
setelah hampir satu jam mereka bersiap-siap, akhirnya Vano dan Shesa berpamitan pada nenek.
"nenek...kami berangkat dulu" pamit Vano sambil mencium tangan neneknya, tak ketinggalan Shesa juga mencium tangan nenek.
"Shesa pergi dulu ya nek, Shesa pasti sangat merindukan nenek" seru Shesa sembari memeluk nenek.
"hati-hati kalian, nenek berharap setelah pulang dari Bali, nenek kalian hadiahi kabar gembira tentang kehamilan Shesa" seru nenek penuh harap, Shesa tersenyum melihat nenek Vano, yg meskipun rambutnya sudah hampir memutih semua, namun garis wajahnya masih terlihat cantik dan muda.
"nenek sayang, kami berdua sudah sepakat untuk tidak memiliki momongan dulu diwaktu dekat, karena mengingat Shesa belum lulus sekolah" tukas Shesa meyakinkan nenek, tiba-tiba Vano menyela omongan Shesa.
"siapa bilang kita sepakat, aku enggak tuh" jawab Vano cuek, Shesa yg melihat itu dengan refleks mencubit perut Vano.
"ihh...kamu tu yah" Shesa gemas dan mencubit perut Vano.
"Awww...sakit sayang" rintih Vano sembari memegang tangan istrinya.
nenek tersenyum melihat tingkah laku kedua cucunya, ia melihat Vano nampak sangat bahagia bersama Shesa.
" baiklah... apapun keputusan kalian, nenek bisa memakluminya, tapi nenek sangat berharap, nenek bisa menggendong cicit nenek sebelum nenek meninggal" lugas nenek dengan wajah sendu.
"nenek...Shesa sayang sama nenek" Shesa lantas memeluk nenek penuh haru.
"nenek tak usah khawatir, Vano bakal secepat kilat buatin nenek seorang cicit... iya kan sayang!" seru Vano semangat sembari mengerlingkan matanya kepada Shesa.
Shesa membulatkan matanya pada Vano, sehingga membuat Vano merasa gemas dengan istri kecil nya itu, Vano memeluk Shesa dan mencium keningnya.
"ya... sudah kalian berangkat gih," perintah nenek pada keduanya.
Vano dan Shesapun akhirnya berangkat menuju bandara internasional Juanda Surabaya.
Vano terus menggandeng tangan istrinya dengan erat, Vano tak pernah melepaskan sedetik pun genggaman tangannya pada tangan Shesa.
setelah beberapa waktu, Vano dan Shesa sudah berada didalam pesawat, Shesa duduk disebelah jendela pesawat, ia melihat kearah jendela pesawat, pemandangan yg begitu indah.
__ADS_1
"apa kau bahagia ....hmm?" tanya Vano sembari menyelipkan rambut Shesa di telinga, lantas ia mencium tangan Shesa dengan mesra.
Shesa tersenyum dan mulai menyandarkan kepalanya pada bahu Vano, ia seperti kucing kecil yg manja, tangan Vano melingkar di atas bahu Shesa, ia memeluk nya dengan sangat mesra.
"aku mencintaimu" seru Shesa sambil memejamkan mata nya dalam pelukan sang suami.
******
setelah beberapa menit mereka terbang, akhirnya mereka berdua telah sampai di bandara internasional Ngurah Rai Bali, dengan memakai dress warna lavender dan celana selutut, Shesa benar- benar sangat terlihat muda sekali, tentu saja memang usianya masih 18 tahun, siapa sangka gadis yg terlihat belia itu sudah mempunyai suami.
beberapa kali ada cowok yg mencoba menggoda Shesa, namun Vano dengan cepat memeluk Shesa seolah-olah Vanolah pacar Shesa, penampilan Vano yg cool dan elegan membuat para cowok menjadi minder untuk mendekati Shesa, dan cowok-cowok itupun kabur dengan kecewa.
keduanya sudah sampai disebuah hotel bintang lima di Denpasar, Vano memesan kamar VIP untuk mereka berdua, sebuah kamar yg pemandangan nya langsung mengarah ke pantai Kuta yg indah.
Shesa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Vano melihat istrinya terlihat kelelahan setelah perjalanan tadi, Vano ikut merebahkan dirinya disamping Shesa, lantas ia membalikkan tubuhnya sehingga wajah mereka saling berhadapan.
Vano membelai lembut pipi istrinya, Shesa tersenyum melihat Vano yg begitu mesra kepada nya.
"istirahat lah, aku mandi dulu..." sahut Vano sembari mengecup bibir Shesa, lantas ia beranjak pergi ke kamar mandi, dan Shesapun mengangguk pelan.
entah berapa lama Shesa tertidur, ia terjaga dan mendapati Vano tak ada didalam kamar, sambil bangun dari tempat tidur, Shesa mencari keberadaan suaminya.
"sayang...kamu dimana?" Shesa terus mencari keberadaan Vano namun nihil, ia tak melihat sama sekali batang hidung Vano, tiba-tiba ia melihat gaun malam berwarna merah dengan kilau kristal Swarovski asli yg Vano letakkan diatas sebuah meja, Shesa melihat ada sepucuk surat disamping gaun itu, lantas Shesa membacanya dengan seksama.
"malam ini... pakailah gaun yg sudah aku belikan untukmu, aku ingin mengajakmu makan malam...aku tunggu " Shesa sangat tersipu malu saat membaca tulisan Vano, lantas ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia ingin terlihat cantik dihadapan Vano malam ini.
Vano sudah mempersiapkan sebuah meja khusus untuk dirinya dan Shesa, dekorasi yg dipenuhi hiasan lampu kristal yg cantik, memberi kesan sangat romantis, ditambah dengan cahaya lampu yg temaram, sungguh Vano sangat ingin membuat malam ini menjadi malam yg istimewa bagi mereka berdua.
Setelah beberapa saat Shesa sudah tampil dengan gaun warna merah menyala, semakin membuat kulit putihnya nampak lebih bersinar, ia biarkan rambutnya tergerai indah pada bahunya yg cantik, dengan makeup flawless dan natural, Shesa terlihat sangat anggun, warna lipstik pink merona, memberi kesan segar pada wajah Shesa yg masih remaja.
Shesa sengaja menyemprotkan parfum kesukaan Vano, ia menyemprotkan nya di titik-titik yg biasa Vano sentuh, wangi blossom yg sangat Vano sukai pada diri Shesa, akan membuat sang CEO itu tak akan bisa melepaskan dirinya pada Shesa.
setelah berputar-putar pada cermin, Shesa lantas menuju tempat dimana Vano sudah menunggunya, dengan heels setinggi 12 centi, Shesa nampak bak seorang model, dengan belahan gaun di salah satu sisi, yg menampakkan kaki mulus Shesa.
__ADS_1
Vano berkali-kali melihat kearah jam, ia sudah tak sabar dengan kehadiran Shesa.
"kenapa dia lama sekali, jangan- jangan dia tidak datang kesini" gumam Vano cemas, Vano duduk di kursi dengan tangan yg menopang keningnya, ia menunggu sambil terpejam.
tiba-tiba...
"permisi pak direktur, apa kau sudah lama menungguku" suara Shesa yg lembut membuat Vano spontan mengangkat wajahnya, Shesa tersenyum menatap Vano yg kelihatan tampan dengan tuksedo warna hitam.
Vano berdiri dan menghampiri Shesa yg sangat mempesona dimalam itu, pandangan Vano tak sedikitpun lepas dari Shesa, Vano memberikan tangannya pada istrinya, dan Shesapun menyambutnya dengan senang, Vano mencium tangan istrinya dengan lembut.
"maafkan aku...jika sudah membuatmu lama menunggu" seru Shesa.
"itu tak masalah bagiku, malam ini kau terlihat sangat cantik" Vano mulai menggoda Shesa.
Vano mengajak Shesa berdansa, dengan diiringi musik yg romantis, keduanya saling terbuai dalam sebuah pelukan yg tercipta diantara keduanya.
Vano mencium rambut Shesa yg membuatnya terpejam, tangannya melingkar sempurna di pinggang Shesa yg ramping, sesekali Vano mempererat pelukannya, sehingga membuat Shesa semakin dalam mendekap tubuh Vano.
perlahan Shesa berbisik di telinga Vano dengan suara desah.
"malam ini ...aku milikmu seutuhnya, dan aku akan memberimu kejutan yg indah" seru Shesa yg membuat Vano merasa tak sabar.
"sekarang yuk" sahut Vano dengan semangat.
"ya...ampun, kita makan dulu sayang, aku udah laper banget tau" seru Shesa sembari mengerucutkan bibirnya.
Vano mencubit hidung Shesa, tingkah Shesa yg begitu menggemaskan membuat Vano tak tahan untuk menciumnya.
"iya...iya...ayo kita makan dulu" Vano menarik kursi untuk Shesa duduk, dan mereka pun makan malam bersama...
BERSAMBUNG
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1