Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
capek-capek


__ADS_3

Shesa melepaskan pelukannya dari Vano, ia memandang wajah Vano yang tampan, sosok yang selalu menjadi rebutan banyak wanita itu, senyum Shesa yang meneduhkan semakin membuat Vano terbius dengan pesona gadis 18 tahun itu, Vano tak tahan untuk tidak mencumbu istri kecilnya itu, Shesa merasa sangat terbuai dengan permainan kecil suaminya,


"Apa yang kamu lakukan! Jangan!" bisik Shesa dengan nafas tertahan, sejenak Vano menghentikan permainannya, ia menatap lekat mata Shesa yang indah dan berbisik mesra ditelinga istrinya.


"Ssttt...jangan berisik, Aku menginginkanmu " bisik Vano yang membuat Shesa merasa geli, sejenak Shesa menjauhkan telinganya dari bibir sang suami, Shesa menggigit bibir mungilnya karena deru nafas yang terdengar di telinganya seolah seperti tiupan angin surga yang membuat bulu kuduknya merinding, Vano tersenyum tipis melihat tingkah Shesa yang semakin membuat bergairah.


"Panggil aku dengan.... sayang!" bisik Vano yang dilanjut dengan ciuman mesra dileher Shesa.


Shesa terpejam dan sesekali ia melenguh, dirinya tak bisa menahan betapa Vano selalu bisa membuatnya terbang ke awan.


"Sayang!" suara Shesa yang nampak berat membuat Vano semakin semangat untuk membawa Shesa mengarungi lautan percintaan.


Vano membawa Shesa berbaring di sofa yang terletak di sudut ruang kerja Vano, Shesa nampak bingung kenapa Vano membawanya pada sofa berwarna cream itu.


"Sayang! Kenapa kita disini?" tanya Shesa sambil mengernyitkan dahinya.


"Ssttt...jangan banyak bicara, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu disini?" jawab Vano sambil menekan remote pengunci pintu otomatis.


"Tit...tit..."


Shesa melihat pintu itu sudah terkunci sempurna, Vano tak ingin ada orang lain yang mengganggu waktu berdua mereka.


Vano mulai mendekati Shesa, permainannya sudah ia mulai, perlahan namun pasti dua insan yang tengah dimabuk cinta itu, mulai bersama mengarungi indahnya samudera percintaan, ruangan yamg terasa dingin karena AC, tiba-tiba menjadi panas saat penyatuan dua hati itu tak bisa di elakkan, semakin cepat dan semakin syahdu.


*


*


*


*


Setelah beberapa jam, Shesa terbangun setelah ritual penyatuan dua cinta itu usai, ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 03.00 WIB, Shesa dan Vano terbungkus dalam satu selimut yang sama, Vano memeluk Shesa dari belakang, Shesa mendapati suaminya tertidur pulas setelah pertarungan semalam.

__ADS_1


Shesa berusaha bangun, ia mencoba melepaskan tangan Vano yang melingkar diperutnya, perlahan akhirnya tangan Vano yang kekar itu terlepas dari tubuh Shesa.


Shesa beranjak berdiri, ia merasa badannya letih dan lemah tak berdaya, Vano benar-benar membuatnya kewalahan, ia hendak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tiba-tiba ponsel Shesa bergetar, Shesa meraih ponsel itu, dan ternyata itu pesan dari Romi.


"Romi" gumam Shesa sambil melihat ke arah Vano dengan hati-hati, lantas ia segera membuka isi pesan tersebut sebelum Vano terbangun.


"Shesa...besok aku akan ke Jerman, aku akan melanjutkan kuliah di sana karena mamiku juga ingin aku tinggal di Jerman, hari ini aku terakhir di Indonesia, tapi...setahun lagi aku akan kembali, ya...aku pasti kembali untuk menjemputmu menjadi istriku, tunggu kedatanganku." pesan Romi membuat Shesa menekan pelipisnya pelan, lantas ia langsung menghapus isi pesan Romi.


"Rom...suatu hari nanti kamu akan faham, bahwa aku sudah menjadi istri orang lain, saat ini aku tidak ingin menyakitimu dengan berita pernikahanku" gumam Shesa dalam hati.


Shesa lantas berdiri, ia berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun, dengan tertatih ia berjalan sambil memegang lehernya yang terasa kaku.


"Hufftt...badanku pegel-pegel semua, nih cowok makanannya apa sih, suka banget bikin badanku capek-capek" rintih Shesa sambil menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit Shesa keluar dari kamar mandi, lantas ia keluar dari ruang kerja Vano dan membiarkan Vano tidur, Shesa turun dan hendak mengambil minum di dalam kulkas, dengan hanya memakai handuk kimono dan rambut yang di balut dengan handuk, memberikan kesan bahwa Shesa telah mandi keramas.


Shesa pergi ke dapur dan mengambil sebotol minuman di dalam kulkas, tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya.


"Hahhh.....haduuhhh....nenek ngagetin ajah" seru Shesa sambil mengelus dadanya, nenek ternyata sudah pulang dari rumah temannya, Shesa dan Vano tidak mengetahui kepulangan sang nenek.


"Loh nenek sudah pulang? Kok nggak bilang sama kita, nanti kan kita bisa jemput nenek bersama" seru Shesa sambil tersenyum.


"Nenek bisa pulang sendiri, ada sopir yang nganterin nenek, nenek nggak mau ngerepotin kalian berdua, kalian kan lagi sibuk bikinin cicit nenek" goda nenek dengan senyum khasnya.


"Hmm..." Shesa nyengir mendengar nenek mengatakan hal itu padanya, nenek melihat Shesa yang sedang memakai handuk di atas kepalanya, nenek sangat bahagia melihat itu.


Tiba-tiba Vano ikut turun ke bawah, dengan memakai piyama kimono, ia mencari keberadaan istrinya, tak berselang lama ia mendapatinya berada dalam dapur bersama sang nenek.


"Nenek kok sudah pulang?" Tanya Vano saat tahu neneknya sudah berada di rumah, nenek mendekati Vano dan tiba-tiba menjewer kuping Vano, Shesa hanya bisa melongo melihat nenek tiba-tiba saja menjewer kuping cucunya itu.


"Aduh..aduh..aduh..sakit nek" rintih Vano


"Kamu...dasar pemalas, istrimu sedang kehausan, kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri ambil minum" seru nenek yang memarahi cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


Vano mendekati Shesa dan memeluknya dari belakang.


"Bukan gitu nek, nih aku ajah nyariin dia, tau-taunya disini bersama nenek...hm..kenapa kamu tinggalin aku" seru Vano dengan manja sambil melingkarkan tangannya di pinggang Shesa, dan dagunya bersandar di pundak Shesa.


"Hm...iya maaf sayang, tadi aku haus banget, aku lihat kamu masih tidur, jadi aku pergi sendiri ambil minum, kebetulan ada nenek disini" jelas Shesa sambil tersenyum.


"Tuh kan nek...istriku ini suka pergi sendiri, aku ajah ditinggalin kedinginan sendiri " sahut Vano yang masih merapatkan matanya, seolah-olah ia masih sangat mengantuk, Shesa mencubit tangan Vano, ia merasa malu karena ada nenek di hadapannya.


"Apa sih sayang...ada nenek, malu" seru Shesa sambil melirik ke arah Vano yang masih menyandarkan dagunya pada pundaknya mesra.


"Hmmm...." Vano hanya bergumam.


Nenek yang mendapati pemandangan itu sangat bahagia sekali, Vano terlihat manja sekali pada Shesa.


"Shesa!...cepat kalian kembali ke kamar, rupanya suamimu masih mengantuk, ini masih jam 4 pagi" perintah nenek agar Shesa membawa Vano kembali ke kamar, dan itu membuat Vano menaikkan ujung bibirnya, seolah-olah ia berhasil melakukan misinya untuk membawa kembali Shesa ke dalam kamar.


Setelah beberapa saat nenek kembali ke kamarnya, hanya tinggal Shesa dan Vano berdua.


"Ayo kita ke kamar sayang! Aku kedinginan di dalam kamar sendirian" bisik Vano di telinga Shesa,


Shesa membulatkan matanya saat Vano memintanya naik ke kamar.


"Sayang...ini sudah pagi, aku mau joging pagi ini, kamu mau ikut nggak ?" seru Shesa.


"Halah...ini masih terlalu pagi, joging bersamaku saja ...hayuk" Vano langsung memanggul badan Shesa yang sintal, Shesa memukul-mukul bahu suaminya agar ia mau menurunkannya, dan Vano pun hanya bisa tersenyum bangga.


Setelah sampai di dalam kamar, Vano menurunkan Shesa, lantas ia berkata.


"Besok siang aku akan terbang ke Kuala Lumpur untuk beberapa hari, sebenarnya aku malas harus pergi ke sana, tapi ada hal penting yang harus kulakukan, aku tidak mau jauh-jauh darimu, jadi sebelum keberangkatanku ke KL, aku ingin menghabiskan waktu bersama istriku sepuas hatiku" jelas Vano sambil memegang pipi Shesa yang mulus.


BERSAMBUNG


💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2