita belanja perlengkapan bayi" ucap Vano senang
"Tapi sayang, waktu melahirkan masih lama , tunggu 6 bulan lagi, apa tidak terlalu cepat, kata orang-orang itu pamali" seru Shesa
"Maksudnya"
"Ya...kata orang-orang tua dulu, nggak boleh terlalu cepat mempersiapkan perlengkapan bayi sebelum mendekati hari kelahiran" ungkap Shesa
__ADS_1
Apa yang diutarakan Shesa membuat Vano tertawa, ia tak menyangka masih ada saja kepercayaan seperti itu.
"Kok kamu malah tertawa sih?" tanya Shesa heran melihat tingkah laku suaminya.
"Kamu masih percaya sama gitu-gituan? berarti kita tidak percaya dong dengan kekuasaan sang Pencipta, sayang...udah ya jangan percaya sama yang begituan, kita yakin pasti Tuhan akan melindungi kita hm...oke, aku sudah tidak sabar melihat baju-baju bayi yang lucu, kaos kaki yang mungil, semuanya ingin ku beli" ungkap Vano yang tak sabar lagi ingin bertemu dengan bayinya.
"Baiklah, nanti kita belanja, tapi sayang... apa kamu tidak ke kantor?" seru Shesa
"Jangan khawatir, sekertaris Jimmy selalu bisa diandalkan, tidak ada rapat penting hari ini, hanya pertemuan biasa, dan sekretaris Jimmy pasti bisa mengatasinya" jelas Vano menuturkan.
*****
Akhirnya mereka berdua turun dan menghampiri keluarga besar yang sedang menunggu kedatangan Vano dan Shesa di meja makan.
"Selamat pagi semua"
"Selamat pagi nak"
"Vano, maafkan papa ya, atas ucapan papa semalam, yang sudah membuatmu tidak suka" seru Hendra
"Sudahlah pa, papa tidak perlu minta maaf kepada Vano, justru Vano yang harus minta maaf kepada papa, tak seharusnya Vano bersikap seperti itu kepada papa, maafkan Vano pa" ucap Vano merendah.
"Apa yang papa bicarakan? papa ingin menemui wanita itu, pliss pa jangan lakukan itu, dia wanita yang berbahaya, Vano tidak mau terjadi apa-apa dengan papa" ucap Vano khawatir.
"Papa mengerti kekhawatiran mu nak, Helena sudah menceritakan semuanya kepada papa, jadi kamu tidak perlu cemas, papa pastikan Siska tidak akan mengganggu hidup kalian lagi" ucap Hendra meyakinkan.
"Apa kamu yakin mas, bisa membujuk gadis itu?" tanya Leona cemas
"Leona, kamu tidak perlu meragukan kemampuan suamimu, ibu yakin Hendra pasti bisa membujuk gadis itu" sahut nenek menenangkan.
Vano sangat khawatir jika Siska berbuat macam-macam kepada Hendrawan, maka dari itu Vano mengutus anak buahnya untuk mengawasi Hendra, dan juga untuk melindungi keselamatan Hendra.
*******
Di rumah sakit.
Tampak seorang gadis tengah duduk disamping seorang wanita yang tengah terbaring, dengan banyak selang dan infus yang menempel di tubuhnya, Vano mendekati Helena yang selalu mendampingi Veronica.
__ADS_1
Helena belum menyadari kedatangan Vano, karena ia tertidur disamping ibunya, sedangkan Veronica tersenyum melihat kedatangan Vano, dengan suara berat dan terbata-bata, Veronica mencoba berbicara kepada Vano.
"Va...Vano...ka..kamu datang" ucapnya dengan suara berat, tiba-tiba Helena terbangun dan ia mendapati Vano sudah ada disamping Mommy nya.
"Vano!...maaf aku ketiduran, duduklah" ucap Helena sembari memberikan kursinya untuk Vano.
"Terimakasih, sudah lanjutkan saja tidurmu, aku akan ngobrol-ngobrol dengan Mommy mu!" seru Vano.
"Iya ...aku tadi ketiduran, aku capek banget"
"Ya sudah, kamu istirahat saja, biar aku disini bersama Mommy mu, jangan khawatir aku tidak akan macam-macam" ucap Vano tersenyum.
Kemudian dokter Erick datang ke dalam ruangan, ia hendak memeriksa keadaan Veronica, namun ia sangat senang saat melihat sohib nya datang menjenguk Veronica.
"Hai bro, sudah lama kamu disini!" seru Dokter Erick.
"Hei dokter, nggak juga, lima menitan" balas Vano tersenyum.
"Bagaimana keadaan Tante Veronica? apa ada kemajuan?" tanya Vano kepada dokter Erick.
"Masih sama, hari ini kami akan melakukan kemoterapi kepada beliau, semoga saja dengan itu, kondisi nyonya Veronica akan membaik" ucap dokter Erick penuh harap
"Kalau itu tidak berhasil, terpaksa kita harus membawa nyonya Veronica ke Singapura, peralatan medis disini masih belum lengkap, jadi kita ada keterbatasan peralatan" jelas dokter Erick.
"Kita bawa saja ke Singapura, aku yang akan menanggung nya" ucap Vano serius.
"Masalah nya Nyonya Veronica masih berstatus tahanan, aku tidak berani memberi surat pernyataan" seru dokter Erick.
"Untuk hal itu, kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan menanganinya, persiapkan segera untuk keberangkatan Tante Veronica ke Singapura, aku ingin melihat Helena tersenyum kembali" seru Vano sembari menatap sepupunya itu.
Helena menghampiri Vano, dengan tatapan yang berkaca-kaca, Helena mengucapkan terimakasih kepada Vano, buliran bening itu jatuh tak terbendung.
"Entah hatimu terbuat dari apa brother, kamu masih saja mau menolong Mommy, aku sangat berterima kasih kepadamu, dan ini semua juga berkat Shesa, dia sudah berhasil membuat seorang Vano Perkasa yang sombong dan arogan, menjadi Vano yang penuh dengan kasih dan sayang, terimakasih" ucap Helena penuh keharuan.
"Sudahlah, aku sudah bilang, apapun yang menjadi bebanmu, aku pasti akan membantumu" ucap Vano sembari tersenyum.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥
...SLOW YA BEB, SI BOCIL PADA DEMAM, JADI AUTHOR AGAK SLOW UPDATE NYA, MOHON DOANYA YA🙏🙏...