
malam itu Vano dan Shesa menghadiri acara peresmian kantor baru perusahaan pak Billy, malam itu Vano terlihat sangat tampan, wajah blasteran indo arab itu sangat membuat siapa saja yang melihatnya pasti terpesona, tak ada wanita yang menolak pesona dari seorang Vano Adiputra Perkasa, terlahir dari sang ibu yang berdarah arab, ia mewarisi gen dari sang ibu yang tampak dominan.
Shesa tak berkedip memandang wajah sang suami, kali ini Vano yang membuat sang istri terperdaya, dengan balutan jas berwarna putih yang memukau, membuat Vano terlihat seperti pangeran di malam itu.
Shesa berdiri ditempatnya, melihat penampilan sang suami yang membuatnya terdiam, sungguh keberuntungan memihak pada gadis SMA ini, betapa tidak di usianya yang masih sangat muda, ia telah memiliki suami yang tampan, kaya, dan sangat perhatian kepadanya, bahkan sang suami membebaskan dia untuk terus meraih cita-citanya dan tetap terus bersekolah.
Vano perlahan berjalan menghampiri Shesa yang tampak tertegun melihatnya.
"apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Vano sembari meraih pinggang Shesa dengan satu tangannya, sementara tangan yang satu memegang lembut wajah sang istri.
"mungkin aku adalah gadis yang beruntung menikah denganmu sayang, disaat usiaku yang masih ingin bersekolah, disaat aku yang masih ingin bermain bersama teman-teman, disitu kau selalu memberiku waktu luang, hingga aku sadar bahwa suamiku adalah segalanya bagiku, terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu" seru Shesa dengan tatapan manjanya.
Vano tersenyum, deretan gigi putih yang menghiasi senyumnya, menambah kesan bahwa Vano adalah benar-benar pria yang mempesona.
"apa pun akan aku berikan untukmu, asalkan kau bahagia, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga, sekarang tersenyumlah " seru Vano yang selalu membuat Shesa merasa beruntung memilik suami yang pengertian seperti Vano.
"ayo kita berangkat " seru Vano sembari menggandeng tangan istrinya.
********
tak berselang lama, Vano dan Shesa tiba ditempat gedung peresmian, setiap mata tertuju pada mobil Lamborghini yang dikemudikan oleh Vano sendiri, sementara disampingnya ada seorang wanita cantik yang masih sangat muda, yang tak lain adalah istri sang CEO.
"eh lihat lihat itu pak Vano, ya ampun dia tampan sekali"
"coba lihat gadis yang disampingnya, itu pasti istrinya, ya ampun cantik banget, pantes ajah pak Vano klepek-klepek, memang sangat cantik istrinya "
"benar-benar pasangan yang serasi "
__ADS_1
setiap wanita yang hadir di acara itu tampak memuji-muji keserasian Vano dan Shesa, hingga salah seorang wanita tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka.
"Vano sudah datang " gumam Veronica dengan senyum liciknya.
Vano dan Shesa masuk ke dalam ruang acara dan mereka disambut hangat oleh pak Billy, sang tuan rumah.
"selamat datang pak Vano, ini suatu kehormatan bagi saya pak Vano mau menyempatkan hadir pada acara peresmian kantor baru saya" seru pak Billy senang.
"tentu saja pak Billy, saya dan istri juga sangat berterimakasih telah mendapat kehormatan untuk menghadiri acara ini" ucap Vano.
pak Billy didampingi istrinya lantas mengajak Vano berbincang -bincang.
"pak Vano benar -benar hebat ya, masih muda tapi perusahaan nya sudah sangat besar, apalagi pak Vano mempunyai istri secantik ini" seru nyonya Billy, sehingga membuat Shesa merasa malu.
Vano tersenyum dan melihat Shesa yang sedang tertunduk malu.
"terimakasih nyonya" ucap Vano tersenyum.
"tentu saja pak Vano tidak betah di kantor, orang dirumah udah ada istri secantik ini, pasti pinginnya pulang terus, nggak seperti papa betah banget di kantor, sampai malam nggak pulang-pulang, padahal aku ini kurang apa toh pa?" seru nyonya Billy kesal.
"ya karena mama kalau dirumah, selalu pakai daster sih, kan ya bosan toh papa" goda pak Billy hingga membuat istrinya cemberut.
"udah dong jangan cemberut gitu, meskipun mama pakai daster, tapi mama adalah wanita yang paling cantik dimata papa" rayu pak Billy, sehingga membuat istrinya tersipu malu.
Vano dan Shesa tersenyum melihat tingkah keduanya yang terlihat lucu dan konyol, pak Billy dan istrinya sudah terbiasa dengan hal seperti itu, mereka memang pasangan yang sedikit kocak.
Hingga akhirnya seorang perempuan menghampiri Vano dan Shesa yang sedang berbincang bersama pak Billy.
__ADS_1
"selamat malam Vano " seru Veronica dengan memasang senyum palsunya, lantas Vano dan Shesa menoleh kearah perempuan berbaju hitam dengan rambut yang disanggul.
"tante Veronica" seru Vano.
"tante Veronica? apakah wanita ini tante Veronica yang pernah nenek ceritakan waktu itu, ibunya Miss Liu? dia terlihat seperti wanita yang berkelas" gumam Shesa sembari memandang wajah Veronica yang mirip sekali dengan Helena.
"Vano, siapa gadis yang ada disampingmu? cantik sekali, tapi kenapa bukan Naina yang menemanimu, bukankah kalian akan segera menikah?" seru Veronica yang sedikit membuat Shesa tidak nyaman.
"dia istriku, Deandra Rashesa, nyonya Vano Adiputra Perkasa" jawab Vano dengan jelas.
"istrimu? ya ampun tante tidak tahu kalau kamu sudah menikah, tapi sungguh disayangkan, kamu dan Naina tidak jadi menikah, coba kalau kalian menikah, pasti perusahaan mu akan semakin besar, kau tahukan Naina seorang anak dari presdir kaya raya" ucap Veronica yang semakin membuat Shesa kesal.
"nih perempuan maksudnya apa sih?" gumamnya lirih.
"aku dan Naina memang tidak berjodoh tante, dan aku sudah melupakannya, sekarang aku sudah bahagia dengan istriku, dia adalah gadis yang dipilihkan papa untuk mendampingiku, aku sangat beruntung memilikinya" seru Vano bangga.
"hahaha...astaga Vano, Hendrawan yang telah menjodohkan kalian? aku yakin pilihan Hendrawan itu biasa-biasa saja, apa kamu mau mengikuti jejak papamu, menikahi gadis biasa, terlihat kok dari aura gadis ini, kalau menurut tante sih, maaf ya, kamu tuh nggak pantas menikah dengan gadis yang nggak jelas asal usulnya" seru Veronica dengan memandang sinis kearah Shesa.
Shesa yang mendapat hinaan dari Veronica, lantas tak tinggal diam.
"cukup nyonya, anda adalah seorang wanita yang berkelas dan terhormat, tapi sayang sekali kata-kata yang keluar dari mulut anda seperti barang rongsokan yang tidak ada gunanya, percuma saja anda mengucapkan itu kepada saya, saya memang gadis biasa dan bukan tergolong orang yang kaya raya, tapi saya masih punya mulut dan hati yang bersih, tidak seperti anda, wanita terhormat tapi ucapannya seperti sampah" seru Shesa dengan tatapan kesalnya.
seluruh yang hadir di acara itu mendadak terfokus pada Veronica dan Shesa.
"sialan, gadis ini sudah mempermalukan diriku, awas saja kamu" umpat Veronica dengan wajah sinisnya.
Vano bangga melihat keberanian Shesa yang membungkam mulut tantenya, lantas ia segera meraih tangan sang istri dan membawanya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
💖💖💖💖