
Vano mulai masuk ke dalam kantor kepala sekolah, sedangkan Shesa masih merebahkan dirinya dalam ruang UKS, kali ini kakinya memang sakit, tapi tak sesakit dengan apa yang telah dilakukan Vano kepadanya, kemudian Monic menghampiri Shesa, ia melihat Shesa sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Shesa...kakimu kenapa? Kata anak-anak kamu terjatuh dan pak Vano gendong kamu ya kesini?" tanya Monic penasaran.
"Apa? Hufft...cepet banget berita itu nyebar" seru Shesa.
"Ya iyalah secara gitu loh...pak Vano yang notabennya nggak suka sama kamu, tiba-tiba ajah dateng nyelametin kamu, pake digendong segala lagi, ya tentu aja anak-anak pada heboh." jelas Monic
Shesa mendengarkan Monic dengan serius sambil memijit-mijit kakinya yg terkilir.
"Eh...tapi ada yg aneh loh, kenapa pak Vano kelihatan marah ya? Kalian bertengkar?" tanya Monic sambil mengernyitkan dahinya.
Shesa membuang muka dan memijit dahinya.
"Nggak tau deh Monic, aku pusing, gini amat ya punya suami cemburuan" seru Shesa
"Cemburu? Bagus dong, itu tandanya pak Vano cinta sama kamu, ya kamu harus bersyukurlah jarang-jarang loh CEO ganteng mau nikah sama gadis SMA kayak kita, kamu tuh beruntung banget, sumpah" seru Monic, tiba-tiba saja Mita dan Nabila sudah masuk ke dalam ruang UKS.
"Siapa yang nikah Mon?" tanya Mita yang tiba-tiba membuat Monic terkejut.
"Eh....kalian sejak kapan disini, kok tiba-tiba aja" jawab Monic gugup.
"Barusan, kita lihat kamu masuk kesini, ya kita ikut ajah sekalian lihat keadaan Shesa" jawab Nabila, Monic menganggukkan kepalanya.
"Eh...tadi aku denger ada yang nikah sama anak SMA, emang siapa sih? Teman kita ada yg nikah?" tanya Nabila menyelidik membuat Monic gugup menjawabnya.
"Hah...nggak...kamu salah denger kali, emang aku bilang ada yang nikah?" jawab Monic mengelak.
"Tapi....tadi aku nggak sengaja denger kamu ngomong gitu kok...bener...iya kan Mit?" jawab Nabila meyakinkan.
Monic menatap Shesa dengan serius.
"Ohh....maksud Monic tadi teman saudaranya itu ada yang nikah sama anak SMA...gitu...iya kan Mon" Shesa berusaha membantu Monic.
"Eh...iya, bener-bener yang dikatakan Shesa emang bener" balas Monic cengar cengir, Nabila dan Mita saling menatap.
"Oowww...kirain siapa yang nikah, aku pikir teman sekolah kita ada yang nikah" seru Mita.
"Sudah deh...ngapain sih ngomongin hal kek begituan, kita bukan emak-emak kompleks yang suka ghibah, mending kalian tolongin aku dong masuk kelas, aku bosen disini" seru Shesa
__ADS_1
"Kamu juga sih Sha, ngapain juga pake jatuh segala" sahut Nabila.
"Yaa...namanya juga musibah, ya datang kapan aja" jawab Shesa.
"Eh ...tapi seneng dong digendong sama pak Vano yang ganteng itu...cie cie" ledek Mita dengan senyum nakal.
"Apaan sih Mita! Aku nggak minta digendong kok sama dia, dianya aja yang tiba-tiba langsung gendong aku" jawab Shesa sambil memanyunkan bibir mungilnya.
"Hmm...sepertinya ada udang dibalik rempeyek nih!" sahut Nabila sambil menyilangkan tangannya.
"Harusnya tuh kamu seneng di gendong sama pak Vano, nih ya, berita kalian tuh bakal trending topik di sekolah kita, semua cewek pada cemburu tuh liat kamu digendong pak Vano" sahut Nabila.
"Aah...udah deh, ayok bantu aku turun!" sahut Shesa meminta tolong pada teman-temannya untuk menurunkannya dari tempat tidur.
"Beneran nih kamu nggak papa Sha?" tanya Monic, lantas Shesa menggelengkan kepalanya, dan merekapun membantu Shesa berjalan menuju ruang kelas.
Dengan sedikit menahan rasa sakit pada kakinya, Shesa berusaha berjalan ke kelasnya, Monic membantu memapahnya untuk berjalan.
Tiba-tiba Vano sudah keluar dari ruang kepala sekolah, ia berjalan berlawanan arah dengan Shesa dan teman-temannya, Vano yang melihat Shesa bersama teman-temannya terlihat cuek melewati mereka tanpa bicara satu katapun, Shesa yang memperhatikan suaminya, merasa bahwa Vano masih marah padanya.
"Eh...liat ada pak Vano! Hmm si ganteng datang" seru Mita senang
"Diihh! Pak Vano kenapa sih?" seru Mita
"lah emang gitu orangnya, tapi tetep ganteng" sahut Nabila, Shesa menunduk dan terus melanjutkan langkah kakinya, mereka berempat masuk ke ruang kelas 11A.
Setelah Vano berjalan agak jauh dari Shesa, ia berhenti dan melepas kacamatanya, Vano berbalik arah dan melihat ke arah Shesa bersama teman-temannya, ia melihat Shesa yang masih kesulitan berjalan, lantas Vano segera pergi dari sana.
"Dasar keras kepala" gumam Vano
Vano berjalan di sepanjang koridor sekolah, tiba-tiba Romi menghadang langkah Vano, dan Vano pun berhenti tepat didepan Romi, dua cowok ganteng yang sama-sama menyukai satu orang gadis.
"Tunggu pak Vano!" seru Romi dengan nada serius.
"Minggir! Aku mau jalan" jawab Vano datar, Vano mencoba melewati Romi tapi Romi terus menghadangnya.
"Apa maumu anak muda!" tanya Vano penasaran.
"Saya peringatkan sama bapak, jangan pernah ganggu kakak saya, saya bisa terima jika pak Vano menyentuh Shesa, tapi saya tidak suka kalau bapak Vano yang terhormat menyentuh kakak saya dengan memukulinya" kata Romi dengan nada kesal.
__ADS_1
Vano yang sudah mengetahui bahwa Romi adalah adik Exel, hanya tersenyum mendengar Romi mengucapkan hal itu.
"Jamu masih belum mengerti masalah orang dewasa, lebih baik jangan ikut campur" tukas Vano dengan tegas.
"Jangan mentang-mentang bapak pemilik yayasan di sekolah ini, lantas bapak bisa berbuat seenak dengkul bapak!" umpat Romi sambil menghina Vano, tiba-tiba bogem mentah menghujam wajah Romi yg putih,
"bugg...bug...bug.." Suara pukulan dari Vano untuk Romi.
Tiba-tiba semua siswa keluar dari kelasnya mendengar ada suara rame-rame di depan kelas mereka.
"Eh...ada apa nih"
"eh...bukannya itu pak Vano sama Romi"
"kok mereka bertengkar ya!"
Bisik para siswa saling membicarakan Vano dan Romi, tiba-tiba salah satu teman sekelas Shesa memberi tahu Shesa tentang kejadian itu.
"Shesa....hu...hu..hu.." seru seorang teman Shesa dengan nafas terburu.
"Kamu kenapa....?" tanya Shesa penasaran
"Romi...Romi dipukuli pak Vano" jawab siswa itu.
"Hah! Romi dipukul suamiku?" gumam Shesa dalam hati, tak berfikir lama Shesa langsung menghampiri mereka berdua yang sedang berduel, dengan masih menahan rasa sakit dikakinya, Shesa mencoba menghentikan pertengkaran mereka.
"Stop....stop...." seru Shesa memisah diantara keduanya, Vano dan Romi menghentikan adegan mereka sementara, mendengar gadis yang mereka cintai sedang melerai pertengkaran , Shesa melihat Romi kesakitan dan berdarah dari mulutnya, sedangkan Vano terlihat baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.
"Apa-apaan sih kalian berdua, kayak anak kecil tau nggak" seru Shesa dengan nada kesal
"Romi! Jamu nggak papa" seru Shesa sambil melihat keadaan Romi yang meringkuk kesakitan, lantas Shesa menatap Vano dengan penuh kekecewaan.
*
*
*
BERSAMBUNG
__ADS_1
...DUKUNG TERUS YA DENGAN LIKE KOMENTAR BERI HADIAH DAN VOTE 😊...