
Veronica terdiam, ia melihat banyak pasang mata yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"ih siapa sih tuh perempuan, main nyablak aja"
"eh itu tantenya pak Vano"
"ya ampun amit-amit deh, kalau aku punya Tante yang kayak gitu, pasti aku juga melakukan hal yang sama kayak istrinya pak Vano"
"orang kaya kok ngomongnya gitu sih, memalukan"
"masih untung mulutnya nggak di tabok sama nyonya Vano"
"iya betul, istri pak Vano masih punya batas kesabaran, dia benar-benar wanita terhormat, mampu mengendalikan emosinya"
"iya betul, padahal ucapan wanita itu sangat menghinanya"
Veronica melihat banyak mulut yang sedang membicarakannya.
"sial, kali ini kalian memang sudah membuatku malu, tapi sebentar lagi, aku yang akan mempermalukan kalian berdua" Ucap Veronica dalam hati, dengan senyum liciknya, ia sangat yakin jika perusahaan Vano kali ini bisa ia kendalikan.
Veronica meninggalkan mereka berdua, lantas ia duduk di sebuah kursi tamu yang sudah disediakan dengan tatapan sinis kepada Vano dan Shesa, sedangkan Vano dan Shesa masih berada di tempat nya.
pak Billy yang melihat itu mulai mencairkan suasana.
"ah mari kita minum pak Vano" seru pak Billy sembari memanggil pelayan untuk membawakan minuman untuk mereka.
seorang pelayan datang dan membawakan minuman untuk mereka, pak Billy yang merasa tidak enak kepada Vano tentang kejadian tadi, lantas ia segera meminta maaf kepada Vano dan istrinya.
"pak Vano, kami mohon maaf atas kejadian yang membuat bapak dan istri menjadi tidak nyaman, kami benar-benar tidak menyangka bahwa Nyonya Veronica akan berbuat itu kepada kalian" seru pak Billy meminta maaf.
"pak Billy tidak perlu meminta maaf, ini bukan salah bapak" ucap Shesa.
"betul kata istri saya, pak Billy tidak perlu meminta maaf kepada kami, Tante Veronica memang harus dibuat tersadar oleh ucapannya" sambung Vano.
Veronica terus melihat kearah Vano dan Shesa, kali ini ia sedang menunggu informasi tentang perusahaan Vano yang akan mulai terguncang.
hingga akhirnya puncak acara segera dimulai, pak Billy beserta sang istri mengumumkan peresmian kantor cabang mereka, dan tentu saja pak Billy menyebut siapa saja yang telah mendukung acara ini, hingga nama Veronica ia sebut.
__ADS_1
"terimakasih untuk Bu Veronica Thamrin yang telah bekerja sama dengan perusahan kami, tepuk tangan untuk beliau, silahkan Bu Veronica memberikan sambutanya" seru pak Billy kepada Veronica.
Veronica menyumbang 40 persen dari sahamnya untuk menanam modal di perusahaan Billy Groups, sehingga ia memiliki andil yang cukup besar di perusahaan itu.
Veronica mulai beranjak dari tempat duduknya, ia beranjak berdiri dan berjalan menuju podium yang sudah disediakan, tatapan matanya tak sedikitpun lepas dari Vano dan Shesa yang sedang duduk di kursi tamu.
ia berjalan begitu anggun, seorang wanita bangsawan yang cukup berpengaruh, wanita yang pernah ditolak oleh Hendrawan, hanya karena Hendrawan lebih memilih Leona daripada dia.
flasback 26 tahun yang lalu
"apa yang ingin kau bicarakan, Veronica?" tanya Hendra dengan sedikit terkejut melihat Veronica yang tiba-tiba ingin menemuinya.
"Hendra, aku mohon jangan lanjutkan hubunganmu dengan Leona, ingat kalian itu berbeda kasta, Leona tidak pantas untuk menjadi istrimu, hanya akulah yang pantas menjadi istrimu Hendra!" seru Veronica meyakinkan Hendra.
"apa maksudmu, kamu ingin aku meninggalkan Leona, itu tidak akan pernah terjadi, aku akan tetap mempertahankan Leona apapun yang terjadi, aku akan tetap menikahinya, aku sudah tidak perduli dengan aturan itu, aku dan Leona saling mencintai" ucap Hendra dengan yakin.
"tapi Hendra, bagaimana dengan aku, aku terlanjur mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu, aku tidak mau melihatmu menikah dengan Leona" sahut Veronica yang memohon agar Hendra tidak menikahi sahabatnya sendiri yaitu Leona.
"maafkan aku Vero, aku benar-benar tidak bisa, kau lupakan saja diriku, carilah laki-laki lain yang mau mencintaimu, kamu cantik, masih banyak pria diluar sana yang menginginkanmu, jangan habiskan waktumu untuk menungguku, karena aku dan Leona akan bersatu" ucap Hendra yang semakin membuat Veronica tidak terima, rasa dendam dan bencinya mulai tumbuh, ia sangat tersakiti dengan penolakan dari Hendra, hingga ia memutuskan untuk membalas perlakuan Hendrawan kepada dirinya.
"aku akan selalu mengingat penolakan mu ini Hendra, dan suatu saat nanti aku akan membalas semua perbuatanmu padaku" seru Veronica dengan tatapan penuh dendam.
Veronica telah sampai di podium, ia dengan bangganya memperkenalkan dirinya kepada seluruh tamu undangan.
pada awalnya Veronica memberi sambutan untuk pak Billy yang sudah bersedia bekerja sama dengan dirinya, ia berharap kedepannya usaha mereka akan berjalan lancar.
hingga akhirnya ia memperkenalkan dirinya, ia merasa bangga menjadi Veronica Thamrin, wanita berkelas yang disejajarkan dengan Vano, yang tak lain adalah keponakannya sendiri.
"dia Vano Adiputra Perkasa adalah keponakan saya sendiri, saya sangat bangga dengan kemampuannya di bidang bisnis" seru Veronica sembari menunjuk kearah Vano berada, dan Vanopun tersenyum melihat rencana Veronica.
semua mata menyorot kepada Vano dan istrinya, dengan senyumnya yang elegan, Vano tetap profesional menunjukkan keramahannya.
"apalagi yang direncanakan wanita ini" gumam Vano sembari menggenggam tangan Shesa dan sesekali menciumnya lembut, sehingga banyak mata yang memperhatikan Vano yang terlihat sangat mencintai istrinya.
"uluh uluh, pak Vano begitu romantis sama istrinya"
"mereka berdua memang pasangan yang sangat serasi sepanjang masa"
__ADS_1
" hm coba lihat deh, seolah pak Vano tidak mau terlepas dari istrinya"
bisik-bisik para hadirin yang memperhatikan tingkah Vano yang sangat romantis dengan istrinya.
kemudian Veronica melanjutkan kata-katanya yang mulai menyerang Vano secara halus.
"tapi sayang, sebentar lagi Vano akan menjual perusahaannya kepada saya" ucap Veronica yang membuat seluruh yang hadir terhenyak, tak terkecuali Shesa.
"sayang, apa yang dimaksud Tante Veronica? apa kamu akan menjual perusahaanmu kepadanya?" tanya Shesa yang begitu terkejut dengan pernyataan Veronica.
Vano tetap santai, ia tetap menunjukkan ekspresi tenang, ia tahu ini adalah jebakan dari Veronica, namun ia tidak terpengaruh sama sekali, karena sebentar lagi ucapan Veronica akan berbalik pada dirinya sendiri.
"sayang, kau tidak perlu khawatir, percayalah pada suamimu" seru Vano menenangkan istrinya.
tampak semua hadirin merasa terkejut dengan pernyataan dari Veronica.
"apa... perusahaan pak Vano akan dijual? apa pak Vano mengalami kebangkrutan?"
"tidak mungkin perusahaan pak Vano bangkrut, pasti ada yang salah"
"aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu"
"tapi wanita itu cukup berpengaruh apalagi dia adalah keluarga pak Vano"
banyak tamu undangan yang membicarakan tentang apa yang dikatakan oleh Veronica.
"sebentar lagi Vano Perkasa akan menyerahkan perusahaannya kepada saya, benarkan itu pak Vano?" seru Veronica berharap Vano terkejut dengan kejutannya.
Vano hanya tersenyum dan tetap santai mengikuti permainan Veronica, tampak ia melihat sang istri yang terlihat cemas.
"kau jangan khawatir sayang, ini akan baik-baik saja, percayalah" seru Vano sembari mencium tangan Shesa.
tak berselang lama tiba-tiba ponsel Veronica berdering.
"ah...ini pasti dari kantor, bersiaplah Vano, kejutan dariku akan segera dimulai" gumamnya sembari melihat ponselnya.
Veronica sangat yakin kali ini ia akan berhasil mempermalukan Vano di hadapan semua orang
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥