
tepat pukul dua belas malam, Vano pulang dari kantornya, kemudian ia masuk ke kamarnya, ia mendapati Shesa yang sudah tertidur lelap, lantas ia menghampiri Shesa yang sedang tidur, Vano mengusap lembut puncak kepala Shesa, lalu ia mencium keningnya dengan pelan, ia tak mau membangunkan istrinya yang sedang bermain di dalam mimpinya itu.
"maafkan aku sayang, kamu tertidur karena sudah menungguku terlalu lama" ucapnya pelan.
"cup" ciuman itu mendarat sempurna di kening Shesa, kemudian Vano memutuskan untuk pergi ke kamar mandi sebelum ia berangkat tidur.
tiba-tiba Shesa membuka matanya pelan, ternyata ia masih terjaga saat Vano datang, ia pura-pura sedang tidur, dilihatnya jam menunjukkan pukul dua belas malam.
"kemana saja dia, jam segini baru pulang" gumamnya cemas.
setelah beberapa menit Vano keluar dari kamar mandi, ia melihat Shesa masih nampak pulas dalam tidurnya, Vano mengganti bajunya dengan piyama tidur, kemudian setelah itu ia mulai berbaring di samping istrinya.
dilihatnya Shesa tidur membelakanginya, ia mencoba memeluk Shesa dari belakang, tangan Vano melingkar diperut Shesa, namun tiba-tiba Shesa melepaskan tangan Vano dari tubuhnya, sehingga membuat Vano sangat terkejut.
"sayang, kau belum tidur?" tanya Vano sembari melihat wajah istrinya yang masih membelakanginya itu, lantas Shesa bangun dan duduk disamping Vano.
"ada apa?" tanya Vano sembari ikut duduk bersama Shesa.
"ada apa? kenapa kau tanyakan itu padaku? justru aku yang harus bertanya kepadamu? apa yang sedang terjadi pada suamiku akhir-akhir ini?" jawab Shesa kesal.
"apa maksudmu sayang, tidak ada yang terjadi padaku, semuanya baik-baik saja" ucap Vano meyakinkan.
"tidak terjadi apa-apa? sejak kita di Bali, kau sudah menunjukkan perubahanmu, kau sudah membohongiku tentang pertemuanmu dengan Miss Liu! katakan padaku siapa Miss Liu? ada hubungan apa kau dengannya? sehingga malam ini kau biarkan aku menunggumu demi bertemu wanita itu" ucap Shesa dengan berkaca-kaca.
"kemari..." Vano langsung mendekap tubuh istrinya, buliran bening itu jatuh tak terbendung lagi, entah kenapa Shesa menjadi sangat sensitif kali ini.
airmatanya tumpah dalam pelukan Vano, ia memukul-mukul dada bidang Vano dengan perkataannya yang terbata-bata.
"ke...na...pa...kau laku..kan ini padaku.." isak tangis Shesa membuat Vano merasa bersalah.
"maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud seperti itu, kau sudah salah faham" jelas Vano sembari menyeka air mata istrinya.
"aku memang bertemu dengan Miss Liu, kami membicarakan soal bisnis, itu saja" sambung Vano.
"tapi kenapa kalian berdua sangat akrab sekali, seolah-olah kalian sudah saling kenal dengan baik" tanya Shesa yang sangat penasaran.
__ADS_1
Vano tak mungkin berkata jujur, ia harus menyembunyikan identitas sepupunya itu supaya rencananya bisa berjalan dengan lancar.
"iya...kami memang sudah kenal sebelumnya, hubungan kami hanya sekedar partner kerja, itu saja, percayalah" ucap Vano sembari menatap serius mata Shesa yang berkaca-kaca.
"dengarkan aku baik-baik, aku sudah berjanji pada diriki sendiri, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam hal apapun, aku akan terus berada di sampingmu selamanya" perkataan Vano membuat Shesa sedikit tenang
"jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihat istriku bersedih, tersenyumlah" ucap Vano sembari mengusap lembut pipi Shesa.
perlahan Shesa menggerakkan bibirnya, senyum memgembang mulai nampak di wajahnya yang sendu, melihat itu Vano tertawa dengan renyahnya, Shesa yang mendapati suaminya malah menertawakannya, mencubit perut Vano cepat.
"kenapa ketawa-ketawa?" ucap Shesa yang sedikit kesal melihat Vano menertawakannya.
"awww...sakit sayang" ujar Vano yang merasa geli saat Shesa mencubit perut sixpacknya, kemudian ia menarik lagi tubuh Shesa dengan cepat kedalam pelukannya, sehingga membuat Shesa sedikit berontak.
"ihh...lepasin" sahut Shesa mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Vano yang kuat, namun sia-sia saja, Vano semakin kuat memeluk tubuh Shesa hingga Shesa jatuh terbaring di atas tempat tidur, sehingga Vano menindih tubuh Shesa, dan tangannya menopang tubuh Shesa, dengan senyum smirknya, Vano menyibakkan rambut Shesa yang terurai di wajahnya seraya berkata.
"aku sangat suka melihatmu cemburu, itu tandanya kau sangat mencintaiku, iya kan...hm" ucap Vano yang membuat Shesa menjadi salah tingkah.
"siapa bilang aku cemburu, GR" balas Shesa yang masih belum mengakui kecemburuannya.
"tidak boleh, kau tidak boleh terlalu sering bertemu dengannya, karena aku tidak suka itu" ucap Shesa sembari menundukkan wajahnya.
Vano sangat gemas melihat tingkah Shesa yang sedang cemburu kepadanya, dengan cepat ia mencium bibir Shesa yang terlihat menggoda, keduanya pun terlena pada suasana dingin di malam itu.
💖💖💖💖💖
hari ini adalah hari waktunya masuk sekolah, Shesa masih duduk di meja riasnya, dengan memakai seragam abu putih, Shesa mengoleskan krim ajaib di sekitar lehernya, tentu saja lukisan itu akan selalu ada setiap hari, setelah pudar warnanya, akan berganti dengan warna merah yang baru, entah sampai kapan stempel cinta itu akan Shesa tutupi terus dari orang lain.
Shesa berdiri di depan kaca, ia memperhatikan bajunya yang mulai menyempit di bagian dada.
"kok sempit sekarang, apa berat badanku naik ya?" seru Shesa sambil merapikan bajunya yang kelihatan sempit.
"kudu ganti yang baru nih" gumamnya lirih
tiba-tiba Vano datang dari belakang, seperti biasa ia mencium dulu tengkuk Shesa yang beraroma blossom, itu adalah ritual wajib yang
__ADS_1
Vano lakukan di setiap pagi.
"mmm...ada apa sayang" ucap Vano yang melihat Shesa sedikit memutar-mutar badannya.
"bajuku udah sempit sayang, kayaknya aku harus ganti yang baru, coba deh lihat" tandas Shesa sembari menunjukkan bagian bajunya yang sempit, Vano yang melihat itu lantas memegang bagian yang sempit tadi.
"yang mana, yang inikah?" goda Vano sembari mer*mas PD Shesa yang terlihat semakin menantang itu.
"eit...bukan itu, dasar mesum" ucap Shesa sembari melepaskan tangan Vano dari dadanya, Vano tersenyum nakal melihat ekspresi Shesa yang terpantul di dalam cermin.
"aku akan menyuruh pelayan membawakanmu seragam baru" ucap Vano dengan senyum khasnya.
tak butuh waktu lama pelayan datang membawa seragam baru berwarna putih, kemudian Shesa membuka seragam yang masih belum terjamah oleh siapapun itu.
"pakailah seragam itu, aku akan menunggumu disini" pinta Vano agar Shesa memakai seragam barunya di depan Vano.
perlahan Shesa membuka kancing baju yang masih menempel di tubuh indahnya, Vano duduk sembari memperhatikan Shesa menanggalkan bajunya, hingga akhirnya baju itu terlepas sempurna, hanya meninggalkan rok dan bra yang melindungi dua buah gund*kan yang menantang itu.
"glek" Vano menelan salivanya kasar
dengan cepat Shesa mengganti seragamnya dengan seragam yang baru.
"hm..gimana sayang, bagus kan?" ucap Shesa minta pendapat suaminya, Vano mengernyitkan dahinya.
"tidak bagus, jelek sekali" jawab Vano datar.
"apa? terus kalau jelek aku sekolah pakai baju apa donh?" seru Shesa sembari melihat penampilannya yang menurutnya bagus, entah kenapa Vano bilang itu jelek, lantas Vano mendekati Shesa dan berbisik pada telinga Shesa.
"aku lebih suka kalau kamu tidak usah memakai baju itu, itu lebih menggoda untukku" goda Vano sehingga membuat Shesa tersipu malu.
"ihhhh....dasar otak mesum" ucap Shesa yang dibalas Vano dengan senyum smirknya.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖
__ADS_1