
hari itu Vano benar-benar berusaha melawan reaksi obat perangsang tersebut, tubuhnya benar-benar kepanasan, hasrat itu sudah tidak bisa ia bendung lagi, seketika ia memukul-mukul tembok untuk melawan rasa inginnya yang begitu membara.
karena kamar Shesa dan Vano hanya terhalang oleh sebuah tembok saja, suara pukulan ditembok itu sangatlah terasa lewat kamar Shesa.
"bugh...bugh...bugh"
"suara apa itu?" gumam Shesa yang hendak beranjak tidur, karena ia penasaran ia mencari kearah sumber suara, kemudian ia berhenti pada tembok yang membatasi kamarnya dan kamar Vano.
Shesa menempelkan telinganya di dinding kamar, didengarnya suara itu lagi semakin keras.
"pak Dante kenapa ya?" gumamnya penasaran
kemudian ia mundur dan duduk di ranjang tidurnya, namun suara itu masih saja terdengar, ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada pak Dante.
"jangan-jangan terjadi sesuatu pada pak Dante!"
Shesa beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pak Dante, perlahan ia berjalan keluar dari kamar penginapannya, dilihatnya pintu kamar pak Dante, ia memberanikan diri mengetuk pintu itu.
sedangkan didalam, Vano benar-benar berusaha sekuat tenaga melawan rasa yang membuatnya semakin kehilangan akal tersebut, keringat mulai membasahi seluruh tubuh tegap Vano, wajah tampannya nampak basah dengan peluh yang terus mengalir, tubuhnya bergetar, ia meringkuk sembari menjambak rambutnya sendiri.
tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"pak Dante, pak Dante kenapa? pak...ini Shesa, pak Dante tidak apa-apa kan?" seru Shesa dari luar.
telinga Vano benar-benar sensitif dengan suara istrinya.
"sayang"
dengan cepat Vano segera membuka pintu kamar itu, Vano sengaja mematikan lampu kamar penginapannya sehingga nampak remang-remang, Vano membuka pintu dan dengan satu tarikan tangan Vano menarik tangan istrinya yang berada didepan pintu.
"mmm"
__ADS_1
dengan cepat Vano membekap bibir mungil Shesa agar ia tidak berteriak, dan ia mengunci pintu kamar itu dengan segera.
tentu saja Shesa sangat ketakutan, ia berusaha berontak dan melepaskan diri dari seseorang yang tengah mencengkeramnya.
perlahan Vano melepaskan tangannya dari bibir Shesa, ia menyandarkan tubuh istrinya didinding kamar yang nampak temaram itu, hanya penerangan lampu meja yang membuat kamar tersebut terlihat sangat romantis.
"sayang, ini aku"
dengan deru nafas yang memburu, Vano berusaha memberi tahu Shesa bahwa suaminya telah berada dihadapannya.
"sayang, kenapa kamu bisa berada disini!" tanya Shesa yang masih dengan rasa tidak percaya, ini adalah kamar pak Dante, kenapa Vano berada di dalam kamar pak Dante.
dilihat suaminya yang nampak kacau malam itu, ia melihat Vano seperti saat pertama kali mereka melakukan hubungan suami istri, saat itu Vano tengah dipengaruhi oleh obat laknat sehingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"sayang, kamu kenapa? apa kamu terpengaruh obat itu lagi" tanya Shesa semakin penasaran.
Vano beranjak menjauhi Shesa, ia terus mencoba melawan rasa itu, ia terus mengerang menahan rasa gejolak yang benar-benar sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"kemarilah"
tiba-tiba suara mesra Shesa terdengar begitu menyejukkan di telinga Vano, dengan cepat ia mendongak kan kepalanya, dilihatnya uluran tangan sang istri yang menunggu Vano untuk menyentuhnya.
Shesa tersenyum pada suaminya, tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dirinya akan membantu suaminya melewati saat-saat yang menegangkan ini, sejenak Shesa melupakan pertanyaannya tentang pak Dante, ia lebih fokus kepada keadaan Vano yang sedang kacau dimalam itu.
dengan cepat Vano menyambar tangan Shesa, tanpa pikir panjang Vano langsung mendekap dan menyerang istrinya.
"sayang maafkan aku" ucapnya pelan, sembari menyusuri ceruk leher Shesa yang jenjang, Shesapun mulai menerima serangan dari Vano, Vano menghempaskan tubuh Shesa diatas ranjang, Vano menindih tubuhnya dan mengunci tangan Shesa diatas kepalanya, dengan leluasa kepala Vano bergerak kesana-kemari diantara pegunungan yang semakin menantang itu
"sssshh" sesekali erangan itu keluar dari mulut Shesa yang terbuka, udara puncak dimalam hari membuat suasana dalam kamar itu semakin dingin, namun tidak dengan aktivitas keduanya yang semakin memanas.
tak butuh waktu lama untuk Vano masuk kebawah sana, dengan cepat dan karena kondisi yang sudah basah, dengan mudahnya 'junior' Vano melesat jauh kedalam sana.
__ADS_1
bibir Shesa terbuka saat benda yang sudah biasa ia rasakan itu mulai memasuki area dibawah sana, pelan namun pasti, gerakan pinggul Vano membuat Shesa semakin terbang ke alam nirwana.
Ia memeluk erat punggung suaminya, suara-suara indah yang keluar lewat bibir Shesa membuat Vano semakin dalam dan intens untuk membawanya pada puncak keni*ma*an.
Untuk kesekian kalinya, kedua insan itu saling melenguh panjang, dan akhirnya tumpahan lahar panas itu mulai terasa hangat diatas perut Shesa yang masih rata.
Vano tersenyum melihat ekspresi wajah Shesa yang sedang merasakan keni*ma*an, kemudian ia terhempas disamping istrinya dengan nafas yang tersengal-sengal, setelah itu ia tertidur setelah pergulatan yang mendebarkan tadi.
Shesa memutuskan untuk pergi ke kamarnya, ia merasa Vano sudah terlihat baik-baik saja, ia memungut kembali bajunya yang berserakan dilantai, ia pakai kembali bajunya, setelah itu ia menghampiri Vano yang sedang tertidur pulas, diciumnya kening laki-laki yang telah menikahinya itu.
"aku pergi dulu sayang, tidurlah" ucapnya sembari menutupkan selimut pada tubuh Vano yang masih polos.
Shesa membuka pintu kamar Vano, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya masuk kedalam kamar pak Dante.
kemudian ia berjalan keluar dan menuju kamarnya semula.
tanpa Shesa sadari ada sepasang mata yang sudah mengintainya sedari tadi, wajah itu bersembunyi dibalik rerumputan sehingga Shesa tidak bisa melihatnya.
"Shesa...kau benar-benar gadis murahan, kenapa harus pak Dante" gumam Laura sangat kesal, karena dalam pikirannya Shesa melampiaskan hasratnya kepada guru yang ia sukai, yaitu pak Dante, sehingga membuatnya semakin benci kepada Shesa.
"aku akan menghancurkanmu Shesa, rekaman video ini akan menjadi bukti, bagaimana liarnya kau gadis munafik, tunggu tanggal mainnya!" seru Laura yang telah merekam saat Shesa keluar dari kamar pak Dante.
Shesa masuk kedalam kamarnya, kemudian ia membersihkan dirinya didalam kamar mandi, pikirnya masih bertanya-tanya, apakah Vano dan pak Dante adalah orang yang sama? ia juga terheran bagaimana suaminya bisa terpengaruh oleh obat perangsang itu, apa jadinya kalau ia tidak bersama Vano waktu itu.
setelah beberapa menit, Shesa keluar dari kamar mandi, ia duduk didepan meja rias, dilihatnya tanda merah karya suaminya itu menghias sempurna dilehernya yang putih.
"astaga, suka banget sih membuat stempel disini' gumam nya sembari mengabsen begitu banyaknya hasil buah karya Vano yang menghiasi dada Shesa.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
MAAFKAN AUTHOR SAYANG 🙏🤭