
Shesa memutar bola matanya, ia mencoba memikirkan sesuatu untuk beralibi, Monic melihat itu, melihat Shesa yang nampak kebingungan, lantas ia langsung mengalihkan pertanyaan Nabila.
"ya ampun Nabila, emangnya yang membeli buket bunga itu cuma pak Vano doang, terus ngapain juga pak Vano ngasih bunga pada Shesa, ya nggak mungkin lah" tepis Monic sembari mengambil buket bunga itu dari tangan Shesa, lantas ia menaruh kembali bunga itu diatas meja, Nabila masih nampak bingung.
"tentu saja Shesa juga punya bunga mawar yang sama seperti punya pak Vano, secara Shesa kan menyukai bunga mawar juga, iya kan Sha?" Monic menatap Shesa sembari mengisyaratkan sesuatu agar ia juga mengikuti permainannya.
"ah... iya, Monic bener banget, tadi aku sempet pesan bunga mawar, biar kamar ini harum dan kalian betah, soalnya kalian kan mau bermalam di kamar ini" jawab Shesa sedikit gugup.
"oohh gitu, aku pikir ini bunga yang sama, yang dibeli pak Vano tadi di toko bunga" pikir Nabila.
"emangnya pak Vano mau ngebeliin bunga mawar buat aku? nggak mungkin kan?sudahlah...kita istirahat aja yuk" ajak Shesa pada ketiga temannya.
"iya juga sih, bisa-bisa istrinya marah-marah" sahut Nabila.
"kata pak Vano, istrinya itu galak banget, cemburuan, hii pokonya istrinya itu menakutkan" sahut Mita sembari bergidik ketakutan.
"apa? dia bilang gitu?" seru Shesa sembari membulatkan matanya.
"iya...masa kamu nggak tahu sih, pak Vano sendiri loh yang bilang, sebenarnya kasihan ya pak Vano, dapat isteri yang galak dan cemburuan gitu" sambung Nabila.
Shesa benar-benar tidak menyangka Vano berkata itu pada teman-teman nya, ia menghela nafas panjang dan berusaha mengatur emosi nya agar tidak terlihat kesal dimata Mita dan Nabila.
"eih...sudah kita tidur yuk" ajak Monic yang mulai beranjak naik keatas kasur Shesa, Mita dan Nabilapun ikut naik ke atas tempat tidur mewah itu.
*******
di kamar Vano.
Vano telah selesai dengan ritual mm mandinya, lantas segera ia mengganti bajunya dengan piyama kimono, hari ini Vano benar-benar disibukkan dengan urusan pekerjaan, ia mengambil laptop nya dan membuka kembali lembar kerjanya yang belum tuntas ia selesaikan.
__ADS_1
tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Vano sudah selesai melengkapi berkas-berkas penting yang ia butuhkan, kemudian ia menutup laptopnya dan mulai beranjak tidur.
namun sayang, malam ini Vano tak bisa memejamkan matanya, ia teringat bayangan Shesa ketika berada disampingnya, seperti seorang bayi, yang tidak akan bisa tidur sebelum di Nina bobok in sama ibunya, hal yang terjadi pada direktur yang sedang bucin ini.
Vano mengambil ponselnya, ia menghubungi nomor Shesa, ia ingin tahu apakah Shesa masih terjaga atau sudah berada di alam mimpi.
Shesa yang tidur bersama ketiga temannya, mendadak terbangun, ia juga tak bisa tidur memikirkan Vano, Shesa melihat ketiga temannya sudah tertidur pulas, dengan perlahan Shesa turun dari ranjang itu, ia melihat ponselnya menyala, kemudian ia mengambil ponselnya yang berada diatas meja.
Shesa membuka ponselnya, matanya membulat sempurna saat melihat isi pesan dari Vano.
"sayang, Kemari dong, aku nggak bisa tidur nih" kata Vano dalam pesan di ponsel Shesa.
"aku nggak bisa sayang, kalau mereka mencariku gimana dong!" balas Shesa.
"ayolah , kesini cepetan " imbuh Vano.
" nggak bisa, pokonya nggak bisa!" seru Shesa tetap pada pendiriannya.
"enggak..." jawab singkat.
"baiklah, kalau kamu nggak mau datang kesini, lebih baik aku keluar dari kamar ini, dan pergi ke cafe, mencari hiburan" goda Vano sembari tersenyum smirk.
"apa? jangan pergi sayang, angin malam nggak bagus buat kesehatan" seru Shesa.
"mau gimana lagi, aku kesepian...ya udah kalau nggak mau kesini, aku pergi sekarang..."
Shesa bingung harus melakukan apa, jika dia pergi ke kamar Vano, maka teman-teman nya akan mencarinya, namun jika dia tetap di kamar bersama ketiga temannya, maka Vano yang akan pergi keluar hotel.
Shesa tidak mau Vano pergi, Shesa tidak akan bisa tidur tenang, jika suaminya berada diluar sana, maka dari itu terpaksa Shesa harus pergi ke kamar sebelah, tempat dimana Vano sudah menunggu Shesa.
__ADS_1
Shesa melihat ketiga sahabatnya itu sangat tidur dengan nyenyak, maka perlahan Shesa beranjak keluar dari kamar itu, dan ia mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Vano, Vano dengan tenangnya menunggu Shesa sembari menyandarkan tubuhnya diatas tempat tidur mewah itu.
,aku tahu kau akan datang sayang, dalam hitungan detik aku yakin kau akan berdiri didepan pintu itu" seru Vano dengan semangat, dan Vano mulai berhitung mundur.
"lima...empat...tiga...dua...
sa..." belum selesai Vano menyelesaikan kata-katanya, Shesa sudah membuka pintu kamar Vano.
senyum kemenangan Vano mulai menghiasi wajahnya yang maskulin, ia sangat yakin Shesa pasti datang untuknya, kemudian ia beranjak menghampiri Shesa yang masih berdiri di balik pintu.
Shesa melihat Vano dengan perasaan yang campur aduk, disisi lain ia masih kesal dengan suaminya itu, disisi lain ia juga membutuhkan kehangatan dari Vano.
"aku tahu kau akan datang sayang" kata-kata Vano dengan suara seraknya, membuat Shesa semakin ingin bersama dengan suaminya itu.
"jangan pergi, aku akan selalu ada di sampingmu" seru Shesa sembari menatap Vano lekat-lekat.
Vano terus berjalan melewati Shesa, dan Shesapun menoleh ke arah Vano, ia melihat Vano berada didepan pintu, badannya yang tinggi tegap membuat seluruh sisi pintu itu tertutup oleh badan Vano, Shesa berfikir Vano akan keluar dari kamar, nyatanya Vano justru mengunci pintu itu.
kemudian Vano memutar badannya menghadap Shesa, tangannya dengan cepat menarik tubuh Shesa kedalam pelukannya, tatapan mata itu tak bisa Shesa hindari, entah kenapa disetiap Vano mendekati dirinya, aliran darah nya semakin cepat, degup jantungnya semakin berdetak sangat kencang, apalagi pagutan mesra dari bibir menjalar hingga seluruh tubuh Shesa, membuat nya tak bisa melepaskan Vano begitu saja dari dirinya.
suasana dalam kamar itu berubah menjadi panas, saat suara-suara merdu itu mendominasi seluruh udara yang ada di ruangan yang sudah dilengkapi kedap suara itu, hentakan demi hentakan mendominasi gerakan lincah Vano, lagi...lagi..lagi...dan lagi...
untuk kesekian kalinya kedua insan itu bercucuran keringat, terhempas diatas tempat tidur, saling mendekap satu sama lainnya, hingga akhirnya keduanya menuju ke alam mimpi.
jam 3 pagi, tiba-tiba Mita terbangun, ia merasa ingin pipis, namun ia sangat terkejut, karena tak mendapati Shesa berada bersama mereka.
"Shesa kemana ya?" seru Mita penasaran, lantas ia mencarinya di sudut ruangan, namun sia-sia keberadaan Shesa tak jua ia temukan, karena panik Mita membangunkan Monic dan Nabila.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥