Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Ngidam seblak


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Excel terlihat duduk sendirian disebuah kursi dengan menyilangkan kedua kakinya, sesekali ia menghisap rokok dan meminum secangkir kopi untuk menemaninya begadang malam ini, sejak dua bulan ini, ia terpaksa tidur di luar kamarnya, demi kenyamanan sang istri yang tengah mengalami morning sickness. Terlihat Romi yang sedang menghampiri Excel.


"Elu belum tidur bang?" tanya Romi sembari menemani duduk Excel.


"Udah dua bulan ini Gue nggak bisa tidur, mendadak gue punya insomnia" jawabnya.


"Insomnia? emang apa yang elu pikirin?" tanya Romi penasaran.


"Nggak ada...." jawab Excel sembari mematikan puntung rokoknya pada asbak.


"Lah terus kenapa elu disini? bukannya sama kak Vera, elu sengaja tinggalin dia tidur sendiri" ucap Romi tanpa dosa.


"Ah elu...andai saja di bolehin tidur bareng, nggak bakalan gue kena insomnia" jawab Excel


"Hah...emangnya kalian bertengkar, sampai elu nggak boleh tidur sama dia" ujar Romi penasaran.


"Bukan....sejak kakamu hamil, dia nggak mau dekat sama abang, katanya nggak suka nyium bau abang, yang bikin gue lebih pusing, kata dokter gue di suruh nunggu sampai trimester pertama, alias 3 bulan...ampe kakakmu udah nggak eneg lagi nyium bau abang"


Ucapan Excel membuat Romi menahan tawanya, wajahnya memerah karena saking inginnya tertawa. Dan tentu saja itu membuat Excel terkejut.


"Elu...bukannya kasihan ama gue, malah ketawa" seri Excel kesal. Romi kemudian menghentikan rasa ingin tertawanya.


"Emang separah itu ya? kasihan banget lu bang" ucap Romi yang membuat Excel bertambah pusing.


"Ah elu bukannya kasih solusi, malah ngapokin gue lu, dasar ...awas aja entar kalau nanti elu udah nikah, trus bini lu kayak gini, baru tahu rasa lu" seru Excel mengingatkan, membuat Romi semakin ingin tertawa, baru kali ini Romi melihat sikap Excel yang manja.


"Iya...iya sorry, oh iya bang kapan nih kita ke rumah Laura, gue udah nggak sabar" seru Romi


"Cie...elu udah kebelet ya" ledek Excel sembari menyenggol badan adiknya. Romi tampak tersipu malu.


"Gue juga pingin kali punya keluarga seperti kalian, ayo dong bang, jangan lama-lama, apa elu nggak kasihan sama gue, teman-teman gue udah pada nikah, gue doang yang masih jomblo" ucap Romi


"Iya...iya...apa perlu besok kita ke rumah Laura, biar kamu senang" Ucapan Excel membuat Romi langsung merangkul kakak nya.

__ADS_1


"Bener nih bang...terima kasih bang, elu emang abang gue yang paling ganteng dan paling baik" seru Romi saking senangnya, sembari merangkul erat tubuh Excel, sehingga membuat sang kakak terlihat kehabisan nafas.


"E..e..e..lepasin gue...lu mau gue mati kehabisan nafas...h...hh...hh.." pekik Excel dengan dada yang naik turun.


Romi dengan cepat melepaskan rangkulannya, terlihat Excel maraup udara dengan rakus karena ia mulai kehabisan oksigen akibat ulah adiknya.


"Sorry sorry bang, gue nggak sengaja, gue seneng banget mendengarnya, yess makasih banyak bang" seru Romi senang.


"Iya...iya...tapi sebelumnya elu beliin gue seblak dong, entah kenapa gue pingin banget makan seblak" ujar Excel


"Haa...malam-malam gini makan seblak? kayak orang ngidam saja, padahal sebelumnya elu nggak doyan makan seblak, sebenarnya yang hamil tuh elu apa kak Vera sih" tanya Romi


"Tiba-tiba saja gue ingin makan itu, cepetan beliin nggak pake lama, cerewet!" seru Excel memaksa.


"Iya..iya..." balas Romi sembari beranjak pergi dengan motor kesayangan nya.


Tanpa mereka sadari Vera mendengarkan percakapan Romi dan Excel di balik pintu, Vera ikut senang melihat keseruan kakak beradik itu, jujur dalam hatinya ia juga merasa kasihan dengan sang suami, setiap malam suaminya harus tidur sendirian, tapi mau gimana lagi, ini bukan kemauannya.


"Maafkan aku sayang, tapi ini semua di luar kendaliku, aku harap kamu bisa bersabar" gumam Vera.


*******


"Mungkin sudah saatnya aku memberi hadiah untuk suamiku" gumam Shesa sembari mengenakan gaun eksotik itu. setelah beberapa saat, ia menghela nafasnya, terlihat dengan indah lekuk tubuhnya yang terekspos sempurna.


Shesa tersenyum tipis, ia berharap Vano menyukainya. Shesa menyemprotkan parfum kesukaan sang suami, wangi blossom yang selalu membuat Vano ingin menciumnya, ia menambahkan lagi lipstick yang sempat hilang akibat ciuman tadi. Rambutnya ia biarkan tergerai indah menghiasi wajah cantiknya.


Shesa berdiri di depan cermin besar yang memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya, tampak ia mengambil nafas dalam-dalam, ini momen kali pertama sejak ia melahirkan sang buah hati, sedikit ada perasaan gugup dan cemas.


"Semoga saja berjalan lancar, oh ya ampun kenapa aku gugup sekali saat ini, padahal kami dulu sudah sering melakukannya, entah kenapa seolah hari ini adalah malam pertama bagiku" ucapnya lirih. Dan tiba-tiba saja ia mendengar Vano memanggilnya dari luar.


"Sayang...kamu dimana?" seru Vano yang mencari-cari keberadaan istrinya.


"Oh ya ampun, dia sudah datang...tambah deg-degan nih" ucap Shesa sambil mondar-mandir kesana kemari. Sontak ia menjawab Vano dari dalam.

__ADS_1


"Bentar sayang, aku sedang ganti baju" ucapnya sedikit keras, Vano mendengar suara istrinya dari balik ruangan ganti.


"Baiklah, aku mandi dulu" ucap Vano sembari melepaskan jasnya dan meninggalkan dalaman kemeja putih yang sudah terbuka kancingnya. Sementara Vano masih mengecek sebentar panggilan yang masuk pada ponselnya sebelum ia pergi mandi.


Tiba-tiba saja Vano mendengar pintu ruang ganti terbuka.


"Ceklek "


Vano masih diam ditempatnya, menunggu sang istri keluar dari sana.


********


Di dalam ruang ganti


"Huffttt....untung dia pergi mandi, lebih baik aku keluar sekarang, sebelum dia selesai, aku masih gugup dia melihatku seperti ini" pikirnya, Kemudian, perlahan Shesa keluar dari ruang ganti itu, ia merasa Vano masih berada di dalam kamar mandi, dengan segera Shesa beranjak ke tempat tidurnya, baru saja ia melangkahkan satu kakinya, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang dan....


"Set"


Perasaan Shesa mendadak tak karuan, matanya membulat sempurna, badannya panas dingin saat ia mengenali genggaman tangan itu, ia semakin susah menelan ludahnya, sementara ia mulai terpejam saat deru nafas yang tak asing baginya itu tengah menyapu tengkuknya.


"Sayang...kamu" suara Shesa sedikit tertahan saat kecupan lembut itu mendarat di pipinya yang merona.


"Hmm" jawab Vano sembari menikmati harum blossom dari tubuh istrinya.


Dengan segera Shesa membalikkan badannya, Ia melihat wajah sang suami yang terlihat penuh kebahagiaan di malam ini. bibir Shesa bergetar, ia mencoba berbicara kepada suaminya.


"Ka...katanya tadi kamu mandi, kenapa masih ada disini?" tanya Shesa sembari menundukkan wajahnya.


"Hmm..."


BERSAMBUNG


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


...Maafkanlah othorπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2