
Hari berganti hari, semuanya sudah berubah, kini Baby Ray sudah berumur satu tahun, Ray sudah bis berjalan meskipun masih sedikit tertatih, setidaknya bayi kecil Vano dan Shesa kini tumbuh semakin besar dan semakin lucu.
Seperti biasa setiap pagi Shesa menyiapkan segala sesuatunya untuk sang suami tercinta untuk berangkat ke kantor, sedangkan dirinya sendiri juga bersiap untuk kuliah di suatu Universitas jurusan tata busana di kotanya.
Shesa berangkat kuliah pagi bersama Vano, sementara sore harinya Shesa sibuk mengurusi bisnis butiknya.
"Sayang mungkin nanti aku pulang sedikit telat, ada proyek baru yang harus ku kerjakan, kamu tidak apa-apa kan?" seru Vano sembari melingkarkan tangan nya pada pinggang Shesa.
"Hmm...nggak papa, memangnya aku harus marah" jawab Shesa sembari memainkan dasi sang suami.
"Kali ajah kamu menungguku, aku kan ngangenin buat kamu" ucap Vano sembari menempelkan hidungnya pada hidung istrinya.
Tiba-tiba Shesa mencium parfum beraroma jasmine pada badan Vano.
"Hmm...sayang parfum kamu ganti ya sekarang? kok aromanya mirip bunga melati!" ucap Shesa sembari mencium-cium tubuh suaminya.
"Iya...nggak tahu pingin ajah pakai parfum jasmine, aromanya bikin tenang" ujarnya
"Ya udah kita sarapan dulu" ajak Shesa
"Baiklah ayo" jawab Vano sembari merangkul istrinya.
Setelah beberapa saat Vano dan Shesa telah tiba di meja makan, sudah ada Hendrawan, Leona dan nenek yang menunggu kedatangan mereka berdua.
"Selamat pagi semua" sapa Vano sembari duduk di kursinya.
"Pagi juga nak" jawab Leona diiringi senyum Hendra dan nenek.
Shesa pun duduk disamping suaminya, kemudian mengambilkan nasi untuk Vano, namun tiba-tiba saja Vano merasa mual dan ingin muntah ketika mencium aroma nasi yang disediakan oleh istrinya.
"Huuuk...huukkk" Vano segera pergi ke kamar mandi karena perutnya sangat ingin muntah. Shesa mengikuti suaminya yang tengah pergi ke kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Shesa sambil memijit tengkuk Vano, membantunya agar lebih mudah mengeluarkan isi dalam perutnya.
"Vano kenapa tuh, nggak biasanya dia muntah-muntah" tanya Hendra khawatir
"Mungkin saja masuk angin mas, akhir-akhir ini dia sering pulang malam" jawab Leona menebak.
Sementara itu di kamar mandi, Vano masih terlihat muntah-muntah nggak jelas, tak ada sesuatu yang dikeluarkan dari perutnya, dia hanya merasa ingin muntah-muntah setelah mencium aroma nasi, setelah beberapa saat, ia mulai menyandarkan tubuhnya yang lemas pada dinding kamar mandi, sang istri dengan telatennya mengusap keringat yang keluar dari wajah tampan suaminya.
"Sayang kamu kenapa? kamu masuk angin ya?" seru Shesa
__ADS_1
"Aku nggak tahu deh sayang, tiba-tiba saja perutku mual saat mencium aroma nasi yang kamu berikan untukku tadi" jawab Vano sambil menyandarkan kepalanya pada pundak istrinya, bak anak kecil yang merajuk pada ibunya, Vano seolah ingin sekali membenamkan wajahnya pada pelukan Shesa, aroma tubuh istrinya membuatnya tenang dan tidak merasa mual lagi.
"Sayang, ayo kita kembali ke meja makan, mereka pasti sedang menunggu kita" ajak Shesa.
"Hmm...tidak, biarkan aku mencium aroma tubuhmu dulu, ini membuatku tenang dan tidak mual lagi" jawab Vano sembari menghirup-hirup aroma blossom pada tubuh Shesa.
Setelah beberapa menit akhirnya Vano sudah tidak merasakan mual lagi, wajahnya kembali fresh dan siap untuk pergi ke kantor.
"Baiklah ayo kita kesana, tapi aku tidak mau sarapan pakai nasi dan roti, itu membuatku sangat pusing" ucap Vano.
"Tumben sih kamu kok gitu makannya, kamu sakit? kita ke dokter yuk" ajak Shesa membujuk suaminya.
"Nggak usah ngapain juga ke dokter, si Erick lagi sibuk mempersiapkan kelahiran bayi mereka, lagian aku tuh nggak papa, tuh" seru Vano sembari meyakinkan pada istrinya bahwa dirinya baik-baik saja.
Sementara itu Vano langsung berangkat ke kantornya bersama Shesa, tanpa sarapan dulu.
"Loh Vano, kamu nggak sarapan dulu nak" seru Leona saat Vano berpamitan kepada mereka.
"Vano sarapan di kantor aja ma, lagi nggak nafsu makan" jawabnya.
"Loh suamimu kenapa nak, apa dia lagi sakit?" tanya Leona pada Shesa.
"Nggak tahu Ma, katanya dia mual bila mencium aroma nasi" ungkap Shesa.
"Ray jagoan papa, sini papa mau gendong kamu" Vano menggendong Ray dan menciumnya beberapa kali.
"Papa berangkat dulu ya sayang, Ray di rumah ya bersama bu Lasmi"
"Pa..pa..pa..pa..." celoteh Ray sambil memegang kedua kuping Vano dan menarik-nariknya.
"Awww...Ray kok jewer papa sih" ucap Vano sambil menggelitik perut Ray dengan hidungnya, alhasil si anak tertawa terpingkal pingkal.
"Ray...sudah Sayang, Papa dan Mama berangkat dulu, Ray baik-baik ya di rumah, nggak boleh nakal, nanti siang Mama sudah pulang bermain bersama Ray...hmm" seru Shesa yang diiringi pelukan Ray yang bergelayut manja dan membenamkan wajahnya pada perut sang Mama.
"Hei Ray...kamu Kenapa sayang, kenapa? perut mama sekarang gendut ya!" seru Shesa sembari mengusap perutnya dan mencium kening putranya
Ray tersenyum melihat perut mamanya dan sesekali menyentuhnya seraya berkata.
"Ma...ma..ma...de..de..." celotehnya yang begitu menggemaskan. Vano melihat jam tangannya, sudah waktunya mereka berangkat.
"Sayang, ayo kita berangkat, Papa dan Mama berangkat dulu ya nak, muach" seru Vano sembari mencium putra semata wayangnya, begitupun dengan Shesa, ia juga mencium kedua pipi Ray yang menggemaskan.
__ADS_1
"Bu Lasmi, kami tinggal dulu, tolong jaga Ray baik-baik" seru Vano kepada bu Lasmi.
"Jangan khawatir tuan muda, saya pasti menjaganya dengan baik" jawab bu Lasmi tersenyum.
Sementara Bu Lasmi mendampingi Ray saat mobil Vano dan Shesa mulai meninggalkan halaman rumah mewah itu. Setelah beberapa saat, akhirnya mobil mewah itu telah hilang dari pandangan.
Bu Lasmi menggendong Ray dan berbicara kepada balita gemoy itu.
"Waah Ray pingin punya adek ya" ucapan bu Lasmi membuat balita itu tersenyum senang dan mengoceh.
"De ...de...de...ma.ma"
"Bu Lasmi doain supaya Ray punya teman bermain secepatnya" seru bu Lasmi sembari menggendong Ray masuk kedalam rumah.
******
Sementara di dalam mobil, tampak Mario mengendus -enduskan hidungnya, karena dirinya mencium parfum melati yang sangat menyengat sekali.
"Kok bau wangi banget ya, seperti bau melati, hiii ....ngeriii" gumam Mario sembari bergidik, dan tentu saja tingkahnya membuat Vano dan Shesa terkejut.
"Kamu kenapa Mario?" tanya Vano sembari mengerutkan dahinya.
"Eh...anu tuan muda, saya kok ngerasa mencium aroma melati yang menyengat sekali, kata orang-orang tua dulu, kalau ada bau melati kayak gini, katanya ada mbak kunti bersama Tuan muda!" jawab Mario dengan wajah serius.
"Mbak Kunti? mbak Kunti siapa? disini cuma ada aku dan istriku, emangnya kamu udah ganti nama sayang, menjadi mbak Kunti?" seru Vano sambil menatap istrinya yang tampak memijit pelipisnya.
"Bukan nona muda tuan, mbak Kunti itu maksud saya Kuntilanak...hiii" seru Mario sambil memegang tengkuknya.
Tiba-tiba saja.
"Pletok"
Sebuah ballpoint melayang di kepala Mario.
"Awwww..." Pekik Mario sambil mengusap kepalanya dan Shesa hanya terperangah dan tersenyum geli melihat tingkah keduanya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
...Hai reader setia Vano dan Shesa, author sengaja buatin bonus bab untuk kalian sembari menunggu series kedua dari cerita Vano dan Shesa, dan tentunya sesuai request kalian, author akan melanjutkan untuk kisah selanjutnya, yaitu kehidupan anak-anak Vano dan Shesa besarta anak sahabat - sahabatnya. So nantikan Series kedua dari novel ini ya 😊...
...Sebelum itu kalian dukung terus Novel ini dengan tetap berikan like, komen, hadiah serta vote kalian....
__ADS_1
...Setiap komen terbaik akan Author beri pulsa gratis, sebagai tanda terima kasih Author kepada pendukung setia Vano dan Shesa....
...So ayo komen sebanyak-banyaknya, akan saya ambil 3 komentar terbaik...so guys kuyy tunjukan dirimu jika kamu pendukung setia Vano dan Shesa ❤😊...