
Dan akhirnya Siska berpamitan kepada Laura, Siska memeluk keponakannya itu.
"Selamat tinggal Laura, jaga dirimu baik-baik" ucap Siska sembari berlalu meninggalkan Laura yang masih diam ditempatnya.
Laura melihat Siska yang mulai berjalan keluar dari halaman rumahnya, sesekali Siska menoleh kearah Laura yang masih memperhatikannya, Laura tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Selamat jalan Tante, semoga Tante mendapat kebahagiaan disana" ucap Laura lirih.
Siska kemudian menghilang dari pandangan nya, sekarang Laura lega, akhirnya ia bisa bersekolah dengan tenang tanpa harus takut Siska akan datang mengganggunya lagi.
*******
Hendrawan telah sampai di rumah, ia telah menyelesaikan semua persiapan untuk keberangkatan Siska ke luar negeri, Leona menyambut kedatangan suaminya dengan senyum.
"Bagaimana mas, apa semua baik-baik saja?" tanya Leona sembari mencium tangan Hendra.
"Iya...aku berhasil membujuk Siska untuk pergi dari kehidupan Vano untuk selamanya" jawab Hendra senang.
"Syukurlah, semoga saja ia mendapat kebahagiaan disana" ucap Leona ikut senang.
"Sayang, kamu siap-siap, hari ini kita pergi ke rumah sakit, sebelum Veronica berangkat ke Singapura" seru Hendra kepada istrinya.
"Baiklah mas" ucap Leona.
Setelah beberapa saat, Hendra dan Leona pergi ke rumah sakit dimana Veronica dirawat, terlihat Helena yang selalu setia menemani Veronica yang sudah pucat pasi itu, dengan banyak alat medis yang menempel di tubuhnya.
Hendra dan Leona masuk kedalam kamar tempat Veronica dirawat.
"Veronica, sungguh malang nasibnya, dia adalah wanita yang cantik, cerdas, dan cekatan, sekarang dia terkulai lemas tidak berdaya, semoga keadaannya baik-baik saja" seru Leona saat melihat keadaan Veronica yang terbaring lemah.
Helena menyadari kedatangan Hendra dan Leona, lantas ia menyambut kedatangan mereka berdua.
"Om Hendra, Tante Leona... kalian berdua mau datang melihat Mommy" seru Helena terharu.
"Veronica juga keluarga kami, dia membutuhkan dukungan dari kita semua agar ia mampu bertahan dalam melawan kanker otak yang ia derita" seru Leona
"Bagaimana keadaannya?" tanya Hendra
"Seperti itulah Om, kesehatan Mommy semakin menurun, malam ini juga, Mommy akan dibawa ke Singapura, untuk pengobatan yang lebih intensif lagi" ucap Helena
__ADS_1
Tiba-tiba saja mata Veronica terbuka, samar-samar ia melihat bayangan wajah yang sangat ia kenal.
"Leona"
Leona mendekati Veronica yang tampak menyebut namanya, kemudian duduk disamping Veronica yang sudah tidak berdaya itu.
"Hai...aku senang bisa melihatmu lagi saudariku" ucap Leona sembari menyentuh tangan Veronica.
"Leona... maafkan aku, aku sudah membuatmu jauh dari anak dan suamimu, aku tidak pantas untuk dimaafkan" seru Veronica dengan suara seraknya.
Leona menggelengkan kepalanya, ia berusaha meyakinkan Veronica bahwa semuanya baik-baik saja.
"Aku memaafkanmu, kamu tidak usah terlalu memikirkan hal itu, sekarang yang terpenting adalah kesembuhanmu, kamu harus kuat, kita semua akan selalu bersamamu Veronica, apa kamu tidak ingin menyaksikan putrimu berjalan di Altar pernikahan? apa kamu tidak ingin melihatnya bahagia dihari pernikahan nya, ayolah Veronica, kamu harus tetap semangat" seru Leona yang membuat Veronica tersenyum.
"Kamu memang wanita yang berhati lembut, pantas saja Hendra sangat mencintaimu, aku malu sudah membuat kalian terpisah, aku tidak pantas untuk mendapat kebaikan darimu Leona" seru Veronica sembari menitikkan air matanya.
Dengan cepat Leona mengusap air mata yang jatuh di sudut mata Veronica, dengan lembut Leona mengelus rambut Veronica.
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, kita hapus semua masa lalu, aku bersyukur kamu bisa menyesali perbuatanmu, sekarang lebih baik kamu fokus dengan kesembuhanmu, lihatlah putrimu, dia masih sangat menyayangimu saudariku" ucapan Leona seolah setitik harapan untuk Veronica berjuang melawan rasa sakitnya.
Hingga akhirnya dokter Erick datang dan akan membawa Veronica segera.
"Tentu dokter, tolong berikan lah perawatan yang terbaik untuk saudari kami, kami juga ingin melihatnya sembuh seperti sedia kala" ucap Hendra penuh harap, meskipun usia Veronica diperkirakan tidak akan lama lagi, namun keluarga masih tetap mendoakan agar Veronica bisa memperbaiki dirinya, sebelum ajal menjemputnya.
"Om Hendra, Tante Leona, Helena pergi dulu, Helena akan menemani Mommy, terimakasih atas dukungannya, Helena menyayangi kalian berdua" seru Helena sembari memeluk Hendra dan Leona.
"Hati-hati nak, jaga dirimu baik-baik, kami akan selalu menunggu kedatangan kalian berdua dengan membawa kabar bahagia" seru Hendra mendoakan.
Dan akhirnya Veronica dibawa keluar ruangan, dan segera berangkat ke Singapura hari itu juga.
Tampak lambaian tangan Helena kepada Hendrawan dan Leona, Veronica sudah masuk ke dalam mobil ambulance dan menuju bandara internasional untuk diterbangkan ke Singapura.
"Mudah-mudahan Veronica mendapat kesembuhan" ucap Leona penuh harap, Hendra dan Leona memperhatikan mobil ambulance itu berlalu hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
*******
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, usia kandungan Shesa sudah mencapai 9 bulan, tampak ia sudah mulai susah untuk berdiri, ia harus berpegang sebelum tubuhnya berdiri sempurna.
Setiap hari ia harus keluar masuk kamar mandi, karena usia kehamilan yang semakin tua membuatnya semakin sering buang air kecil, Vano selalu siaga menjaga kehamilan Shesa menjelang persalinan, setiap malam ia rela terbangun untuk sekedar mengantarkan istrinya ke kamar mandi.
__ADS_1
Malam itu Shesa terbangun, karena ia merasa ingin segera buang air kecil, terlihat ia berusaha bangun dari tidurnya, dengan pelan Shesa mencoba beranjak dari tempat tidurnya, ia melihat sang suami yang tampak kelelahan, ia tidak mau membangunkan suaminya.
"Aww ...sss....punggungku rasanya mau patah" ucap Shesa sembari memegang punggung dan perut besarnya.
Vano terjaga dan ia melihat sang istri sedang berjalan sendiri ke kamar mandi, dengan cepat Vano meraih tubuh istrinya dan memapahnya.
"Sayang kamu sudah bangun, aku mau pipis" seru Shesa.
"Kenapa kamu tidak bangunkan aku, nanti kalau kamu terpeleset gimana?" balas Vano yang masih terlihat mengantuk namun ia tahan karena sang istri sedang membutuhkannya.
Shesa melihat wajah suaminya yang masih tampak mengantuk, matanya masih sayu seperti lampu berkapasitas 5 Watt, Shesa tersenyum melihat wajah polos sang suami, namun Vano tetap saja menguatkan dirinya agar sang istri bisa buang air kecil.
Mereka berdua sudah berada di dalam kamar mandi, tampak Vano mencoba membantu istrinya untuk melepaskan underwear yang menempel di tubuh Shesa, karena Shesa sudah sedikit kesusahan untuk melepaskan sendiri.
"Hmm ... tambah besar saja" ucap Vano sambil berjongkok di hadapan Shesa.
"Apanya yang besar?" gerutu Shesa sembari memundurkan tubuhnya.
"Perutnya sayang, kamu pikir apa?" jawab Vano sembari mengulum senyumnya.
Shesa memutar bola matanya kemudian ia mulai beranjak duduk di walk of closed, Vano yang tadinya masih ngantuk, seperti habis minum kopi 5 gelas, matanya jernih saat melihat pemandangan didepannya.
Setelah beberapa saat Shesa selesai dan beranjak berdiri, Vano dengan telaten membantu istrinya untuk memakai kembali underwearnya kembali.
Setelah itu Vano memapahnya kembali menuju tempat tidur, ia menidurkan Shesa pelan-pelan.
"Hati-hati, sekarang tidurlah" seru Vano sembari mencium kening istrinya.
Begitupun Vano, ia ikut tidur disamping Shesa, setelah beberapa saat Shesa tetap saja tidak bisa memejamkan matanya, ia tidur miring ke kanan, dan miring ke kiri, tidak ada posisi yang nyaman baginya, belum lagi gerakan tendangan Ronaldo dari dalam perutnya, membuat Shesa semakin susah bernafas, si jabang bayi mengajaknya bermain sepakbola malam-malam.
"Aduh... sayang...mama nggak bisa bermain sepakbola, jangan keras-keras dong nendangnya" kata Shesa yang membuat Vano terbangun.
"Siapa yang berani menendang?" tanya Vano sembari memperhatikan sekeliling kamarnya.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
...HAYO JANGAN DIPROTES, MAMA-MAMA YANG PERNAH HAMIL PASTI PERNAH MERASAKAN APA YANG DIRASAKAN OLEH SHESA SEKARANG 🤭🤭🤭...
__ADS_1
...KUYY...DUKUNG TERUS YA ... DETIK-DETIK SHESA MELAHIRKAN BABYNYA😊😊...