
setelah beberapa jam, rapat telah usai, baik Vano maupun Veronica masih berada didalam ruangan, Veronica mulai berjalan mendekati Vano yang sedang duduk di kursi kebesarannya, Vano menatap tajam kearah Veronica, setelah beberapa saat Veronica berpura-pura baik dan menyapanya.
"Vano, tante senang sekali bisa bekerja sama dengan perusahaan milik mu, kau memang keponakan Tante yang paling hebat, Hendrawan pasti bangga mempunyai putra seorang pimpinan tertinggi perusahaan, Tante berharap kerjasama ini akan saling menguntungkan" ucap Veronica dengan mulut manisnya.
dengan menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, Vano tersenyum saat Veronica mengatakan itu padanya.
"tentu saja Tante, aku juga senang bisa bekerja sama dengan Tante" jawab Vano santai.
"aku mau tahu seberapa jauh rencana Tante untuk bermain-main dengan perusahaan kami, Tante sudah memasuki kandang macan" gumam Vano dengan senyum renyahnya.
"baiklah Vano, aku pergi dulu, masih ada sesuatu yang harus aku lakukan, semoga harimu menyenangkan" seru Veronica sembari berlalu meninggalkan ruangan itu.
setelah Veronica keluar dari ruangan, Vano lantas memerintahkan Sekretaris Jimmy untuk segera memeriksa file-file yang sudah di masukkan Veronica baru saja, dengan dalih kerjasama Veronica memasukkan beberapa file pada perusahaan Vano.
"sekretaris Jimmy, cepat kamu periksa file-file yang baru masuk, aku yakin Tante Veronica pasti menyembunyikan sesuatu, aku khawatir dia menyisipkan virus untuk merusak jaringan komputer di perusahaan kita, cepat segera kau periksa sebelum 12 jam" seru Vano sembari berlalu meninggalkan ruangan rapat.
Veronica telah berada di dalam mobil mewahnya, wajahnya menampakkan senyum kemenangan.
"aku akan memberi kejutan untukmu Vano, dalam hitungan jam, virus itu akan merusak jaringan komputer yang terhubung dengan perusahaanmu, sehingga dengan mudah aku akan mengambil data-data perusahaan kalian, dan besok kau tak akan bisa tersenyum Vano, Hendrawan tunggulah, kau akan tahu Veronica tidak bisa diremehkan" Veronica tersenyum puas.
*******
tak berselang lama Vano dan sekretaris Jimmy tiba dikantor, Vano lantas mengambil laptopnya dan mulai memeriksa dokumen yang telah masuk dalam email-nya.
wajah Vano yang serius menampakkan ada sesuatu yang ia selidiki.
"wow.... seranganmu cukup brutal Tante, kamu pikir semudah itu masuk ke dalam ranah Perusahaan keluarga besar Perkasa, kau boleh dendam tapi kau tidak akan semudah itu membuat jatuh perusahaan kami" gumam Vano saat melihat file-file yang telah dikirimkan Veronica langsung menyerang ke pusat data perusahaan, dan lebih mengejutkan lagi, Veronica berusaha mencari tahu identitas Shesa, Veronica mulai menyerang keluarganya.
__ADS_1
"tidak akan aku biarkan, wanita itu menyentuh istriku, sudah berani dia mencari informasi tentang istriku, ini pasti ada hubungannya dengan Siska" gumam Vano saat tahu informasi tentang Shesa mulai di sentuh Veronica.
tak berselang lama sekretaris Jimmy datang dengan membawa sebuah dokumen.
"maaf tuan muda, ini dokumen yang anda perlukan, setelah saya selidiki ternyata nyonya Veronica berusaha mengelabui kita dengan tawarannya yang menggiurkan, ia sengaja menyelipkan virus kedalam jaringan komputer kita, lewat file-file yang telah ia berikan kepada kita" seru sekretaris Jimmy.
Vano mendengarkan seksama sekretaris Jimmy, ia sudah menduganya Veronica pasti melakukan sabotase untuk membuat lumpuh jaringan komputer milik perusahaan Vano, hingga akan membuatnya mudah mengambil alih aset-aset penting perusahaan Vano.
beruntung Vano bergerak cepat, ia langsung menangani berkas-berkas itu, dan secepatnya menghilangkan virus itu dari data-data yang dikirimkan Veronica, dengan mengirimkan balik virus itu kedalam jaringan komputer milik perusahaan Veronica.
"baiklah apa semua baik-baik saja?" seru Vano kepada sekretaris Jimmy yang telah mengganti sandi email perusahaan, agar Veronica tidak bisa menyadap data perusahaan Vano.
"sudah tuan muda, virus itu telah berhasil kita kirim balik ke jaringan komputer milik perusahaan Bu Veronica" ucap sekretaris Jimmy.
Vano menaikkan ujung bibirnya, kali ini ia mendapat musuh yang cukup hebat, Veronica berusaha membobol sandi perusahaan Vano, itu tidak akan mudah.
"kita tunggu hasilnya setelah beberapa jam, aku ingin melihat bagaimana ekspresi Tante Veronica" ucapnya sembari memainkan ballpoint diatas meja kerjanya.
"dia bukan wanita biasa, perlu taktik untuk menghadapinya, aku yakin ini tidak jauh-jauh dari ulah Siska" sambung Vano.
"baiklah semua sudah beres, hari ini aku pulang cepat, karena malam ini aku akan menghadiri peresmian kantor cabang milik tuan Billy" seru Vano kepada sekretaris Jimmy.
"peresmian kantor tuan Billy, saya rasa Veronica Thamrin akan ikut hadir dalam acara tersebut, karena Veronica Thamrin juga ikut andil dalam perusahaan tuan Billy" ucap sekretaris Jimmy.
"oh ...itu bagus, aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat ia mendengar kabar bahwa sebuah virus mematikan sedang menyerang data komputer milik perusahaannya, ini pasti sangat menyenangkan" ucap Vano yang tak sabar dalam hitungan jam perusahaan Veronica akan bisa ia kendalikan.
******
__ADS_1
di rumah
Shesa tengah bersiap untuk menghadiri acara bersama sang suami, ia tampak mengenakan gaun malam bernuansa silver yang membuat penampilannya terkesan sangat anggun dan cantik, dress A line yang memiliki aksen draperi di bagian dada, membuat penampilan Shesa malam itu terlihat elegan, ia berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya yang berbalut gaun buatannya sendiri, iya Shesa merancang sendiri gaun malam itu untuknya.
tak berselang lama Vano masuk kedalam kamar mereka, pandangannya terfokus pada gadis yang sedang berdiri didepan cermin, dengan langkah kakinya yang jenjang, Vano mendekati Shesa dan memeluknya dari belakang.
"kau cantik sekali sayang, istriku benar-benar cantik malam ini" bisik Vano dengan menempelkan wajahnya pada wajah Shesa.
"hm... sayang, kau sudah pulang" ucap Shesa membelai lembut pipi Vano.
"aku sudah tak sabar untuk...emm" seru Vano yang langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Shesa.
ciuman itu sedikit panas, mengingat penampilan Shesa yang begitu memukau malam itu.
untuk beberapa saat Vano menikmati bibir manis istrinya, kemudian Shesa melepaskan tautan bibir Vano yang sudah membuat lipstiknya hilang.
"sudah dong sayang, kamu sudah membuat lipstikku berantakan" seru Shesa sembari mengelap bibi Vano yang terkena lipstik Shesa karena ciuman tadi.
Vano tersenyum dan menyentuh wajah Shesa.
"kau tahu, aku selalu ingin menikmati bibirmu yang terasa sangat manis ini, melebihi manisnya madu dan gula" ucap Vano yang mulai menggoda Shesa.
"udah jangan ngegombal mulu, kapan kita berangkat, kalau kelamaan disini bisa- bisa kita nggak jadi ikut acara itu" seru Shesa yang merasa Vano akan menghabisinya jika mereka lama-lama berada didalam kamar.
Vano terkekeh ia langsung mengerti maksud Shesa, lantas ia segera pergi untuk mengganti pakaiannya.
"tunggu disini, aku segera kembali" pinta Vano.
__ADS_1
BERSAMBUNG
❤️❤️❤️❤️❤️