
Akhirnya terpaksa Shesa memberanikan diri untuk berusaha turun sendiri, ia tidak mau terlalu manja untuk hal yang sepele seperti ini, perlahan ia berpegangan pada tepi bak mandi mewah itu, dengan sangat tertatih ia mencoba berdiri dan menggerakkan kakinya untuk keluar dari bathtub, pelan-pelan ia bisa berdiri dan beranjak keluar dari bak mandi itu.
Nafasnya ngos-ngosan penuh perjuangan, hampir satu jam Shesa berada di dalam kamar mandi, Vano nampak gelisah menunggu di luar, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Shesa yang masih berada dalam kamar mandi.
Shesa berhasil keluar dari bathtub, wajahnya nampak menahan rasa sakit yang masih tersisa, perlahan tangan mungilnya mencoba meraih handuk di atas meja, sedikit demi sedikit ia meraih handuk itu dengan berpegangan pada dinding kamar mandi.
"Huftt...akhirnya nyampe juga"
Shesa memakai langsung handuk putih itu, lantas ia lilitkan pada tubuh polosnya, dengan semangat ia mencoba keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja kakinya terpeleset oleh lantai yg terkena air.
"*A*akkkhhhhhh....."
"Bruuggg"
Shesa terjatuh, pandangannya tiba-tiba berputar, dan akhirnya ia tak sadarkan diri, Shesa tergeletak dilantai kamar mandi, Vano yang mendengar teriakan Shesa dari dalam, segera berlari dan membuka pintu kamar mandi, alangkah terkejutnya saat ia melihat istrinya tengah terbaring di atas lantai kamar mandi.
Vano segera menggendongnya dan membawa Shesa ke tempat tidur, ia menepuk-nepuk pipinya dan sesekali memanggil-manggil nama istrinya itu, namun tak ada jawaban dari Shesa, ia tahu bahwa istrinya ini sedang pingsan.
Vano mencoba membuka handuk yang melilit pada tubuh istrinya, dan menggantinya dengan baju piyama, satu persatu ia lepaskan, meski terkadang nalurinya sebagai seorang pria muncul, namun ia sadar tidak mungkin mengambil kesempatan disaat Shesa sedang tak sadarkan diri.
Setelah beberapa menit, Vano telah selesai memakaikan piyama untuk Shesa, tanpa gadis itu sadari, dengan menghela nafas panjang Vano lantas beranjak ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan piyama.
Setelah beberapa menit selesai berganti baju, pandangan Vano tergoda oleh gadis cantik yang sedang tertidur, ia mulai mendekati Shesa, ia melihat betapa cantiknya saat Shesa terpejam, bak putri salju yang sedang menunggu ciuman dari sang pangeran.
Sejenak Vano mendekatkan wajahnya pada Shesa, bibir ranumnya terlihat segar meskipun tanpa makeup, Vano tergoda untuk mengecupnya, perlahan kecupan lembut itu terasa dingin di bibir Shesa.
Tiba-tiba Shesa mulai tersadar, dan perlahan matanya terbuka, samar ia melihat bayangan seseorang yang berada dekat sekali dengannya, dan bayangan itu seperti menyentuh bibir kecilnya. Kedua mata sayu itu akhirnya terbuka lebar, dan...
"Aaaaaaaa....pergi!" pekik Shesa saat ia sadar bahwa ada seseorang yang menciumnya, ia mendorong tubuh Vano, hingga Vano terjatuh ke lantai.
"bruuggg"
"Awwww......sssss" Vano mendesis kesakitan karena pinggangnya terasa sakit, Shesa yang mendengar itu, segera bangun dari tidurnya, alangkah terkejutnya ia mendapati Vano yang sedang terguling di lantai, karena dorongannya yang cukup kuat tadi.
"Ka...kamu...maaf, aku tidak tahu kalau tadi itu adalah kamu" sesal Shesa dengan salah tingkah.
__ADS_1
Vano beranjak bangkit dan melihat Shesa dengan sedikit kesal.
"Lain kali hati-hati dong, lihat dulu dengan benar, jangan asal dorong aja" umpat Vano seraya berlalu meninggalkan Shesa.
"Iya ...maaf...lagian ngapain juga kamu nyium aku segala" seru Shesa sambil mengerucutkan bibirnya, Vano tetap acuh dan tidak mau mendengar alasannya.
Tiba-tiba Shesa sadar bahwa dia tadi masih berada di dalam kamar mandi, kenapa sekarang udah ditempat tidur, dilihatnya baju yang ia kenakan sudah berganti dengan piyama, lantas siapa yang melakukan itu semua kepadanya?.
"Tunggu dulu!" Shesa menghentikan langkah Vano.
"Kenapa aku bisa ada disini? Tadi aku merasa masih berada di kamar mandi" seru Shesa kebingungan.
Vano menoleh dan menghampiri Shesa, ia menyuruh Shesa untuk berdiri dan berjalan sendiri.
"Turunlah! Dan berjalanlah, jangan manja!" seru Vano yang membuat Shesa kesal karena dibilang manja.
"Enak ajah manja! Nih aku tunjukin kalau aku ini bisa sendiri, lihat aja...hm" tukas Shesa dengan penuh percaya diri
"*Dasar orang aneh, orang lagi tanya kenapa aku bisa sampai ditempat tidur, malah disuruh berjalan....hm dikiranya aku nggak bisa jalan apa, enak ajah ngatain orang manja*" umpat Shesa sambil mencoba berdiri sendiri.
"Tuh...aku bisa jalan kaaaannn....awww" Shesa terjatuh, kakinya masih belum kuat untuk melakukan gerakan berjalan, Vano hanya diam dan tidak menolong Shesa.
Shesa berusaha menggapai tempat tidurnya tadi, dengan sangat tertatih ia akhirnya bisa kembali ke posisi awalnya, sembari menahan rasa sakit di pergelangan kakinya yang terkilir itu, meskipun sudah di urut oleh bik Ijah, namun tetap saja Shesa tidak boleh banyak bergerak, karena ototnya masih tegang.
Vano mulai mendekatinya dan membungkukkan badannya sejajar dengan Shesa saat duduk di tempat tidur, Vano mulai menyeringai.
"Sudah lihat sendiri kan? Kakimu masih belum kuat betul, tadi... kamu terjatuh di kamar mandi dan tak sadarkan diri, aku membawamu kemari agar badanmu tidak kedinginan, kulihat handuk yang kamu pakai basah dan aku menggantinya, dengan baju yang kamu pakai sekarang" seru Vano sambil mengisyaratkan pandangannya ke arah baju Shesa.
"Jadi...kamu yang sudah menggantikan baju untukku?" Shesa tertunduk malu.
"Memangnya kenapa? Lagipula aku sudah melihat semuanya tanpa terkecuali" Vano menaikkan sudut bibirnya.
"Kalau kamu masih terasa sakit dan belum bisa berjalan sendiri, panggil saja aku, aku pasti akan datang membantumu" ucap Vano sambil menegakkan badannya.
"Aku tidak mau merepotkan kamu, aku masih bisa sendiri, aku tidak mau dibilang manja" seru Shesa tertunduk.
__ADS_1
Vano duduk di sebelah Shesa dan menyentuh dagu Shesa, serta mengangkat wajah Shesa yang tertunduk malu.
"Lihat aku!" pinta Vano pada Shesa.
Perlahan Shesa menatap Vano dengan ragu.
"Kau tahu...gadis sepertimu memang keras kepala" ucapan Vano membuat Shesa bertambah kesal padanya, lantas ia membuang muka dengan segera, Vano melihat Shesa begitu menggemaskan, ia sengaja menggoda istrinya, ia suka sekali melihat ekspresi Shesa yang lebih menggemaskan ketika marah, nampak senyum mulai mengembang dibibir Vano yang tipis.
*
*
*
Tiba-tiba suara ketukan dari luar pintu kamar, dan terdengar pelayan sedang membawa makanan untuk Shesa.
"Maaf Tuan muda....saya membawa makanan untuk Nona muda"
"Masuklah" perintah Vano.
Dan pelayan itu membawa berbagai makanan lezat untuk Shesa, setelah selesai mengantarkan makanan, pelayan itu menyampaikan pesan nenek pada mereka berdua.
"Maaf Tuan muda saya ingin menyampaikan pesan dari nenek, beliau sedang mengunjungi temannya yang sedang sakit diluar kota, mungkin sekitar dua hari nenek akan pulang"
"Baiklah...terima kasih" sahut Vano
Setelah pelayan itu pergi, Vano menyuruh Shesa untuk memakan makanannya yang sudah disediakan pelayan tadi.
"Ayo makanlah ..."
"Nggak mau!" Shesa menggelengkan kepala
BERSAMBUNG
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1